Pangeran Langit Malam (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 18 November 2014

Hari berganti hari yang aku lalui selalu mendapat sapaan hangat setiap harinya, aku sempat berfikir beberapa kali, mengapa orang selain dia bisa menyapa seperti itu, bahkan setiap pagi. Aku berfikir juga, apakah hanya aku yang mendapatkan deret kata itu? Dan apakah wajar jika aku tersenyum hanya karena pesan singkat yang diketik dalam waktu beberapa detik saja? Aku rasa aku mulai lebih dari mengagumi, tapi aku belum berani mengklaim diriku sendiri sebagai seseorang yang menyayanginya. Aku rasa dia mulai menyadari bahwa aku menaruh rasa padanya, aku kurang peka menyadari bahwa sahabatku Ranita sudah banyak bertanya tentang perasaannya dan sialnya aku tidak boleh mengetahui perbincangan mereka. Aku juga sudah cukup puas dengan ucapan “Selamat malam Sirius” di setiap malamya yang membuat malamku semakin berwarna. Malam ini aku mengenalkan pesawat di langit malam, aku membayangkan jika aku mempunyai pesawat dan aku pergi ke rumahnya, begitupun dia, itu memang percakapan yang kurang wajar dan aku selalu membicarakan topik yang kurang wajar agar dia tidak jenuh berteman denganku. Tidak lupa, kejadian ini aku catat di buku itu.

Sejak mengenalnya aku mulai terbiasa mengubah pola hidupku, tidur tidak larut malam, bangun pagi, sarapan dan makan tepat waktu membuatku lebih nyaman dengan keadaan ini walaupun aku tahu bukan hanya aku saja yang mungkin merasakan kenyamanan ini. Kali ini aku terkejut, saat melihatnya membangunkanku jam 3 pagi, dia membangunkanku untuk sholat Tahajjud dan melihat bintang yang terang sekali di langit. Aku tidak bisa keluar untuk melihatnya karena aku takut untuk keluar dini hari seperti itu, ini sangat sering ku rasakan, dia membangunanku untuk melihat bintang. Aku sangat senang, karena dia juga mengenalkanku dengan dunia langit yang lebih indah dari yang ku kenalkan dulu, ini juga bisa memenuhi isi bukuku dengan menuliskan kejadian indah ini. Saat pagi masih asri aku keluar rumah, sudah sedikit terang dan aku juga mengajaknya keluar (lewat pesan singkat pastinya, hanya itu media terindah). Aku duduk di saung depan rumahku, aku manghadap ke selatan, mataku tidak lepas dari langit luas, ini salah satu caraku mensyukuri nikmat yang setiap hari aku rasakan. Saat aku melihat langit, aku dikejutkan dengan melihat bintang jatuh, ya! Ini bintang jatuh pertamaku seumur hidup dan aku melihatnya saat seseorang yang aku kagumi juga melihatnya disana. Inilah yang aku sukai dari langit malam, aku disatukan dari sesuatu yang ada di langit dengan melihatnya bersama, saat aku tersenyum dia pun tersenyum dan aku pasti tersenyum melihat langit tenang. Dia seperti pangeran langit yang selalu membuat senyum setiap malamnya.

Ulang tahunnya sudah dekat, untuk pangeran di kerajaan langit ini aku menyiapkan kado istimewa lewat sebuah buku ini. Untuk memantaskan sebuah pemberian ulang tahun, aku membeli jam tangan dan sarung, ini sebenarnya sedikit menggelikan ketika aku memberikan sarung dan jam tangan kepadanya. Aku berharap ia bisa sholat tepat waktu, itu makna pemberianku itu.
“Yang benar saja Ran? Ini kado ulang tahun lho bukan kado sunat” Tanyaku heran
“Hahaha, sudahlah ini sudah cukup” Jawab Ranita
Aku rela tidur tengah malam untuk menggarap bungkusan kado yang aku buat sendiri, aku membuatnya dengan tampilan yang cukup menarik. Ini kado tersulit yang pernah aku buat, aku membuat kotak untuk tempat sarung dan jam tangan dan membuat ruang di bawah kotak untuk tempat buku istimewa itu tetapi dengan satu pintu kado. Akhirnya kadonya sudah jadi, indah sekali melihatnya. Kertas terakhir buku aku tulisi “Kita dipertemukan dalam sebuah diam, tepat dimana aku menatap mata dengan tidak sengaja di bawah patung monunmen GBN, Ini adalah lembar terakhir di buku yang akan aku kirim untukmu. Entahlah, apa nanti kamu akan menghitung lembarnya atau tidak. Aku hanya berharap kamu membacanya walau kemudian mungkin kamu membuangnya. Aku tidak berharap kita akan bertemu lagi, aku sudah cukup senang menunggumu ditemani bunga kersem saat itu, mengenalkan kerajaan langit padamu, aku berharap langit malam yang menjadi media kita tidak akan kamu kenalkan ke siapapun sekalipun kepada orang yang paling kamu sayangi. Jangan khawatir, aku masih sudi mengagumimu dalam diamku ini. Tanpa harus kamu tahu sampai kapan ujungnya rasa ini” kurang lebih seperti itu kata yang kueja terakhir, tidak lupa aku juga mengataan bahwa semua akan indah pada waktunya.

Dua hari sebelum kado dikirim aku masih belum tahu cara mengirimnya, aku mempunyai banyak opsi pengiriman, pertama melalui satpam yang ada di sekolahnya. Tapi konsekuensinya aku harus berangkat pagi sekali agar tidak terlihat oleh teman-temannya akan tetapi jarak sekolahnya dari rumahku sangat jauh. Kedua, aku menitipkannya kepada tetangga dekatku, yang menjadi guru di sekolahnya itu, tapi masa iya aku akan menitipkannya? Dia kan murid, masa akan mendapat bungkusan di hari ulang tahunnya yang jelas sekali guru itu tidak mengajar di kelasnya, nanti dikira guru itu ngefans jadi repot. Ketiga cara yang paling ampuh, aku telah mendapatkan alamat lengkapnya, aku bisa mengirimkannya lewat pos tapi sialnya ulang tahunnya hari minggu dan hari itu kantor pos tutup, alamatnya juga hilang. Tetapi ada salah seorang temanku yang bersedia membantuku mengantarkan sampai depan rumahnya, karena kebetulan temanku juga berteman dengan “Pangeran Langit Malam” itu. Seampuh-ampuhnya rencana, jika tidak diimbangi dengan usaha yang mantap tidak akan terlaksana dengan baik. Ketiga opsi jitu itu tidak ada yang aku pilih, aku lebih mempercayai sahabatku Wiwin yang bersedia menitipkan kado itu kepada teman dekatnya yang kelasnya bersampingan dengan dia. Sip! Semua beres.

Hari senin aku melakukan aktivitasku, yang aku inginkan yaitu berusaha melupakan fikiran yang tertuju pada kado itu. Aku malamunkan bayanganku, bagaimana jika kado itu dibuka dan dia membaca buku konyol yang aku buat sendiri, apa jadinya? Anganku sudah kemana-mana. Aku sadar, aku harus tahu diri, siapa aku? Aku terdiam, kosong dan tidak terasa pelupuk mataku dibanjiri oleh tetes air mataku sendiri. Aku bertanya pada hati kecilku, atas dasar apa aku menangis? Mungkin aku merindukan buku itu, buku yang baru ku lepas satu hari yang lalu. Atau mungkin aku takut, kado itu tidak diterima.
“Win, aku takut kadoku tidak diterima” Kataku sedih
“Tidak mungkin seorang lelaki seperti itu, itu bukan lelaki namanya” Tanggap Wiwin
Aku berusaha meyakinkan hati, semoga kado itu dibuka dan diterima, syukur-syukur digunakan.

Pulang sekolah sekitar jam 4 (karena aku ada tambahan dan pergi sebentar), Wiwin dan Ranita bermain ke rumahku, aku menunggu ponselku bergetar. Dengan hati bimbang, aku menyentuh ponselku dan aku menerima satu pesan, tidak salah lagi pesan itu dari “Si Pangeran Langit Malam”. Aku tidak sanggup menjadi pembaca pertama pesan singkat itu, aku lemparkan ponselku ke kedua sahabatku. Sahabatku membacanya, raut muka meraka berbeda dan aku semakin percaya bahwa hal negatif yang aku khawtirkan benar-benar terjadi. Sahabatku saja tidak mengerti apa maksudnya, lalu mereka menyerahkan ponselku. Aku membacanya, deret kata yang biasanya sangat sederhana kali ini sangat panjang, aku membaca penuh penalaran, aku langsung menutup pesan itu setelah membacanya. Setelah itu aku mendekat ke meja, ku letakan poselku disana, aku menarik tisu dan menangis. Aku kurang bisa menerima penjelasannya, mungkin itu tidak sesuai dengan ambisiku saat ini dan mulai saat itu aku menutup mimpi dan ambisiku untuknya, sudah cukup.

Malamnya aku tidak mengirim pesan singkat, aku sedikut kecewa dengan apa yang dilontarkan dalam pesan itu yang intinya kurang berpihak pada kado itu. Dia mengingatkanku makan malam, aku tersenyum karena dia tidak melupakanku setelah hal gila yang aku lakukan. Tidak lupa, dia juga meyakinkanku dan memuji kado yang aku berikan padanya.

Selang beberapa hari aku melihat beranda salah satu sosial media dan terkejut melihat seorang wanita yang memeng sering aku kait-kaitkan dengannya menulis sebuah status dan menandai dia dalam statusnya. Ternyata benar, seorang wanita yang sering aku kait-kaitkan benar adanya. Saat itu benar-benar menjadi hal yang sangat ku benci, aku yang mengingatkan hari ulang tahunnya tetapi dia jelas menjadi orang pertama yang mengingat tentang ulang tahun pada wanita itu. Sakit? Iya, aku merasa sangat direndahkan, aku sadar aku hanya pengagum yang baru datang ke kehidupannya dan wanita itu memang sudah lama dikenalnya. Masa transisi kekecewaan menuju kebagiaan sangat lama, akhirnya aku menemukan titik stabil hubungan ini. Hal-hal indah yang pernah terjadi mulai terpupuk kembali, tidak lupa langit malam juga menjadi saksi atas senyum sekaligus tangisku setiap harinya.

Saat aku menemukan titik stabil dan nyamanku itu, aku dihempaskan lagi. Aku seakan diangkat setinggi langit ke tujuh dan dihempaskan ke dasar jurang, aku melihat wanita yang sebelumnya membuatku merasa kecewa mengupload sebuah foto yang dikirimkan terang-terangan di sosial media pada “Si Pangeran Langit Malam”. Aku lelah dihantui rasa kecewa, aku lelah menunggu sesuatu yang dibarengi dengan harapan, harapan, dan harapan. Foto itu berisikan tulisan menggunakan huruf steno, entah apa bunyinya yang pasti itu sangat rapi, sangat indah dan sangan membabak belurkan hati. Aku semakin memaksa diri harus mengubur dalam-dalam sebuah harapanku, tetapi semakin dipaksa rasa ini semakin berontak. Apalagi aku menjadi teman curhat adik kelas yang aku kenal saat LATSA, adik kelas itu juga mengagumi sosok yang aku kagumi dan mengganti nama twitternya menjadi nama sosok yang aku kagumi. Mungkin benar, mengagumi itu bebas dan kepekaan orang yang dikagumi itu sulit didapat. Aku tidak ingin menyia-nyiakan air mata untuk hal yang kurang penting, tetapi mungkin kali ini aku harus menanggungkan air mataku. Bagaimana tidak? Siang hari sepulang sekolah dia mengatakan ingin mengembalikan kado yang aku kirimkan, sungguh pukulan yang menyamai “Pukulan Berapi Menyakitkan” di film Spongebob. Kecewanya bukan main, sebenarnya aku ingin mengatakan, lebih baik dibuang atau dibakar di belakangku daripada terang-terangan mengatakan bahwa kadonya akan dikembalikan, tetapi ku urungkan kata itu dan memelas sedih kepadanya untuk tidak dikembalikan. Mungkin dia tidak menginginkan kesedihan di raut wajahku, dia mengatakan dan menyakinkanku agar tidak memikirkan apa yang dikatakannya tadi dan berjanji akan menyimpannya baik-baik. Aku sedikit lega dan mampu diyakinkan oleh kata-katanya tadi. Andai saja setiap kesedihanku difikirkan olehnya, mungkin jutaan kebaikan seperti tadi sering kurasakan

Hari Sabtu tepatnya tanggal 9 November, dia mengatakan dan menawarkan dirinya untuk main ke rumah, aku mencubit diriku sendiri dengan girangnya. Ini nyata? Seseorang yang 10 bulan tidak kulihat sosoknya dengan jelas akan berhadapan denganku?. Jujur, aku belum siap, aku mencari-cari alasan dan menolaknya secara halus. Kebetulan hari itu tanggal 10 November dan ada pengukuhan anggota PKS di sekolah, dengan nada sedikit kecewa dia membalas jawaban yang aku kirimkan dengan sangat singkatnya. Mungin dia kecewa, pesanku tidak dibalas lagi dan aku berkonsultasi kepada temanku. Apa ada yang salah dengan yang ku katakan padanya atau tidak, semua temanku mengatakan bahwa aku menyia-nyiakan kesempatan emas. Kapan lagi ada waktu luang? Kapan lagi bisa berbicara berdua? Pernyataan sahabatku menjadi referensiku dalam mengambil keputusan lagi, akhirnya aku mengatakan bahwa hari minggu aku bisa menemuinya di rumahku sendiri. Sebenarnya aku ingin bertanya, apakah aku satu-satunya teman wanita yang pernah dikunjungi rumahnya pada hari bebas sekaligus berkunjung tanpa ditemani siapapun, tetapi aku takut menyinggung perasaanya jadi tidak jadi ku tanyakan.

Hari Sabtu aku menghadiri pengukuhan PKS di sekolahku, karena tamu mau tidak mau harus menginap mendampingi adik kelas. Otomatis aku tidak tidur semalam itu, jam 2 pagi aku marasa perutku sedikit lapar karena belum makan sejak siang hari. Aku pergi ke minimarket untuk membeli roti dan susu, aku hampir lupa bahwa saat-saat seperti ini aku seringkali dibangunkan oleh dia dan nyata sekali keindahan langit yang dia kenalkan kepadaku. Bintang-bintang yang bertaburan terlihat lima kali lebih jelas dan puncaknya jam 3 pagi saat kawanan kesatria malam sedang menghibur mata penghuni bumi. Aku mengirim pesan padanya,
“Kamu benar, ini indah sekali. Langitnya luar biasa” Ucapku lewat pesan singkat saat itu juga
“Iya memang, selamat menikmati Sirius” balasnya yang ternyata dia bangun dan bisa membalas pesan singkatku
Setelah mengikuti kegiatan malam aku tertidur di mushola, tidak ada 30 menit lalu aku melihat jam sudah menunjukan pukul 04.00 WIB, aku bergegas pulang dengan membonceng temanku. Setelah mandi dan sholat Shubuh aku tertidur dan bangun jam 06.30, aku lupa bahwa hari ini ada upacara Hari Pahlawan dan akhirnya aku meminta izin tidak masuk karena badanku sangat tidak enak gara-gara acara pengukuhan semalam. Aku mandi dan sahabatku meminta antar mencari rumah temannya, aku menyanggupinya dengan catatan pulang sebelum jam 09.00 karena seseorang yang istimewa akan datang ke rumahku. Aku mencari rumah teman sahabatku dan lama sekali tidak menemukan juga, letih sekali rasanya mengingat waktu tidurku yang kurang mantap. Waktu menunjukan pukul 09.15 WIB, aku lupa bahwa hari ini aku ada janji, langsung saja aku mengirim pesan kepadanya bahwa 15 menit lagi aku sampai ke rumah. Aku memberi pengarahan bahwa rumahku ada persis di belakang sekolah, rumah paling pojok yang berpagar kuning. Dia mencari rumahku sekitas sepuluh menit, aku sedikit kasihan tetapi lucu juga melihat dia berpanas-panasan mencari rumahku. Kalau dihitung-hitung sebagai ganti atas deritaku, haha.

Sialnya dia menemukan rumahku, jantungku entah akan berdenyut kemana, ingin sekali berteriak dan mengungkapkan bahwa aku sangat senang dengan hal yang ku alami sekarang ini. Aku ditemani dua sahabatku Ranita dan Wiwin, aku bercerita ini itu banyak sekali (ala lagu doraemon). Dan ku sempat terkejut ketika Wiwin membahas tentang kado, aku malu sekali karena aku tidak ingin membahas hal gila itu lagi, apalagi terang-terangan di depannya. Kami berempat menikmati suasana saat itu, apalagi saat Ranita mengambil banyak bunga dan memintaku merangkainya menjadi mahkota tetapi saat aku sedang asyik merangkai Ranita dan Wiwin pulang karena sudah siang. Dua jam yang sangat bermakna dengan kehadiran dua sahabatku menemani aku dan dia, yang jadi masalah aku dan dia sekarang hanya berdua, “berdua”. Apa maknanya? Aku tambah kikuk di depannya, aku berusaha mencairkan keadaan dengan mengajaknya berbicara, dan jujur aku tidak bisa menatap matanya walaupun dia menatapku saat berbicara. Aku merangkai mahkota dari bunga yang diambil oleh Ranita dan lucunya dia memintaku agar mahkota yang aku buat dipasang di kepalaku. Karena bunganya kurang jadi mahkotanya tidak muat di kepalaku. Saat sedang asyik-asyiknya bercengkrama aku terkejut karena ibuku datang. Aku malu sekali karena aku sering menceritakan lelaki yang aku kagumi pada ibuku, dan lelaki itu sekarang ada di depan ibuku sendiri. Alih-alih inigin bercerita bertiga, sekarang giliran aku yang diacuhkan oleh mereka berdua (dia dan ibu). Mereka terihat akrab, kesan pertama terlihat sopan, kata-katanya juga sangat santun dia lontarkan kepada ibuku.

Ibuku mengatakan akan pergi dan mengajakku, aku mengiyakan sambil menatapnya sebagai kode bahwa aku akan pergi, dia pun pamit. Sungguh tiga jam yang sangat indah, sangat sederhana dan aku menyukainya.
“Sekarang jam berapa?” Tanyanya
“Jam satu kurang, mau pulang?” Jawabku
“Hehe, katanya kamu mau pergi. Mushola dimana? Iya aku mau pulang” Jawabnya
“Oh ya sudah, ada di tikungan.” Sambil menunjuk arah tikungan menuju mushola
“Aku pulang dulu ya, salam untuk orangtua.” Katanya sambil melontarkan senyum
Aku membalas senyumnya dan aku tertawa, aku seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku mengenang hari itu, tanggal 10 November, selain Hari Pahlawan hari itu juga aku bisa tersenyum karena kehadirannya ke rumahku. Di saung depan rumahku, yang menjadi saksi atas senyum tegasnya.

Setelah pertemuan itu, aku menyadari bahwa mengagumi bukan berarti bisa menemani, aku menyadari sesuatu yang terlalu digenggam justru kadang yang melukai. Setelah pertemuan itu bukan berarti tanpa air mata lagi, tetap dalam kondisi yang beragam, aku tidak berhak menuntut lebih karena rasa ini tidak ada kaitannya dengan kehidupannya. Aku selalu menyapanya, mungkin dengan seperti ini aku bisa tetap mengagumi, aku bisa tetap dekat tanpa harus melukai siapapun walaupun nanti ada yang berhak menemani dan yang menemani itu wanita selain aku. Aku akan tetap menjadi bintang untuk pangeran di langit malam walaupun aku tidak bisa membuatkannya huruf steno, tidak bisa merubah nama twitternya menjadi namanya dan diingatkan ulang tahun olehnya. Aku akan menjadi sesuatu yang indah di kerajaan langitnya walaupun aku bukan putri di langit malam. Aku menyadari bahwa bulan mempunyai jutaan bintang dan satu bintanglah yang berhak dipilih. Aku juga menyadari bahwa bintang hadirnya hanya untuk malam, akan selalu tersenyum di atas langit malam, walaupun di belahan bumi yang lainnya. Jika dia merindukan rasa ini, pandangi langit malam, aku disitu. Di media yang berhasil mempersatukan berbagai kejadian antara kita berdua.

Cerpen Karangan: Khoirunnisa Auliya
Facebook: Khoirunnisa auliya
Siswi SMA N 3 Slawi. Kab Tegal

Cerpen Pangeran Langit Malam (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Janji Mu Dan Aku

Oleh:
Hujan ini hujan ke ratusan kalinya tanpamu, dan hujan ini menjadi saksi ratusan kalinya aku gagal melupakanmu. Kamu yang hanya ku kenal untuk beberapa lama begitu dahsyatnya meninggalkan bekas

Aku, Dia Dan Sahabat

Oleh:
Dalam kesendirian aku merenungi dalam perkataan seorang penyair sekaligus pecinta aktor Hollywood dalam mengikuti proses belajar di ruangan kuliah yang membahas soal Cinta dengan pertanyaan Apa itu Cinta? di

Cinta Yang Suci

Oleh:
Aku sudah memakai jilbab sejak kecil. Saat itu guru madrasahku berkata kalau, “Memakai jilbab itu kewajiban. Soal tingkah laku itu lain lagi. Intinya kita harus menutup aurat.” Setelah guruku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *