Mau Merid Ketemu Mantan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 8 November 2016

Semenjak hari tunangan berlangsung, tanggal akad nikah dan resepsi pernikahan pun telah ditetapkan. Dua bulan lagi, acara akan segera dilaksanakan. Tak banyak waktu untuk bersantai, segala persiapan pernikahan telah dilakukan. Mulai dari mengurus surat dan berkas-berkas ke Pak RT, kelurahan, hingga ke KUA.

“Mas, kata bapak suratnya masih belum lengkap lo?” ucapku saat bersama Raka, diteras rumah.
“Iya, nanti diurus,” sahutnya santai sembari merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang.
“Tapi mas, waktu kita cuma sebentar. Nggak bisa santai-santai. Nanti gimana kalau acaranya jadi mundur?” cemasku menarik lengannya. Sampai membuatnya tak nyenyak, terlihat dari raut mukanya yang sedikit kesal.
“Duh dek, kamu panik banget sih?! Tenang aja, nanti pasti mas urus kok. Sekarang biarin mas istirahat dulu, capek nih!” kesalnya membalikkan punggungnya.
“Gimana sih, kok malah santai! Kan waktunya mepet banget!” geramku menggumam.

Meskipun geram dan kesal, namun aku tak bisa marah padanya terlalu lama. Usai menyelesaikan semua surat-surat untuk keperluan nikah. Agenda pun dilanjutkan dengan penjadwalan foto prewedd. Tapi tetap saja, tak berlangsung baik. Ada saja konflik yang terjadi. Seperti tidak sependapat dalam pemilihan tempat dan kostum. Alhasil harus diubah lagi konsepnya.

Setelah berdebat lumayan lama, akhirnya Raka yang tak lain adalah calon suamiku mengalah. Dia memberikan kewenangan keputusan sepenuhnya padaku. Penjadwalan foto prewedd pun ditetapkan.

Bak mendapati orderan yang menumpuk, waktu senggang pun terasa tidak ada. Aku telah disibukkan dengan berbagai macam persiapan. Seperti mengurus cetak undangan, pemesanan gedung, catering, rias pengantin, pencarian fotografer, sampai souvenir.

“Dek, semua sudah beres kan?” tanya Raka, tiba-tiba saat kami sedang bersantai menonton acara televisi.
“Sepertinya sih, udah semua mas,” balasku sembari berpikir dan mengingat-ingat lagi.
“Beneran?” tanyanya lagi memastikan.
“Ehmm… apa ya?” pikirku, memutar otak. “Ehh… kemungkinan souvenirnya bakalan kurang mas? Kan undangan nggak cuma dari teman-temanku aja. Temannya ibu sama ayah juga,” imbuhku kemudian.
“Ya kalau menurutmu kurang, pesan lagi aja!” ucapnya sambil mengelus kepalaku. “Lagian pesanan souvenir yang kemarin belum jadi kan?” lanjutnya.
“Iya memang belum, katanya tiga hari lagi.”
“Ya udah, pesan lagi.”
“Tapi mas…”
“Adek… udah nggak usah tapi-tapian. Dari pada kurang!” potongnya memintaku lekas menghubungi toko dimana kami memesan souvenir.

Waktu seakan berlalu begitu cepat. Dua minggu lagi acara pernikahan akan dilangsungkan segala macam persiapan telah selesai. Undangan pun mulai disebar. Lantaran tidak bisa mengantar ke rumah teman secara langsung, beberapa undangan terpaksa aku titipkan antara teman yang satu ke lainnya. Beruntung mereka mau membantu, sehingga urusan undangan cepat terselesaikan.

Meski sibuk, momen menghabiskan masa lajang tidak dapat dilewatkan. Malam itu aku menghubungi semua teman dekat, dan meminta mereka untuk berkumpul. Obrolan demi obrolan berlangsung seru. Candaan pun terus terlontar, membuat suasana makin ramai. Namun celetukan salah seorang kawan, membuatku berpikir.
“Linda, kamu yakin udah mau nikah? Lajang itu enak lo! Nggak ada tuntutan, bebas kemana aja!” celetuk Veni teman baikku sedari SMA.
“Ya yakin lah, lagian apalagi yang mau dicari. Kalau semua sudah terlaksana. Kuliah selesai, kerja juga sudah, jadi waktunya nikah lah,” balasku sembari cekikikan.
“Iya betul! Aku setuju!” sahut Lana, yang sudah lebih dulu menikah dan memiliki seorang bayi mungil. “Jangan ikut-ikutan dia, udah usia segini, masih betah aja ngejomblo!” lanjutnya meledek, yang lain pun ikut tertawa terbahak-bahak.
“Yee… biarin!” seru Veni nggak mau kalah.
“Hahaha…” tawa pun pecah melihat ekspresi mereka.

“Ehh… Lin, terus soal mantan gimana? Diundang juga nggak?” celetuk Reni tiba-tiba, membuat suasana nampak hening. Sorot mata mereka berubah seketika tertuju padaku.
“Hey, kalian ngapain ngeliatin aku kayak gitu sih?” tukasku sambil menyeruput ice lemon tea di hadapanku.
“Jangan ngalihin perhatian deh, jawab aja!” sentak Veni membuatku terpojok.
“Apa-apaan sih mereka? Kenapa malah bahas mantan,” gumamku. Perasaan campur aduk, antara cemas, panik, dan bingung.
“Nah iya, betul! Aku juga jadi penasaran,” tambah Lana, menatap tajam mataku.
“Gleekkk…” aku menelan minuman seketika. “Tenang-tenang, nanti pasti aku undang,” ujarku.
“Kamu yakin mau ngundang mantan?” selidik Veni penasaran. Aku hanya mengangguk pelan.
“Wah… beneran… parah! Gimana kalau calonmu tau?!” tukas Reni kemudian.
“Ya, jangan sampai dia tau kalau itu mantan. Bilang aja teman!” jawabku nyengir.
“Dasar kamu! Hemmmtt… pasti bakalan jadi cerita seru,” sahut Veni geleng-geleng kepala.

Semua undangan sudah tersebar. Seminggu lagi aku akan menikah, dengan lelaki yang telah kupilih. Namun saat aku mengecek kembali mejaku, ternyata masih tersisa satu undangan yang terselip di antara tumpukan kertas di atas meja kamarku. Di dalam kertas undangan, tertera satu nama. Nama yang sangat kukenal dan dulu sempat teramat berarti bagiku. Reno, itulah nama yang tertulis di kartu undangan.

Berulang kali aku berpikir, haruskah mengantarkan undangan itu. Atau sebaiknya mengurungkannya. Aku terus mondar-mandir sembari berpikir. Tapi tetap tidak menemukan jawaban apapun. “Ahh… sudahlah pikirin besok aja!” ucapku lantas merebahkan tubuhku ke atas kasur.

Pagi ini aku kembali disibukkan dengan berbagai rutinitas persiapan pernikahan. Ibu menyuruhku untuk membantunya, melengkapi beberapa perlengkapan yang dibutuhkan. Termasuk mengecek ulang souvenir. Setelah menyelesaikan tugas dari ibu, aku lekas kembali ke kamarku. Bermaksud untuk merebahkan tubuhku yang kelelahan, barang sebentar saja.
Akan tetapi, mataku harus dikejutkan dengan selembar undangan yang masih tergeletak di atas meja. “Reno,” gumamku sembari berpikir. Rasa cemas mulai menyelimuti hatiku.
Kebingungan memenuhi isi kepalaku. Antara harus mengantar undangan tersebut ataukah tidak. Berat rasanya bagiku, kalau harus mengantarkan undangan itu. Sebab sudah lama aku tak berkomunikasi dengannya.

“Mantan gimana? Diundang juga nggak? Tenang, pasti aku undang,” mendadak ingatan obrolan beberapa hari kemarin muncul lagi dan membuatku terpojok.
Aku tidak bisa mencabut ucapan yang telah keluar. Mau tidak mau, aku harus melakukannya. Ya, memberikan undangan itu padanya, yang tak lain adalah mantan pacar.

Sorenya aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah Reno. Aku sih berharapnya dia tidak dirumah, namun takdir berkata lain. Aku memang diharuskan bertemu dengannya. Tidak ada yang berubah darinya sama sekali. Matanya, suaranya, hidungnya, juga wajahnya, semua masih sama dengan dirinya yang aku temui dulu. Ia tetap terlihat menawan.
Meski lebih dari empat tahun tidak bertemu, pesona wajahnya tetap sama. Pesona yang dulu, pernah membuatku jatuh cinta dan terperangkap dalam cintanya. Sampai akhirnya semua keadaan berubah. Ia memutuskan hubungan kami, dan berakhir sebagai mantan.

Butuh beberapa menit bagiku, untuk membuka percakapan dengannya. Menduakan egoku, menghapus semua kekesalanku padanya, dan berdamai dengan hatiku. Jantungku terus berdegup kencang tak karuan. Sama seperti ketika awal aku berjumpa dengannya.

Melihat wajahnya lagi, seakan aku mampu merasakan cinta yang dulu pernah ada untukku. Ia terus saja menatap mataku, dan tak coba memalingkan pandangannya. Membuatku jadi salah tingkah. Berulang kali aku mencoba mengalihkan perhatiannya dengan obrolan dan candaan kecil. Tapi dia tetap memandangku, sembari tersenyum tipis. Senyuman yang dulu selalu kurindukan.

“Undangan!” aku kembali teringat dengan tujuan awal datang menemuinya. Yakni untuk mengantarkan undangan padanya. “Sreeekk…” aku lekas mengambil selembar undangan dari dalam tas. “Ini untukmu,” ucapku kemudian sembari menyodorkan kertas berwarna cream dengan hiasan pita terbungkus rapi.
“Undangan?” celetuknya nampak penasaran dan penuh tanya.
“Iya, aku akan menikah,” jawabku mengangguk pelan.

Perlahan ia membuka undangan, ada fotoku bersama Raka calon suamiku di dalamnya. Ku lihat ia nampak gemetaran, memegangi kertas undangan pernikahan dariku. “Kamu mau menikah?” tukasnya bertanya. Sorot matanya berubah, tidak sama seperti saat aku datang. Ada kekecewaan yang terlihat disana. Membuatku merinding melihatnya. Aku hanya tersenyum tipis menyahut ucapannya.
Ingin rasanya aku segera pergi dari rumahnya. Dari pada harus terus berhadapan dengannya. “Reno, aku pikir begitu saja ya? Aku hanya ingin mengantar undangan ini,” ujarku serasa berpamitan.
“Cuma begini saja?” celetuknya. Nampak raut mukanya pucat, membuatku enggan untuk berpamitan.
“Gimana ini?” aku kembali memutar otakku. Dan memutuskan untuk mengulur sedikit waktuku. “Ya memang hanya itu saja.”
Matanya yang menawan, jadi semakin redup. Suasana mendadak hening sejenak. Ada rasa yang tiba-tiba datang mengganjal hatiku. Menjadikanku tidak tega untuk meninggalkannya saat ini. “O ya, sekarang pacarmu orang mana?” celotehku memecah keheningan.
“Aku masih sendiri,” sahutnya.
“Aku kirain sudah punya pacar lagi?”
“Karena ngajakin kamu balikan nggak mau sih?!” makin lengkap perasaanku yang tak karuan, mendengar ucapannya.
“Apa maksudnya coba?” gumamku penasaran. Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat ia mencoba menghubungiku dan memintaku untuk berpacaran lagi dengannya. Namun saat itu aku menolaknya, lantaran rasa sakit yang kurasakan.
Tapi seberapa besar kemarahanku padanya, aku juga tidak bisa membencinya. Mungkin karena rasa cintaku dulu yang teramat dalam untuknya. Sampai lupa caranya untuk mengubah perasaan cinta jadi benci.

“Lin, kenapa kamu diam?” tanyanya.
“Ohh… tidak. Aku cuma sedang berpikir saja.”
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Kenapa kau harus mengingatkan aku lagi, soal itu? Kan itu sudah lama…”
“Tapi Lin, perasaanku masih sama kepadamu. Aku tau, kalau dulu aku telah melakukan kesalahan. Tak seharusnya aku memutuskan hubungan kita. Untuk itulah…”
“Sudahlah Ren! Aku sudah melupakan kejadian itu!” potongku. Meskipun aku sadar, kalau aku telah berbohong. Bahkan sampai saat ini aku masih terus mengingatnya. Bagaimana ia mengungkapkan perasaannya, kemudian memutuskanku secara sepihak, lalu ngajak balikan lagi. Aku selalu ingat semuanya.

“Lin, kenapa kamu mau menikah dengannya? Kenapa tidak denganku saja?” celetuknya seraya menancapkan panah tajam ke hatiku.
“Deg… deg… deg…” debaran jantungku terdengar jelas. Macam orang berlari, detakan begitu cepat. Aku kembali berpikir lagi. Benar bahwa aku pernah mencintainya, menyayanginya, memberikan semua perhatian dan waktuku untuknya, tapi itu dulu. Sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri, tanpa menanyakan perasaanku lebih dulu. Apakah aku ingin putus darinya atau tidak.

Aku yang dulu sangat mencintainya, memintanya untuk mempertahankan hubungan yang sudah terjalin. Tapi yang terjadi, ia tetap saja teguh pada egonya saat itu dan tidak ingin mendengarkanku. Alhasil aku pun harus merelakannya pergi. Aku juga tak lagi memiliki keberanian untuk menjalin hubungan yang telah lama berakhir.
Meski ia memintaku berulang kali sekalipun. Pendirian dan keputusanku tetaplah sama. Aku tak bisa menerimanya lagi. Mengapa baru sekarang ia memintaku kembali. Ataupun lebih dari setahun, setelah kami berpisah. Kenapa tidak saat kami putus. Sehingga aku tak perlu waktu untuk merelakan kepergiannya dan mengobati lukaku sendiri selama bertahun-tahun lamanya.

“Maaf Ren, sepertinya urusanku sudah selesai. Aku harus segera pulang. Maaf ya?” pamitku beranjak pergi meninggalkannya.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas

Cerpen Mau Merid Ketemu Mantan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Palsu

Oleh:
Aku membencimu dibalik semua rasa sayangku, aku membencimu yang meninggalkan ku tanpa kepastian, mengombang-ambingkakan perasaan. Tetapi aku juga merindumu melalui perhatian kecilmu, suara serakmu yang dulu sering menemani malamku,

Menjadi Teman

Oleh:
“Apa aku yang terlalu bodoh?” Ucap Adela, memecah keheningan yang mulai bersenda akrab dengan dinginnya hembusan angin malam. Lelaki di sampingnya menoleh, dengan mimik yang datar, setengah menahan kantuk,

Cinta dan Persaudaraan

Oleh:
“Aku sedih Sar”, isakku kepada Sarah “memang apa masalahmu dengan Ilham yass?, bukannya kamu udah temenan lama sama dia..? kok sekarang tiba-tiba jadi marahan gini sih” jawab Sarah seakan

Indah Pada Waktunya

Oleh:
Pertemuan dengan seorang cowok di ruangan exkul itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati vivi. Seorang gadis berusia 15 tahun, entah mengapa ada getaran yang begitu hebat dan

Mengapa Dia Bukan Milikku?

Oleh:
Di pelupuk mata masih teringat indahnya kebersamaan di antara aku, kau dan sahabat-sahabat kita. Kala senang, sedih, duka dan gembira selalu kita jalani bersama. Sungguh indah semua itu, rasanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mau Merid Ketemu Mantan”

  1. Masih gantung ceritanya nih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *