Maaafkan Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 19 November 2016

Hujan di luar belum juga reda, justru semakin deras dan mulai diiringi dengan suara petir dan kilat. Kuseduh kopi yang baru kubuat tadi. Sepertinya hujan ini akan berlangsung lama aku pun bergerak menuju kamar, mengambil selimut dan juga bantal. Hawa dingin mulai menusuk ke dalam tulangku. Aku kembali menyeduh kopi yang kubuat tadi. Hawa dingin yang menyelimuti sore ini membuat kopiku lebih cepat dingin. Segelas kopi ini memang terasa nikmat di waktu hujan seperti ini.

Detak jarum jam tak terdengar kalah dengan suara deru hujan yang sangat lebat di luar sana. Kuarahkan pandangan ke luar melalui jendela rumahku. Hujan masih turun dengan deras aku pun kembali menarik selimut sampai menutupi leher. Hujan yang jatuh dari langit begitu indah bagaikan tetesan airmata para dewa. Hujan yang turun itu begitu menenangkan dan mendamaikan jiwa. Begitu tenang, hanya suara tetesan air yang terdengar.

Hujan lebat dan segelas kopi adalah sepasang benda yang saling melengkapi satu sama lain. Keduanya seperti sepasang kekasih yang tak terpisahkan dan sangat cocok banget. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu jika hari ini adalah tanggal 9 November.
“Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa sih kalo hari ini tuh tanggal 9 November” kataku sambil menepuk jidatku dan menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhku.

Aku segera berlari menuju lemari dan mengambil lilin dan korek api. Untung masih ada lilin sisa kemarin pikirku lega. Aku kemudian menyalakan lilin di atas piring kecil. Tidak ada lagu ulang tahun maupun ucapan selamat. Ya karena lilin ini bukan untuk merayakan ulang tahun tapi untuk mengenang sesuatu. Aku hanya diam menatap api kecil di atas lilin yang terombang-ambing diterpa angin dingin. Aku menatap lilin itu dan tiba-tiba airmataku jatuh membasahi pipiku. Aku ingin meniup lilin itu, namun segera kuurungkan niat itu. kemudian aku duduk dan mengamati lilin itu. api itu perlahan namun pasti membakar lilin kecil itu.

“Api ini saja bisa membakar habis lilin ini, tapi kenapa waktu tak mampu menghapus kenangan bersamamu? Kenapa??” kataku dengan airmata yang terus keluar dari mataku.

Api itu perlahan-lahan semakin kecil dan akhirnya mati membakar habis lilin kecil itu. meninggalkan sisa yang semakin membatu. Aku mengamati lilin itu dengan mengingat kejadian 7 tahun lalu. Saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Tanggal 9 November. waktu itu dia adalah murid baru di sekolahku. Dia memperkenalkan dirinya di depanku.
“Perkenalkan namaku Raka Pradana biasa dipanggil Raka” katanya. Kemudian dia duduk di sebelah bangkuku. Aku menoleh ke arahnya dan dia masih diam membeku kayak patung.

“Kayla tolong kamu nanti pinjamkan catatan buat Raka” kata bu Sinta padaku setelah jam pelajaran itu selesai.
Aku pun mengangguk dan kemudian menyerahkan buku catatanku padanya. dia menerimanya dengan dingin sedingin es batu. Sejak itu Raka jadi sering minjem bukuku dan memintaku untuk mengerjakan PR nya. Namun karena itulah kami jadi sering ngobrol bareng.

Hari-hari kulewati dengan tawa bersamanya. Suatu hari saat kami sedang duduk sambil membaca buku di perpustakaan.
“setelah ini kamu mau ngelanjutin kemana la?” tanya Raka yang ada di sebelahku.
“Aku nggak tahu ka” kataku jujur. Karena aku memang nggak tahu mau ngelanjutin kemana setelah lulus SMP ini.
“Kok nggak tahu sih la, emangnya kamu nggak pengen ngelanjutin sekolah?” tanyanya lagi.
Aku terdiam mendengar pertanyaan Raka. Aku bingung harus jawab apa. Aku juga pengen banget ngelanjutin sekolah tapi orangtuaku nggak punya uang buat bayar biaya masuk ke sekolah SMA.
“Aku belum tahu ka, mungkin aku nggak ngelanjutin sekolah” jawabku tertunduk lesu.
“kenapa la, kamu kan pinter sayang kan kalau kamu nggak ngelanjutin sekolah” katanya lagi
“Udahlah ka, lagian pendaftarannya kan masih lama. Kalo kamu mau ngelanjutin kemana?” tanyaku dengan menyunggingkan senyum.
“Aku sih disuruh mamaku sekolah di SMA Negeri 1 la” katanya
“Waahhh keren dong ka. Itu kan SMA favorit” jawabku mencoba tertawa.
“Keren sih keren tapi tetep aja bakalan nggak seru kalau nggak ada kamu” katanya dengan suara agak pelan.
“Apa katamu tadi ka?” tanyaku memastikan perkataannya tadi.
“Nggak pa-pa kok la” jawabnya.
“Uhhh dasar” kataku sambil menonjok lengannya kemudian berlari menuju kelas.
“Eh Kayla tunggu” katanya sambil mengejarku.

Aku berlari menuju kelas yang ada di ujung gedung sekolah. Kulihat Raka masih berlari mengejarku. Para murid lain menoleh ke arahku namun aku mengacuhkannya. Aku masuk kelas dan menuju bangkuku. Aku mengambil buku dan mengipaskannya ke tubuhku. Ternyata capek juga. Berlari dari perpustakaan ke kelas. Tak lama kemudian Raka sudah ada di depan pintu kelas. Melihat Raka aku pun langsung berlari menuju belakang kelas. Namun terlambat aku kalah cepat dengan Raka. Dia sudah memegang tanganku. Aku pun tidak bisa lari darinya.

“Lepasin ka, sakit tau” kataku sambil meronta
“Kamu pikir nggak sakit apa kamu pukul tadi” katanya.
“Ya udah sekarang kamu mau apa?” tanyaku. Karena aku risi dilihat teman-teman sekelasku.
“Kamu mau balik mukul aku. ayo pukul aja ka. Tapi lepasin tanganku dulu sakit tahu” kataku memohon
“Aku nggak mau mukul kamu kok” katanya tersenyum licik
“Terus?” tanyaku curiga
“Aku mau kamu ngerjain PR ku” katanya tersenyum penuh kemenangan.
“Apa???” jawabku dengan melototkan mataku. “Nggak mau ah. Aku ogah” jawabku.
“Kalo kamu nggak mau, tanganmu nggak akan aku lepasin” katanya santai
“Ya udah deh aku nyerah” kataku pasrah. Kemudian dia pun melepaskan tanganku. Dia lalu berjalan menuju tempat duduknya dengan senyum penuh arti.

Aku kembali ingat masa itu. aku hanya bisa menangis dan menangis. Tak pernah bosan aku memutar kenangan itu meski sudah jutaan kali kenangan itu berputar di kepalaku. Suara petir pun terdengar membelah derasnya hujan yang tak kunjung reda. Sambaran kilat mulai terdengar memecah kesunyian di senja yang gelap ini.

“Apaan sih ka sama kilat aja takut” kataku pada Raka yang sedang menutup telinga dan menundukkannya di meja.
“siapa juga yang takut dengan kilat” katanya mengelak.
“Nah itu ngapain kamu nutup telinga dan nundukin kepala ke meja” kataku nggak mau kalah.
“Ya itu karena aku nggak suka sama suara petir” jawabnya.
“Nggak suka apa takut??” ledekku.
“Ya nggak suka lah, masak aku takut sama petir sih. ya nggak mungkin lah” jawabnya sambil berdiri.

Saat Raka baru melangkah tiba-tiba ada suara petir yang begitu keras dan sambaran kilat dengan kecepatan tinggi. Raka yang ada di depanku langsung menutup mata dan telinga dan tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Dia kelihatan begitu ketakutan. Selama beberapa detik aku diam karena aku begitu terkejut dengan sikap Raka. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Kemudian setelah aku sadar kulihat Raka masih ketakutan dan belum sadar dengan apa yang dia lakukan.

“Raka, bangun ka, petirnya udah hilang kok” kataku menyadarkanku
Raka kemudian menarik kepalanya dan kami pun saling bertatapan selama beberapa waktu. Raka kelihatan salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya. Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan aku jadi salah tingkah.
Sejak itulah aku menyadari jika aku ini mulai menyukai Raka. Aku baru menyadarinya saat hari perpisahan itu tinggal sebulan lagi. aku ingin mengatakannya pada Raka namun aku takut hubungan kami akan berubah. Aku tidak ingin kebersamaan ini berubah menjadi canggung hanya karena aku mengungkapkan perasaanku padanya. akhirnya kuputuskan untuk memendam perasaanku saja dan menikmati hari-hari yang tersisa ini seperti biasanya.

Mengingat akan hal itu aku kembali menitikkan airmata. Dari balik jendela kulihat tetesan hujan itu semakin deras seolah semua air di langit itu ditumpahkan ke bumi. Airmata yang jatuh ke pipi terasa begitu hangat mengalahkan dinginnya udara sore ini. aku menatap lilin yang sudah habis.
“Maafkan aku ka, maafin aku yang tak memberimu kabar setelah perpisahan itu. maafkan aku ka. Aku terpaksa ngelakuin ini, mungkin sekarang kamu sudah membenciku” kataku sambil terisak.

“Kamu jadi ngelanjutin kemana la?” tanya Raka tiba-tiba saat kami baru ke luar dari pintu aula sekolah. Yah hari itu adalah hari perpisahan dan aku sadar mungkin ini adalah hari terkahir aku bertemu Raka.
“Belum tahu ka” jawabku dengan nada sedih.
“Kamu ikut aja daftar di sekolahku” katanya dengan nada sumringah.
“Nggak bisa ka, biaya sekolah di situ kan mahal. Orangtuaku nggak akan mampu membayar semua biaya sekolah di situ” jawabku lesu.
“Kamu kan pinter, kamu pasti bisa dapet beasiswa, yang penting kamu daftar dulu aja. Oke” katanya sambil tersenyum.
Aku diam memikirkan hal itu, karena ucapan Raka itu ada benernya juga.
“Tapi ka” kataku menggantung.
“Nggak ada tapi-tapian pokoknya besok aku tunggu kamu di sini jam 8 ya. Nanti aku bakal nganter kamu sekalian aku juga mau daftar. Oke. Kamu siapin aja dokumen-dokumen yang dibutuhin untuk daftar sekolah” kata Raka dengan penuh semangat.
“Tapi Raka…” jawabku masih bingung.
“Udahlah la, kamu turutin aja kataku. Pokoknya besok aku tunggu kamu di sini oke. Ya udah aku pulang dulu ibuku udah nunggu di parkiran. Jangan lupa besok, jangan sampai telat ya” katanya sambil berlari meninggalkanku.

Aku hanya bisa mengamati punggung Raka yang semakin jauh, lalu menghilang di balik tembok gedung sekolah. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku.
“ngelihatinnya nggak usah kayak gitu kali” kata suara yang sudah taka sing bagiku. Aku pun menoleh ke belakang dan kulihat Maura dengan wajah judesnya.
“Maura” kataku dengan terbata.
“Besok kamu nggak usah dateng ke sini dan nggak usah hubungin Raka lagi” katanya dengan nada mengancam.
“Tapi kenapa?” kataku dengan nada ketakutan.
“Kenapa?? Ya karena aku suka sama Raka dan aku nggak ingin Raka bareng sama kamu. Ngerti!” katanya dengan nada membentak.
“Tapi ra ijinkan aku bertemu sekali lagi untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. kumohon ra” jawabku memohon.
“Nggak. Pokoknya kamu nggak boleh ketemu lagi sama Raka. Nanti aku akan minta bapakku untuk membiayai sekolah kamu sampai lulus kuliah. Tapi inget kamu nggak boleh ngubungin Raka sama sekali” katanya dengan nada suara yang tinggi.
“tapi izinkan aku untuk sekali lagi bertemu dengannya besok dan menjelaskan semuanya. Tolong ra, setelah itu aku janji aku nggak akan menemuinya lagi” kataku dengan sedikit terisak karena tiba-tiba saja aku ingin menangis.
Tapi Maura masih tetap keukeuh dengan pendiriannya dan dengan terpaksa aku harus memenuhi permintaannya.

Sejak itu aku tidak pernah menemui Raka lagi, karena Maura menyuruh ayahnya untuk menyekolahkan aku di tempat yang jauh. janjiku pada Raka terpaksa tidak aku tepati. Di hari berikutnya saat aku berjanji untuk bertemu Raka di sekolah, hari itu aku justru siap-siap untuk pergi jauh karena aku harus memenuhi permintaan Maura untuk menjauhi Raka.

Aku tidak bisa nolak permintaan Maura karena ayahnya yang selama ini telah menolong orangtuaku dan memberi pekerjaan untuk mereka. Ayah Maura sudah aku anggap seperti ayahku sendiri. aku nggak mau membuat Maura marah padaku. Mau tidak mau aku harus menuruti semua permintaannya. Meski itu begitu berat. Aku harus mengorbankan perasaanku demi cita-citaku.

Mungkin Raka akan kecewa padaku karena aku tidak bisa menepati janjiku, bahkan mungkin dia akan membenciku. Karena aku tak memberinya kabar dan alasan kenapa aku pergi dari hidupnya. Selama perjalanan aku hanya bisa menitikkan airmata, mengingat Raka yang mungkin menungguku dan bertanya-tanya kenapa aku tidak datang.
Mengingat hal itu aku hanya bisa menangis karena aku tidak bisa memperjuangkan perasaanku. Aku telah menjual cintaku pada cita-citaku, tapi aku benar-benar tidak memiliki pilihan lain. Aku harus merelakan Raka untuk orang lain. aku mencoba untuk pasrah pada Tuhan. Selama tujuh tahun ini aku mencoba untuk melupakan Raka tapi tetap saja aku tak bisa. Begitu sulit untuk melupakan orang yang telah memberiku kenangan terindah dalam hidupku.

Setiap tanggal 9 November kunyalakan lilin kecil untuk mengingat bagaimana saat pertama kali aku dan Raka bertemu. Itulah yang kulakukan selama tujuh tahun ini, menyalakan lilin itu lalu memutar kenangan bersamanya. Aku menyesali semuanya karena aku tak memiliki keberanian untuk melawan. Karena aku tak menemui Raka di hari itu. sampai sekarang aku tak tahu di mana Raka. Apakah aku bisa bertemu dengannya atau tidak.

Selama tujuh tahun ini aku tak bisa mencintai orang lain karena yang kupikirkan hanya Raka dan Raka. Meski aku tahu jika Raka mungkin sudah melupakanku dan membenciku setengah mati, tapi aku masih menyimpan perasaan ini untuknya. Tujuh tahun ini hidupku begitu hambar seperti masakan tanpa garam. Setiap hari aku selalu memikirkannya dan menyesali semuanya. Tapi aku sadar jika semuanya sudah terlambat dan tak mungkin kembali seperti dulu lagi.

Cerpen Karangan: Sri Pujiati

Cerpen Maaafkan Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Pergi

Oleh:
Saat dimana aku melepasmu… Desember 2016… “Dengarlah Nafi. Tentang perasaan yang kupendam, saat perlahan jarak memisahkan antara aku denganmu. Dengarlah rintik hujan yang jatuh. Yang mengingatkan kita pada masa

Rest in Peace

Oleh:
“Najmi!!!” Suara itu memekakkan telingaku, hingga nyaris jantungku menceletus ke dasar tanah. Bagaimana tidak suaranya disodorkan tepat di kupingku. Jelas, tujuannya mengagetkanku. “Tanza, resek lu.” bibirku mengerucut memuntahkan kekesalan.

Seperti Sebelumnya

Oleh:
Hari hampir pagi, tapi aku tak kunjung lelap, kantukku bahkan berganti gelisah, entah apa yang menggangguku. Malam ini hujan turun tidak begitu deras, namun dalam waktu yang cukup lama,

Hilang

Oleh:
Sekarang aku sedang menginjak hamparan pasir putih. Diriku tak bosan-bosannya memandang lautan berwarna biru itu. Telah kucuba berbagai cara untuk menghapusnya dari pikiranku. Namun, kurasa usahaku itu sia-sia. Jika

Pria Di Tepi Angke

Oleh:
Lembayung menjuntai, menyapa bumi Batavia. Di tepi sungai itu dua anak manusia memadu janji. Kata indah yang terucap dari lubuk hati insan yang tulus. “Wisena, aku ingin engkau tetap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *