Mimpi Untuk Nana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 September 2017

Pagi yang indah untuk memulai aktivitas. Namun keindahan itu seakan lenyap ditelan satpam yang meniupkan peluit pertanda gerbang sekolah akan ditutup. Aku harus berlari, masih ada jarak lima belas meter di depanku. Kalau tidak aku mungkin tidak bisa mengikuti upacara dan tentu saja dihukum.

Keringat mulai membasahi wajahku ketika lolos melewati gerbang. Syukurlah, setidaknya aku aman walaupun bedakku luntur. Aku segera berjalan menuju lapangan upacara dan meninggalkan tas di koridor karena tidak akan sempat meletakkannya di kelas.

“Lari-lari lagi?” Tanya Mia yang geleng-geleng melihatku ngos-ngosan menuju ke barisan.
Aku hanya tertawa kecil, lalu menyapu keringat yang hendak menetes dengan tanganku.

“Temenin aku ambil tas, yuk. Sekalian ke kantin, haus nih”, aku mengajak Arfa. Aku dan Arfa melewati kerumunan siswa lain yang juga bernasib sama denganku. Sangat sesak dan gerah. Aku tidak kuat jika harus menerobos. Baiklah, aku mengalah. Aku akan mengambilnya nanti setelah semua orang ini pergi. Aku dan Arfa menepi menjauhi kerumunan siswa tersebut, lalu bersandar di dinding.

Kebetulan letak tas “siswa hampir terlambat” tepat di sebelah tangga menuju kelas 10. Jadi siswa-siswi baru nan imut dari kelas 10 yang ingin ke kantin juga harus melewati kerumunan “siswa hampir terlambat” itu.
Aku hanya menonton, menunggu tempat itu sepi, hingga mataku terarah ke seorang anak laki-laki yang menuruni tangga. Dia tidak pendek, tidak tinggi, rambut agak gondrong acak-acakan, pakaian tidak rapi, kelihatannya seperti anak baik-baik, tapi sekilas juga tidak, entahlah. Satu kata yang pas untuknya: Dekil.
Mataku tak kunjung berpaling darinya, apa yang menarik? Kuperhatikan semakin dalam. Hidung mancung, mata sipit layaknya orang Korea, bibir merah muda, dan gigi ber-behel. Dia kemudian tersenyum, entah kepada siapa. Aku merasakan sesuatu yang janggal. Lalu kusadari, sebuah nama pun muncul di benakku; Jong In.
Dia mirip sekali dengan Jong In, actor dari negeri Ginseng kesukaanku. Tak kusangka ada sesorang yang mirip dengannya di sekolah ini, kelas 10 pula. Tiba-tiba ia menghilang dari pandanganku. Mataku mencari ke segala arah, sayangnya aku kehilangan dia.

Sudah beberapa hari sejak tahun ajaran baru dimulai. Sudah beberapa hari juga aku tak pernah melihat KW Jong In. Mungkin saat itu aku salah lihat. Jika dipikir dengan logika, bagaimana mungkin orang setampan Jong In memiliki “KW” di sekolah ini? Mustahil.

“Hei, mikirin apa Na? Tumben diem aja. Biasanya banyak omong.” Ujar Ika memecah lamunanku.
“Gak apa apa. Kantin yuk. Laper nih.” Aku berdiri, mengajak Mia, Ika dan Arfa.
Hari ini adalah hari Sabtu, tidak ada pelajaran masuk kelas kecuali bersih-bersih. Jadi kami bebas melakukan apa saja.

“Tumben kantin sepi”, ucap Arfa ketika kami tiba di depan kantin. Arfa benar, jarang sekali momen ini terjadi, apalagi di hari bebas seperti ini.

Kami berempat hampir selesai makan. Aku dan Mia duduk bersebelahan, kami berhadapan dengan Arfa dan Ika. Lalu 2 orang siswa masuk ke warung tempat kami makan. Mereka berdua bercanda namun percakapan mereka sulit dimengerti. Kuperhatikan mereka, astaga, salah satunya Jong In, dia terlihat berbeda dengan pertemuan pertama kami, kali ini kelihatan lebih rapi. Tetapi, akan lebih mirip Jong In apabila dekil seperti waktu itu. Tetap saja dia keren dan ganteng.
Aku yang saat itu sedang menyedot minuman sangat terkejut hingga tersedak dan memuntahkan air dari mulutku. Teman-temanku tertawa. Aku menoleh untuk memastikan apakah KW Jong In melihat kejadian memalukan ini atau tidak. Kekhawatiranku benar saja, dia jelas melihatnya. Dia tidak tertawa, tersenyum tipis pun tidak. Ekspresinya seperti orang kebingungan, entah apa yang ia pikirkan tentangku saat itu. Aku segera membuang muka, ingin rasanya kabur dan tidak melihatnya lagi.

Kemudian dua anak itu duduk di bangku belakangku. Dan dia, punggungnya tepat di belakang punggungku, hanya berjarak beberapa cm. Aku terus terusan nyengir. Terlalu bahagia.
“Jong In. Ada Jong In yang kucertain waktu itu.” Ucapku sambil melirik ke belakang, bermaksud memberi kode kepada teman-temanku bahwa KW Jong In yang pernah kuceritakan ada di sini. Aku segera memberi HP ku kepada Ika, dengan wajah memelas. Ika langsung mengerti maksudku. Yes, aku berhasil foto berdua dengannya. Dengan pose punggung ke punggung.

Hari-hari telah berlalu. Aku sering berpapasan dengannya saat di kantin maupun di jalan. Satu kebiasaan yang tak bisa kuhilangkan, yang cukup membuatku malu. Setiap bertemu dengannya, aku selalu berteriak. Entah dia menyadarinya atau tidak.

Kini aku sudah tahu namanya, Richi, kelas 10 MIA 5. Dia mengikuti ekskul Pramuka. Seperti agen rahasia aku berusaha mencari tau berbagai hal tentangnya. Suatu hari aku tidak sengaja melihatnya pulang sekolah, karena itu aku jadi tahu di mana rumahnya. Lalu hampir setiap hari aku melihatnya menunggu angkutan umum di depan rumah, ingin sekali rasanya memberi tumpangan. Namun aku masih memikirkan harga diriku.

Kini aku pun tahu akun instagram Richi, tentu saja dari temanku yang merupakan seniornya di Pramuka. Berdasarkan penelitian melalui akun instagramnya, aku jadi tahu bahwa ia bukan anak baik-baik ‘sebelumnya’. Teman-temanku yang merupakan kakak kelas nya di SMP pun mengatakan bahwa dia anak yang ‘nakal’, sering bolos, rambut diwarnai, ugal-ugalan, mungkin anggota geng motor. Tetapi aku tidak peduli, di SMA ia tergabung dalam ekskul Pramuka, yang terkenal kedisplinannya. Mungkin dia ingin atau sudah berubah. Lalu aku pun memberanikan diri. Aku nekat mengajaknya chatting.

Nana: followback dong.
Richi: Oke fren.
Nana: Kamu anak SMA 1 kan? Kelas berapa? (walaupun sebenarnya aku tahu)
Richi: 10 MIA 5. Kamu juga SMA 1? Kelas berapa?
Nana: Aku 12 MIA 3. Kakak kelasmu.
Richi: Kenal saya?
Nana: Sering liat sih. Tapi nggak kenal banget.
Richi: Oh oke fren.

Seperti itulah awal mula chat kami, kemudian terus berlanjut selama tiga hari. Kami sudah bisa disebut akrab di chat. Setiap ingin mengakhiri chat, dia selalu menyuruhku tidur, pernah juga ia menyuruhku meminum obat, kalau saja aku sakit. Tentu saja jiwaku terasa melayang-layang.

Hari ke-empat aku menunggu, membuka-tutup instagram, berharap ada pesan darinya. Sejak sepulang sekolah hingga tertidur, bahkan saat bangun pagi-nya pun melakukan hal yang sama lagi. Aku masih berpikir positif, mungkin dia tidak mempunyai paket internet. Tapi kenyataan berkata lain, dia mengunggah foto. Ternyata dia bukan tidak bisa, tetapi tidak mau. Sungguh aku sangat kecewa. Ternyata aku tidak dekat dengannya dan dia tidak seramah yang kupikir. Aku memutuskan untuk berhenti menunggu.

Hari ini merupakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Karenanya kotaku mengadakan karnaval untuk memperingatinya. Sekolahku pun turut serta. Setiap ekskul dan organisasi wajib hadir, serta lima orang perwakilan dari tiap kelas. Kebetulan aku ditunjuk untuk mewakili kelasku. Aku siap berangkat bersama Mia, menggunakan seragam putih abu-abu. Sedangkan dua sahabatku yang lain, Ika sebagai anggota PMR, dan Arfa sebagai pengurus OSIS.
Kami berkumpul di sebuah lapangan tempat dimulainya acara. Kami akan berjalan sejauh dua kilometer menuju tempat pelatihan tentara yang letaknya tidak jauh dari sekolahku.

Tanpa sengaja lagi mataku terarah ke Richi yang lengkap dengan seragam pramuka. Ia terlihat sangat keren walaupun sambil menggenggam kantong plastik berisi salome, yang benar saja orang seganteng itu anggota geng motor?. Dia tampak berwibawa, tegas, dan sama sekali tidak ada tampang anak nakal. Aku kembali terpana saat melihatnya. Namun aku segera menyadarkan pikiranku, ‘Jangan menyukainya’, gumamku.

“Loh loh, katanya mau move on. Aduh gimana ini, gagal total” Ujar Mia sambil tertawa. Ternyata dia mendapatiku sedang memperhatikan Richi. Dia segera meninggalkanku menuju kerumunan anak pramuka, dan berbincang dengan Risa yang merupakan teman sekelas kami, yang juga anak Pramuka.. Apa yang dilakukan Mia? Tolong, jangan lakukan hal bodoh., gumamku dalam hati.

Astaga, benar saja. Dia menarik Richi mendatangiku. Apa yang harus kulakukan?
“Nih. Mumpung ada kesempatan. Cepetan foto bareng.”
“Apaan sih Mia?!” Tanyaku dengan wajah cemberut.
“Kalau nggak mau aku yang foto sama dia nih.”
Dari belakang tiba-tiba Arfa datang dan mendorongku. Baiklah, mungkin ini kesempatanku satu-satunya. Aku menghampirinya, hendak berdiri bersebelahan dengannya, dia tersenyum seolah menyambutku. Kami bersiap-siap berpose. Dia mengacungkan jempol, lalu aku mengikutinya.
“1 2 3 cheers”, foto kedua kami.
“Terima kasih” Ucapku sambil tersenyum, lalu ia pergi.

Karena kejadian itu, aku rasa aku menyukainya lagi. Dan malamnya mengirim pesan.
Nana: Kamu tahu aku? (karena aku tidak yakin dia kenal wajahku atau tidak)
Richi: Yang tadi foto bareng kan? Yang biasanya pakai motor Mio warna merah?
Nana: Iya. Kok tau?
Richi: Kalau saya lagi nunggu angkot kan kamu sering ketawain saya. Kalo ketemu di jalan juga kamu suka lirik-lirik saya.
Nana: Hah kapan aku ketawain kamu?
Richi: Nggak, becanda aja fren.
Nana: Nggak jelas.
Richi: Awas ya kamu. Kalau ketemu nanti saya jitak. Hati-hati.

Syukurlah dia tahu aku, tidak sia-sia aku berusaha agar bisa dekat dengannya. Lalu kami melanjutkan chat seperti tempo hari, kami bercanda, namun ada satu hal yang membuatku terkejut. Di tengah-tengah chat dia berkata “Saranghae” (aku cinta kamu). Aku tahu dia hanya bercanda, namun tetap saja dia seolah memberi harapan untukku.

Kami terus seperti itu hingga pukul Sembilan. Hingga ia tidak membalasnya lagi. Tiba-tiba puluhan pemberitahuan dari instagram muncul. Dia menyukai semua fotoku di instagram. Aku mulai kegeeran. Lagi-lagi aku merasa sudah sangat dekat dengannya. Lalu ia hilang begitu saja. Seperti sebelumnya, dia tidak ingin chatting denganku.

Tidak sengaja aku melihat foto yang diunggah Kinal, yang merupakan sahabat karibku di kelas 10. Kami sekarang tidak begitu dekat karena berbeda kelas sejak kelas 11. Dia juga sepertiku, penyuka artis Korea. Di foto itu, Richi mengomentari foto Kinal dengan sebuah emoji wajah cemberut, mereka mungkin dekat. Saat kubuka semua foto Kinal, ternyata Richi menyukai semua fotonya.

Rupanya aku tidak diperlakukan special. Air mataku begitu saja menetes. Dia tidak menyukaiku. Apa dia seperti ini kepada semua perempuan? Semudah ini mempermainkan perasaanku? Ada kalanya dia terasa dekat, namun saat aku berusaha meraihnya dia menjauh. Aku sangat kecewa. Aku ingin melupakannya, kenapa sulit sekali? Lebih baik tidak pernah mengenalnya sama sekali.
Aku membencimu, Richi.

Sekarang aku tak pernah lagi chatting dengannya. Aku tak ingin mempermalukan diriku sendiri. Walaupun sekali dua kali terselip keinginan untuk mengirim pesan. Jujur, sangat sulit untuk menghilangkan perasaanku padanya. Aku tak bisa membodohi diri sendiri, aku masih menyukainya, tapi tidak sebanyak dulu. Teman-temanku berusaha membuatku move-on, dan itu sedikit berhasil. Namun tak jarang aku men-stalk instagramnya, sambil berharap pesan darinya.

Kini jika berpapasan, dia juga menatap tajam ke arah mataku. Kadang dia tersenyum, pernah juga dua kali dia menegurku. Tentu saja aku bahagia, walaupun ada sedikit rasa sakit di dalam hatiku. Sampai sekarang dia belum menepati ucapannya, menjitakku. Dia mengancamku seolah akan benar-benar melakukannya, jujur saja aku menunggu kesempatan itu. Tapi aku tak ingin berharap lagi.

Untuk apa aku berusaha tampak di hadapannya? Jika memang ada, cinta akan datang dengan sendirinya. Biarkan semua mengalir sebagai mana mestinya. Aku hanya perlu belajar agar bisa lulus dengan baik, lalu pergi jauh-jauh dari sekolah ini, dan tidak bertemu dengannya lagi.
Aku baik-baik saja.

Hari ini aku pulang bersama Mika karena ia tidak membawa sepeda motor. Kami mampir sejenak di kebun milik tetangga untuk mengambil bahan praktikum Biologi yang akan kugunakan besok. Kebetulan kebun itu terletak tidak jauh dari taman. Aku masih mengenakan pakaian olahraga lengkap dengan tas sekolah.

Tadi pagi aku iseng mem-ping Richi. Hanya iseng. Tidak berharap dibalas sebenarnya.
Aku mengajak Mika istirahat di taman. Kami duduk di bangku panjang di bawah pohon. Mika mengambil botol dari dalam tas, dan meminumnya. Mungkin ia sangat kelelahan setelah menyusuri kebun. Aku membuka HP ku, memeriksa BBM.
Oh iya, beberapa waktu lalu aku menambah Richi sebagai kontak BBM, walaupun hanya sekedar ‘kontak pajangan’. Entahlah, aku juga tidak mengerti jalan pikiranku.
Richi: Kenapa? Kangen kah?
Ternyata ia membalasnya.
Ada apa ini? Foto tampilan BBM Richi adalah aku? Di foto itu aku yang tampak sangat lusuh sedang memasuki pintu taman. Aku rasa foto itu baru saja diambil.

“Mika, lihat deh. Ini barusan kan?” Tanyaku kepada Mika sambil memperlihatkan foto tersebut. Mataku melirik ke segala arah. Apa Richi di sini?
Aku baru ingat sesuatu. Mataku langsung memfokuskan ke satu arah. Pondok di depan pintu masuk, di belakang bangku yang kududuki sekarang. Tadi sekumpulan anak laki-laki usia SMA berada di situ. Mereka sangat berisik. Ada yang bermain gitar, bernyanyi, dan mengobrol.
Aku langsung berdiri, berusaha melihat dengan jelas ke pondok itu. Mika mengikutiku. Seorang laki-laki lalu berkata.
“Dia kah?”, sambil melihatku.
Yang lain langsung melihatku juga. Lalu seseorang dari tengah-tengah mereka terlihat menjulurkan leher, seraya tersenyum. Laki-laki itu mengangguk, dan menaikkan alisnya.
Richi.
Bagaimana dia bisa ada di sini? Aku sangat terkejut. Aku terduduk menelan ludah.
Jangan lagi, Richi. Kumohon. Jangan berikan aku harapan lagi.
Kenapa dia membalas BBM ku seperti itu? Kenapa Dia memfotoku? Kenapa dia menggunakan fotoku sebagai tampilan BBM? Kenapa temannya bertanya “Dia kah”? Kenapa Dia tersenyum, mengangguk, dan mengangkat alis?

“Lebih cantik yang satunya kok” ujar temannya.
Richi tak berkata apapun. Dia hanya melihatku, dengan senyumannya yang sungguh mirip Jong In.
Dia meninggalkan pondok itu, menghampiriku. Ikut duduk di sebelahku, Mika hanya menonton sambil berdiri.
“Baru pulang sekolah?” Tanyanya. Itu adalah pertama kalinya dia berbicara lebih dari dua kata kepadaku.
“I..Iya” Jawabku dengan nda gugup.
“Tadi kenapa nge-ping?”
Sulit untukku berkata kata, dia tepat di sampingku, jarak kami hanya beberapa puluh cm. Rasanya aku tak ingin menjawab. Takut aku berkata salah, lalu dia tidak ingin mengobrol lagi denganku. Dia semakin tampan dari dekat, semakin mirip Jong In. Apalagi saat melihatnya tersenyum, matanya seakan tenggelam, bibir merah mudanya terbuka sedikit menampilkan behel di giginya. Sangat betah untuk dilihat. “ng.. nggak apa-apa. Tadi nggak sengaja kepencet tombol ping.”
“Oh gitu. Kirain kangen. Soalnya kan udah lama nggak pernah chat.”
“Ngapain kangen? Kamu aja nggak pernah kangen aku.” Dia terkejut mendengar ucapanku, begitu pun Mika. Aku langsung menutup mulutku. Memalingkan wajahku dari hadapannya. Apa yang telah kukatakan? Apa lebih baik aku lari? Oh sial, harusnya aku berpikir dulu sebelum berbicara.

Dia lalu tersenyum.
“Aku kangen kok.”
Mataku terbelalak mendengarnya barusan. Apa telingaku bermasalah? Lagi-lagi Mika sampai ternganga.
“Biasanya kan kamu kirim pesan duluan. Lama banget nggak ada ngirim, aku pikir kamu udah nggak mau chatting sama aku. Terus waktu itu kamu invite BBM aku kan? Aku seneng. Maunya sih ngirim pesan duluan, tapi takutnya nanti kamu nggak seneng. Kak Risa bilang kamu suka sama aku…”
“Apa?” aku memotong ucapannya.
“Iya. Tapi aku pikir udah enggak, soalnya nggak ada lagi pesan dari kamu. Aku jadi takut chatting. Aku sebenernya juga suka sama kamu.”
Mataku berkaca-kaca. Aku menaikkan wajahku ke atas mencegah air mata menetes. Ada apa ini? Aku sangat tidak dapat mempercayainya. Apa ini mimpi? Tapi ini seperti nyata. Aku sangat bahagia.

“Aku masih suka kamu Richi.”
“Kalau gitu, kita pacaran ya.”
Aku mengangguk, tersenyum kepadanya.
“Cieee. Jadian.” Ejek teman-teman Richi . Aku malu, terharu, dan bahagia.

“Makan bakso di depan yuk. Aku yang traktir.” Ujar Richi kepada semua temannya, aku dan Mika. Mungkin untuk merayakan hari jadi kami.
Richi duduk di sampingku, sangat dekat. Dia dengan lahapnya menyantap Bakso Pak Min yang memang terkenal enak dan murah. Tetapi aku tidak makan, kebahagiaan ini membuatku kenyang. Aku hanya senyum-senyum melihatnya makan.

“Kamu belum makan dari tadi ya?”
“hehe, iya.”

Aku tidak pernah menyangka ceritaku akan semanis ini. Dia yang kupikir merasa terganggu karena kehadiranku selama ini ternyata menyukaiku. Dia yang sangat sulit untuk digapai, saat ini duduk tepat di sampingku. Dia tersenyum dan berbicara denganku. Aku tak ingin ini berakhir. Aku harap ini bukan mimpi.

Mataku terbuka, perlahan. mengerjap beberapa kali. Aku termenung beberapa saat. Mencoba mengartikan semua yang telah terjadi. Aku menangis, lagi. Air mataku tumpah semakin banyak. Harusnya aku tidak percaya begitu saja! Harusnya aku tidak terlalu bahagia di dalam mimpi bodoh itu. Harusnya aku lebih cepat terbangun tadi! Kenapa mimpi itu tampak begitu nyata! Bodohya aku tak bisa menyadarinya.

Aku menenangkan diri. Kini aku memahami semuanya. Dia hanyalah delusi untukku. Hanya angan-angan yang terbentuk di alam bawah sadarku. Dia tidak akan datang ke kehidupan nyataku. Layaknya mimpi, dia hanya akan membahagiakan, kemudian menghilang.

Hampir setiap hari aku bertemu dengannya di kantin. Sahabat-sahabatku bilang dia selalu melirikku, tapi aku tak pernah goyah. Dia hanya imajinasi. Dia tidak nyata.

Cerpen Karangan: Amalia
Facebook: facebook.com/liab1a4

Cerpen Mimpi Untuk Nana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menulis Kehidupan Ku (Part 1)

Oleh:
Setiap orang yang terlahir di dunia ini tentu diiringi dengan bakatnya masing-masing karena bakat tersebutlah yang menjadi arah dan tujuan dalam hidupmu. Kata-kata ayahku tersebut sering kali terngiang dalam

Hingga Ia Pergi

Oleh:
INI KISAH tentang Amanda Mulyawaty —tentang hidupnya yang berantakan; pikirannya yang sering kacau tak jelas, angan-angannya yang kadang terlalu melambung tinggi, serta cintanya yang mendalam pada orang yang sangat

Sosmed

Oleh:
Aku tidak meminta mengenalmu, kita berkenalan seiring waktu yang terlewati. Aku tidak meminta menjatuhkan hatiku di kamu tapi hati mengerti kenyamanan berada di dekatmu. Aku tidak meminta semuanya kudapatkan

Class Sweet Class

Oleh:
Angin kencang melanda bulan Oktober. Bagi kami yang tak dapat menikmati tidur siang di rumah, hal ini menjadi sangat menyebalkan. Berbagai macam raut sebal, bosan, jenuh, ngantuk dan malas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *