Lovenesia, Penyakit Melupakan Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 25 February 2014

“Huuuuh..” ku hembuskan nafas panjang dari mulut, lalu perlahan ku mulai membuka mata.
“Ini dia guru Seni baru SMA kita. Bapak Andrian” ucap Bu Andin sambil menepuk-nepuk pundakku. Ku baru ngerti, Yang ada di pikiran kepala sekolah itu adalah memperkenalkanku pada rekan guru-guru yang lain, aku pun berdiri sejenak untuk memperkenalkan diri. Sambil tersenyum ku perhatikan rekan-rekan kerjaku di ruang guru ini, melihat lihat sekilas, banyak wajah yang tak asing lagi denganku. Wajah-wajah yang begitu ku kenal, wajah wajah yang dulu sering menghukumku gara-gara tak mengerjakan PR, wajah-wajah yang entah kenapa membuatku takut memandangnya terlalu lama, yaitu wajah wajah mereka, Para guru masa SMA-ku. Yap, hari ini aku resmi menjadi guru di Sekolah lamaku. SMAN 1 bakti jaya.

Senin yang cerah untuk mulai masuk kelas SMA lagi, bertemu dengan bangku kayu lagi. Mengiringi pagi ini aku langsung di sapa oleh sejumlah pembagian jadwal waktu mengajar untuk menentukan di kelas mana aku akan mulai mengajar di SMA ini. Secarik kertas yang ku terima pun telah berisi daftar nomor kode guru dan kelas yang akan mereka ajari, termasuk aku tentunya. Hasil pun telah diputuskan, guru dengan kode nomor 43, Andriansyah akan mengajar kelas jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Itu artinya aku langsung dipercaya mengajar seluruh kelas 3 di hari pertamaku mengajar, memang bu Andin, guru seni senior sekaligus Kepsek SMA ini telah memberikan kepercayaan lebih padaku, sungguh aku merasa semangat mengajar di buatnya.

Bel sekolah digital yang telah terjadwal berbunyi nyaring menyebar sejagat SMA ini, tanda jam pertama sekolah dimulai hari ini. Sekilas ku lihat burung camar di pohon cemara terbang tak karuan kaget dengan bunyi bel sekolah yang memekakkan telinga yang mendengarnya. Sungguh berbeda dengan bel kentongan besi yang ku dengar saat terakhir kali ku jadi siswa SMA di sekolah ini bertahun lalu. Ku jelajahi koridor demi koridor, di kanan kiriku pot–pot lengkap dengan berbagai jenis bunga mengiringi tiap ruas jalan menuju kelas pertamaku, kelas 3 IPA 1. Dan ini dia, aku sampai. “Ruang ini?” ucapku dalam hati ketika aku mendadak berhenti di depan pintu, keringat dingin muncul perlahan di keningku, sekali lagi ku lihat papan nama kelas ini, betul ini ruang kelas 3 IPA 1, Ruangan yang tujuh tahun lalu adalah kelas 3 IPS 1, kelas terakhir SMA-ku.

Kembali ke kelas yang ku tinggalkan tujuh tahun lamanya. di jeda mengajar, ketika para murid mengerjakan tugas yang baru saja ku berikan di semester ganjil ini. Aku duduk di bangku guru memandangi sudut-sudut kelas, pandanganku mengarah ke satu titik. Di kursi pojok belakang sanalah tempat dudukku dulu, paling pojok dekat jendela, yang juga jadi tempat favoritku untuk melihat diam-diam seorang siswi yang ku taksir dan kelasnya di belakang kelas ini, kelas 3 IPA 1. Tapi entahlah, aku mencoba mengingat sekuat kubisa, tapi sekarang aku benar-benar lupa siapa nama gadis yang ku sukai dulu itu, tanpa sempat mengingat namanya, ku coba lupakan saja kisah klasik asmara SMA-ku itu.

Sekilas memang banyak yang berubah dari dekorasi kelas ini, tapi aku masih mendengar bisikan tawa teman-teman sekelasku, gurauan dan candaan yang kini di gantikan wajah wajah murid generasi ini. Sejak tujuh tahun lalu, tak satu pun acara reuni SMA yang ku hadiri. Kesibukanku kuliah, lalu mencari kerja, serta kota perantauan yang jauh dari kota ini menjadi alasan terkuatnya. Hingga kini nomor telfon teman SMA di HP-ku pun dapat di hitung dengan jari, satu persatu telah ku hapus karena sudah tak aktif ku hubungi. Hingga secara tak terduga dua minggu lalu aku mendapat surat tugas kerja yang membuatku terdampar di tugaskan kerja ke kota ini, ke SMA-ku ini. Sungguh ku kangen ke teman teman masa SMA-ku.

Satu persatu kelas ku masuki, mengajar seharian penuh selama 8 jam pelajaran benar-benar membuatku lelah. Bel pulang sekolah telah berbunyi satu jam yang lalu. Ruang guru kini sepi, hanya aku yang tersisa membereskan berkas ajaranku. Sudah jam 2 siang, Aku bergegas pulang dan menjemput motorku di parkiran guru. Aku sempat berhenti sejenak di depan lapangan basket yang ku lewati, ketika satu bola basket terletak di tengah lapangan menyita perhatianku. Ingin sekali-kali ku mainkan olahraga yang sulit bagiku itu. Dari dulu aku memang tak pandai dalam permainan olahraga, termasuk basket tentunya. Tapi rasa penasaran mencoba bermain sendirian dikalahkan oleh rasa capaiku seharian mengajar. Bola basket itu pun ku tinggalkan tanpa ku sentuh, dan aku bergegas pulang.

Hari Berganti. Dan sekarang disinilah aku, di bangku pinggir lapangan basket sore hari, hujan baru saja lenyap dari langit, menyisakan tetesan air yang masih berjatuhan di ranting-ranting pohon cemara pinggir lapangan, menyisakan bau tanah hujan pertama bagi SMA ini, Aroma khas yang tak pernah berubah, dari dulu, sejak saat aku masih jadi murid di SMA ini. Genap sebulan sudah aku mengajar mata pelajaran Seni, dan aku disini sedang meratapi penyakit aneh-ku. Yap, aku punya penyakit psikologis yang tak banyak orang tahu, bahkan anggota keluargaku sendiriku pun tak ada yang tahu.
“LoveNesia”, begitu aku menyebut nama penyakitku. Jangan di tanya dari mana dari mana asal nama ilmiah itu, karena akulah yang mengarangnya sendiri. Secara sederhana LoveNesia adalah penyakit melupakan apa yang namanya Perasaan Jatuh cinta. Ku tau aku pernah jatuh cinta, tapi aku sama sekali tak bisa mengingat seperti apa rasanya jatuh cinta. Tiap kali ku jatuh cinta, aku seakan merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, selalu begitu dan berulang terus. Aku tak pernah mencintai orang yang sama untuk kedua kalinya. Parahnya aku juga secara tak sadar melupakan semua identitas orang-orang yang pernah ku cintai secara perlahan. Kini, semua mantan pacarku, aku tak mampu mengingatnya. Satu-satunya hal yang ku ingat tentang kisah asmaraku adalah: aku telah tujuh kali merasakan cinta untuk pertama kalinya. Aku sangat benci penyakit ini, sudah lama aku ingin hidup seperti orang normal yang kenal pada mantan kekasihnya, yang ingat rasanya jatuh cinta, tapi sayang tak ada psikiater kejiwaan maupun dokter yang bisa mengobati penyakit ini. tak ada, Dan ku yakin semua cikal-bakal penyakit itu, di mulai dari SMA ini.

Aku ingat betul, tujuh tahun lalu lah benar-benar pertama kalinya aku jatuh cinta. Walau aku tak dapat mengingat nama cewek itu, bahkan tak dapat mengingat bagaimana perasaanku padanya. Yang ku ingat darinya hanyalah tatapan matanya. Dia punya mata yang sayu. Mungkin itu yang membuatku cinta? Tapi entahlah, aku tak ingat.

Aku pun tak tinggal diam, suatu sore sepulang jam sekolah aku pinjam arsip sekolah untuk mencari tau siapa cinta pertamaku. Aku sengaja menyelinap ke ruang Arsip sekolah dan meminjam buku catatan tahunan angkatanku. Ku pikir, dengan menemukan informasinya, aku bisa bertemu dia dan ada kemungkinan aku dapat petunjuk cara mengobati penyakit LoveNesia ku ini. Ku buka lembaran-lembaran buku tahunan tujuh tahun lalu yang berdebu itu, fokusku pun tertuju pada kelas 3 IPA 1, kelas yang aku yakini adalah kelas cinta pertamaku. Tapi sayangnya, dari semua foto perempuan di kelas itu, tak ada yang memiliki mata seperti dia yang ku ingat. Pukul 16:43. Hari semakin sore, sedangkan aku semakin bingung.

Ku rasa buku tahunan yang ku pinjam dari Arsip Sekolah tak membantu apa-apa buatku. Arsip sekolah setebal ini hanya berisi data foto dan alamat murid angkatanku yang pasti telah banyak berubah setelah tujuh tahun. begitu pula dengan nomor HP, hanya sedikit nomor HP yang ku tau masih aktif, mungkin tak sampai puluhan, tapi nomor HP ku masih sama dengan yang ku pakai tujuh tahun lalu.

Suara jangkrik mengiringi suasana Maghribku kali ini. Malam yang tenang ketika ku sedang duduk santai di teras rumah, ku buka satu persatu lembar Majalah baru SMA 1 Bakti Jaya yang baru terbit minggu lalu. Tiba-tiba Hpku bergetar tanda ada SMS Masuk. Ku buka pesan itu, ternyata dari nomer tak di kenal:

“143”

Aku tak megerti isi pesan ini. Ku telfon saja nomor tak ku kenal tersebut. Namun yang ku dapat adalah jawaban operator “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”. Aku heran dan mulai penasaran apa maksud isi SMS tersebut. Entah rasanya aku tak asing dengan angka “143”. Ku rebahkan kepalaku ke kursi sambil ke hembuskan nafas panjang. ku jernihkan pikiranku sejenak, mungkin itu hanyalah SMS nyasar atau SMS iseng saja. Aku pun memilih untuk membaca majalah lagi tanpa menghiraukan arti SMS yang tadi.

Perhatianku langsung terfokus pada kalimat “Reuni Akbar”, kolom yang ku baca dalam majalah SMA bakti jaya ini. Seminggu lagi akan di adakan reuni akbar yang di adakan di Aula SMA dan aku baru tahu hal tersebut. Jelas Ini adalah kesempatanku bertemu-teman teman lamaku. dan yang lebih penting, ini juga kesempatanku bertemu dengan cinta pertamaku dan mencari cara mengobati LoveNesia yang ku derita ini.

Seminggu pun kandas. Tadi ku lihat Gedung Aula telah siap untuk acara nanti malam. Malam ini adalah malam reuni Akbar itu. Tapi aku masih disini, Di Kursi pinggir lapangan basket sore hari sepulang sekolah. Entahlah, aku tahu aku bukan pemain basket, tapi aku merasa tenang ketika duduk di disini, seperti saat ini.

“I LOVE YOU” ku tulis kalimat itu di tanah, jika aku jatuh cinta mungkin kalimat sederhana itulah yang aku katakan pada orang yang aku cinta. Anehnya kini aku hanya seperti anak remaja yang tak pernah jatuh cinta, tak tahu rasanya jatuh cinta. Aku bahkan tak ingat nama mantan terakhirku. Segala hal tentang Asmara secara otomatis hilang dari ingatanku. “I LOVE YOU”, ku ulang kata-kata itu berkali kali. Entah Pada siapa saja ku katakan kalimat itu, aku masih tak dapat mengigat.
Ku baca ulang SMS “143”, apa maksud SMS itu? Apa itu adalah sebuah kode? Sandi?. Atau jangan jangan… Matakku terbelalak melihat kalimat yang ku tulis sendiri di tanah.
“I LOVE YOU”
“I” terdiri dari 1 huruf
“LOVE” terdiri dari 4 huruf
Dan “YOU” terdiri dari 3 huruf.
Yap, “143” adalah ungkapan cinta, aku yakin itu.
Tapi siapa? Kepalaku tiba tiba terasa berat dan pusing, pandanganku membuyar dan makin bertambah gelap, lagi, lagi dan lagi hingga aku tak bisa melihat apa-apa. Aku masih sadar, tapi badanku terlalu lemas rasanya untuk di gerakkan. Hening, aku tertunduk di kursi pinggir lapangan basket ini dengan mata terpejam. Mulai ku lihat sekilas cahaya dalam pandangan gelapku ini. Aku melihat bayangan seorang gadis SMA dengan pandangan mata sayu yang pernah ku cinta, berdiri tepat di tengah lapangan basket ini sambil memegang bola basket, dia berteriak memanggil namaku. “Andri!!!” teriaknya, angin berhembus mengkibas-kibaskan rambut pendeknya. Namun pandanganku hanya terfokus pada tatapan mata sayunya itu, sungguh indah.
“Deg”. seketika ku sadar dari keadaan gelap itu. Jika tebakanku benar, itu adalah bagian dari cerita cinta pertamaku yang hilang. Badanku masih terasa dingin. Ku lihat tanganku bergetar. Dan rasanya ada hal yang aneh terjadi pada aliran darahku, pada detak jantung. Aku sadar hal ini pernah ku rasakan. Untuk pertama kalinya ku ingat bagaimana rasanya jatuh cinta. Ya, seperti ini rasanya jatuh cinta. Aku semakin merasa dekat dengan kesembuhan penyakit LoveNesia yang ku derita.

Untuk pertama kalinya aku ingat bagaimana rasanya suka ke seseorang. Acara reuni akbar telah di mulai. Tapi aku masih bingung sendirian di dekat parkiran, seperti seorang pengintai. Satu persatu mobil yang datang ku perhatikan dengan sekasama, mulai datang dari depan gerbang sekolah, parkir, hingga para penumpangnya turun satu persatu dan masuk ke dalam aula.
“Dimana dia?” pikirku. “Dimana cinta pertamaku?”
Suara bu Andin terdengar dari pengeras suara di dalam aula. Kepala sekolah itu membuka acara reuni ini secara resmi. Aku pun menyerah, ku harap aku bisa menemukan Dia, di dalam aula.
“saya sangat berterima kasih, karena terselanggaranya acara Reuni akbar ini” suara Bu andin bertele-tele memberikan sambutan acara. “Heh, membosankan”.

Hanya duduk di kursi paling belakang di aula ini. Suara bu andin di depan panggung tak lagi ku hiraukan. Satu persatu tamu hadirin ku lihat dari belakang, terutama tamu perempuan. Ku harap secara tiba-tiba ada dari salah satu yang kulihat menghadap ke belakang dan itu adalah cinta pertamaku. Sungguh aneh, hingga saat ini pun aku tak ingat namanya.
Masih acara sambutan, kali ini sambutan disampaikan oleh ketua panitia penyelenggara. Katanya sih masih adik sepupu bu andin. Jujur aku mulai ngantuk terlalu lama mendengarkan sambutan acara.
“Assalamualaikum Wr. Wb.” salam ketua panitia, Suara yang sepertinya tak asing. Ku melihat ke rah panggung itu. Dan…
“Wa”
“Wa”
“Wa..a…WaAlaikum salam”
Ludahku tertelan secara reflek. Itu dia. Itu tatapan mata sayu. Cinta pertamaku. Untuk pertamakalinya ku sadar ku telah “Jatuh cinta lagi ke orang yang sama”.

“Hai temen temen, masih pada inget gak ke aku?, aku Dinda natasyah. Lama tak jumpa yah” sambung sambutan itu.
Din-da-na-ta-syah. Jleb. Ku diam. Ku pandangi terus wajah itu. Tanpa berkedip, tanpa bersuara. Otakku kosong sejenak
Lalu aku ingat semuanya.

Dinda Natasyah, cinta pertamaku. Dia kelas 3 IPA 1. Kelasnya tepat ada di belakang kelasku. Di belakang kelas 3 IPS 1. Dulu aku dekat sebagai sahabatnya. Walau aku tak bisa bermain basket, setiap sore aku menemaninya latihan basket. Aku selalu mencintainya, pandangan matanya adalah hal yang paling aku suka. Tiap istirahat sekolah dulu, aku sering diam diam memperhatikannya dari jendela kelasku.

Sayang aku harus kehilangannya saat ia memutuskan pindah sekolah di semester akhir kelas 3 karena keluarganya pindah ke luar kota. Aku begitu ingat hari terakhir sebelum dia pindah dari SMA ini. Hari itu sore hari sepulang sekolah di lapangan basket.

“Andri…!!!” teriak Dinda dari lapangan basket kala itu. Dia menangis di hadapanku. Terlihat jelas bahwa dia sebenarnya tak ingin pindah sekolah. Dan saat itulah, disaat pertemuan terekhir kami, aku berani mengungkapkan cinta untuk pertama kalinya.
“Dinda aku suka kamu, tak peduli aku kau kenal sebagai sahabatmu selama ini. Sebenarnya… sebenarnya aku mencintaimu.” Ungkapanku secara tiba-tiba mendiamkan Dinda dari tangisannya. Mata kami bertatapan tajam. Kami saling mendekat, Dinda semakin dekat, makin dekat denganku. Wajah kami hampir bertemu dan “Plak!!!” Dinda menampar pipiku dengan sangat keras.
“Kenapa baru bilang sekarang bodoh!!!, sekarang kan kita tak mungkin bersama.” Teriak Dinda di depan wajahku.
Aku bingung “Hah, berarti? Kamu juga suka ke aku?”
“Ih, ih GR. Satu empat tiga Andri” Dinda tersenyum. Tapi jujur, aku tak mengerti maksudnya kala itu.

Itu yang ku ingat saat terakhir kali bertemu dengan Dinda. Hal ini menjelaskan kenapa ku tak menemukan fotonya di buku arsip tahunan angkatanku. Dan sekarang aku kembali melihatnya setelah tujuh tahun lamanya. Dia, di atas panggung sana. Sedangkan tanpa ia tahu aku masih mencintainya seperti tujuh tahun lalu. Hari ini aku kembali melihat mata sayunya itu, pandangannya itu seperti Mesin Waktu untukku, ketika aku menatapnya aku kembali merasakan jatuh cinta. Sayangnya sudah tujuh tahun berlalu, rasa cintanya mungkin telah dimiliki oleh orang lain. Entahlah, mungkin aku harus melupakannya. Aku tak mampu menghampirinya, bahkan aku takut bersapaan dengannya. Aku menghindar, hingga acara reuni selesai.

Kursi pinggir lapangan basket, sore hari sepulang sekolah. Aku masih disini. Rasa sesal dan bingung bersarang di benakku “Kenapa aku tak menghampirinya?” gumamku
Ternyata melupakan Dinda tak semudah yang ku bayangkan. Aku tertunduk lesu sore itu. Penyakit LoveNesiaku kini hilang entah kemana. Tapi aku juga harus melupakan Dinda. Hening. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan.

“Yes, masuk!!!” suara seorang perempuan terdengar. sebuah bola basket masuk tepat ke jaring basket di hadapanku.
“Hai dri, apa kabar? Lama tak jumpa yah” ucap Dinda padaku.
Dinda melangkah mendekatiku, sedangkan aku terdiam tak percaya dia ada disini sekarang. Dinda semakin dekat, makin dekat, hingga tepat di hadapan kedua mataku.

“Andri, ada yang ingin ku katakan padamu. Dengarkan baik baik, karena aku tak akan mengulaginya” Dinda diam sejenak menarik nafas.
“Satu empat tiga, I LOVE YOU” ucapnya. Dinda memelukku. Sedangkan, masih diam karena tak percaya. “Aku cinta kamu juga” jawabku dalam pelukannya.

Cerpen Karangan: Badri Lokajaya
Facebook: Badri Lokajaya

Cerpen Lovenesia, Penyakit Melupakan Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friendzone

Oleh:
Sore itu hujan membawa ku bernostalgia, mengingat teman-teman semasa SLTP dulu. Melalui akun instagram ku, aku melihat-lihat akun instagram milik Fafa. Salah satu teman akrab ku semasa SLTP dulu.

Tuhan… Aku Mau Yang Itu (Part 1)

Oleh:
“Saya terima nikah dan kawinnya Naniya Asya binti Raysan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai…” “Sah?” “Saahh!!” “Sah?” “Saahh!!” “Alhamdulillah hirabbil’alamin…” Seruan lega terdengar dari seluruh penjuru ruangan, tampak

Kembali

Oleh:
Setiap kali Fuji melewati perempatan jalan itu, selalu ada bayangan seorang gadis disana. Gadis yang membuatnya jatuh cinta, gadis yang membuatnya mengacuhkan gadis-gadis cantik lain. Dan gadis itu pula

Suddenly You Changes My Life (Part 2)

Oleh:
Setelah kejadian yang tidak terduga itu, Rani tidak bisa memikirkan hal lain selain pria itu. Ia terus menyuarakan nama ‘Rendy Pratama’ dalam benaknya. Materi yang disampaikan Pak Muhidin tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *