Nada Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 6 June 2016

Jika bulan ini masih tetap sama dan akan selalu sama, tapi nyatanya kita tak pernah seperti bulan yang selalu tampak sama. Jika matahari akan selalu tampak berseri setiap hari, tapi nyatanya kita akan pupus oleh waktu yang terus berjalan. Hari ini mungkin bukan hari yang selalu aku istimewakan, atau mungkin hari yang selalu membuatku menunggu akan sosok yang tak jelas. Jalan ini masih tetap sama, dan mungkin orang yang berlalu-lalang akan tetap sama atau mungkin ada beberapa yang tergantikan dengan yang lain.

Disini… di jalan ini aku masih duduk menunggu yang tak tau akan datang atau hanya sekedar melewatiku. Masih sama seperti dulu, langit gelap yang selalu menemani langkah sunyi yang tak pasti aku lalui. Entah siapa yang akan datang atau lebih tepatnya ditunggu. Awan gelap itu masih menoleh dengan tajam ke arahku seakan marah dengan sikapku yang selalu sama setiap harinya. Mencoba berkata lewat tatapannya yang semakin menggelap, gelap dan lebih gelap lagi.
Aku tau aktivitasku untuk yang satu ini memang tak pantas aku lakukan. Seperti orang yang tak tau tujuan hidup yang penuh dengan pelajaran. Karena aku belum mampu menafsirkan satu-persatu keadaan yang aku hadapi saat ini. Aku hanya bergumam aneh atau mungkin marah akan situasi yang membuatku harus mengeluarkan air mata. Menganggap semuanya tak adil bagiku. Atau rasa iri yang selalu menghampiri ketika melihat pohon yang selalu riang jika ada angin datang menghampirinya.

Aku selalu punya harapan untuk tetap disini. Firasat yang tak tau kebenarannya ada atau tidak. Aku hanya duduk disini dan berharap akan ada yang datang setelah yang pergi baru saja berlalu. Entah masa lalu atau masa depan yang sedang kutunggu. Dan nyatanya aku masih menunggu yang tak pasti akan datang. Lampu-lampu kendaraan semakin berkurang dengan langit yang terlihat masih tampak begitu marah terhadap perbuatanku. Maafkan aku langit. Karena aku tak hebat sepertimu. Kau boleh marah padaku. Kau boleh menyiksaku. Agar aku tau betapa lemahnya aku saat ini.

“belum pulang ai?” tanya seseorang dengan suara berat yang tak asing di telingaku
Ai? Ya, namaku Bintang Ayra Zahra. Panggil saja aku ‘Ai’ bukan ‘Ay’ karena aku tak suka dipanggil seperti itu atau apapun. Jangan Tanya mengapa alasannya karena aku pun tidak tau jawabannya dan aku merasa nyaman dengan sebutan itu.
“ha? Iya” jawab ku kaget sambil menyipitkan mata
“Anjar?” sambungku tak percaya
“ya… aku. Mengapa kau belum pulang? Ini sudah larut malam Ai, tidak baik jika wanita duduk sendiri di halte yang jarang orang lewat seperti ini” balas orang yang bernama Anjar itu.
Entah mengapa bibir ini susah sekali ingin dibuka seperti ada lem yang begitu merekat. Dan malah air mata ini yang menjawab pertanyaan itu, semakan mewakilkan perasaan majikannya yang begitu rapuh atau entah apapun itu namanya karena aku sendiri pun bingung entah apa yang aku rasakan ini.
“aduhh kenapa malah nangis ai” bentakku dalam hati karena perlakuanku ini
“Ai? Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada khawatir saat melihatku menangis
“aa a aku tidak apa-apa” ucap ku terbata-bata sambil berjalan meninggalkan lelaki itu. Untung saja bibir ini bisa diajak berkerja sama untuk malam ini.
“ayo naik Ai. Aku akan mengantarkanmu” ucap tiba-tiba lelaki itu yang terhenti di sampingku dengan sepeda motor yang ia kendarai.
“aku tidak ingin kau kenapa-kenapa Ai. Karena…” Anjar menggantungkan kalimatnya dan menatap lurus seakan susah untuk melanjutkan kalimatnya itu.
“jangan katakan. Aku mohon” batinku menjerit saat menatap dalam wajahnya.
“tapi aku ingin mendengar penjelasan dari mulutnya secara langsung” sambungnya
“lupakan.. ayo naik ai” ajaknya sambil memegang tanganku agar aku bergerak naik ke sepeda motornya. Dan aku melakukannya.

Hari ini dengan matahari yang selalu setia dengan awan menemani petikan gitar terakhirku disini. Menatap ke atas memandang langit seraya berucap ‘Terima Kasih’ kepada Tuhan yang selalu membuatku menjadi lebih baik lagi tapi diriku yang selalu menganggap bahwa semuanya terlalu berat bagiku. Membungkukkan badan dan tersenyum ke arah orang-orang yang menatap penuh senyum hangat terhadapku. Dan berhasil mengeluarkan air mata karena aku bisa membuat mereka semua tersenyum entah hanya tipuan seperti yang selama ini aku lakukan atau senyum ikhlas. Aku berusaha untuk tidak memperdulikan itu.
“Ai kau sangat keren, semua orang memandang takjub atas persembahanmu tadi” ucap wanita itu dengan senyum merekah yang tak asing bagiku selama 3 tahun ini. Ya, dia Diana orang pertama menjadi temanku saat aku menjajakan kakiku di sekolah ini sekaligus setia menjadi temen sebangku ku.
“ya.. terima kasih Diana” balasku dengan senyum dan pergi meninggalkan dia.
Mungkin aku terlihat jahat meninggalkan Diana yang masih bingung dengan perilaku yang aku berikan tadi. Aku hanya mendengar dia memanggil namaku berkali-kali berharap aku berbalik arah menghampirinya, tapi kakiku tak ingin berhenti. Yang aku mau saat ini hanya pergi menjauh dari tempat ini. Tapi tunggu, kakiku langsung terhenti saat melihat sosok lelaki itu tersenyum hangat kepadaku dan berjalan menghampiriku, dan bodohnya aku hanya diam dan menunggu dia sampai di depan hadapankku.

“kau terlihat begitu cantik hari ini ai, apalagi dengan petikan gitarmu yang selalu membuat pendengarnya merasa terhipnotis dengan permainanmu” ucap lelaki itu untuk memulai perbincangan.
Aku hanya menatap mata itu, dan lagi-lagi aku merasa rindu dengan tatapan itu.
“oh cukup Ai, kau akan melanggar semua yang telah kau rencanakan” bantinku lagi-lagi menolak apa yang baru saja majikannya lakukan.
Aku langsung menunduk menatap kosong dataran berwarna hitam itu. Dan fikiran ini masih setia memikirkan apa yang baru saja aku lihat.
“Ai” panggilnya karena tak mendapat respon dariku karena sebuah pujian yang keluar dari bibirnya.
“Ya” jawab ku singkat dan masih memandang dataran hitam itu.
Saat ini tidak ada suara lagi yang ku dengar hanya suara desahan parau yang begitu menyakitkan seakan begitu banyak kesakitan yang ia tahan selama ini. Ingin sekali aku menatapnya dan berkata ‘kau baik-baik saja? Lupakan saja itu semua. Aku sedang mencoba mengikhlaskan semuanya jar’. Jar? Ya, dia Anjar lebih tepatnya Aditya Anjar Pratama sosok yang selama ini masih ada dalam fikiranku dan mulai saat itu aku sedang mencoba melupakannya. Namun hasilnya selalu gagal. Oh bukan gagal lebih tepatnya aku belum bisa melakukan itu, aku sudah merencanakan tapi hatiku selalu bilang bahwa itu adalah wacana dan nyatanya aku tidak bisa melakukannya. Aku masih menunggu sepatah kata yang keluar dari mulutnya sebelum semuanya hilang.
“maaf” ucapnya lagi. Dan aku rasa ia sedang menatapku dengan tatapan lemahnya
“maaf.. maafkan aku. Tak seharusnya aku melakukan semua itu, tapi…” anjar menggantungkan kalimatnya dan meraih tanganku dan aku merasa kaget dengan apa yang dia lakukan lagi-lagi aku menatapnya.
“aku tidak tau harus menjelaskan bagaimana kepadamu Ai. Karena pada saat itu aku tidak bisa menolak, karena sesuatu yang mengharuskan aku melakukan itu. Tapi yang perlu kamu tau sampai saat ini aku masih menyimpan itu semua dan tak ada yang hilang atau tergantikan” sambungnya dan tersenyum saat mengakhiri kalimatnya
Aku masih diam tak bergeming yang aku rasakan aku nyaman seperti ini. Aku ingin waktu berhenti saat ini, sebelum aku akan meninggalkan semuanya.
“apakah kau masih mau menjalani semuanya yang pernah kita rencanakan dulu Ai?” tanyanya dan berhasil membuatku tersadar
“aku harus pergi” jawabku dengan nada pelan, aku takut melihat reaksi dia saat ini
“kau mau pergi kemana Ai? Kau tidak boleh pergi” cegahnya mengeratkan genggaman pada tanganku
“aku harus pergi jar” jawabku lagi dengan kalimat yang sama, aku tidak suka berada diposisi seperti ini
“apa semua ini karena aku? Aku akan memperbaiki semuanya Ai. Aku berjanji” jawabnya tegas dan berusaha menyakinkan diriku. Dan aku hanya diam
“Ai, ku mohon jangan” cegahnya lagi dan lagi membuatku ingin sekali membatalkan semua yang telak aku rencanakan
“aku harus pergi jar. Ada sesuatu yang aku harus raih saat ini dan tidak disini” balasku dan kembali melihat dataran hitam itu.
“Ingin sekali aku berteriak saat ini Tuhan. Tidak kuat aku merasakan seperti ini” sambungku dalam hati
“jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. aku ikhlas Ai. Dan aku akan setia disini menunggumu” ucapnya mencoba untuk tidak terlihat rapuh dihadapan wanita ini.
“terima kasih jar” jawabku singkat dan menahan air mata yang sudah terbendung saat ini. Melepas genggam itu dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan dia yang masih berdiri kaku menatap kepergianku
“Aku pun masih menyimpan semua itu dan entah sampai kapan akan selalu menyimpannya jar” ucapku pelan diisak tangis ku yang rendah.

Cerpen Karangan: Dedeh Ramadhatun
Facebook: Dedeh Ramadhatun

Cerpen Nada Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menikah

Oleh:
Air mata ini jatuh berlinang, saat aku melihatmu duduk di pelaminan. Kesedihan itu kian membuncah saat, kau diciumnya. Lelakimu itu lalu dia tersenyum menang. Aku pergi terlalu dini tak

Cinta Mikha

Oleh:
23 Desember 2014 merupakan hari perpisahan antara aku dan dia. Namaku Mikhaila Putri, biasa dipanggil Mikha, aku kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Dia adalah mantan pacarku

Dan Bila Dia Datang

Oleh:
Panggil saja aku saskya, Sekarang aku sedang memasuki semester enam buat menyelesaikan study akuntansiku di suatu universitas terbuka di kota Yogyakarta. Ceritaku berawal semenjak aku mengenal dirinya tanpa sengaja

Sakitnya Melupakan

Oleh:
Berawal dari kita satu kelas di SMA, yang biasa cuman menganggap kamu sebatas teman sampai akhirnya aku jatuh cinta padamu. Beribu upaya kulakukan demi mendapatkan hatimu hingga sampai akhirnya

Pertemuan yang Tak Bisa Kuhindari

Oleh:
“Aku tertegun melihatnya kembali, seseorang yang sudah lama kuhindari. Aku memang masih punya janji kepadanya, tapi aku memang tak bisa menepati. Perpisahan karena emosi terjadi karena pemikiran kilatku, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *