Pelangi Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 5 February 2016

Sang mentari tersenyum indah memandang bumi dari ufuk timur yang mengingatkanku pada masa kecil dulu. Masa-masa indah sebelum ku mengenal arti kehidupan, belum mengenal arti cinta dan perasaan, yang ku tahu hanya bermain dan bahagia. Kala itu ku baru berusia 6 tahun, setiap lebaran idul fitri dan idul adha aku pergi liburan ke rumah kakekku di desa Semelagi besar bersama ayah dan ibuku. Di sana aku mempunyai 2 orang sahabat bernama Ayu dan Nika, sahabat yang selalu menemaniku saat aku liburan di sana. Yang masih ku ingat kami bermain kuis tanya jawab gitu dan aku menjadi hostnya, siapa yang betul jawabnya dapat hadiah uang dari dedaunan. Mereka mempunyai sifat yang sama baik, cantik dan ceria.

Waktu sudah beranjak sore aku bersama orangtuaku pulang ke rumah, tapi sebelum pulang aku selalu meminta ayam kakekku untuk ku bawa pulang. Ku tangkap ayamnya lalu bilang. “Kek aku mau bawa pulang ini ayam.” sambil berlari memasukkannya ke dalam kardus. “Habis nanti ayam Kakek.” sahutnya sambil tersenyum. “Tidak apa Kek nanti bertelur lagi.” Setiap aku pulang dari sana aku selalu membawa seekor ayam, ya untuk dipotong di rumah.

Sejak kami beranjak dewasa aku sudah jarang berkunjung ke sana karena aku disibukkan oleh tugas sekolah dan seorang wanita yang menemani setiap langkahku. Cinta adalah anugerah terindah yang Allah swt berikan kepada setiap hambanya, yang membuat hariku lebih berwarna. Setelah aku menyelesaikan sekolah di SMP kami semakin menjauh dan akhirnya harus kandas karena ego yang masih labil. Pada saat aku kelas 3 SMK saat itu aku berusia 18 tahun, aku menyempatkan main ke sana lagi tentunya tidak sama orangtuaku, aku pergi bersama tetanggaku. Saat ku bertemu sama Ayu entah mengapa hati ini terasa berada di taman bunga yang indah, ingin ku petik dan ku bawa pulang bunga terindah di situ.

“hai Ayu, udah sombong ye melojor ja’ jalan” sapaku.
“Eh, Mazlan kan,”
“iyalah siapa lagi,”
“kau tuh yang sombong sudah gak mau main ke sini lagi, sudah lupa ya sama aku.”
“ingatlah Yu, masa si cantik semudah itu melupainnya, apa kabar kau?”
“Kabar baik, makin tinggi kau Lan ya.”
“Bukan aku yang ninggi, kau jak yang mendek,” candaku. Kami lalu tukaran nomor hp daan aku segera pulang.

Hampir satu tahun berlalu selesai tahun baru 2015, aku main ke rumah Ayu, bercerita panjang lebar dan ku ajak dia ke pantai sorenya. “Yu, gak apa ini kamu ku bawa,” kataku. “Emang kenapa lan?”
“Enggak, takut aja nanti ada yang marah, lalu pulang tidak be ban motorku.”
“Kau Lan, tidak berubah ya, gurau ja terus, tidak ada lah Lan, siapa juga yang mau marah,” katanya.
“Alhamdulillah, tapi demi kamu aku mau kok berubah.”

Waktu berputar begitu cepat, senja pun sudah tampak ingin tidur, aku segera mengantarnya pulang. Setelah pertemuan itu kami sering SMS-an dan teleponan sehingga terasa nyaman dan semakin akrab padanya. Pada malam minggu tanggal 1 bulan 2 aku mengajak dia jalan dan dia pun menerimanya, walau awan tak mampu menampung air ku tetap pergi. Pada malam itu juga aku menyatakan perasaanku padanya dan cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

Namun hal indah itu tidak berlangsung lama 2 bulan berlalu cinta kami harus kandas, karena ego dari saudara ayahku yang tidak suka padanya, entah apa dan kenapa alasannya aku juga tidak mengetahui. Aku sudah berusaha memperbaiki semua, tapi aku tidak mampu melewatinya akhirnya Ayu meminta hubungan ini dibubarkan. Dari situlah duniaku menjadi gelap, tidak ada setetes pun cahaya yang menemani.

Hari-hariku ditemani air mata dan minuman keras untuk menenangkan hati yang remuk. Walau dia bukan yang pertama, tapi entah mengapa rasa sayang ini begitu dalam padanya. Sampai Yuli yang memberikan sinar kembali padaku dan kami pun jadian. Yuli sahabatku sekolah di SMK, dia yang selalu ada saat ku suka mau pun duka, menemani langkahku, mengingatkanku dari kesesatan. Namun hubungan ini juga harus kandas karena strata sosial yang berbeda.

Sekarang aku lagi menempuh pendidikan S1 di politeknik negeri di daerahku dengan program study Agroindustri Pangan. Sekarang aku juga mengalami dilema cinta yang rumit, rasa cinta tumbuh pada sahabat sekelasku, padahal aku tidak menginginkan rasa ini datang padanya. Jalan cerita cinta memang susah ditebak, dia datang dengan sendirinya. Namun bukan itu masalahku, yang jadi masalah sahabatku sendiri juga suka sama dia. Hal ini yang membuat hati tergores, pertanyaan mengapa, kenapa selalu menghantui pikiranku. Tak dapat ku pungkiri inginku memilikinya, tapi aku juga tak menginginkan kaca pecah karena hujan. Aku hanya berharap rasa ini terkikis dimakan waktu.

Cerpen Karangan: Bang Mazlan
Facebook: Mazlan Surabaya
Nama: Maslan
TTL: Surabaya, 12 Agustus 2015
Hobi: Badminton
Agama: Islam
Alamat: Dsn. Surabaya, Dsa. Singaraya, Kec. Semparuk, Kab. Sambas-Kalbar

Cerpen Pelangi Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dimensi Lain

Oleh:
Kini ku langkahkan kaki menelusuri sebuah lorong panjang yang mana banyak akar pohon bergelantungan, tapi anehnya dari mana asal akar pohon tersebut? Karena sedari tadi tak ku dapati pohon

Terakhir

Oleh:
Gadis berwajah oriental itu tersenyum padaku. Diangkatnya gelas yang ada di tangannya, seolah mengatakan ‘mari minum’ yang kubalas juga dengan mengangkat gelasku. Plak! Sebuah tamparan mendarat di kepalaku. “Kenapa

This Is Me

Oleh:
Begitu banyak ujian dalam hidupku, semakin lama semakin berat. Itu yang aku rasakan. Beberapa minggu sebelumnya ibuku menyusul kepergian ayahku ke sisi Tuhan. Sekarang aku harus ikhlas kehilangan kedua

Tutup Mata Di Atas Tebing

Oleh:
Matahari telah kembali ke peraduannya. Bulan sudah mulai bersinar menggantikan posisi matahari. Namun aku masih melamun di sini. Di atas tebing menikmati pemandangan seluruh kota dari atas sini. Aku

Dialog Hujan

Oleh:
Tak sengaja aku datang ke kota itu. Tempat pertama kali kita bertemu. Ada senyum dan tatapan tajam matamu. Sadarkah kau? aku rindu. Kota tua ini hujan lagi, tanahnya basah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *