Menikmati Luka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 16 December 2016

Aku membuka mata saat kudengar suara kokok ayam yang memekakan telinga. Namun aku tidak segera bangun dari tempat tidurku. Tiba-tiba aku teringat dengan mimpiku yang baru saja terputus karena kokok ayam yang berisik itu. dengan malas aku menyibakkan selimut dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Hhhh rasanya menyegarkan.

Aku shalat Subuh sambil mengingat kembali mimpi itu tadi malam. Mimpi yang membuatku teringat lagi padanya, padahal susah payah aku move on untuk ngelupain dia. Eh udah mau lupa dia malah nongol lagi di mimpiku. Setelah selesai shalat aku terdiam sejenak sambil memikirkan tentang mimpi itu. tak sengaja aku merasa sedih, dan airmataku mengalir.

“Aku sudah berusaha untuk ikhlas jika dia bersama orang lain, aku juga rela jika dia akhirnya bisa menemukan pasangannya. Tapi kenapa aku masih memimpikannya” aku bertanya pada diriku sendiri dengan airmata yang terus mengalir.

Ya jujur saja aku memang belum sepenuhnya bisa melupakannya, namun selama ini aku sudah hampir bisa tidak memikirkannya hingga mimpi semalam itu. membuatku teringat padanya. kulirik jendela kamarku yang masih terlihat gelap. Biasanya aku tidur lagi, tapi kali ini rasa kantukku menguap entah kemana, aku pun menghampiri laptopku. Kuputuskan untuk menulis sesuatu.

Aku memang suka mneulis tentang banyak hal di sini. Semua yang kurasakan kutulis di sini. Bukan karena aku pengen jadi penulis atau novelis, tapi karena aku nggak punya temen untuk berbagi. Makanya kucurahkan semua yang kurasakan di laptop ini. sejak aku punya laptop ini, aku sudah menulis 100 halaman, dan saat aku membacanya kadang aku ingin senyum-senyum sendiri karena tulisanku yang nggak karuan itu.

Aku membaca mulai dari awal sambil memutar kenangan. Semuanya kutulis di situ. Mulai dari pertama kali aku melihatnya setelah bertahun-tahun perpisahan kami hingga akhirnya aku tahu yang sebenarnya. Jika dia sudah memiliki seseorang yang mengisi hatinya. Sejak aku memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi. aku memutuskan untuk menyerah dan berhenti mencintainya.

Kubaca tulisan-tulisanku yang kemarin dengan airmata yang terus mengalir. Aku masih ingat bagaimana senangnya aku saat pertama kali aku smsan dengannya. Aku masih ingat banget saat itu, aku suka senyum-senyum sendiri saat membaca sms darinya. Aku juga selalu membaca pesannya hingga berulang-ulang karena saking senengnya. Kini semua itu hanya tinggal sebuah kenangan yang menyakitkan.

Kutahu kenyataannya tak seindah harapanku. Semuanya berawal dari dia yang jarang menghubungiku. Aku tak berani menghubunginya dulu, karena aku gengsi padanya. aku mencoba untuk mencari tahu lewat aku sosmednya. Di situlah kulihat foto-fotonya bersama dengan seorang cewek cantik. Di foto itu hanya ada foto mereka berdua. Tanpa berpikir panjang aku langsung menutupnya dan menghapus nomornya dari HP ku. Aku sudah tidak ingin menghubunginya lagi. dan aku pun yakin dia tidak akan menghubungiku lagi.

Tak terasa matahari sudah meninggi, aku bersiap untuk pergi ke kampus. Setelah mandi kulihat wajahku di cermin, ternyata mataku terlihat tembem dan kelihatan banget kalau ini habis nangis.
“Aduh gimana nih, masa aku ke kampus dengan wajah kayak gini?” pikirku.
Namun aku tak peduli dengan mata tembemku ini. setelah memakai jilbab aku pun berangkat dengan sepeda motor bututku.

Sampai di kampus aku mencoba bertingkah biasa seolah tak terjadi apa-apa. Ternyata kelas masih sepi, sahabatku Sheila juga belum dateng. Aku mengeluarkan buku yang kemarin kupinjam dari perpustakaan kampus. baru asyik-asyiknya aku dikagetin suara cempreng Sheila.
“Eh coy, tumben loe udah berangkat kesambet apaan loe?” tanyanya
“Kesambet loe” kataku cuek.
“Eh-ehhhh mata loe kenapa sembap gitu ran?” tanyanya lagi.
“Tadi malem gue itu nggak bisa tidur, ya jadi ya gini deh jadinya” jawabku berbohong.
Untungnya Sheila nggak bertanya lagi, entah karena dia udah percaya atau udah tahu yang sebenarnya. Gue pun ngelanjutin baca bukuku tadi. Tiba-tiba Sheila berteriak dari pintu kelas.
“Kiran cepetan sini” katanya sambil melambaikan tanganku.
Aku pun segera berlari menuju ke arah pintu.
“Lihat deh, itu ada Miko” katanya bersemangat.
Aku pun melihat ke arah yang dimaksud Sheila. Kulihat ada segerombolan cowok yang berjalan menuju gedung. Di antara gerombolan itu ada satu cowok yang menonjok. Bukan karena dia paling tinggi atau karena badannya paling besar tapi karena dia yang paling keren di antara yang lainnya. Dia yang paling putih, paling keren dan paling ganteng. Ya dia adalah Miko anak fakultas Ekonomi di Kampusku. Seolah teman-temannya bagai dayang-dayang yang melayaninya.

Aku dan Sheila memang suka mengamati cowok yang bernama Miko. Setiap hari kami selalu menunggu kedatangannya. Tapi kami nggak ingin mencintainya, bagi kami ini hanya sekedar cuci mata aja. Kami juga sadarlah akan posisi kami, nggak mungkin cowok kayak Miko itu mau melirik ke arah kami yang notabenenya cewek yang biasa aja bahkan sangat biasa.
Aku dan Sheila mengamati sampai gerombolan itu mneghilnag di balik tangga.

“Kok ada sih cowok sekeren itu?” tanyaku polos
“Iya gue aja heran dari pertama lihat sampai sekarang gantengnya nggak kurang-kurang, justru malah tambah iya nggak ran” kata Sheila sambil senyum-senyum
“Iya la, makin hari dia makin ganteng aja” kataku.
“Jangan-jangan dia itu suka ke salon ya makanya wajahnya bisa semulus dan seputih itu hahha” kata Sheila ngaco.
Aku hanya tertawa mendengar candaan Sheila itu. dia itu emang agak somplak pikirannya, makanya omongannya suka ngelantur. Tapi karena itulah kami sering ketawa bareng, ngetawain khayalan kami sendiri. kami juga sering banget bahas hal-hal yang nggak penting, kemudian kita ketawain bareng.

Saat gue sama Sheila sedang ketawa tiba-tiba
“Ran, itu ada Saka” kata Sheila yang menengok ke arah jalan.
Aku pun menoleh ke arah yang ditunjuk Sheila, gue lihat itu emang Saka yang lewat. Tapi tak sedikit pun dia menoleh ke arahku. Tawaku langsung hilang seketika saat melihatnya. Aku langsung teringat akan foto dirinya dengan ceweknya. Hatiku langsung terasa nyeri dan mendadak suhu di depan kelas menjadi panas.

“Loe kenapa sih ran, kok muka loe jadi pucat gitu, bukannya loe harusnya seneng bisa ngelihat Saka pagi ini?” tanya Sheila yang mengikutiku duduk di sebelahku.
“Nggak pa pa kok Shel, gue lagi nggak mood aja” kataku berbohong
“La terus kenapa muka loe merah dan pucat gitu?” tanyanya lagi.
“Oh itu mungkin efek gue belum sarapan jadi ya gini deh, lemess” kataku sambil meringis.
“UHHHH dasar” sambil menimpuk bahuku.

Jujur saja rasa perih di hatiku masih terasa, dan kini rasa perih itu harus bertambah karena aku harus melihatnya pagi ini. padahal aku berharap aku tidak akan melihatnya lagi, agar aku bisa ngelupain dia. Tapi baru berangkat ke kampus malah ngelihat wajahnya. Gimana mau ngelupain coba.

Hari ini, benar-benar hari yang menyebalkan buat gue. Pagi-pagi ketemu si Saka, siangnya dimarahi senior gara-gara gue belum ngerjain tulisan buat majalah kampus. Benar-benar deh gue sial banget. Gue jadi nggak bersemangat buat ngelewatin hari ini. namun di depan temen-temen gue mencoba untuk tetap tertawa dan tersenyum seperti biasa. Gua nggak mau semua orang tahu tentang apa yang kurasakan sebenarnya. Hari ini begitu melelahkan karena gue harus berpura-pura untuk tetap tersenyum dan tertawa di depan teman-teman gue.

Setelah sampai di rumah gue langsung ke kamar. Merenung dan melamun. Gue masih ingat dengan jelas saat pertama kali bertemu dengannya. Waktu pas ospek, gue nggak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut saat melihat wajahnya. Dia juga nggak kalah terkejutnya saat melihatku. Tentu saja gue terkejut, nggak nyangka dia kuliah di tempat yang sama denganku meski beda fakultas.

Setelah lima tahun perpisahan itu terjadi dan gue udah bener-bener ngelupain dia. Eh tiba-tiba dia muncul lagi dan membuatku berharap setinggi langit. Kemudian dia menjatuhkanku ke dalam luka yang begitu dalam. Dia nggak tahu apa gue dulu udah susah-susah ngelupain dirinya. Eh setelah gue berhasil dan clear ngelupain dia dia seenaknya aja masuk lagi dalam hidupku. kemudian dia membuangku.

Tiba-tiba ponselku bunyi membuyarkan lamunan panjangku. Aku langsung tercekat dan segera menghampiri. Ternyata sms dari operator. Kirain dari siapa. Entah kenapa sejak gue tahu Saka udah punya pacar, dia nggak pernah lagi menghubungi gue.

“Itu justru bagus buat loe ran, loe bisa cepet ngelupain dia” bisik hatiku.
“Tapi gue masih berharap dia mau ngubungin aku kayak dulu” kataku
“Gimana sih loe ran, katanya loe mau move on dari dia, tapi loe pengin dia ngubungin loe lagi” bisik suara itu lagi
“Iya, soalnya gue masih ngarep sama dia” jawabku
“Kalo loe gini terus, sampai kiamat juga loe nggak bakalan move on dari si Saka itu” kata suara itu lagi.
“Tapi gue masih suka sama dia, gue nggak bisa ngelupain dia gitu aja” bantahku
“Ya tentu saja loe nggak akan bisa ngelupain dia, loe aja masih ngarep sama dia. Harusnya loe tuh buka mata sama hati loe. Dia itu udah punya cewek yang lebih dari segala-galanya dari loe” bisik suara itu lagi.
Perang batin itu terjadi lagi. emang bener sih, dia itu udah punya cewek yang jauh leih cakep, modis, gaul, kaya dan tentu saja sepadan dengannya. Lha gue, gue jauh banget sama dia. Cantik nggak, modis gaul apalagi. Pokoknya kayak langit dan bumi deh. Aku lalu mengahmpiri laptopku yang ada di atas meja untuk mengakhiri konflik batin dalam diri gue. Mau nulis tapi bingung nulis apa. Akhirnya aku hanya mengamati laptopku smabil melanjutkan perang batin yang ada dalam diriku.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, dengan sigap aku beranjak dan mengambil handphone yang tergeletak di atas kasur. Dengan jantung berdebar kubuka pesan yang masuk. Aku berharap semoga itu pesan dari Saka dan ternyataaaa… itu Cuma pesan berhadiah dari nomor yang nggak dikenal.
“Ya Tuhan, kenapa seperti ini sihh. Apa rasanya begini saat mencintai seseorang? Kenapa rasanya sesakit ini ya Tuhan? Kenapa rasanya begitu menyakitkan?” dengan airmata yang mengalir dari pelupuk mataku. aku sudah tahan menahan rasa sakit yang kurasakan sejak kemarin.

Tetesan airmata yang keluar dari mataku adalah bukti betapa aku mencintainya. betapa aku tak sanggup melihat dia bersama dengan orang lain, meskipun aku memang belum tentu pantas untuk dirinya. Tapi aku benar-benar tak bisa menahan rasa sakit ini. meski kucoba untuk menerima semua dengan ikhlas, tapi tetap saja hatiku masih merasakan sakit.

Cerpen Karangan: Sri Pujiati
Facebook: Oryza Sativa

Cerpen Menikmati Luka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


HI

Oleh:
Alarm sudah berbunyi tapi Dimas belum juga bangun, alarm kedua bunyi dan Dimas masih tetap saja belum bangun Alarm ketiga akhirnya berhasil membangunkan Dimas. Eh tunggu dulu, suaranya beda

Dua Tahun

Oleh:
Hubungan kami yang berjalan hampir dua tahun awalnya baik-baik saja. Walaupun terkadang ada hal-hal yang selalu kami perdebatkan, seperti rasa cemburu, adanya kurang perhatian menurut pandangan masing-masing, dan banyak

Cinta Setengah Hati

Oleh:
“Aku bahagia. Karena Tuhan tak membiarkanku larut dalam kesedihan karena kepergianmu,” seruku kepada Dimas. Dimas. Dia pria yang aku sayang. Pria yang baik hati dan penuh pengertian. Kita pernah

Ikhlas

Oleh:
Terdengar suara tawa, teriakan, bising, gaduh bahkan suara tv yang seolah dibiarkan menyala dengan volume yang besar. Mengganggu tidurku kala itu. Dengan pandangan yang masih kabur dan tubuh yang

My Life But Actually Not

Oleh:
Tak bisa dipungkiri bahwa semua orang mengharapkan sebuah ending bahagia dalam kehidupannya. Setiap orang adalah pemeran utama dalam hidupnya masing-masing. Seseorang tidak menjadi pemeran utama dalam kehidupan orang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Menikmati Luka”

  1. Quinee says:

    Penggunaan sebutan untuk tokoh pertamanya masih membingungkan. Kadang gue. Kadang aku.

  2. Quinee says:

    Coba dibenahi penyebutan untuk tokoh pertamanya. Jangan kadang gue, kadang aku. Terimakasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *