Lubang Kecil Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 1 December 2014

“aku nggak akan membiarkan diriku sendiri masuk ke dalam lubang yang sama, yaitu kamu”
ya, hanya itu yang bisa aku katakan pada diriku sendiri saat mendengar nama itu kembali di kehidupanku. entah kenapa, semua rasa itu kembali. rasa kecewa, kesal, marah, bahagia, cinta, dan semua perasaan yang baru aku rasakan setelah aku mengenalnya. setelah aku jatuh. ya, jatuh cinta. entah memang cinta atau hanya sebatas suka. yang jelas aku sudah jatuh, jatuh dalam lubang yang memberikan aku kebahagiaan. jatuh dalam lubang yang berisi begitu banyak hal-hal indah disana. tapi lubang itu terlalu dalam. lubang itu terlalu jauh dari aku kira. hingga aku tak bisa keluar. hingga aku terjebak disana. di dalam lubang itu, sendiri, dalam kesunyian. lubang yang seharusnya diisi oleh 2 orang, hanya tersisa aku disini. dalam kesendirian yang menyiksaku. sendiri, ditinggalkannya dengan semua kenangan indah yang pernah kita lalui berdua di lubang ini.

Pagi datang lagi. ini tahun keempat aku bekerja di perusahaan ini, perusahaan yang memberikanku begitu banyak pengalaman. di tempat ini juga aku bisa memperoleh sedan mewah dah rumah dinas yang perusahaan berikan padaku. tapi ini semua tidaklah penting, karena bagaimanapun hatiku kosong. aku ingat saat-saat itu. saat aku diam dan memperhatikan mereka, keluarga besarku. keluarga besar bernama Panti asuhan Cahaya. ya, Cahaya, itulah nama ku. anak yatim piatu pertama di panti asuhan ini. anak yang memberikan cahaya pada seorang janda penjual kue yang hidup sendirian. yang ditemukan di bawah pohon taman kota saat berjualan kue. cahaya, itulah nama yang beliau berikan. sederhana, manis, tapi banyak makna. karena sejak saat itu. ibu dewi memperoleh banyak rezeki, kue yang biasa dijual laku keras bahkan salah satu toko ternama di kota itu selalu memesan kue-kue buatan ibu dewi. 6 tahun semenjak ibu dewi mengurusku, beliau bisa membeli rumah yang lebih dari sederhana untuk kami berdua, saat itu pula panti asuhan ini didirikan. tempat dimana aku bertemu denganmu.

Aku masih ingat air mata itu, air mata yang tak kunjung habis walau entah sudah berapa tetes yang aku keluarkan. mungkin ratusan, ribuan air mata. tapi itu tak bisa menghapus lukaku. saat melihat ibu dewi terbujur kaku terbungkus kain putin bernama kafan. saat melihat tubuhnya sedikit demi sedikit menghilang di bawah timbunan tanah. entah apa lagi yang terjadi aku tak ingat. karena setelah itu aku sudah berada di dalam kamarku dengan keadaan mata yang begitu bengkak hingga sulit untukku membukanya.

Aku memang bukan anak yang ceria, bahkan tekesan cuek dan galak. karena sifatku itu aku tak pernah punya banyak teman. dan orang yang bisa melihat kebaikan dan kehangatan dalam diriku hanya ibu dewi, dan kamu.

Ya. kamu memberi kebahagiaan buat aku. kamu menghapus semua lukaku. kamu mengisi semua kesendirianku. kamu yang tau apa yang aku suka dan apa yang aku benci tanpa aku beri tau. kamu yang tau semua kekesalanku, semua perasaan yang hanya aku simpan sendiri. namaku memang cahaya, tapi saat itu yang benar-benar menjadi cahaya adalah kau dan semua kehangatanmu.

Semua begitu menyenangkan. karena kamu hatiku yang dingin menghangat, dan sifatku yang keras melembut. saat umurku 17 tahun, saat itulah aku menyadari, kalau aku benar-benar mencintaimu. dan disaat itu pula, kamu pergi, meninggalkanku, dan semua kebahagiaan yang kamu berikan padaku.

“Aya!” seketika langkahku terhenti. jantungku berdegub sangat kencang hingga mungkin dapat terdengar oleh orang-orang di sekelilingku. nafasku seolah tercekat. sudah hampir 10 tahun aku tidak mendengar suara itu. suara yang selalu terdengar hangat.
“hey, aya!” suara itu semakin mendekat, ditambah dengan suara langkah kaki yang dipercepat. aku ingin menoleh, dan memastikan apakah suara itu milik orang yang selama ini hilang dari hidupku. tapi tubuhku tetap terpaku. paru-paruku pun ikut gugup dengan menunjukkan gejalanya, yaitu sesak nafas.

Langkah kakinya semakin dekat. begitu pula dengan detak jantungku yang semakin keras. “dia memanggil nama ku” kalimat itu berkali-kali aku ucapkan, hingga entah sejak dari kapan dia sudah ada di depanku. mata itu, senyum itu, adi! bersama hadirnya turut semua kesedihan yang sudah 10 tahun ini aku lupakan.

Kami berdua sama-sama membisu, menatap lekat wajah masing masing.
“aya, a..” plaakkk…
Tak sempat dia lanjutkan tanganku sudah mendarat keras di pipinya. aku tak bisa menyembunyikan muka pucatku, hingga aku cepat-cepat masuk ke dalam kantor dan membiarkan dia sendiri membisu kaget mendapat tamparanku.

Tiba-tiba ada sms baru yang nomernya tidak kukenal.
“makasih aya, kamu masih mau menyentuhku. aku pikir kamu sudah jijik denganku”
Deg.. “kenapa respon dia malah kayak gitu sih, nyebelin banget. pergi aja sana jauh dari hidup gue. bikin sepet mata aja lo”
Tapi dia memang sama sekali tidak berubah, masih hangat sama seperti dulu. akupun tak melihat sedikitpun kemarahan di wajahnya saat aku menamparnya tadi.

Selesei bekerja aku langsung menuju sedanku. sekali lagi, dia berhasil membuatku pucat pasi. dia datang dengan mengendarai sepeda warna biru. kendaran favorit kami berdua.
“aku tau kamu nggak suka menaiki sedan itu, ayo! aku antar pulang”
Entah terhipnotis atau apa, aku menuruti keinginannya. menaiki sepeda itu dan dibonceng olehnya.

“kenapa kamu kembali?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa aku sadari. sejenak ku tau dia kaget mendengar pertanyaanku karna tiba-tiba sepedanya dia rem tanpa sebab.
“karena aku ingin mengembalikan kebahagiaanmu yang pernah aku ambil 10 tahun yang lalu”
deg, darahku seakan berdesir, dan seketika semua rasa yang sudah aku lupakan kembali. kehangatan itu kembali kurasakan, hingga tak terasa air mataku bisa keluar kembali. air yang selama ini membeku dan tak pernah keluar lagi dari mataku, sekarang mulai mencair karena kehangatannya.

Adi yang tau aku menangis seketika menghentikan kegiatannya mengayuh sepeda.
“kau kenapa?” pertanyaan itu tak bisa ku jawab. aku malah terus melanjutkan tangisanku bahkan semakin keras.
“hey, aya! kau kenapa? maafin aku ya!” nada paniknya dapat aku dengar.
“ke.. kena.. kenapa.. kamu per..gi di? a.. aku ben..ci ba..nget sama kamu! ka..kamu te.ga ninggalin a..aku sendi..ri” tetap dengan menangis, aku tumpahkan semua kekesalanku hari ini, di depannya. dia tau bahwa kebahagiaanku adalah dia. jika dia ingin mengembalikan kebahagiaanku, itu berarti dia ingin kembali padaku.

“aku mendapat beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi di Autralia aya, aku tidak bisa bilang padamu, karena hal yang paling tak kusukai di dunia ini adalah melihatmu menangis” dia berbicara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, tapi semua itu tidak bisa menyembunyikan ketakutan di wajahnya. semua gerak badannya dan ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan bahwa dia sangat tertekan saat ini.
“aku benar-benar takut saat aku kembali kamu sudah menjadi milik orang lain. tapi aku senang sekali, karena kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun setelah kepergianmu” refleks dia langsung memelukku, aku masih mematung saat itu. semua ini benar-benar membuatku shock.

“aya! will you marry me?” sekali lagi wajahku memucat, air mata yang sedari tadi keluar seketika terhenti. pertanyaan itu yang sejak dulu ingin kudengar darinya, kini secara langsung diucapkannya.
Aku tetap mematung, wajahku mungkin sudah menyiratkan ekspresi seperti seseorang yang akan menemui ajalnya, hingga dia kembali mengulang pertanyaannya, kali ini dengan tatapan tajam mengarah ke arahku.

“aya, maukah kau menikah denganku?”
“yes”

Ternyata lubang itu selama itu tidak kutempati sendiri. dia juga ada disana, di dalam lubang itu bersamaku. hanya saja aku tak bisa melihatnya dengan jelas. tapi yang pasti, lubang ini tak sunyi lagi. karena mulai hari ini, kami berdua akan kembali mengisi lubang ini dengan kebahagiaan berdua.

Cerpen Karangan: Miftahul Wahyuni
Facebook: miftahulw[-at-]gmail.com (mifta mita)
ini cerpen pertamaku. maaf kalau belum sempurna.
salam kenal… Mifta.. ^_^

Cerpen Lubang Kecil Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rapuh

Oleh:
“Wina!!” Sebuah suara mengagetkan lamunanku siang itu. Tak sadar seorang gadis dengan rambut hitam tebal yang tergerai sudah duduk tepat di samping kiriku. Rupanya Puri, sahabatku. “Ngelamun aja..” Ia

Cemburu Mendekat

Oleh:
Apa pantas aku cemburu kepada bayanganmu hanya karena dia selalu lebih dekat denganmu saat engkau sedang bersamaku. Sudah mulai cemburu itu datang dan rasa sayang yang sudah mulai mengental

Takdir, Aku dan Aries (Part 2)

Oleh:
Dear Aries… Kamu masih penasaran kan dengan kelanjutan ceritaku? Kau tahu betapa aku merindukanmu? Seandainya aku bisa menceritakan kisah ini langsung padamu. Kamu mungkin tak punya waktu membaca semua

Selalu Menunggu

Oleh:
Aku adalah seorang perempuan yang sekolah di SMP negeri, namaku vina. Aku baru saja naik kelas ke kelas 9. Hari ini adalah pembagian kelas dan aku dapat kelas 9

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lubang Kecil Kita”

  1. Anggi says:

    Beberapa cerita buat aku jadi semakin mengerti arti hidup dengan org yang aku sayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *