Paket Ujian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 June 2013

“Kita udahan ya?” kata Joni mendadak lewat telepon. Mendengar ucapan Joni langit serasa runtuh menimpa tubuh mungilku ini. Angin mendekap merasuki tulang-tulang, menghentikan peredaran darah dan degup jantungku. Hatiku menjerit meringkit kesakitan. Hancur lebur rasaku, berat rasanya aku akan akhiri cerita ini setelah 7 tahun lamanya. Meski sesak hatiku mengiyakan dan berakhir sudah cerita ini.

Besok ujian, aku tak bisa belajar dengan keadaan seperti ini. Tapi apa lagi yang harus aku lakukan jika bukan belajar? Besok tidak akan ada soal yang menanyakan persoalan hatiku ini. Oh Tuhan, tolong hilangkan rasa ini walaupun sekejap! Setidaknya aku dapat belajar untuk persiapan besok. Walau bagaimanapun aku harus tetap belajar sekalipun buku-bukuku basah karena derasnya air mataku.
“Assalamu’alaikum.. Ayah datang,” suara dari ruang depan.
Mendengar suara Ayah, adik dan kakakku keluar kamar sembari menjawab salam Ayah, ”Wassalamu’alaikum…”, kecuali aku.
“Ref, udah tidur?” tanya kakakku.
Aku sengaja tak menjawab dengan keras dan mengunci kamarku. Biar mereka menyangka aku sudah tidur. Karena aku tak mungkin keluar dengan mata bengkak seperti ini. Oh Tuhan…, sepertinya aku tak akan siap untuk ujian besok. Tapi besokkan ujian.

Haripun pagi, terpampang jelas tanggal 4 Juni 2013 di kalender ada ujian. Sungguh rasanya aku tak sanggup menjalani cerita pagi ini. Firasatku, hari ini akan mejadi hari yang buruk untukku. Secara pasti aku akan ujian tanpa belajar. Bayangkan! Hanya orang yang cerdas mungkin tidak akan belajar saat ujian atau dia sudah siap dengan contekan. Namun, aku bukan keduanya. Bukan seorang yang cerdas dan tak siap dengan contekan.

Dengan berat hati aku langkahkan kaki menuju sekolah, menyusuri setiap jalan dengan wajah layu. Berjalan seorang diri dan melamun. Ku berjalan terus tanpa peduli ada apa dan ada siapa.
Namun, tidak untuk siapa yang ada di depan gerbang sekoah. Kedua mata kita tiba-tiba bertemu tanpa sengaja, kita saling memandang. Tatapannya kosong namun harusnya dia tahu bahwa tatapanku adalah tatapan kecewa. Belum selesai sakit yang aku rasakan, galauku yang cetar bahanapun juga belum. Oh Tuhan, rasanya sakit. Dia bersama seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah teman satu sekolahku. Sebut saja dia adalah Joni dan wanita itu Yanti.

Aku bergegas pergi, melangkah dengan cepat dan berusaha buang muka. Aku tahu Joni memandangi sikapku yang seperti itu dan harusnya dia mengerti. Wanita yang dulu dicintainya sejak keas 5 SD, yang katanya benar dia sayangi, yang dia dapatkan tak seperti membalikkan telapak tangan, dan sekarang wanita itu sedang meronta kesakitan.
Saat itu hari Jum’at tahun 2005, aku ada pelajaran olahraga. Kala itu Bu Siska mengajak aku dan teman-teman jalan-jalan ke taman kota. Aku dan teman-teman bermain. Tiba-tiba ada siswa sekoah lain yang juga ketaman kota. Dari situ cerita ini dimulai.

Salah seorang dari siswa sekolah lain itu Joni yang kebetulan adalah tetangga si Syahnaz, temanku. Syahnaz mengenalkan dia kepadaku. Yang aku lihat saat itu dia adalah seorang baik, ganteng, dan sepertinya pendiam.
Sejak saat itu aku sering medapat salam dari Joni melalui Syahnaz. Lambat laun Syahnaz mengatakan bahwa Joni menyukaiku. Awalnya aku tak percaya dan tak menghiraukan. Cerita itupun kandas setelah kita kelas . Aku sudah tak lagi mendengar Syahnaz menyebut-nyebut nama Joni. Entah apa Joni masih tetap menitip salam untukku atau tidak atau mungkin Syahnaz sudah capek menyampaikan salam Joni yang selalu mendapat respon sama. Ucapan terimakasih dan sebuah senyum, cukup itu.

Saat duduk di bangku SMP. Tepat di hari ke 30 mungkin kalau aku tak salah menghitung, di lorong mading. Saat itu aku sedang membaca sebuah artikel di mading tiba-tiba seorang menegurku, “Veni, bukan?”
Aku menoleh, aku ingat wajahnya samar-samar, namun, yang aku kenali betul adalah senyumnya yang khas. Pemilik senyum itu pasti Joni.
“Iya,” jawabku.
“Aku Joni,” katanya. “Masih ingatkan?” tanyanya.
“Oh iya, aku ingat. Temannya Syahnaz kan?” jawabku.
Kamipun berbincang-bincang. Ternyata Joni seorang yang humoris. Kehumorisannyapun membuat kita akrab. Keakraban kita bertambah saat kita mengikuti ekstrakurikuler teater yang membuat kita lebih sering ketemu.

Suatu waktu saat kita mengikuti lomba teater. Saat itu aku berperan sebagai seorang anak majikan yang jatuh cinta kepada seorang tukang kebun yang diperankan Joni. Sungguh tak ada yang menyangka Joni lupa dialog dan Joni gelagapan sehingga membuat jalan cerita hancur. Banyak orang menyalahkan Joni. Joni terpukul dan merasa bersalah.

Saat evaluasi selesai lalu semua orang meninggalkan ruang teater kecuali Joni. Aku hampiri dia mencoba menghibur.
“Aduh, kok masih pacaran! Ayo pulang!” seru Pak Itok yang saat itu melintas di ruang teater.
“Nggak kok, Pak,” sahutku.
“Memang kalau iya kenapa?” tanyanya kearahku.
“Hah?” ekspresiku bingung.
“Kalau kamu ingin menghiburku. Hanya satu yang bisa kamu lakukan,” katanya yang membuatku bingung.
Aku tak berkata apa-apa dan masih menikmati kebingunganku.
“Apa kamu nggak mau tahu? Apa kamu nggak mau bilang apa?” tanyanya.
“Apa?” tanyaku.
“Cintai aku,” jawabnya.
“Sebagai apa?” tanyaku terkejut.
“Yang paling kamu sayang,” jawabnya. “Kita pacaran,” tambahnya.
Tanpa kata iya kita seolah seperti orang pacaran. Hubungan kita terus berlanjut hingga kemarin. Dia tiba-tiba memutuskan hubungan sepihak seperti hubungan yang juga diiyakan sepihak pula olehnya.

Untung saja hari ini Bahasa Indonesia. Setidak-tidaknya tanpa belajar aku harus bisa. Yang membuat sulit sebenarnya membaca wacana, seperti baca koran. Pening rasanya baru dapat 20 soal, padahal masih ada 30 soal lagi. Cepat-cepat aku membacanya tapi aku lihat disekelilingku sudah banyak yang santai-santai. Aku lihat hanya beberapa orang yang masih kelihatan sibuk dengan soal. Seorang didepanku, seorang disampingku, dan seorang di pojok depan, hanya itu saja.
Kecewanya aku saat ujian selesai teman-temanku membicarakan soal contekan. Rasanya aku tak percaya teman-temanku melakukan itu. Astaghfirullah! Orang-orang yang aku nilai pandai dan agamis ini rupanya tak seperti yang aku kira. Dengan santainya mereka membuang kertas contekan di tempat sampah yang saat itu tepat didepanku. Dengan tulisan jelas dan tanpa robekan sedikitpun, sehingga dengan jelas dapat terbaca. Aku hanya bisa mengusap-usap dada melihat semua itu.

Hari ini hari terakhir ujian. Mata pelajaran Kimia dan Biologi. Yang lebih menyakitkanku saat ujian Biologi. Aku yakin teman-temanku juga sama sepertiku, tak belajar Bioogi sampai tuntas. Aku khawatir nilaiku jatuh, penat rasanya, tapi tidak dengan kebanyakan dari teman-temanku yang santai karena sudah siap. Siap dengan contekan.

Kecamuk hatiku saat soal ujian aku terima. Aku memaki-maki mereka dalam hati, dalam-dalam. Satu kalimat untuk mereka, aku kecewa dengan kalian.

Ya sudahlah, ujian di pagi hari sudah selesai. Apakah ujianku di siang hari juga akan selesai? Oh tidakkk, seperti biasa Joni masih selalu menjemput Yanti dan aku hanya memandangi mereka yang saling tersenyum lalu pergi dengan membekaskan luka dihatiku.

Aku harap besok, saat aku membuka mata tak akan ada lagi ujian. Tak akan ada lagi ujian pagi dengan soal-soal Bahasa Indonesia maupun Biologi dan ujian siang dengan soal Joni dan Yanti. Aku harap hari ini adalah paket ujian yang terakhir.

Cerpen Karangan: Fani Desy Lestary
Blog: fandesyla.blogspot.com

PENGEN JADI PENULIS
DO’AKAN IYA…
me on
https://twitter.com/fandesyla
https://facebook.com/fandesyla

…….terimakasih…….

Cerpen Paket Ujian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Mengapa Harus Dipertahankan

Oleh:
Pernahkah kamu memikirkan kebahagian orang lain? membiarkan dia bahagia dengan orang lain, walaupun menyakiti dirimu sendiri? hanya untuk membuatnya bahagia? memikirkannya pun sudah membuat hati teriris. namun mau bagai

Terlambatkah

Oleh:
“Tunggu kalian jangan pergi dulu, sebentar lagi pasti dia bakalan datang. Please, jangan pergi ya.” Dengan wajah yang agak cemas, seorang cewek berusaha menahan teman-temannya. “Oke deh pril, kita

Kehilangan Lima Puluh Persen Hatiku

Oleh:
Sebelum kau pergi aku hanya ingin mengatakan satu hal. Satu-satunya hal yang sulit ku jelaskan. Dan aku berpikir untuk mempermudah bahasaku, agar kau mengerti ini. Lalu aku mulai menarik

Bercinta Dengan Angan

Oleh:
Kau datang begitu saja, hingga hatiku terjerat padamu. Tanpa ampun kau biarkan dirimu menganakbiak di hatiku hingga memenuhinya tanpa ada ruang tersisa untuk yang lain. Dengan mudah kau melemahkanku

Masih Ingat Aku?

Oleh:
Namaku adalah Davin, aku memiliki sahabat bernama Aurelia, dia biasa dipanggil Aurel. Kita berteman sejak berusia 5 tahun, atau bisa disebut sejak Taman Kanak-kanak. Aurel adalah gadis yang manis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *