Menikam Hati (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 12 March 2014

PROLOG
Hujan terus berguyur di pukul 15:00. Azan ashar telah berkumandang. Dinginnya musim hujan membuatku menikmati kehangatan di tempat tidur dengan membenamkan diri di selimut. Di meja rak kecil ini fotoku dan keluargaku tertata rapi. Ada juga foto yang sangat lama aku taruh disitu. Sangat berharga. Fotoku dan sahabatku.

Foto itu sudah lima tahun aku simpan. Kami sudah bersahabat selama 6 tahun. Semenjak SD kelas empat. Namaku Zafrina. Sebenarnya aku dari Jakarta. Tapi semenjak orangtuaku pindah kerja kini aku berada di kota singo sari. Sahabatku itu bernama Sinta. Dia sangat akrab denganku. Kami bahkan sering dibilang persis saudara. Kini aku kelas 9 SMP Negeri singosari jawa timur. Bahasa jawa sudah melekat tapi di sekolah ini lebih sering menggunakan bahasa indonesia bila bicara.

Di pagi yang mendung karena musim hujan aku berangkat dengan membawa sepeda Mio berwarna hijau matang. Aku menyetir dengan menembus gerimis. Kugunakan jaket dan mantelku. Lampu kunyalakan. Sepeda melaju tidak terlalu cepat melewati jalan raya. Aku tidak berani cepat cepat karena jalannya licin. Pagi yang mendung ini bukanlah halangan bagiku untuk tetap bersekolah.

Kaca helem yang kupakai mengembun terkena tetes tetes hujan. Ku perlambat sepedaku karena sudah sampai. Meski cewek aku juga selalu bersekolah membawa sepeda sendiri.

Inilah sekolahku. Berlantai 3 dan berwarna putih abu abu. Hari ini hari rabu jadi kami menggunakan seragam batik biru dan celana putih. Kulangkahkan kakiku sambil menarik sepedaku ke tempat parkir dekat pohon ceri itu. Sepatuku sedikit basah terkena air. “Pak Tarno.” Sapaku kepada satpam sekolah. “Iya mbak silahkan.” Aku segera memakai tasku dan beranjak ke kelas. Di kelas anak anak berjejeran duduknya. Ada yang duduk sambil baca novel. Ada yang duduk dengan membuka laptop dengan teman temannya. Mereka tertawa dengan losnya. Satunya lagi dia memakai pengikat rambut. Kulitanya coklat eksotik. “Hai Zafrina.” Sapa sinta. “Hai Sinta.”

Sinta duduk di depan kelas menggunakan jaket berwarna biru seerti pendaki gunung. Tubuhnya memang lebih tinggi dari pada diriku. “Zafrina Gimana udah ngerjain PR Ekonominya.?” Tanyanya. Memang sekarang memasuki semester 2. Tinggal menunggu 2 minggu lagi kami akan UNAS. Setiap hari aku harus belajar lebih giat. Karena diperkirakan UNAS tahun ini ada 20 paket soal. Satu ruangan tidak ada yang sama soalnya.
“Oh udah dong.” Percakapan pendek ini terpotong oleh bell sekolah yang berdering. Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Aku duduk di meja depan bagian tengah. Aku duduk di sebelah Sinta. Kami sering mengerjakan tugas bersama.
Meja ini dan sekolah ini akan menjadi saksi atas Persahabatan kita. Ruangannya semakin dingin saja dengan AC. Ku hirup aroma terapi minyak kayu putih. Karena takut perutku kembung. Jujur aku masih belum pernah pacaran. Semua orang disini aku anggap sahabat.

Saat bell istirahat. Aku akan beranjak. Tiba tiba seorang laki laki bertubuh tinggi berkulit kuning kecoklatan. Wajahnya agak kearab araban. “Hai Zafrina.” Sapa laki laki itu. “David. Ngapain bukannya kamu akan ulangan Fisika bentar lagi. Kok gak belajar sih.” Jawabku dengan nada ketus. Ia langsung menarik lenganku. “Aku mau ngomong tapi jangan disini yaaa. Nanti aku tunggu di gerbang masjid.” Katanya. Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya. “Insya Alloh.” Sahutku. Sinta langsung menarikku ke kantin. “Ayo na.”

Sembari kakiku melangkah menuju kantin melewati koridor. David terus terusan melihati diriku dengan tatapan aneh. Entah kenapa. Dia sedang bersandar di Loker depan kantor Tata Usaha. Matanya itu melirik ke arahku. Mata kami beradu pandang. Ku toleh dia ke kanan tetapi dia tak berhenti melirik mataku. Sinta masih saja berjalan dengan tenang. Di kantin aku tidak membeli banyak. Aku hanya membeli kapucino panas. Kami duduk di meja sebelah kiri agak menengah. Maklum suasananya memang dingin. Tidak banyak yang kami bicarakan tetapi Sinta rupanya penasaran sekali padaku. “Na Ceritain dong. Emangnya tadi David sama kamu tu ngomongin apa sih kok kayaknya serius banget. Jangan jangan kalian jadian yaaa.”
Pertanyaan yang sulit dijawab. “Emm tidak juga tapi rupanya dia mengajakku bicara 4 mata. Sepulang sekolah nanti.” Jawabku dengan sesekali menyeruput Cappucino panasku itu. “Sruput Sruput.”

Tak kerasa Bell berbunyi kembali menunjukkan jam terakhir. Pelajaran Ekonomi. Untung PR ku telah selesai kukerjakan.
Sepulang sekolah saat aku hendak akan mengeluarkan sepeda dari tempat parkir Eh ternyata aku baru ingat. David menungguku di depan gerbang. Hujan memang sudah berhenti dari tadi. Tapi mendung dan kabut masih saja menggumpal di atas. Jalan raya masih basa dan mengkilap karena hujan tadi siang. “Vid maaf ya udah bikin kamu nuggu lama.” Kataku dengan mengkerutkan kening. Kulihat arlojiku dan jarum jam menunjukkan pukul 01:00. “Gak papa lagi.” Katanya dengan tersenyum seolah tidak terjadi apa apa.

15 menit kemudian sekolah telah sepi. Kini hanya tinggal aku dan David yang berada tepat di depan gerbang. Kami menaiki sepeda masing masing. Tiba tiba saja David turun dari sepedanya dan menarik tanganku. Ia menarikku menuju masuk sekolah dan menaiki tangga. Entah ada apa. “Vid ada apa vid kenapa kamu narik narik aku seperti ini?” Tanyaku dengan perasaan khawatir. Sesampainya di lantai 3 dia berhenti.
Kemudian dia membalikkan badannya tepat ke arahku. Jantungku berdegup kencang. Tubuhnya semakin dekat denganku sehingga aku bisa merasakan nafasnya. “Zafrina. Aku boleh Tanya?” Ucapnya dengan nada pelan dan tulus. Angin menyimbakkan rambutnya. “Ya kau boleh Tanya apa saja.” Jawabku.
“Apakah kamu pernah merasakan sesuatu yang bila disimpan sakit. Tapi jika dikeluarkan malu?” Tanyanya. Pertanyaan itu membuatku ingin tertawa. Karena jujur teori itu seperti kentut. “Kau bercanda. Apa kah kau ingin bertanya bagaimana perasaanku saat ingin kentut.” Jawabku dengan sedikit lelucon. “Aku tidak bercanda.” Jawabnya sedikit lebih tegas. “Oke kalau begitu apa?” Tanyaku dengan serius. “Ak, a, a, a, a, a, Ak, akkk Aku Cinta sama kamu.” Katanya dengan wajah kemerahan. Dia langsung menyentuh tanganku. Kubiarkan saja tanganku disentuhnya. Perasaanku campur aduk. Selama ini aku tidak pernah mempunyai perasaan apa apa padanya. Tapi aku juga melihatnya dengan sedikit kasian. Entah kenapa rasanya seperti ada cahaya yang menerangi hatiku. Ada kunci yang tiba tiba membuka hatiku. “Emm beri aku waktu.” Pintaku dengan memejamkan mata. Tangannya masih kubiarkan menggenggam tanganku.
“Jangan terlalu lama.” Jawabnya. “Hanya satu minggu. Kau tahu aku belum pernah pacaran.” Kataku. Suaraku parau dan lemah di depannya. Perlahan tangannya melepas tanganku. Kami turun dan aku pun beranjak pulang.
Di rumah aku langsung mandi. Setelah Sholat aku nonton TV sebentar. Ayah masih belum pulang. Dia menjadi seorang Dokter di rumah sakit Syaiful Anwar Malang. Ibu sedang arisan di rumah temannya. Aku sendirian di rumah.

Malam pun dimulai. Tidurku tidak bisa nyenyak. Aku terus menerus Bermimpi. David tiba tiba muncul di depanku dengan tersenyum indah. Saat terkaget aku terbangun. Itu hanya mimpi. Aku berusaha mengatur nafasku. Malam pertama memimpikan David membuatku tak usah lama lama untuk mengatakan Iya.

Aku akui dalam hatiku. Sepertinya aku telah jatuh hati padanya. Entah darimana perasaan itu bisa muncul. Menjadi suatu tanda Tanya bagiku. Kulihat pukul 03:40 WIB. Dinginnya udara membuatku sedikit menggigil. Aku langsung bangun dan melangkahkan kakiku ke toilet. Aku bercermin sejenak. Aku cuci muka kemudian bercermin lagi.

Seperti ada cahaya yang tiba tiba merasuk jiwaku. Ku telfon Sinta tapi tidak dijawab. Ku telfon dia 3 kali. Mungkin aku harus bersabar sampai nanti siang.

Pagi yang cerah. Tidak seperti kemarin. Suasana hangat hari ini. Ayah dan Ibu sarapan di meja makan. Kami sarapan dalam diam. Tapi ibu tiba tiba memecahkan lamunanku. “Na. Kamu harus banyak belajar. Kamu kan udah mau UNAS. Takut tidak lulus. Soalnya ada 20 paket loo.” Kata ibu dengan menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. “Ia Na bener kata ibumu. Jangan kebanyakan baca novel dan nonton film.” Ayah juga ikut menasehatiku. Aku tersenyum sedikit pada mereka. “Iya.”

Aku segera berangkat dengan memakai tas hitamku. Rumahku berada di Jalan Masjid. Yaaa rumahku dekat dengan Yayasan pendidikan Al. Maarif. Insya Alloh kalau aku lulus aku akan masuk SMAI AL MAARIF.

Di depan gerbang seperti biasa pak satpam menyapaku. Tapi kenapa ya aku tidak melihat David. Biasanya dia ada di koridor dekat madding. Hari ini aku mengenakan seragam batik kotak kotak berwarna ungu.

Aku segera menuju ke kursi Sinta. Ia sedang membaca pelajaran Kimia. Aku menyapanya sebentar. “Sinta.” Sapaku dengan senyum. “Emmm.” Jawabnya. Keliatannya serius banget. “Tahu enggak kenapa kemarin David tuu ngajak ngobrol.” Kataku. Sinta yang tadi diam langsung terlihat wajah penasarannya itu. “Oh iya. Emangnya ada apa. Aku jadi penasaran.” Jawabnya. “Jadi begini. David nembak aku.” Sautku dengan senang. “Kamu mau?” Tanyanya lagi. “Entah ya. Aku merasa seperti orang bodoh akhir akhir ini. Tiba tiba saja aku ingin sekali menjadi miliknya.” Jawabku. “Itu berarti kamu mau.” Kata Sinta dengan senyum mengembang. “Em em.” Balasku.
“Tapi ada yang aneh. Dimana ia sekarang. Kenapa aku tidak melihatnya?” Tanyaku. “Entahlah.” Jawab Sinta.

Kususuri seluruh sekolah. Kucari David untuk mengatakan Iya padanya. Entah kemana dia. Atau mungkin dia belum datang. Istirahat ku tengok dari jendela kelas. Tapi aku tak melihatnya. Bahkan di parkiran aku juga tidak melihat sepedanya.

Keesokan harinya. Kufikir dia akan datang. Kutunggu sampai pulang dan kulakukan hal yang seperti kemarin. Tapi hasilnya nihil.

Kini telah dua minggu lebih dan semuanya menjadi. Aneh.
Aku berencana menyusun kata kata untuknya. Aku berencana memberi pertanyaan untuknya. Pertama saat aku akan menerima cintanya. Kenapa dia menghilang seolah ditelan bumi. Aku tahu dia memang bersebelahan kelas denganku. Aku di kelas 9. A Dia berada di kelas 9. C
Kedua aku ingin bertanya. Kemana dia pergi.
Masih banyak pertanyaan yang masih dalam penyusunan.

Hampir 3 minggu. Tinggal menunggu hari UNAS akan dimulai. Kemana David pergi. Apakah ia memberiku PHP (Pemberi Harapan Palsu) Kucoba untuk bersabar. Kucaba untuk bertanya kepada teman satu kelasnya. “Ko Eko. Boleh Tanya?” Tanyaku. “Boleh kamu memang mau nanya apa?” Jawabnya sekaligus bertanya balik. Kukecilkan volume suaraku hampir seperti berbisik. “Eh David kenapa sih kok jarang aku lihat. Biasanya kan dia selalu lewat depan kelasku. Terus inikan udah mau UNAS.” Kataku dengan nada yang masih seperti berbisik.
Eko melangkah dua langkah lebih dekat kearahku. “Emmm jadi gini Na. David, David. David pindah sekolah na. Dia ikut orangtuanya ke Jerman. Ayahnya telah naik pangkat sehingga harus berada disana. David dan keluarganya juga ikut. David tidak bilang kepada siapa siapa. Dia hanya bilang kepada guru dan aku.” Kataya. Jantungku seakan akan mau berhenti. Aku terkaget.

Hatiku menangis bukan kepayang. Hati ini terluka. Baru kemarin kata kata indah dan menyejukkan hatiku itu terlontar dari mulutnya. Tapi kini dia telah hilang begitu saja tanpa memberi tahuku.

Di kelas. Aku tidak bisa memikirkan hal ini. Aku ingin menangis tapi kutahan agar tidak ada yang tahu kesedihan hati ini. Sinta rupanya tahu masalahku. “Na. Bila kamu punya masalah certain saja sama sahabat kamu ini looo.” Sinta berucap dengan memegang pundakku. “Aku enggak kenapa kenapa kok.” Bersikerasku. “Udah la Na. Kamu tu gak usah membohongi diri kamu sendiri. Pasti ada hubungannya dengan David.” Saut ketusnya. Air mataku tak bisa berhenti meleleh. Hatiku sedih bukan main. Seluruh persendian tubuhku kaku. Air mataku tak bisa kutahan lagi. Kulihat gurunya tidak masuk masuk. Air mata ini mengaliri pipi dengan deras. Ku sandarkan kepalaku di pundak Sinta.
“Kau benar Sin. Aku memang tidak bakat menyembunyikan sesuatu.”
Bukan Na. Tapi kau memang tidak bisa mengontrol kesedihanmu.”
“Sin kamu tahukan kalau David telah menembakku. Disaat aku akan berbicara iya padanya. Dia hilang begitu saja. Tanpa pamit atau memberi ucapan kepadaku. Ia pergi begitu saja menuju jerman.”
“Ya sudah Na. Sabar saja di dunia ini banyak lagi cowok yang lebih baik dari dia. Lagian kita gak usah mikirin pacaran dulu lagi. Kita mikirin UNAS yang tinggal 3 hari lagi.”
“Ya kau benar Sinta. Terima kasih atas masukannya.”
Kepalaku masih bersandar di pundak sinta. Air mataku perlahan demi perlahan akhirnya behenti. Kurasa aku bisa melupakan kejadian itu. Tapi entah bagaimana caranya.

Di rumah aku hanya murung. Mengingat kata kata indah itu terucap. Semakin lama suaranya seolah bagaikan tulisan semata. Perlahan suaranya, sosoknya seakan hilang dengan perlahan. Yang kuingat adalah suasana hujan dan mendung disaat dia mengucapkan kata kata indah itu. Orangtuaku sedang tidak ada di rumah.

Aku langsung bangun dari tempat tidur. Suara petir bergemuruh. Sepertinya awan telah menggumpal menjadi gelap. Perlahan gerimis membasahi atap rumahku yang bercat hijau ini. Suara kemericik air terdengar. Hujan membasahi jalanan dan membahasali halaman rumah.

Cerpen Karangan: Alvan Muqorobbin Asegaf
Facebook: Alvan Railfans

Ini adalah cerita kedua saya setelah sukses dengan cerita yang berjudul Diantara Mimpi.
Semoga kalian bisa menikmati cerita saya.
ALVAN.M.A

Cerpen Menikam Hati (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


OMG! My Boyfriend is Girl!

Oleh:
Aku menangis pedih setelah mendengar berita itu. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Shasy sebelumnya. Padahal, pacarku itu adalah sosok yang baik dan perhatian. Aku sangat sayang

Maaf

Oleh:
Kupandang sosok lelaki yang tengah berjalan menuju kantin bersama teman-temannya, kualihkan perhatian temanku saat hampir ketahuan memandang seseorang dan itu memerlukan waktu lama. Dia anak kelas IX B, sosok

Tak Pantaskah Cinta Untukku

Oleh:
“salsa tunggu dong pelan dikit napa jalannya” panggil deli sahabatku yang berusaha mengejarku dari belakang. Ku tak peduli dia marah padaku. Aku langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke

Entah

Oleh:
Isak tangis mewarnai pemakaman siang itu. Di samping kuburan baru itu, berdiri seorang pria tanpa isak tangis yang mempengaruhinya. Saat semua orang berlalu dari hadapannya tinggalah dia seorang diri.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *