Melodi Dalam Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Aku menikmati semilir angin yang berhembus membelai sukma, di bawah pepohonan rindang, mengingatkanku pada sosok yang mampu menggetarkan jiwa. Mengenang manakala kami duduk berdampingan, menyia-nyiakan waktu dengan cara yang indah.
“Aku sudah terlalu lama disini. Sebaiknya aku pulang,” gumamku saat melihat lembayung senja.

Aku berjalan menuju tempat teraman yang aku punya, rumah. Kulangkahkan kakiku dengan tempo yang tidak terlalu cepat. Saat menapakkan kaki di rumah, kusegerakan untuk menuju ke kamar. Bukan untuk beristirahat, melainkan untuk melihat kondisi hapeku. Maklum saja, aku meninggalkannya saat berjalan keluar tadi.

Aku menerima sebuah pesan singkat dari seorang yang selalu membuatku seolah-olah lupa segala hal, Tommy, aku biasa memanggilnya “Tom”. Begini isi pesannya:
Assalamu’alaikum sayang. Hari Jum’at nanti rencananya aku akan pulang. Aku rindu sekali padamu, bisakah kita bertemu hari Sabtu nanti di tempat biasa?
Dengan senang hati aku menjawab pesan darinya. Tentu hal yang wajar, kami memang jarang bertemu, berkomunikasi lewat hape pun paling dua hari sekali.
Wa’alaikumsalam. Bisa, tentu bisa. Aku akan datang menemuimu hari Sabtu nanti.

Aku berpikir, “Hari Sabtu? Itu berarti masih lima hari lagi. Entah akan seperti berapa lama aku merasakannya, tapi aku harus tetap sabar.”

Tap, tap, tap. Hari berganti hari, dan ini sudah hari Jum’at. Sejak dia melayangkan pesan yang kemarin dia tidak pernah memberi kabar, bagaikan menghilang tanpa jejak. Perasaanku semakin risau. Sempat terlintas di pikiran untuk membuka salah satu akun jejaring sosialku dan “mengintip” akun miliknya. Namun miris sekali begitu aku melihat salah satu tulisan di akun miliknya itu.

Bukan maksud hatiku untuk pergi menyakiti, mengkhianati, dan menghancurkan semua asa dalam rasamu. Sakit tentu sangat kurasakan, karena ini hanya sebuah keterpaksaaan. Berat rasanya jika aku harus memikul keterpaksaan ini sendirian..
Aku tidak bisa membayangkan jika nanti dia tahu, mengimajinasikan saat mutiara berhamburan dari mata indahnya, takkan bisa kumaafkan aku seandainya benar-benar menyaksikan itu. Andai saja “Nada-Nada” cintaku mengerti akan semua ini..
Walaupun begitu, aku akan tetap menepati kata-kataku untuk bertemu nanti, mungkin yang terakhir.. :’(
“Nada-Nada” yang selalu ada untukku..
Kulihat pesan itu dibuat kemarin. “Tumben kata-katanya puitis, nggak biasanya dia bisa bikin yang sepuitis itu,” gumamku sambil tersenyum. Namun aku kembali berpikir, berpikir tentang makna dari tulisan itu.
“Kira-kira apa maksudnya ya? Apa mungkin yang dia maksud itu aku?! “Nada-nada”, “menepati kata-kata untuk bertemu nanti”. Aku merasa kata “nada-nada” itu menunjuk padaku, dikarenakan namaku Melodi, dan memang sebelumnya dia mengajakku untuk bertemu,” ucapku lirih seraya menutup akun sosialku.

Aku berusaha untuk tetap positive thinking padanya. Sampai tiba di hari Sabtu, hari yang dia janjikan untuk bertemu. Tiba-tiba hapeku bergetar, sebuah pesan baru saja mendarat.
Assalamu’alaikum, Melodi. Hari ini jadi kan? Aku tunggu kamu di tempat biasa ya..
Sedikit heran, karena di pesan itu dia memanggilku “Melodi”, tidak biasanya. Aku merasa ada sesuatu yang salah. Kuputuskan untuk langsung pergi ke tempat biasa kami bertemu melepas rindu tanpa membalas pesan darinya. Di sebuah taman, tepatnya di sebuah pohon rindang tempat aku mengenang waktu yang telah kami habiskan di sana beberapa hari yang lalu.

Aku tiba disana, sejauh mata memandang, tak kutemukan tanda-tanda dari lelaki yang biasa ku panggil Tom itu. Aku menunggunya di bawah pohon rindang seperti yang dijanjikannya. Lama kutunggu namun dia tak kunjung datang, sementara langit mulai berwarna hitam.

Di kejauhan aku melihat seorang yang sangat kukenal, seperti ada yang lain yang menyertainya tapi perlahan menghilang, dan Tom datang.
“Assalamu’alaikum,” kataku mencoba menyapanya dengan senyum.
“Wa’alaikumsalam,” dia menjawab dengan nada suara lembut, hingga aku merasa nyaman.
Entah mengapa hanya dengan mendengar suaranya pun aku bisa merasakan sejuta kenyamanan, dan entah mengapa juga ketika melihatnya saat itu aku merasakan getaran yang berbeda, seperti ada rasa takut kehilangan.
“Kamu udah lama nunggu?” tanyanya.
“Nggak juga kok,” aku tersenyum.
“Maaf sebelumnya, hari ini aku nggak bisa lama-lama. Aku mau ngejelasin sesuatu sama kamu,” ujarnya.
Aku terenyuh, teringat akan tulisan di akunnya waktu itu. Kini aku semakin yakin akan perkiraanku. Kutarik nafas panjang, mempersiapkan mental sepenuhnya.
“Apa?” tanyaku dengan semua yang tersisa padaku.
“Sebelumnya aku minta maaf banget sama kamu, bukan maksud aku buat ingkar janji apalagi menyakiti hati kamu, tapi aku ngelakuin ini terpaksa. Kedua orang tuaku sudah menjodohkan aku dengan seorang gadis, itu hanya karena dia sakit keras. Aku sempat menolak karena kamu, tapi mereka terlalu egois, dan aku kalah,” jelasnya dengan mata berbinar.
Aku hanya terdiam, menatap dalam kedua bola matanya yang bulat itu seakan berlinangan. Dengan sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk ikut menangis, dan mencoba menjawabnya dengan penuh keikhlasan.
“Nggak apa-apa, aku bisa ngerti. Lagian itu bukan sebuah kesalahan kok, Tom. Justru itu sebuah hal yang menurut aku berani banget, hebat deh,” aku menjawab. Dan untuk pertama kalinya aku menyeka air mata yang jatuh dari matanya.
Sementara itu langit semakin kelam, gemuruh menyusul. Semakin berat awan yang datang, dan tidak dapat menahannya lagi. Hujan pun turun dengan derasnya.
“Makasih banyak, Melodi. Aku tau kamu memang selalu ngerti, nggak tau dimana lagi aku bisa dapet yang sesempurna kamu,” ucapnya terakhir seraya ia mengecup keningku mesra di bawah rinai hujan.

Dia membalikkan badannya, dan meninggalkan aku sendiri di bawah pohon yang daun-daunnya sudah basah karena hujan. Aku hanya memperhatikan dari tempat aku berdiri. Dari jauh aku melihat ia berdua, ternyata benar apa yang kulihat tadi.
Dan sekarang tinggal aku yang sendiri berdiri dalam sepi dengan tetesan-tetesan hujan yang menemani. Aku memilih duduk kembali, menikmati hujan yang sudah terlanjur membasahi tubuhku. Kudengar mereka mengetuk semua yang dijatuhinya, menjadi bagaikan sebuah melodi. Yupz, seperti aku, melodi dalam hujan.

Cerpen Karangan: Destia Eka Putri
Facebook: Destia Eka Putri Azhar

Cerpen Melodi Dalam Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangga Impian

Oleh:
“Kau harus pergi Shalsa! Kau sudah bekerja keras untuk meraihnya! Ini mimpimu!! Jangan bertingkah bodoh untuk melepaskannya begitu saja!” Lalu, gadis itu pergi dengan penuh emosi. “Maafkan aku Diana..”

Kamu, Doa yang Terus Disemogakan

Oleh:
Aku kelu. Dalam ribuan alasan kepergianku, aku menjadi bisu. Di hadapan bayangmu, rindu itu melepaskan kekuatannya yang begitu kuat, merengkuhku dalam pelukannya. Kamu dan pias wajah yang menenggelamkanku dalam

L.O.V.E

Oleh:
Marc tengah duduk di bangku taman yang sepi ini. Awan mendung menghiasi langit seolah mengerti perasaan Marc yang dilanda rasa cemas. Seorang wanita yang ia cintai terbaring di Rumah

Kurang Sabar Apa Aku Ini

Oleh:
Nama aku Silvi, aku siswi di salah satu SMK swasta di jakarta. Selama aku pacaran aku memang lebih sering LDR. Karena aku memang dilarang pacaran sama orangtuaku, apa lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *