Pacarku Daun Muda (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 22 June 2014

Aku menggandeng erat lengan Rico, ketika memasuki sebuah café dimana tempat pesta itu diadakan. Hatiku masih merasa tidak tenang, Ya Tuhan mengapa aku harus terjebak di dalam situasi seperti ini, kataku dalam hati sambil mengatur irama jantungku yang berdetak sangat cepat. Pesta itu sangat meriah di malam ini, aku mencoba untuk menyesuaikan diriku pada anak-anak yang baru saja beranjak dewasa. Aku pun mencoba memaklumi pandangan-pandangan dan lirikan-lirikan mata yang mengarah kepadaku. Aku pun berharap dan berdoa di dalam hati supaya pesta ini segeralah cepat berakhir?.

Hatiku mulai terusik kembali ketika teman-temannya Rico mulai bertanya yang macam-macam, contohnya tentang perbedaan umur? mengapa aku bisa jadian dengannya? aku dan Rico bertemu dimana? enak tidak berpacaran dengan daun muda? sampai pertanyaan yang sangat bodoh yaitu, siapakah yang menembak duluan? Ingin sekali aku kabur dan berlari kencang meninggalkan pesta anak Abg itu. Mereka mulai berani menggoda dan mencela aku, yang mereka anggap itu sangat lucu. Aku pun mulai kesal dengan sikap Rico yang tampak tenang dan tidak membalas celaan-celaan yang dilontarkan oleh teman-temannya. Mengapa Rico tidak membelaku? mengapa dia hanya diam dan tersenyum ketika melihat teman-temannya pada tertawa terbahak-bahak mendengar lawakan-lawakan tidak penting itu? yang menurutku sangat menyudutkan keadaan kami berdua. Aku tidak mau menjadi obyek penderita di malam ini, aku tidak suka dengan pesta ini, aku sudah muak dengan teman-teman Rico. Aku pun memaksa Rico untuk meninggalkan pesta ini dengan ancaman aku akan pulang sendirian, jika ia masih ingin berada disana?.

Malam itu hal yang aku takutkan pun terjadi, kami berdua bertengkar hebat selama dalam perjalanan. Aku sangat marah dengan sikap Rico yang sama sekali tidak pernah membelaku disaat teman-temannya memperolok-olok tentang hubungan kami berdua.
“Aku sengaja diam, Mai kalau aku membalasnya, mereka akan bertambah senang?” Jelas Rico ketika melihat aku menangis.
“Apa kamu juga terima, waktu teman kamu mencela, enak dong Ric pacaran sama tante-tante? apa kamu tidak tersinggung dengan kata-kata itu? Mereka itu sudah menghina aku, tau? Memangnya aku sudah tante-tante?” jelasku sambil terisak-isak.
“Sudalah… Mai, mengapa harus dibahas sih? memangnya aku juga tidak pernah tersinggung kalau sedang berkumpul dengan teman-teman kamu, yang juga suka mencela dan memperolok-olokku seperti anak kecil yang masih ingusan?” Kata Rico.
“Tapi kan aku selalu membela kamu, dan aku selalu marah pada teman-temanku” jawabku.
“Nah… di situlah yang ketahuan, kalau kamu masih seperti anak kecil” kata Rico yang meninggikan suaranya.
“Jadi kamu merasa diri kamu yang benar dan aku yang salah, gitu?” teriakku.
“Bukan begitu maksud aku sayang? yaa sudah aku minta maaf” kata Rico.
“Dunia kita memang beda Ric, aku sudah tidak tahan lagi? benar kata orang-orang kalau perbedaan umur itu sangat sensitif”, jelasku.
“Apakah kamu memang benar-benar malu berpacaran dengan aku, Mai? apakah kamu lebih mementingkan omongan orang-orang yang enggak berguna itu, daripada memikirkan dan menjaga hubungan kita berdua?” Ujar Rico sambil menatap mataku.
“Tidak tahu Ric, aku bingung?” jawabku yang masih saja terisak-isak.
“Bingung…? Maksud kamu apa” Tanya Rico.
“Hmmmm… sepertinya aku ingin sendiri dulu Ric, aku ingin tenang dan memikirkan apakah hubungan ini pantas untuk berlanjut?” Jelasku.
“Maikeee… kamu ngomong apa sih? Aku enggak mau pisah sama kamu, please…” mohon Rico.
“Aku perlu waktu, Ric” jawabku pelan.
Rico terkejut mendengar perkataanku, lalu ia menghela napas panjangnya. Sedangkan aku…, aku hanya diam membisu selama perjalanan menuju rumah. Aku bingung dan sedih. Sebenarnya aku juga tidak ingin seperti ini. Aku ingin keadaan kami berdua baik-baik saja, tetapi hatiku masih sakit, aku masih tidak bisa terima dengan keadaan ini. Mungkin memang dunia dan lingkungan kami berbeda. Aku tidak ingin sakit hati bila berada di dunia Rico, dan aku juga tidak ingin Rico tersiksa jika berada di duniaku. Sedangkan kami berdua tidak akan pernah bisa terpisahkan dari dunia kita masing-masing. Aku dan Rico sudah berusaha keras untuk beradaptasi, tetapi sepertinya tidak akan pernah berhasil. Dan di malam itu, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.

Seminggu sudah aku dan Rico tidak saling menyapa. Ada perasaan rindu dengannya di hati ini, tapi aku harus kuat. Aku yakin, pelan-pelan aku bisa melupakan hubungan kami yang baru seumur jagung ini Pikirku dalam hati. Mengetahui kejadian ini Nina dan Sarah serta keluargaku pun memakluminya, mungkin itu sudah menjadi salah satu prediksi mereka, yang bisa menyimpulkan hubungan aku dan Rico pasti akan berakhir seperti ini.

Di sabtu sore itu aku bermalas-malasan di dalam kamar, aku merebahkah tubuhku di atas ranjang, sambil membaca novel dan mendengarkan alunan lagu yang bisa membuat hati ini tenang. Sedang asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba ada seseorang yang memencet bel rumahku. Hmmmm… Rico? pasti yang datang dan memencet bel itu adalah Rico kataku berharap. Hati ini menjadi berdebar-debar, ada sedikit perasaan lega dan gembira, jika yang benar-benar datang itu adalah Rico. Aku segera keluar dari kamar dan berlari menuruni anak tangga menuju ruang tamu.
“Hai… Mai…?” Sapa seseorang ketika aku membuka pintu berwarna putih itu.
“Mas… Mas Fandy?” kataku ragu-ragu sambil mengerutkan keningku.
“Iyah… Ini aku Fandy, teman mas mu si Bimo?” masa kamu lupa sih? katanya sambil tertawa.
“Yaaa… Ampun Mas, Mas Fandy sudah pulang ke Indo?” teriakku sambil tertawa.
“Hmmm… baru seminggu yang lalu sampai disini, Mai” jawab Fandy.
“Ayooo… masuk Mas, si Bimo ada di kamarnya sedang main game” jelasku sambil mempersilakan Mas Fandy masuk ke dalam rumah.
Mas Fandy berjalan menuju kamar, sedangkan aku segera melangkahkan kakiku menuju dapur, membuatkan minuman untuk teman kecilnya Mas Bimo, saudara laki-lakiku. Mas Fandy tambah ganteng banget? teriakku dalam hati sambil tersenyum. Pikiranku pun melayang, teringat kembali kebeberapa tahun yang lalu. Sewaktu kecil aku sangat mengagumi teman Mas Bimo yang satu ini. Fandy Dapunta, hmm… nama itu tidak akan lupa dari ingatanku. Aku selalu mencurahkan tentang kekagumanku akan sosok yang satu itu pada sebuah diary, yang masih tersimpan di dalam sebuah peti harta karun, tempat aku menyembunyikan barang-barang pribadiku sewaktu kecil. Perbedaan umurku dengan Mas Bimo dan Mas Fandy berjarak lima tahun. Mereka sudah mengenakan seragam putih abu-abu ketika aku masih di sekolah dasar. Ketika mereka lulus SMU, Mas Fandy melanjutkan pendidikannya keluar negeri. Dan baru hari ini aku melihatnya kembali. Aku suka berkhayal Mas Fandy lah yang menjadi pangeran, yang akan menjemputku di setiap malam minggu. Aku masih tersenyum-senyum sendirian, asyik dengan khayalanku di dalam dapur dan tidak memperhatikan keberadaan Mas Bimo dan Mas Fandy yang sudah berada di dekatku.
“Ehhh… Sudah bisa tersenyum, hmmm… sudah enggak galau lagi, Mai?” tegur Mas Bimo sambil tertawa yang mengagetkanku.
“Wew… Galau itu apa artinya?” Tanya Mas Fandy sambil tersenyum padaku.
“Galau itu bahasa alay? Artinya sedih” jawab Mas Bimo.
“Alay itu bahasa apa?” Tanya Mas Fandy lagi.
“Bahasa gaul jaman sekarang” jawab Mas Bimo sambil menertawakan Mas Fandy, yang merasa asing dengan kata-kata itu.
“Sedih kenapa, Mai?” Tanya Mas Fandy.
“Itu… si Maike abis putus cinta” canda Mas Bimo.
Mas Fandy dan Mas Bimo tertawa sambil menatap aku yang sedang cemberut dan kesal dengan saudara laki-lakiku itu.
“Daripada galau, mendingan nanti malam kita nonton aja yuk?” ajak Mas Fandy.
“Aduhhh… sorry Fan, gue sudah ada janji sama cewek gue nih” jawab Mas Bimo.
“Hmmm… kalau kamu bagaimana Mai, bisa nemenin aku nonton?” Tanya Mas Fandy.
Apaaaa… Mas Fandy ngajak aku nonton? Wow apakah ini secara tidak langsung Mas Fandy ngajak aku ngedate? Pikirku dalam hati.
“Ehhhh… Mai, di tanyain tuh sama Fandy? Kok malah bengong” kata Mas Bimo.
“Ayo kita nonton, Mas? Aku bisa kok” jawabku sambil tersenyum manis.
“Sippp… Yaa sudah kamu siap-siap dulu gih sana, Mas Fandy tunggu disini ya” kata Mas Fandy sambil tersenyum padaku.

Yaaa Tuhan, harapan dan impianku sedari kecil sekarang terkabul sudah. Aku bisa berjalan berdua dengan Mas Fandy. Hmmm… pangeran masa kecilku, Pasti menyenangkan bisa pergi berdua-duaan dengan laki-laki yang lebih dewasa pikirku dalam hati.

Malam itu aku berdandan secantik mungkin. Aku ingin Mas Fandy melihatku seperti wanita dewasa dan tidak menganggapku anak kecil seperti yang ia lihat beberapa tahun yang lalu.

Semenjak malam itu, aku sering bertemu dengan Mas Fandy. Mas Fandy suka memintaku untuk menemaninya jalan-jalan, hmmm… ini mungkin karena Mas Fandy belum mendapat banyak teman disini, sementara Mas Bimo sangat sibuk dengan pekerjaannnya. Aku dan Mas Fandy semakin akrab, diam-diam aku pun sudah mulai bisa melupakan Rico perlahan-lahan. Kehadiran Mas Fandy benar-benar suatu keajaiban yang aku miliki. Sumpah… aku sangat mengaguminya, pasti akan bahagia sekali jika memiliki pacar seperti Mas Fandy. Seperti di hari ini, Mas Fandy menjemputku di kampus setelah aku selesai kuliah. Pancaran mata Sarah dan Nina pun berbeda melihat kehadiran Mas Fandy, dibandingan ketika melihat Rico dulu. Pria tampan dan mapan yang sudah dewasa, pasti itulah yang ada di benak kedua sahabatku. Aku mengenalkan Mas Fandy dengan kedua sahabatku.
“Gila Mai, labaan loe sekarang keren banget?” gue heran, cepet banget loe ngelupain si Rico? Kemarin Rico hubungin gue lho, dia nanyain kabar loe sekarang” bisik Sarah.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Sarah, dalam hatiku berkata mungkin sebaiknya memang aku harus melupakan Rico dan tidak menghubunginya lagi. Kini di depanku ada seorang pria yang dewasa, dan aku berharap dia bisa membimbingku menuju masa depan. Aku ingin membuka lembaran baru di dalam hidupku sekarang?.

Tidak terasa tiga bulan sudah berlalu, aku semakin dekat dengan Mas Fandy. Tetapi mengapa akhir-akhir ini aku merasakan ketidaknyamanan di dalam hidupku. Perlahan-lahan sepertinya Mas Fandy mengatur kehidupanku. Contohnya seperti, aku harus banyak belajar untuk mengikuti cara dia bergaul dengan teman-temannya. Aku harus tampil sempurna ketika menemani Mas Fandy bertemu dengan mitra bisnisnya sewaktu makan malam bersama. Kemana-mana aku harus menghubungi dan mengabarinya. Aku harus mengenakan baju yang membuatku tampil seperti wanita dewasa. Walaupun pada awalnya, sama sekali aku tidak keberatan merubah penampilanku. Tapi lama-kelamaan, aku merasakan ini bukanlah diriku sendiri. Aku harus mengikuti gaya dan hidup orang lain yang membuat aku jenuh. Aku juga merasakan akhir-akhir ini menjadi jauh dengan Sarah dan Nina, karena hampir setiap hari Mas Fandy selalu menjemputku di kampus. Aku merasa tidak nyaman dengan hidupku sekarang ini, walaupun aku berada di dekat Mas Fandy, pangeran impianku sewaktu kecil.

Sejak tadi malam aku teringat kembali dengan Rico, mengapa diam-diam aku sangat merindukannya. Laki-laki Abg yang sering membuatku tertawa terbahak-bahak jika ia sedang melucu, rindu dengan perhatian dan kasih sayangnya yang tulus. Sosok yang membuatku menjadi diriku sendiri bila berada di sampingnya. Orang yang tidak pernah mengatur hidupku. Yaa Tuhan, aku sangat rindu sekali padanya kataku dalam hati.

Siang ini setelah mata kuliah manajemen keuangan selesai, aku segera keluar kelas untuk mencari sarah dan Nina. Kebetulan hari ini kami bertiga tidak sekelas, aku menemukan Nina sedang tergesa-gesa membuntuti seorang Dosen yang sudah berumur itu.
“Aduh Mai, gue masih ada urusan sama Pak Murtada nih?” Loe pulang duluan aja yaa, gue masih lama bisik Nina, sewaktu aku mengejarnya.
Aku menghentikan langkahku dan membiarkan Nina meninggalkanku bersama Dosennya. Aku menarik napas panjang, aku baru menyadari betapa sepinya kehidupanku sekarang. Ponsel Sarah pun tidak bisa di hubungi, kemanakah aku harus mencarinya. Saat ini aku sedang jenuh, aku tidak ingin pulang ke rumah dulu. Sebenarnya aku ingin mengajak kedua sahabatku pergi bersenang-senang, agar rasa penat ini bisa hilang untuk sementara. Setelah mengelilingi kampus untuk mencari Sarah, akhirnya aku pasrah untuk kembali pulang ke rumah, karena tidak menemukan sahabatku yang satu itu.

Perlahan-lahan tetapi pasti, aku melangkahkan kaki ini menuju pintu gerbang kampusku. Aku mengerutkan keningku, ketika pandangan ini melihat keberadaan Sarah dengan seseorang yang aku kenal di area parkiran mobil. Yaa… Tuhan itu adalah Rico? Sarah sedang berdua-duaan dengan Rico, mereka berdua terlihat dekat dan akrab sekali. Ada perasaan cemburu ketika melihat mereka berdua, apakah aku ketinggalan berita selama ini mengenai mereka berdua? Mengapa diam-diam Sarah mengkhianatiku. Hatiku saat itu sangat hancur melihat mereka berdua, walaupun aku sudah tidak bersama Rico lagi. Tetapi mengapa hati ini seakan tidak rela melihat kebahagiaan mereka. Airmata ini akhirnya menetes, aku tidak sanggup untuk memandangnya lagi, aku pun cepat-cepat melangkahkan kaki ini menuju mobilku, yang akan membawa diri ini pulang ke rumah.

Hari ini terasa sangat panjang dan hampa, kali ini aku benar-benar sangat kehilangan laki-laki yang membuat hari-hariku sangat istimewa. Ingin rasanya aku menghubungi Rico. Tetapi aku takut dia tidak mau menerima teleponku, sama seperti apa yang aku lakukan terhadapnya pada waktu itu. Keesokan harinya aku mencoba untuk menemui Sarah dan mempertanyakan tentang keberadaan mereka berdua kemarin, yang aku lihat di area parkiran.
“Tumben loe nanya kabar si Rico?” kata Sarah sambil tersenyum.
“Ngapain Rico kemarin ke kampus kita, Sar” tanyaku lagi.
“Dia mau bertemu dan menjemput gue?” apa itu salah jawab Sarah dengan ketus.
“Hmmmm… gue kaget aja, waktu melihat Rico ada di sini kemarin? Ada urusan apa Rico sama loe, Sar?” Tanya ku lagi untuk yang sekian kalinya.
“Enggak ada urusan apa-apa kok, gue berdua hanya mengobrol seperti biasa saja?” jawab Sarah.
“Rico tidak menanyakan kabar gue?” kataku pelan.
“Enggak, Rico sudah tau kok kalo sekarang loe lagi sibuk dengan labaan loe yang sudah mapan itu?” jelas Sarah.
“Loe cerita tentang Mas Fandy sama Rico yaa?” tanyaku panik.
“Kalau iya, memangnya kenapa? Kan loe sudah tidak berhubungan lagi dengan Rico, yang loe anggap masih Abg itu” jelas Sarah lagi.
“Kok loe lancang banget sih, ceritain tentang masalah pribadi gue pada Rico?” kataku marah.
“Lho memangnya salah, apa loe enggak memikirkan perasaan Rico pada waktu itu?” loe tega banget Mai, nyakitin Rico dengan perbuatan loe itu, loe tuh egois banget, sikap loe itu kaya anak kecil, yang melebihi anak Abg? Gue cerita tentang loe berdua dengan Mas Fandy, supaya Rico enggak berharap kembali pada loe lagi”, kata Sarah yang semakin ketus padaku.
“Kenapa loe jadi marah-marah sama gue dan membela si Rico? loe suka yaa sama Rico?” Tanyaku sambil geram menatap wajah Sarah.
“Kalau gue suka sama Rico memangnya kenapa? Masalah buat loe, Rico anaknya baik dan dewasa walaupun dia masih Abg, bukannya loe sudah pergi meninggalkan Rico begitu saja, demi sosok pria dewasa yang loe idam-idamkan itu?” Jelas Sarah.
Aku tertunduk lalu pergi meninggalkan Sarah yang masih terlihat marah. Nina yang baru saja datang saat itu terbengong-bengong melihat keberadaan ku dan Sarah yang sedang bertengkar.

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang@[-at-]yahoo.com

Cerpen Pacarku Daun Muda (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Lalu

Oleh:
Hari itu telah lampau, bertahun lalu. Tapi betapapun lama hitungan hari yang sungguh pula tiada dapat kuhitung, hari-hari itu terasa begitu dekat seperti baru saja terjadi kemarin. Memang daya

Meraih Kesuksesan

Oleh:
Dika adalah murid yang cerdas, dan pintar. Walau cerdas dan pintar ia tidak sombong terhadap prestasi yang pernah ia capai. Lain dengan Kika, dia adalah anak yang pandai dan

Reuni Mia

Oleh:
Aku menghela nafasku. Setelah menempuh perjalanan selama lima jam akhirnya aku sampai di rumah masa kecilku. Ya, aku sudah menyelesaikan kuliahku, hanya tinggal menunggu wisuda saja. Untuk mengisi waktu

Maafku Untuk Kakek Tua

Oleh:
Pagi itu aku tengah berjalan untuk pergi ke sekolah, dari jauh kulihat seorang kakek yang sedang meminta-minta. Aku pun membuka sakuku untuk mengambil handphone, lalu sibuk memainkannya, dan tak

Kapan Pulang?

Oleh:
Akhirnya aku bisa meluangkan lagi waktu ku untuk sekedar menulis. Hari ini aku merasakan hal yang sama lagi, setelah beberapa minggu yang lalu aku mencoba untuk melupakan tentang semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *