Menunggu Putra

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 17 August 2014

Menunggu itu memamng membosankan, aku paling benci dengan hal yang satu ini. Tapi meskipun membosankan, toh aku harus lakukan juga untuk mendapatkan yang aku inginkan. Benar. Menunggu seseorang untuk membuka pintu hatinya untukku. Putra. Anak kelas dua belas IPA 1 yang kini tengah membuatku menunggu. Menunggu ini, entah sampai kapan akan berakhir. Atau Mungkin, tidak akan pernah berakhir. Sebab, keberanian dalam diri ini untuk mengakhiri masa–masa ini belum muncul. Dan mungkin tak akan muncul hingga dia benar-benar pergi dan menjadi milik orang lain.

Bertemu setiap hari di sekolah membuatku semakin tersiksa untuk menunggu. Menunggu dia untuk mengetahui perasaan aku ini, menunggu untuk membalasnya, menunggu untuk bersamanya, menunggu, menunggu, menunggu dan menunggu. Selamanya? Entahlah. Mungkin, karena sikap cuek dan jutek ku ini yang membuatnya untuk enggan mendekatiku. Atau mungkin aku ini tak cantik seperti yang dia harapkan selama ini. Entahah. Tapi Inilah kekuranganku, aku tidak cantik. Ku akui itu. Mungkin ia akan berpikir bahwa dia cowok yang lumayan diminati banyak cewek bersama dengan cewek yang sepi pemina, apa kata dunia? Apa kata-kata teman-temannya nanti? Apa kata orang-orang yang mengenalnya?

Sempat protes pada Allah, kenapa aku tidak diberikan wajah yang cantik, Haha. Tidak bersyukur? Mungkin begitu sebutannya. Tapi kembali sadar, dan beristighfar. Tapi, kenapa? Atau mungkin bukan wajahku yang diubah tapi hatinya yang perlu diganti sehinggaa mau melirikku. sepertinya, harus kedua kemungkinan di atas yang harus dilakukan. hatinya diganti dan wajahku juga diganti.

“hey Nis, lamun aja. Gabung sama yang lain yuk.” Tiba-tiba alya berada di dekatku. “nggak ahh, lebih enak menyendiri seperti ini.” Balasku sambil tersenyum, senyum yang paling manis buat wajah yang perlu diganti.. “huu, dasar kamu, cewek penyendiri. Kalo kamu kayak gini terus, mana ada cowok yang suka sama kamu. Memangnya kamu mau jomblo selamanya?” ledek alya.
“haha, bisa aja kamu. Yah gak maulah. Tapi uuntuk saat ini, aku belum mau menjalin hubungan dengan cowok manapun” kataku sok dramatis. “yaelahh, makannya toh mbak jangan selalu berdua dengan buku, pacaran dengan buku, makanya kayak gini kan, mati rasa sama cowok, karena cintanya udah sama buku.” Kembali ledekan alya pas kena hati. “haha, ya udah aku terima ledekan kamu hari ini. Karena aku lagi gak mau debat sama kamu. Udah pergi sana gih. Bosen aku lihat kamu” kataku sambil mendorong alya pergi menjauhiku.

Mungkin benar kata temanku, aku terlalu sibuk dengan akademikku. Mencapai posisi teratas dalam hal peringkat kelas menjadi prioritasku. Membuatku harus berurusan dengan buku setiap harinya. Tapi, entah mengapa di sela-sela aku “pacaran” dengan buku, dia tiba-tiba muncul dan membuatku menunggu seperti ini. Entahlah. Ini adalah rahasia tuhan. TAKDIR yang mempertemukan.

“Nis, kita ke bazar sekolah yuk, boring nih di rumah terus.” Celetuk alya. “nggak ahh, males. Pasti banyak orang disana” jawabku sekenanya. “Iyalah Nisa, namanya juga bazar, pasti banyak orang lah. Pokoknya kamu harus ikut. Kata alya sambil menarik tanganku.

Sesampainya di bazar, mataku langsung menemukan sosok yang membuatku menunggu selama ini. Putra? ingin rasanya menghampirinya dan menyapanya. Ngobrol bersama, bersenda gurau layaknya hubungan senior junior, tapi aku harapnya lebih dari itu.

Tanpa ku sadari, ia menghampiri aku dan alya. Lewat di depanku, mengacuhkanku. Sedih rasanya diperlakukan seperti ini oleh orang yang sangat aku sukai. “kamu datang juga al?” sapanya pada alya. “iya kak, boring di rumah. Mending ke sini. Sekalian ikut meramaikan bazar sekolah juga” sahut alya sambil tersenyum.
Inikah rasanya berada pada jarak yang sangat dekat dengannya? Selama ini, aku hanya mampu memperhatikannya dari jarak jauh. Ya tuhan, buatlah bumi ini berhenti berputar untuk beberapa saat saja agar aku bisa lebih lama berdekatan dengannya.
“oh iya, aku duluan ya al, aku mau keliling keliling dulu.” Katanya pada alya, kemudian tersenyum manis pada temanku ini. Dan padaku? Hanya sekali-kali melirik kemudian pergi tanpa sepatah kata pun. Ya tuhan, apakah aku salah menyukai orang? Mengapa sikapnya begitu dingin terhadapku? Sampai kapan aku harus menunggu? Ya tuhan, tolong aku. Bisa gila aku dibuatnya.
“hey Nis, lamun aja. Terpesona dengan kak putra tadi yah?” katanya sambil meledek. “haha, jangan ngawur kamu al, kan bisanya aku juga gini kan. Kalem, gak banyak bicara. Gak kayak kamu kayak kompor meledup, hahah” kataku sambil menggoda alya yang manyung. “untung kamu sahabatku nis, kalo nggak udah lama kamu dapat sentuhan dari tanganku ini, hahahah” katanya sambil memprlihatkan kepalan tangannya padaku.

Jika menyukainya adalah sesuatu yang salah, mengapa aku diberikan rasa seperti ini terhadap dirinya. Apakah ini suatu ujian untukku? Jika iya, ku rasa ini adalah ujian terberat yang pernah ku rasakan. Memendam perasaan ini sendiri dan menunggu sesuatu yang tak pasti. CINTA.

Karena tuntutan cacing-cacing yang sedari tadi berakustikan dalam perut, aku langsung menuju kantin setelah jam pelajaran selesai. Tapi, tiba-tiba akustikan itu berhenti, tak ada lagi protes dari cacing caacing di perutku. Serasa perut ini menjadi kenyang rasanya. Yah, sebab ia. PUTRA. Ia berada di kantin bersama teman temannya. Malu, gugup, dan lainnya bercampur baur membuatku enggan menuju kantin. Ku putuskan untuk kembali ke kelas. Selalu saja aku malu bertemu dengannya. Rasa tidak percaya diriku begitu besar. Anggapan bahawa dia sempurna dan aku yang tak sempurna membuat rasa percaya pada diriku sendiri menjadi hilang.

Andai, dia merasakan apa yang ku rasakan saat ini, mungkinkah ia datang padaku? Menghilangkan rasa “menunggu”ku ini? Dan mengubah kata kamu dan aku menjadi kita? Akh, indah rasanya memikirkan semua ini. Melihat sikapku yang seperti ini, rasanya kata “kita” antara aku dan dia akan sangat jauh. Ya tuhan, sesulit inikah? Selalu saja perasaan malu muncul dalam diriku setiap bertemu dengannya. Malu karena aku tak seperti yang diinginkannya.

Hanya dari jauh aku mampu memandangnya, hanya ini yang dapat kulakukan ketika aku rindu padanya. Mendekat? Dalam beberapa langkah saja aku sudah gugup. Terlalu banyak halangan yang membuat aku tak bisa dekat dengannya. Salah satunya saja adalah sifat perfectsinoistnya, termasuk mengenai pendampingnya. Ingin rasanya waktu ku ulang, dan akan ku ulang jatuh cintaku ini pada orang lain bukan pada dirinya. Karena bagiku jatuh cinta padanya berarti menjatuhkan diri dalam kesedihan yang berkepanjangan. Iya, karena dengan jatuh cinta aku berarti mengharapkannnya akn bersamaku, dan itu semua tak akan mungkin.

Dan apa yang ku takutkan selama ini terjadi, dia yang ku harapkan menyukaiku ternyata menyukai orang lain. Teman sekelasnya sendiri, ketua OSIS di sekolahku. Bagaimana keadaanku? Jangan ditanya lagi, GALAU 😀 pupus harapanku untuk mendapatkannya, pupus harapan untuk menjadikan aku dan dia menjadi KITA. Berakhir sudah penantian ini. Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu tak harus memiliki, mungkin. Ada juga yang mengatakan jika dia bahagia maka kita juga bahagia meskipun tak bersama kita, TIDAK. Jodoh pasti bertemu, 😀 menghibur diri. Bersaing dengan sang ketua OSIS yang sekarang menjadi pacarnya cukup sulit bagiku. Dia tidak hanya pintar tapi juga cantik, seperti yang diharapkannya selama ini.

Ku kira, dia juga menyukaiku meskipun dia tak menunjukkannya padaku. Tapi ternyata asumsiku ini terbantahkan dengan adanya kenyataan ini. Setiap hari, di sekolah aku harus melihat mereka berdua terus bersama. Cemburu, marah, sedih dan kecewa. Kecewa karena ternyata aku menunggu orang yang tidak tepat. Orang yang tak pernah menghiraukanku, memperdulikanku. Sedih? Pasti. Kecewaku selama ini.
Dan perasaan ini terus mengendap dalam hati, sampai akhirnya aku, dia dan pacarnya tak lagi satu sekolah.

2 tahun kemudian…
Sekarang, aku bukan lagi anak SMA, tapi anak kuliahan alias mahasiswa. Bukan lagi anak lebay nan unyu-unyu tetapi anak dengan pemikiran yang logis dan realistis. Tapi satu hal yang sampai sekarang aku tidak bisa realistis, yaitu perasaanku ke dia, yang sampai sekarang tak terbalas.

Putra? Keberadaannya? Entahlah sekarang dia dimana. Tapi yang ku tau Sekarang dia sudah jadi ABRI. Dan pacarnya jadi mahasiswa Manajemen. Itu pun aku tahu dari temanku yang kebebtulan iseng gossip tentang senior-senior pas SMA.
Memendam rasa cinta selama 5 tahun itu cukup menguras hati. Jatuh cinta sendiri, galau sendiri, menangis sendiri, bahagia sendiri, kecewa sendiri dan MNENUNGGU SENDIRI. Menyenangkan? Jangan ditanya lagi, nyessek. Merasakan semua hal tersebut tanpa dia merasakannya juga itu nyesssek tingkat ASEAN 😀

Tiap hari harus stalking di Sosial medianya dia demi mengetahui kabarnya, meskipun terkadang juga harus melihat pesan-pesan dari pacarnya yang cukup mampu merobohkan pertahanan hati untuk tidak galau 😀 meskipun begitu tetap saja hati ini tak bisa berpaling. FIRST LOVE? Ya.

Ingin rasanya bertemu dia dan menunjukkan bahwa aku masih setia MENUNGGU, disini masih disini dengan hati yang sudah hampir hancur 😀 jika hatiku dapat dilihat, maka mungkin akan terlihat banyaknya plester di mana-mana untuk tetap mengutuhkan hati ini untuknya. Atau bahkan untuk menutup luka yang dibuat olehnya

The End

Cerpen Karangan: Tietie Adriani Hakim
Facebook: Tiethy Adriani Hakim

Cerpen Menunggu Putra merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mencintai Dikejauhan

Oleh:
Aku terus duduk di sini, sambil menatap pria yang sangat kusayangi dari SMP sampai SMA sekarang. Dia, Rio Dihamid pria yang sangat kucintai. Tapi sayangnya aku cuma bisa duduk

Goodbye My Lover

Oleh:
Hmmm… Entah bagaimana perasaan yang aku rasakan saat ini. Apakah ini bentuk penyesalan yang teramat mendalam atau apakah ini hanya untaian masa lalu yang membuatku kadang bisa gila memikirkannya.

Sosok Masa Lalu Dari Semarang

Oleh:
Sekarang aku mengerti rasanya jauh dari orang yang kusayangi. Aku juga mengerti bagaimana caranya menghadapinya. Aku juga mengerti aku pergi namun bukan berarti aku lari. Aku mengerti mungkin bagimu

Cerita Singkat Cintaku

Oleh:
Taukah kalian arti cinta? Beribu makna tentang cinta, ada yang bilang cinta itu indah, cinta itu buta, cinta itu segalanya, dan blablabla… semua orang mempunyai persepsi tersendiri tentang cinta.

Cinta Dan Rahasia

Oleh:
Dinda mulai memetik senar gitar…. “Terakhir kutatap mata indahmu Di bawah bintang-bintang Terbelah hatiku antara Cinta dan Rahasia Ku cinta padamu namun, Kau milik sahabatku Dilema hatiku, andai ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *