Pemuda Bangku Sebelah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 October 2013

Aku melirik pemuda yang duduk tepat di sebelah bangkuku. Begitu tampan dan mempesona. Sesuai dengan namanya, Dimas Anandara. Seragam abu-abunya melekat sempurna di tubuhnya yang bidang dan tegap. Pemuda inilah yang berhasil mencuri perhatian seluruh gadis di sekolahku. Termaksud Diana, sahabatku.
Dan aku mengutuk keberuntunganku untuk duduk sebangku dengan pemuda ini. Aku tidak membenci pemuda itu. Justru sebaliknya. Aku jatuh cinta padanya. Tapi “sahabat” adalah satu-satunya hal yang menghalangiku untuk jatuh cinta lebih dalam padanya.

“Ah, Maaf.” Ucapku saat tanpa sengaja tanganku bersentuhan dengan tangannya ketika akan mengambil penghapusku yang terjatuh.
“Tidak apa.” Suaranya yang merdu dan senyumnya yang memukau membuatku terpana. Tapi sedetik kemudian aku berusaha mengusir perasaan itu. Inilah yang aku takutkan, duduk di sampingnya membuatku terpesona padanya.
“Tukeran tempat duduk ya.” Ucap Diana. Dan aku hanya bisa mengangguk seperti robot. Bagaimanapun, aku tidak mungkin mengkhianati maupun menyaingi Diana yang seorang primadona sekolah.

Aku berjalan menuju tempat duduk Diana yang terletak hanya 2 baris setelah bangkuku. Romeo, teman sebangku Diana, hanya menatapku dengan pandangan heran tapi tak berani banyak bertanya.

Aku menatap nanar pada sosok Diana yang berusaha mempengaruhi Dimas dengan pesonanya. Melihat mereka berdua aku merasa mereka pasangan yang benar-benar serasi. Dimas yang tampan dan Diana yang sangat cantik. Seperti seorang pangeran dan putri yang ditakdirkan untuk bersama. Sedangkan aku dayangnya. Aku memang harus melupakannya dan lebih realistis. Aku harus mencari lelaki yang biasa-biasa saja, bukan mengharapkan seorang pangeran seperti Dimas.
Apakah ini mimpi? Apakah penglihatanku salah? Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari siapapun orang yang bisa aku jadikan alasan, agar aku tidak menjadi besar kepala. Tapi tidak ada seorangpun yang berada disitu selain aku.

Meja sebelah kiriku kosong, sedangkan sebelah kanan dan belakangku tembok, depanku kawanan para murid kelas 1 yang berisikan para lelaki. Mungkinkah ia berjalan ke arah mereka? Tidak, jelas-jelas matanya terarah padaku. Tubuhku serasa menjadi kaku, dan kakiku mati rasa. Aku tidak tahu, apa tujuannya datang menghampiriku. Sekali lagi aku merutuki nasibku. Seandainya saja tadi aku menunggu Diana rapat Osis bersamanya, bukannya memilih untuk duduk sendirian di pojokkan kantin demi mengisi lambungku yang sudah bermetalan ria. Aku tidak ingin mengkhianati Diana dan merusak persahabatanku. Jadi, akan lebih baik bila aku menyingkir dari sini.

Dengan tergesa, aku berdiri dan berjalan menuju pintu belakang secepat mungkin. Untunglah suasana saat itu ramai, sehingga aku yakin ia pasti tidak akan mengejarku. Dan ternyata dugaanku salah besar. Begitu keluar dari pintu belakang suasana begitu sepi, sungguh berbeda dengan di dalam kantin. Saat akan melangkah pergi menuju kelas. Tiba-tiba, sebuah tangan mencekal lenganku. Mataku melebar saat melihat pelakunya.
“Ada apa?” tanyaku tergagap.
“Kenapa kau menghindariku?” suaranya lembut namun tegas. Raut wajahnya mengeras.
“Aku tidak menghindarimu.” Suaraku bergetar menyadari tangan besarnya tetap berada di lenganku.
“Kau menghindariku. Tadi, kau pergi begitu melihatku datang. Dan kau pindah ke bangku Nadia.”
“Aku tidak menghindarimu. Lagi pula itu hak-ku. Kita tidak ada apa-apa.” Aku terkejut mendengar ketegasan dalam suaraku. Ucapanku membuatnya melepaskan tangannya dan anehnya aku merasakan kehilangan.
“Aku hanya ingin duduk denganmu.” Kata-kata itu hampir membuat aku melayang.
Dengan susah payah aku menggerakkan bibirku, “Mengapa?”
“Karena, aku menyukaimu.” Sekarang aku benar-benar melayang. Tapi sesosok gadis cantik menghampiri benakku dan membuatku jatuh ke bumi.
“Aku tidak menyukaimu.” Lidahku terasa kelu ketika mengucapkannya.
“Kau berbohong.” Ya, itu benar. Aku berbohong tapi aku tidak ingin mengakuinya,
“Aku tidak berbohong.”
“Kau tidak berbohong. Hanya tidak jujur. Apa ini karena Diana?” ucapannya menusuk tepat di jantungku. Aku terdiam tidak bisa membalas. Tangannya terangkat dan mengusap pipiku sekilas.
“Aku akan mendapatkanmu.” Setelah mengucapkannya, ia melangkah pergi menghilang dari pandanganku.

Aku termagu. Kehangatan jemarinya masih membekas. Dan kata-katanya terngiang di kepalaku. Mendadak, kepala terasa begitu penuh dan dunia seakan berputar. Kakiku seakan tak kuat menahan beban tubuhku. Aku berjongkok dan menyerukkan kepalaku di atas lututku. Bayangan Diana dan ucapan pemuda itu terus berputar memenuhi kepalaku. Dalam kondisi seperti ini, aku teringat ucapan kakak sepupuku beberapa waktu lalu “Masa SMA adalah masa terumit dan masa dimana kamu harus bisa belajar untuk mengambil keputusan sendiri.” Ya, itu benar. Aku bukan masih SMA tapi aku sudah SMA. Mau tak mau, aku harus belajar mengambil keputusan dan menghadapinya. Diana atau Dimas, Pemuda bangku sebelah yang sanggup mencuri hatiku sejak lama.

Cerpen Karangan: Yvonemelosa
Facebook: https://www.facebook.com/yvoniaphenomenic

Cerpen Pemuda Bangku Sebelah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat 16

Oleh:
Aku tak pernah tahu mengapa dia masih sama seperti dulu. Terkadang aku hanya berfikir dia hanya mengagumi diriku ataupun senang bercanda denganku. Adel, sapaan itu yang dimiliki aku. aku

Hargai Aku

Oleh:
Rasanya sangat pusing sekali melihat rumus yang bertebaran dimana mana. Bagaimana tidak? Saat ini aku sedang mengerjakan tugas fisika yang cukup identik dengan rumus. Aku memijat pelipisku, untuk menghilangkan

Cinta Yang Salah

Oleh:
Namaku Indah, usiaku 17 tahun.. umur yang kata orang dimana seorang remaja mengenal cinta. AKu duduk di bangku SMA tepatnya lagi kelas dua, tapi anehnya aku mencintai cowok yang

Galau dan Akhirnya

Oleh:
Awal gue terinspirasi nulis pengalaman pribadi ini adalah ketika gue jalan dengan sohib-sohib terbaik gue; Miftah, Hany, en Alvi. Kita berempat emang janjian jalan untuk nonton film, yang sebenarnya

Arti Sebuah Tanggung Jawab

Oleh:
“Hore… aku mendapat rangking satu” respon saat melihat rapot Momen ini sangat didambakan, karena baru pertama kali mendapat peringkat sebagus itu. Hasil demikian bisa dia raih berkat rido dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pemuda Bangku Sebelah”

  1. Dayu Swasti Kharisma says:

    Ide ceritanya sederhana namun cara penulisannya yang bisa membawa kita seolah2 berada di lingkungan si tokoh, seolah-olah merasakan menjadi tokoh utama. keren! terus berkarya ya! salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *