Menunggu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 10 June 2020

“Bella..”
Gadis yang dipanggil Bella itu mengangkat wajahnya, dan tersenyum ketika mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Kak Syahla belum pulang?” tanya gadis berkuncir satu itu. Wajahnya manis dan lembut. Hanya saja, wajah itu tidak pernah tersenyum. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang bisa melihat senyumnya, seperti saat ini.
“Seharusnya Kakak yang tanya kamu. Sudah sore, kenapa kamu masih disini?” tanya gadis berjilbab putih itu.
“A.. aku..” Bella tidak mendapat ide bagaimana harus menjawab Syahla. Karena sesungguhnya, alasan ia masih di sekolah jam segini, hanya untuk melihat seseorang.
“Menunggu seseorang?” tebak Syahla langsung. Wajah Bella semakin memerah karena menahan malu.
“Ya.. ya..” jawab Bella dengan suara yang super kecil. Lalu gadis berkulit kuning langsat itu membasahi bibirnya, membuang tatapannya ke arah lain.
Syahla tersenyum, dan ia mengelus kepala Bella dengan halus. Sebenarnya Syahla tahu, siapa yang Bella tunggu. Ia menunggu pujaan hatinya, Rio. Dan itu artinya, Bella juga memiliki perasaan sama dengannya. Ia juga menyukai Rio.
Syahla berdiri, lalu dengan menguatkan hati, ia berbicara kepada Bella.
“Jangan pulang malam-malam, Bella. Nanti Tante Indira khawatir.”
Bella menganguk-nganguk semangat, dan ia meneruskan membaca novel di pangkuannya sambil menunggu Rio selesai basket.

Syahla berjalan menyusuri koridor sekolah dengan banyak pikiran di benaknya. Dan seketika tubuhnya bertabrakan dengan sosok jangkung. Ketika Syahla mengangkat wajahnya, hatinya berdebar-debar, karena ia bertabrakan dengan Rio. Si bintang sekolah.

“Ma.. maaf..” tenggorokan Syahla seperti disiram oleh air keras, sehingga suara yang keluar pun sangat minim.
“Tidak apa-apa. Kamu sakit?” tanya Rio sambil meneliti wajah Syahla yang menjadi pucat. “Mau kuantar ke UKS?”
“Tidak.. tidak usah. Aku.. aku balik ke kelas dulu. Bu Sumi sudah mau datang..”
Rio menganguk dan laki-laki itu pun berjalan meninggalkan Syahla yang saat itu langsung menghela nafas panjang. Bagaimana ia bisa tidak bernafas selama itu?

Gadis bernama Bella Cantika itu masih terus disana. Menunggu pujaan hatinya yang susah untuk digapai. Namun Bella sepertinya masih bertahan, menunggu, dan menunggu. Hanya menatap dari kejauhan, gadis itu sudah tersenyum. Hatinya berbunga-bunga.

Syahla menghampiri Bella yang sedang duduk di pinggir lapangan, melihat Rio sedang mendribel bola. Baginya, pemandangan itu seperti menyaksikan konser miliaran rupiah yang hanya digelar 60 tahun sekali.

“Kakak?” tanya Bella terkejut. Mungkin ia tidak menyangka ia ketahuan dua kali sedang menunggu Rio. Merasa tidak enak, Bella menawarkan dua bungkus kacang yang ia pegang kepada Syahla. Rencananya, kacang itu akan menjadi cemilannya dalam menunggui Rio.

Syahla menggeleng, menolak dua bungkus kacang itu. Lalu ia menyapa Bella. “Hai, Bella. Kamu masih disini?” mata Syahla menatap Bella, lalu mengalihkannya pada Rio. “Hmm.. kamu.. lihatin Rio?”
Bella terkejut untuk kedua kalinya. Bagaimana Kak Syahla tahu?

“Bella..” Syahla duduk di samping Bella, dan ia memangku wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kamu.. pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai dalam diam?” tanya Syahla tanpa sadar. Matanya terpaku melihat Rio, yang saat itu sedang menerima air mineral dari kekasihnya di ujung lapangan, Gladys namanya.
Bella menggeleng pelan. “Tidak pernah, Kak. Memangnya kenapa?”
Syahla memalingkah wajahnya ke Bella dengan tatapan bingung. “Lalu, yang kamu rasakan saat ini apa?”
“Perasaan apa, Kak?” Bella menatap wajah Syahla yang bingung dengan raut wajah semakin bingung lagi.
“Ya.. saat ini.. melihat Rio dengan Gladys.” Wajah Syahla memerah, ia segera membuang tatapannya ke segala arah, guna menyembunyikan mukanya yang semakin memanas menahan malu dan cemburu.

Bella terkekeh pelan. “Siapa bilang aku cinta Kak Rio, Kak?”
“Maksudnya?”
Bella menghela nafas, dan ia pun tersenyum menatap Syahla.
“Aku memang mengaggumi Kak Rio. Dengan segala gayanya, tingkah lakunya, prestasinya, wajah, perilaku, suara, bentuknya yang menurutku sempurna, ia memang benar-benar mengisi hatiku.”
“Lalu?”
“Tapi aku sadar, Kak Rio terlalu tinggi untuk diraih.” Lanjut Bella dengan suara lirih. Matanya sedikit berair, menandakan ia memang sakit hati.
“Nah, itu namanya mencintai dalam diam. Sadar bahwa orang yang kita cintai, susah untuk diraih.”
“Tapi sudah kukatakan, Kak. Aku tidak mencintai Kak Rio. Karena.. karena..”
“Karena apa?”
“Karena memang aku tidak memiliki hak untuk mencintai setinggi itu.”
Air mata Bella mengalir deras. Kini, ia berusaha unuk menghapusnya agar tidak terlihat memalukan di depan kakak kelas yang juga merupakan tetangga dekat rumahnya ini.

“Kamu berhak untuk mencintai, Bella. Perasaan tidak bisa dibendung.” Ucap Syahla sambil menenangkan Bella.
“Kak, yang aku tahu.. mencintai itu.. rasanya menyakitkan..” Bella mencoba mengeluarkan pendapatnya. “Apa lagi yang kita cintai itu, tidak bisa kita miliki. Oleh sebab itu, aku hanya bisa menunggu.”
Syahla terdiam. Mencoba mendengarkan kelanjutannya.

“Bukannya menunggu dia untuk menjadi milik kita. Namun menunggu apa yang seharusnya menjadi milik kita, sampai di sini. Kalau nantinya dia bukan milik kita, dengan cara apapun, dia juga tidak bisa menjadi milik kita.”
Syahla masih saja terdiam. Bukan, bukan ia tidak setuju dengan jawaban Bella. Namun, karena kenyataan itu, seperti menampar keras dirinya.

Bella menghela nafas panjang. “Aku tidak bilang Kak Rio tidak bisa menjadi milikku. Aku sendiri pun tidak tahu jawabannya. Tapi sekarang, yang hanya bisa kulakukan hanyalah, menunggu.”

Hari sudah semakin sore, dan gadis berjilbab cokelat itu memutuskan untuk pulang. Rintik-rintik hujan mulai turun, dan Syahla mengendarai mobilnya, pelan.
Suasana hatinya mendung. Persis cuaca di Jakarta sekarang, mendung.
Perasaannya kacau balau. Hatinya sakit. Jantungnya pun hanya bisa melompat-lompat tak karuan.

Ia tidak bohong ketika melihat Rio dan Gladys berpacaran, hatinya sakit. Namun hatinya jauh lebih sakit, ketika Gladys adalah sahabatnya dulu. Ia sendiri yang membantu Gladys untuk mendekatkannya pada Rio karena tahu Gladys sudah lama menaruh perasaan pada Rio.

Namun setelah Gladys jadian dengan Rio, entah kenapa, Syahla selalu ingin menjauhkan diri dari Gladys. Padahal sudah beberapa kali Gladys mendekati Syahla, selalu ditolak oleh gadis berkacamata itu.
Syahla tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia hanya tidak suka ketika melihat Gladys berduaan dengan Rio. Padahal mereka berdua tidak salah apa-apa. Mereka hanya saling suka, dan merasa cocok.
Ia tahu, ia tidak punya hak untuk menjauhi Gladys hanya karena masalah ini. Dirinya sama sekali tidak pantas menjadi sahabat Gladys padahal sahabatnya itu selalu membantunya disaat ia kesusahan.

Aku akhirnya sadar kalau aku salah, Dys. Menjauhimu tanpa alasan. Kini aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maafkan aku, telah membuatmu bingung. Kamu sahabat terbaikku. Bisakah kita bertemu? -Syahla

Itu kata-kata yang diketik oleh Syahla kepada Gladys. Syahla menggenggam ponselnya kuat, dan menutup matanya erat.
Ia memang menyukai Rio. Namun tidak pernah tahu apakah Rio akan menjadi miliknya. Benar kata Bella. Ia hanya bisa menunggu, dan menunggu.

Kalaupun Rio bukan miliknya, ia akan terus sabar menunggu, sampai miliknya datang menghampirinya, dan mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya.

Cerpen Karangan: Avril Wong
Wattpad: avrilwong
Storial: avrilwong

Anak tahun 98 yang mengandalkan mood untuk mengerjakan sesuatu.
Tentang saya:
1. Tidak membuat cerita mainstream.
2. Menulis di saat mood yang baik, tidak melihat kondisi dan waktu.
3. Kesibukan lain: tidur dan makan.
4. Seorang entrepreneur.
5. Bukan penulis/writer/author. Hanya seorang manusia penuh dengan khayalan.
6. Sudah ditolak calon penerbit 12x, tapi masih nggak tau malu untuk menulis cerpen dan cerita terus- menerus.

Contact saya:
Email: av.wong03[-at-]gmail.com
Storial: avrilwong
Wattpad: avrilwong

Cerpen saya:
1. Oreo, Novel, dan Cokelat (Media Kawasan, September 2018)
2. Kau Sudah Sukses, Nak! (Cerpenmu.com, Juni 2017)
3. Kembali ( Penuliscerpen.com, Agustus 2017)
4. Melinda ( Penuliscerpen.com, September 2017)

Cerpen Menunggu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Tak Kumiliki

Oleh:
Cerita ini adalah cerita yang merupakan bagian dari kehidupanku saat ini, yaitu cinta yang tak kumiliki, cinta kepada seorang kakak kelas yang telah lama aku pendam bertahun-tahun lamanya namun

Daydream

Oleh:
Hari itu awal dari semester genap, aku sudah kelas 3 SMP. Betapa bahagianya aku akan hal itu. Lebih bahagia lagi saat aku bertemu seorang anak SMA yang baru saja

Janji di Bulan Juni

Oleh:
Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat itu. Tiba-tiba saja, setelah 5 tahun tak bertemu dia menjanjikan sesuatu. Saat aku membaca pesan yang ia kirimkan, aku hanya

Kecewa

Oleh:
Waktu yang mempertemukan kita berdua. Aku di sini sedang melukis pemandangan yang kuanggap menarik, tapi entahlah ada hal yang terus mengganjal di hatiku, lalu aku mengadahkan kepalaku, saat itu

Buku ini Aku Pinjam

Oleh:
Beberapa hari lagi sahabatku Iren akan berulang tahun, selang waktu seminggu kami beserta Azam sang pujaan hatinya sibuk mencari kado. Malam 3 hari sebelum Iren ulang tahun, Azam meminta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *