Menikah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 1 January 2018

Air mata ini jatuh berlinang, saat aku melihatmu duduk di pelaminan. Kesedihan itu kian membuncah saat, kau diciumnya. Lelakimu itu lalu dia tersenyum menang.

Aku pergi terlalu dini tak ingin larut dalam kesedihan, namun air mataku tiada sanggup berbohong. Berlinang jatuh membasahi pipi ini. Kususuri hidup yang sepi ini tanpamu. Semua terjadi serasa begitu cepat.
Ingatkah kau saat itu saat aku meyakinkanmu, akulah pilihanmu yang paling tepat. Aku akan menjagamu, bila hatimu sedang sedih aku akan ada. Bila kau butuh dukungan tentang apa saja, akulah orangnya. Ketika itu kau tersenyum, kepalamu yang indah dengan rambut tergerai mengangguk yakin. Namun semua jadi sia sia, saat kau lebih memilihnya.

Air mataku masih jatuh berlinang saat aku tiba di sebuah warung. Kupesan mie pangsit kering. Berharap biar air mataku juga ikut kering.

“Kamu ingin punya anak berapa?” Tanyamu waktu itu.
“Berapa saja, aku hanya ingin anak yang cantik sepertimu.”
Kau tersenyum sipu. Akulah lelakimu yang tak banyak menuntut. Apa adanya kamu. Tak ingin aku mencari-cari apa yang tidak ada padamu, saat ini kamu lebih dari cukup.
Saat kau dapati aku mulai rewel, memintamu begini begitu, saat itu nanti aku takut kau menjadi marah padaku.
Aku hanya ingin kamu, kamu saja sudah cukup.

Mie pangsit yang aku pesan telah tersedia. Pelayan melihat mataku yang berair. Namun aku tak ingin ia mengasihaniku. Semua harus dilewati dan berlalu.
Lidahku menjadi kelu, rasa itu aku tak punya kini. Mie pangsit ini tak mampu membuatku melupakanmu.
Aku tinggalkan warung masih dengan kesedihan. Hidup ini kadang tak berpihak.

Tanpa sengaja aku bertemu denganmu, setahun sejak pernikahanmu. Tubuhmu tidak berisi. Apa kesedihan telah membelenggumu selama bersama lelakimu itu? Aku tak mau menduga-duga.
Tapi senyummu masih sama, saat pertama kali aku mulai menyukaimu. Senyum yang bisa menghadirkan rasa sejuk di hatiku.

“Jofa, aku merindumu.” Suaramu agak lirih kudengar.
Aku tak ingin melihat tepat di bola matamu, aku takut akan tenggelam di sana.
“Bahagia itu jadi milikmu?”
Kau menggeleng.
Kesedihan ingin menyusup masuk ke hatiku. Namun aku tidak mau.
Pilihan sudah kau ambil, pertahankanlah sepahit apapun itu.
Kuingat pesan ibu untuk saudara perempuanku, “menikahlah dengan lelaki bersahaja. Lelaki yang banyak tingkah biasanya tidak bisa diandalkan, tidak bisa apa-apa. Bila kalian hanya melihat wajah, nanti saatnya kalian akan kecewa.”

Aku pulang ke rumah, meninggalkan sedihku di pusat perbelanjaan itu. Aku tidak tahu lagi kehidupanmu, dan memang selayaknya tidak ingin tahu.
Aku sampai hampir bersamaan dengan ojek online, membawakanku mie pangsit.
Rasa itu hadir lagi di lidahku, mie pangsitnya sangat enak.

Cerpen Karangan: Jofa

Cerpen Menikah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Hari ini merupakan hari terakhirku menjadi seorang murid SMA, Tak terasa sudah 3 tahun berlalu dan selama 3 tahun itulah banyak kisah yang amat berarti dalam hidupku, baik kisah

Kasih Sayangku Kasih Sayang Tuhan

Oleh:
Langit semakin menunjukkan warna keemasannya, dan burung-burung pun beterbangan kembali ke sarangnya masing-masing, angin lembut membelai helaian rambutku melalui jendela yang sengaja aku buka, mencoba menghilangkan bau obat-obatan dari

Cinta Lama Bersemi Kembali (Part 1)

Oleh:
Hay… namaku Darliana, tau nggak? saat aku kelas satu SMP, aku pernah punya pacar. Saat itu aku bahagia banget tapi sayang hubungan aku Cuma berlangsung selama lima bulan. semua

Niyala

Oleh:
Di penghujung musim gugur, daun terakhir jatuh terjeremabab pada wajah bumi lusuh bersama kekecewaan yang juga terkubur bersama abu. Mentari akan terbit dengan membawa harapan-harapan baru bagi ranting kehidupan

Broken Heart Twice

Oleh:
Hari ini aku pulang dengan membawa tanda tanya besar di kepalaku. Tanda tanya yang selama ini memenuhi kepalaku. Setelah meletakkan tasku di atas ranjang kecilku. Aku langsung menutup pintu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *