Mungkin Aku Masih Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 30 April 2016

“Gimana kabar lo?” celetuk Tasya saat aku muncul di hadapannya setelah 10 tahun aku mati-matian menghindari mereka.
“Lo bisa lihat sendiri kan? I’m very good.” Jawabku ketus. Do you think i was die atau mungkin jadi gila setelah peristiwa 10 tahun lalu itu Sya? No!!! I’m really, really good!!! Batinku. Aku mendengus sebal.

“Din?” Tasya berkata lirih.
“Hmm?” aku memandangnya heran. Sambil menyetop sendokan chocolate ice cream di depanku.
“Untuk apa pun yang gue lakuin sama lo. I’m sorry.” aku lihat ada penyesalan di matanya.
“Oh common!! Is long time ago right? Udah deh gak usah dibahas. Gue juga udah lupa,”
“Nggak mungkin bisa lupa Din. I know you.”

“If you knew all about me. Kenapa lo lakuin itu semua ke gue Sya?! Udah dehh. Gak usah diinget lagi. Itu udah masalah basi tahu gak.” suaraku sudah meninggi. Mungkin sekarang kepalaku sudah muncul dua tanduk merah menyala.
“Gue nyesel Din. Sumpah gue nyesel. Begitu juga sama Randi. Dia nyesel banget ngelakuin itu semua sama lo. Seumur hidup gue nggak bakalan bisa tenang. Gue selalu dihantui rasa bersalah.”
“Kalau lo mau ngebahas masalah ini sorry gue sibuk dan gue abis ini ada meeting penting. See you next time.” aku pun langsung pergi terburu-buru dari neraka itu. Aku cuman tidak ingin kata-kata Tasya meracuni pikiranku lagi. 10 tahun aku lari dari semua ini. Dan bisa gawat kalau pondasi yang aku bangun selama 10 tahun ini hancur seketika karena manusia seperti mereka.

Aku masuk ke ruanganku yang sejuk ini. Duduk di kursi kebesaranku yang empuk. Menyenderkan kepalaku yang tiba-tiba berat. Aku melirik jam di tanganku. Satu jam lagi aku akan meeting dengan clien baru. Yang kata bosku itu adalah perusahaan yang tidak bisa dianggap remeh. Dan kalau bisa memenangkan hati pemiliknya tentu sangat menguntungkan perusahaan tempatku bekerja.

“Din lo udah balik?” Reno nyelonong masuk ke ruanganku. “Kenapa muka lo bete begitu?”
“Abis ketemu masa lalu gue.” aku menyahut singkat.
“Randi?” tebaknya.
“Bukan. Yang satunya.” kataku ketus. Reno tahu semua hal tentangku. Kami bersahabat sudah 10 tahun semenjak aku kuliah di paris hanya dia yang aku percaya. Dia menjadi tumpuanku satu-satunya di paris. Kami kuliah bareng. Lulus bareng. Dan bekerja di perusahaan ini pun bareng amazing kan?
“Terus?”

Aku melotot ke arah Reno. “Common boy jangan lemot gitu deh. Ya jelas dia bakalan ngungkit masa lalu kan. Gak perlu juga gue jelasin kan apa yang dia ungkit. Peristiwa 10 tahun itu.” suaraku mulai meninggi. “Hello babe!!! Please deh gak usah gitu juga muka lo. Entar cepet tuir baru tahu rasa lo. Slow down aja kali Din ngapain dipikirin. Mending kita konsentrasi buat persentasi di depan clien nanti. Lo tahu gak? Clien kita ini kelas kakap. Kalau kita menang tender. Gilaa perusahaan kita bakalan untung banyak!!” serunya happy banget.

“Kita bisa menangin perusahaan ini nggak ya? Kok gue jadi nggak yakin.” aku menggigit kukuku.
“Oh babe. Jangan gitu dong. Tender mana sih yang nggak bisa lo taklukin. Secara otak lo kan encer banget. Nggak percuma lo kuliah 5 tahun di paris udah dapet gelar S2 sedangkan gue S1 untung lulus.”
“Itu karena lo nggak niat kuliah. Lo malah asyik party-party nggak jelas. ” aku mencibirnya.
“Eh udah jam dua. Aduhh buruaaannn!” aku seketika panik. Kebiasaanku saat mengobrol dengan sahabat ajaibku ini selalu lupa waktu.

Aku memasuki ruangan meeting itu awalnya dengan percaya diri. Tapi aku mendadak pucat pasi saat menatap seseorang yang ada di seberangku yang sedang asyik mengobrol dengan bosku. Aku ingin lari saja dari situ. Tapi terlambat bosku sudah melihatku. Dan melambaikan tangannya mengajakku menghampiri mereka. Oh god. “Perkenalkan Pak Randi. Ini adalah Dinda dia adalah tangan kanan saya. Usianya masih muda. Tapi dia sangat pintar. Dia dapat beasiswa di paris dan sudah S2 hebat bukan. Dia adalah andalan perusahaan kami. Dan Blaa.. Blaa., Blaaa.” bosku terus saja membicarakan tentang aku kepada orang di sampingnya ini. Sementara aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Aku menemukan dia tersenyum simpul ke arahku. Oh god. Bisa nggak robohin aja kantor ini. Atau datangkan malaikat untuk membawaku kabur dari sini. Rasanya aku kehabisan oksigen.

“Kita udah saling kenal kok Pak.” aku terperanjat. 10 tahun aku tak mendengar suaranya. Masih sama berat. Tegas. Mempesona. No. No. No!! Dinda jangan lagi please.
“Kami dulu satu kampus. Tapi saat Dinda dapat beasiswa ke paris kami sudah lama nggak ketemu. Udah.. 10 tahunan kali. Ya kan Din?”
Dia menatapku. Uhh. Aku benci tatapan itu. “Bisa kita mulai meetingnya Pak?” aku mengalihkan pembicaraan. Sementara yang lain setuju dan memilih tempat duduk mereka Reno menghampiriku. “Are you oke?” aku menatap matanya ada rasa khawatir di sana. Oh my lovelly best friendku dia pasti tahu apa yang ada di otakku saat ini.
“I ‘m okay.” aku tersenyum setulus mungkin. Mengambil posisi sekuat tenaga menahan tangis.

Nggak mungkin kan aku menyampaikan persentasi sambil bercucuran air mata. 3 jam meeting neraka itu akhirnya selesai aku buru-buru meminta izin pulang cepat kepada bosku. Dengan alasan tidak enak badan karena hampir seminggu ini aku begadang membuat persentasi kelas kakap ini. Aku juga sudah tidak peduli kalau ternyata mereka tidak setuju dengan proyek ini. Bahkan aku berharap agar perjanjian itu batal. Supaya aku tidak pernah melihat wajah Randi lagi. Arrghhh!!

“Tumben sudah pulang Din?” sapa ibuku saat aku memasuki rumah. Aku kemudian menghampirinya dan mencium tangannya.
“Sudah Bu. Hari ini abis meeting Dinda minta pulang cepat Bu. Cape hampir seminggu begadang terus.”
“Kamu tuh yaa. Jangan bekerja terlalu keras toh ndok. Begini saja Ibu sudah bahagia. Kamu mau mengejar apa lagi? Mending kamu cari suami ngasih Ibu cucu. Kamu itu sebentar lagi udah kepala tiga.”
“Dinda mau istirahat dulu ya Bu.” aku mencium pipinya kemudian pergi ke kamarku. Aku ingin cepat-cepat mandi merendam kepalaku yang rasanya mau pecah.

Dinda nggak mau nikah bu. Lelaki semua sama aja. Sama kayak bapak. Sama kayak Randi. Terkecuali Reno sahabatku. Bapak meninggalkan kita demi perempuan lain bu. Sampai ibu harus berhutang ke sana ke mari demi sekolahku. Sampai aku kuliah dan sekarang bisa membahagiakan ibu. Membelikan ibu rumah, kehidupan yang layak, perhiasan, gelar Hj, yang sekarang ibu sandang. Dinda nggak butuh apa-apa lagi bu. Apa lagi jodoh. Dinda bahkan sudah nggak percaya bahwa cinta itu ada. Randi yang menghancurkan semuanya bu. Dia selingkuh dengan sahabatku sendiri Tasya. Aku menangis keras di dalam kamar mandi melampiaskan tangis yang sedari tadi aku tahan. Aku sakit. Kenapa Tuhan tidak pernah membiarkan aku bahagia. Hidup damai. Kenapa mereka muncul lagi setelah 10 tahun aku kubur dalam-dalam.

Esoknya aku pergi dengan malas ke kantor. Dengan muka kusut. Semalam bosku menelepon dengan berteriak-teriak kegirangan karena perusahaan kami memenangkan tender ratusan triliun itu. Tender terbesar yang pernah aku menangkan. Tapi aku sama sekali tidak senang. Itu berarti mulai sekarang aku akan melihat wajah Randi setiap hari. Oh god. Lebih baik aku mengundurkan diri saja dari perusahaan ini. Aku masuk ke ruangan bos dengan muka ditekuk sementara muka bosku itu begitu cerah.

“Why Dinda why? Kok kamu lemes begitu. Kita menang Din. Tender kelas kakap. Dan kamu dapet bonus besar dari perusahaan ini.” katanya antusias.
“Saya ikut senang Pak,” jawabku lemas.
“Oh iya nanti malam kamu temani Pak Randi makan malam oke. Di resto biasa.”
Aku syok. “Mmm gimana kalau Bapak aja Pak. Saya nggak bisa.” aku menolak halus bisa mati aku berhadapan dengan Randi. Aku masih sangat mencintai dia. Tuhan tolong.
“Kok saya. Ya kamu dong. Kan kamu sama dia dulu teman kuliah. Walaupun udah lama nggak ketemu. Yaa anggap aja reunianlah begitu oke. Please Dinda. Jangan mengecewakan clien oke.” titahnya. Aku hanya bisa pasrah.

Malamnya tepat jam delapan aku sampai di restaurant itu. Sepi. Aku menelan ludah. Merasa tak nyaman.
“Ibu Dinda?” aku menoleh ada seorang waiters datang menghampiriku. “Silahkan, Ibu sudah ditunggu,” aku mengikutinya. Ke sebuah meja dikelilingi bunga-bunga dan ada sebuah minuman mungkin wine. Apa-apaan ini. Di sana Randi berdiri dengan gagahnya. Oh god please jangan buat aku jatuh cinta lagi dengannya.
“Mbak tolong ini dibuang.” perintahku kepada pelayan yang tadi mengantarku. Dia melirik ke arah Randi. Dan Randi pun mengangguk.
“Aku pikir 5 tahun di paris kamu akan berubah Din.” sindirnya.
“Saya pikir ini makan malam bisnis.”

Dia berdehem. “Dinda aku. Aku. Mungkin bodoh dulu pernah mengkhianati kamu. Tapi tolong. Jawab jujur. Apakah kamu sudah melupakan aku. Apa kamu sudah nggak mencintaiku lagi. Apa kamu bisa memaafkan aku Din?”
“Randi please. Itu sudah basi. Tolong jangan korek lagi luka lama itu tolong.” air mataku tumpah. Aku nggak bisa menahan air mata ber*ngsek ini.
“Aku sudah mati-matian belajar memaafkan kamu. Dan Tasya. Aku sudah mati-matian untuk melupakan semua tentang kita. Aku mohon. Jangan pernah tanyakan itu lagi. Kamu nggak tahu rasanya dikhianati oleh orang yang sangat kamu cintai dan sahabat kamu sendiri. 10 tahun Randi. Itu bukan waktu yang singkat.”

“Aku tahu kesalahanku itu nggak bisa dimaafkan. Tapi aku mohon Din beri aku kesempatan. Aku ingin memperbaiki semuanya. 10 tahun. Aku mencari kamu ke mana-mana. Tapi nggak ada satu pun yang memberi informasi tentang keberadaan kamu. Sampai akhirnya aku menyerah. Tapi tiba-tiba kamu muncul begitu aja di hadapanku. Aku tahu ini kehendak Tuhan Din. Sumpah demi Tuhan aku nggak pernah bisa melupakan kamu. Walaupun kesalahan itu sudah aku perbuat. Aku tahu aku nggak tahu malu. Mengharap kamu nerima aku lagi. Setelah apa yang udah aku perbuat. Tapi aku nggak bisa membohongi perasaan aku sendiri.”

Aku sudah tidak tahan mendengar celotehannya akhirnya aku mencoba untuk pergi dari tempat itu. Tapi Randi menahanku. Menggenggam erat tanganku. Memelukku. Pertahananku hancur. Benteng yang 10 tahun aku bangun luluh lantah. Kenapa pesonamu begitu memabukkan. “Aku cinta kamu Ran. Aku masih sangat mencintai kamu,” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Kalimat yang selama ini hanya bisa aku ucapkan di dalam hati.
“Aku juga Din. Aku bersumpah kesalahan dulu nggak akan terulang lagi. Aku janji.” Randi mencium dahiku. Membuat aku terbuai. Mungkin kesempatan kedua itu patut dicoba.

Cerpen Karangan: Bella Efriani
Facebook: Bella Efriani
Mohon maaf atas segala kekuranganya.

Cerpen Mungkin Aku Masih Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Pasti Bisa!

Oleh:
Di meja sebelah ranjang kamarnya. Yang menurut dika adalah meja belajar. Walaupun butut dan kaki kakinya sedikit keropos. Dika menulis. Menuangkan ide brillian. Yang ada di otak jeniusnya. Tangannya

I Love You Leyla

Oleh:
Aku Leyla Kurin Micheopti, panggilnya Leyla, hari ini hari yang sangat menyedihkan!! Aku udah gak bisa bilang apa apa lagi! Aku kemaren lihat cowok main basket di sekolah, ganteng

Cinta Pertama

Oleh:
Cinta, Apa itu cinta? Aku tak tahu apa itu cinta. Banyak orang bilang, cinta itu indah. Seindah melihat bunga mekar, seindah melihat matahari terbit, seindah melihat partikel salju. Indah.

Malas

Oleh:
Aku adalah seorang yang malas, mengapa? Sampai saat ini saya terus memikirkan bagaimana cara membuat sebuah karya yang dapat diterima oleh banyak orang. Tetapi saya tidak menyerah sampai disini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *