Pacarku Daun Muda (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 22 June 2014

Hatiku hancur… aku baru menyadari jika aku telah meninggalkan seseorang yang sangat istimewa di dalam hidupku. Aku merasa sangat kehilangan Rico, yaa Tuhan aku sangat menyesal dengan perbuatanku. Benar kata Sarah, aku memang egois dan seperti anak kecil yang melebihi anak Abg. Sepanjang jalan tidak henti-hentinya aku menangis menyesali perbuatan bodohku ini. Sekarang Rico sudah dekat dengan Sarah, dengan sahabat dekatku sendiri. Apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus merelakan hubungan mereka? Pikirku dalam hati.

Aku mengusap airmataku, ketika melihat mobil Mas Fandy yang sedang terpakir di halaman rumah. Dengan mata yang sembab, aku pun masuk ke dalam rumah. Aku melihat Mas Fandy sedang mengobrol dengan Mas Bimo di sabtu siang itu. Mas Fandy tersenyum, lalu ia menghampiriku.
“Kamu kenapa, Mai?” Tanyanya.
“Enggak apa-apa Mas”, jawabku basa-basi sambil tersenyum.
“Ada kabar gembira tuh buat loe, dari Fandy” canda Mas Bimo sambil tertawa.
“Bim…!!! Rese loe” teriak Mas Fandy sambil melototkan matanya ke arah Mas Bimo.

Mas Fandy lalu menuntunku ke arah dapur, ia tersenyum dan menatap mataku dengan tajam.
“Ada apa Mas?” tanyaku penasaran.
“Hari senin besok, kamu kosongin jadwal kamu ya. Hmmm… aku berharap kamu datang ke acara pembukaan perusahaan yang aku dirikan. Aku ingin kamu mendampingiku selama acara nanti”, jelas Mas Fandy sumringah.
“Iya Mas, mudah-mudahan aku nanti bisa datang” jawabku sambil tersenyum.
“Hmmmm… kamu harus memakai baju, yang bisa membuat orang-orang terpana memandang kamu. Kamu harus tampil dewasa, karena kamu akan mendampingi aku, dan bertemu dengan orang-orang yang penting nanti” kata Mas Fandy.
Aku kembali tersenyum sambil menganggukan kepala.
“Kalau bisa kamu tampil elegan, jaga sikap kamu seperti orang-orang berkelas? wah aku sudah tidak sabar memperkenalkan kamu dengan rekan-rekan kerjaku, kamu harus terlihat istimewa dan aku harap kamu tidak akan mengecewakan aku”, kata Mas Fandy lagi.
Sekali lagi aku menganggukan kepala tanda mengerti dengan apa yang telah dikatakan oleh Mas Fandy.

Dua jam kemudian, setelah mengobrol dengan Mas Bimo, Mas Fandy pun ijin untuk pulang. Sebenarnya malam minggu ini ia mau mengajakku untuk menonton film. Tetapi aku sudah terlalu suntuk pada saat itu, aku pun membuat alasan sedang tidak enak badan padanya.

Aku masuk ke dalam kamar, dan merebahkan diri ini di atas ranjang. Aku teringat kembali pada kata-kata Sarah tadi siang di kampus. Rasa rindu ini pun tambah menjadi-jadi pada Rico. Hanya ada rasa penyesalan di hatiku, yang aku bawa hingga aku tertidur karena lelah memikirkannya.

Keesokan harinya aku enggan beranjak dari ranjangku, meskipun Mas Bimo mengajakku makan mie ayam kesukaanku di minggu siang itu. Perasaan ini sangat hampa, aku tidak berdaya dan bersemangat, yang ingin aku lalukan pada saat ini hanyalah tidur, agar terlepas sementara dari rasa penat ini.

Menjelang malam aku mendengar seseorang mengetuk pintu dan diam-diam masuk ke dalam kamarku. Ia lalu duduk di pinggir ranjangku. Dari wangi parfumnya, aku pun sudah mengetahui siapakan yang datang menemuiku.
“Sarah…?” kataku sambil membalikkan tubuhku ke arah Sarah.
“Hai… Loe sakit, Mai?” Tanya Sarah sambil tersenyum.
“Tidak…, gue baik-baik saja” jawabku.
“Mata loe enggak bisa dibohongin, Mai? apakah loe masih sayang dan cinta pada Rico?” Tanya Sarah yang masih memandangiku.
“Rico kan sudah sama loe, gue enggak mau merusak hubungan kalian berdua” jelasku.
“Lalu bagaimana hubungan loe dengan Mas Fandy itu?” Tanya Sarah lagi.
“Hmmmm… Belum ada hubungan yang spesial dengan Mas Fandy, gue dengannya masih berteman dekat” kataku.
“Kalau begitu, loe harus menemui Rico dan menjelaskan kalau loe masih sayang padanya, sebelum terlambat” kata Sarah.
“Terlambat…, memangnya Rico mau kemana?” tanyaku kaget.
“Rico mau pindah ke Jepang, dan menetap disana selam tiga tahun” jelas Sarah.
“Hah… Yang benar, Sar? Rico mau pindah?” tanyaku luluh lantah.
“Iyah… Besok siang pesawatnya akan berangkat” kata Sarah.
“Lalu bagaimana dengan perasaan loe, bukannya loe juga suka dengan Rico?” tanyaku.
“Heheheheh… jangan pikirin tentang perasaan gue?” canda Sarah sambil tertawa terbahak-bahak.
“Saraaaaahhh…” Teriakku sambil memeluk sahabatku itu.
“Loe harus menentukan pilihan secepatnya, Mai jangan sampai loe menyesal karena perbuatan loe sendiri. Pilihlah pasangan yang membuat hidup loe nyaman dan bahagia” jelas Sarah sambil tersenyum.
Aku memandang tajam Sarah.
“Pilih Rico atau Mas Fandy? gue yakin loe pasti sudah mendapat jawabannya”, bisik Sarah.
Aku menganggukan kepala tanda mengerti, tidak lama kemudian Sarah pamit pulang karena sudah larut malam. Dan sepanjang di malam itu aku pun memikirkan dua pria yang membuatku sangat pusing. Aku harus menemui Rico dan berharap aku bisa kembali padanya, tetapi aku juga tidak mau mengecewakan Mas Fandy, yang pasti akan mengaharapkan kedatanganku di acara pentingnya nanti. Yaa Tuhan aku bingung untuk memutuskannya, aku harus menemukan kembali kebahagiaanku.

Aku keluar dari kamarku, lalu dengan ragu-ragu mengetuk kamar Mas Bimo yang tepat berada di hadapan kamarku. Mas Bimo tersenyum dan menyuruhku masuk. Aku pun menceritakan padanya tentang perasaan dan masalah yang aku alami saat ini. Lagi-lagi Mas Bimo hanya tersenyum mendengarnya. Mas Bimo berkata, pilihlah sesuai dengan kata hatimu Mai? Itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Keesokan harinya setelah makan siang, aku langsung mengendarai mobilku menuju bandara. Aku ingin tampil seperti diriku sendiri, hanya mengenakan Jins dan t-shirt kesukaanku. Aku akan meraih dan menjemput kebahagianku kembali, yang kemarin aku sia-siakan. Aku berharap Mas Fandy tidak akan kecewa dengan keputusanku ini. Yang aku inginkan saat ini adalah kembali pada Rico dan menjalankan hari-hariku bersama dengannya seperti dulu.

Sesampai di Bandara, aku langsung mencari Rico. Sambil berlari pandanganku menengok ke kiri dan ke kanan mencari sosok laki-laki di antara kerumunan orang-orang. Langkahku terhenti ketika melihat Rico sedang duduk sambil sibuk menelepon seseorang.
“Maike…” kata Rico terkejut ketika melihat keberadaanku di hadapannya.
“Kamu mau kemana, Ric?” tanyaku gemetar.
“Aku akan ke Jepang” kata Rico sambil tersenyum.
“Kenapa kamu tidak memberitahu aku, jika kamu mau pergi dan menetap disana selama tiga tahun” kataku.
“Bukannya kamu sudah tidak peduli lagi denganku?” Tanya Rico.
Aku tertunduk mendengar perkataan Rico, rasa penyesalan pun menyelimuti hatiku.
“Maafkan aku Ric, atas perbuatan aku kepada kamu selama ini” kataku sambil meneteskan airmata.
Rico tersenyum sambil menghampiriku.
“Tidak apa-apa Mai, aku sudah memaafkan kamu” jawab Rico.
Rico memelukku dengan erat, perasaan nyaman itu aku rasakan kembali saat di dalam pelukannnya.
“Aku ingin kita kembali lagi seperti yang dulu, Ric?” bisikku.
“Hmmm… Maaf Mai, sepertinya kita tidak bisa kembali lagi seperti yang dulu” jawab Rico sambil melepas pelukannya.
“Apa…?” kataku terkejut.
Seperti ada benda tajam yang menusuk jantungku, ketika aku mendengar perkataan Rico. Mengapa yaaa Tuhan? Mengapa Rico tega berkata begitu. Memang ini adalah kesalahanku, tetapi apakah aku tidak bisa diberi kesempatan kedua, untuk memperbaiki kesalahanku? Kataku dalam hati sambil menatap wajah Rico saat itu.
“Kenapa Ric, aku tahu semua ini adalah kesalahanku” kataku sambil terisak-isak.
“Karena aku tidak mau mengecewakan kamu lagi, aku tidak mau membuat kamu gelisah dengan perbedaan umur kita” aku tidak mau kita bertengkar terus karena lingkungan kita yang berbeda? jelas Rico sambil menatapku.
“Tapi…Ric, beri aku kesempatan lagi” mohonku.
“Kesempatan kamu yang kedua adalah dengan Mas Fandy, pasti ia sangat mengharapkanmu pahamilah dia, pasti kamu akan mengerti betapa kamu sangatlah berarti untuknya? Aku yakin pasti dia juga akan menyayangimu” jelas Rico sambil tersenyum.
Aku masih menatap tajam wajah Rico dan berusaha untuk memahami kata-katanya.
“Aku pasti bahagia, kalau melihat kamu bahagia Mai? aku akan berusaha menjadi teman yang terbaik untuk kamu” kata Rico lagi.
Aku berusaha untuk tersenyum, walaupun hati ini hancur mendengarnya.
“Apakah kamu sudah menemukan seseorang yang membuat kamu merasa nyaman di sampingnya, Ric?” tanyaku ragu-ragu.
Perlahan-lahan Rico menganggukan kepalanya.
“Apakah dia adalah Sarah?” tanyaku lagi.
“Iyah…, aku sedang berjuang untuk meyakinkan hatinya dia masih ragu-ragu untuk menerimaku”, jawab Rico.
“Apakan ini karena aku?” tanyaku kembali.
Rico pun menganggukan kepalanya kembali.
“Nanti aku akan berusaha untuk meyakinkannya, kalau kamu adalah laki-laki yang terbaik untuknya” kataku sambil tersenyum.
“Thanks Mai, kamu adalah teman yang terbaik” bisik Rico sambil memelukku kembali.
Aku berusaha menahan airmata serta napasku yang terasa sesak di dalam pelukannya. Mungkin ini adalah pelukan terakhir yang aku rasakan saat ini. Pelukan yang sangat hangat, pasti Sarah juga akan menyukainya? Kataku dalam hati.
“Sampai ketemu lagi ya” kataku sambil tersenyum.
“Hmmm… maukah kamu menyampaikan pesanku, pada Sarah?” Tanya Rico ragu-ragu.
“Iya… Pasti nanti akan aku sampaikan” jawabku.
“Bilang padanya, aku di Jepang hanya tiga bulan, bukan tiga tahun? aku cuma mengikuti program pertukaran pelajar antar Negara, kemarin aku hanya menggodanya”, jelas Rico sambil tertawa.
Aku menganggukan kepala sambil tersenyum, tanda mengerti dengan apa yang diucapkannya. Aku melambaikan tangan ketika Rico pergi meninggalkanku.

Semenjak hari itu hatiku hancur kembali, hidupku terasa hampa kembali. Aku berusaha untuk memahaminya, aku berusaha untuk mengerti. Aku juga ingin menjaga perasaan Sarah, pasti dia merasa tidak enak denganku, karena dia tau aku masih menyayangi Rico. Aku harus meyakinkan hati Sarah, jangan sampai ia juga menyesal melepaskan laki-laki yang sangat berarti.

Aku melangkahkan kakiku kembali, setelah Rico menghilang dari pandanganku. Aku masih bingung dengan perasaanku ini, apakah aku harus mengecewakan Mas Fandy juga, yang sudah menunggu di sana pikirku dalam hati. Apakah aku harus melepaskan kesempatanku yang kedua, seperti apa yang dikatakan Rico tadi. Mobil yang aku kendarai pun terus melaju meninggalkan bandara.

Pria yang mengenakan jas hitam itu pun tersenyum ketika melihat kedatanganku. Aku menghampiri Mas Fandy yang sedang menyambutku.
“Akhirnya kamu datang juga?” bisik Mas Fandy sambil menggandeng erat tanganku.
“Maaf Mas, aku terlambat” kataku sambil menatap wajah Mas Fandy.
Mas Fandy lalu memperkenalkan aku dengan rekan-rekan kerjanya. Teman-teman Mas Fandy mengerutkan keningnya ketika melihat penampilanku. Yaaa… aku datang ke acara itu masih mengenakan jins dan t-shirt yang aku kenakan tadi. Aku tidak sempat untuk mempercantik penampilanku lagi, karena acara itu akan segera berakhir. Aku berharap Mas Fandy bisa mengerti dan memakluminya. Aku pun selalu berada di samping Mas Fandy sampai acara itu selesai.
“Maaf… Mas, aku tidak sempat berganti pakaian” penampilanku tidak sopan ya? Kataku sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Mas Fandy memeluk tubuhku dengan erat.
“Terima kasih Mai, kamu sudah mau kembali padaku” bisiknya.
Aku mengerutkan keningku sambil menatap Mas Fandy.
“Aku tidak mengerti, Maksud Mas Fandy apa?” tanyaku bingung.
“Bimo sudah menceritakan semuanya tentang kamu maaf jika selama ini aku membuatmu merasa tidak nyaman dengan sifat dan sikapku, aku tidak mau kehilanganmu, Mai” jelas Mas Fandy.
Aku tersenyum menatap Mas Fandy.
“Aku ingin selalu dekat dengan kamu, aku harap kamu mau? dan aku janji akan berusaha untuk tidak mengatur hidup kamu, dan berusaha untuk membuatmu nyaman berada di dekat aku”, bisik Mas Fandy.
“Iyah Mas…, aku juga akan berusaha untuk memahami dan membuat Mas Fandy bahagia berada di dekat aku” jawabku yang masih tersenyum.
“Lupakanlah Rico Mai, dan melangkahlah bersama dengaku”, aku akan selalu berada di sampingmu dan melindungimu, jelas Mas Fandy.
“Hmmm… Mas Fandy tau masalahku dengan Rico” tanyaku panik
Mas Fandy tersenyum, lalu ia memelukku kembali dengan erat. Sejak saat itu aku kehilangan pacarku yang daun muda itu, dan aku mendapat penggantinya seorang pangeran di masa kecilku. Aku akan berusaha untuk belajar memahami dan mengerti tentang kepribadiannya. Aku tidak mau melepaskan kesempatanku yang kedua ini, dengan keegoisanku dan sikapku seperti dulu. Semoga aku berbahagia dengannya.

(tamat)

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang@[-at-]yahoo.com

Cerpen Pacarku Daun Muda (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Third Love

Oleh:
25. Angka cantik dimana aku dilahirkan. Keluar untuk melihat indahnya dunia, yang selama 9 bulan lebih terperangkap untuk tumbuh di dalam rahim. Di 25 juga aku kenal kamu, orang

Idol Scandal (Part 1)

Oleh:
Suasana riuh penonton memenuhi stadium tempat konser penyanyi papan atas paling fenomenal abad ini, di antara lautan penonton yang berteriak dan menggila disini aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil

Seberkas Cinta Semu

Oleh:
Hari terus berganti, waktu terus berjalan. Entah sampai kapan ini semua akan segera berakhir. Aku lelah dengan semuanya. Apa hanya aku saja yang merasakan ini? Tidak. Mungkin sebagian wanita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

9 responses to “Pacarku Daun Muda (Part 3)”

  1. Anastasya Pratiwi says:

    Keren bingits……!!
    Dari part 1-3 critanya dapet….
    Bisa diambil nilai kehidupan didalamnya…
    “Dengarkanlah isi hatimu,
    Saat menghadapi cobaan hidup.”

    • Ayu Soesman says:

      Terima kasih Anastasya Pratiwi…. sudah mau membaca & menyukainya, mudah2an aku bisa buat cerita yg lebih baik lg 🙂

  2. Ghina fachriza says:

    Jadi pengen nangis

  3. Ghina fachriza says:

    Ayu Soesman cerpennya bagus banget

    • Ayu Soesman says:

      Terima kasih Ghina…., tunggu cerpen aku selanjutnya yaa…. mudah2an di muat di cerpenmu.com 🙂

  4. veni says:

    bagus banget dahh

  5. Margareth Delo says:

    Suka sekali 🙂
    Bagus bangett ..

  6. Vany says:

    Wahh cerpennua bagus banget, endingnya gak ketebak ^^

  7. Fitri Akhmad says:

    Ceritanya ngena bnget,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *