Puisi Yang Sering Kamu Ledekin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 September 2014

Dia
Sebuah anugerah Tuhan yang terindah jika aku memilikinya.
Namun aku tak dapat meraihnya.
Aku hanya bisa memilikinya dalam angan.
Dia yang terlalu dekat.
Dia juga yang terlalu jauh.
Tapi, dia yang membuatku jatuh hati.

Aku membaca sekali lagi puisi karangan ku sendiri, sebait puisi yang menjadi tugas Bahasa Indonesia. Hft, entah mengapa guru yang satu ini suka sekali menyuruh para muridnya untuk menulis puisi.

Aku bukannya mengeluh, sejujurnya aku sangat menyukai tugas ini, tapi yang membuatku tak suka adalah aku hanya bisa membuat puisi yang menjadi perasaanku sendiri, yang akan menjadi bahan olokan teman-teman ku yang iseng itu.

“Karin, puisimu mana?” sebuah suara membangunkanku dari lamunanku, Bu Beti. Dengan segera aku menyerahkan selembar kertas yang berisi sebait puisi. “Hmm.. puisi jatuh cinta lagi ya?” komentarnya.
“Cieeee, Karin. Bikin penasaran aja, siapa sih cowok yang berhasil bikin lo jatuh cinta diam-diam itu? Pengen deh gue comblangin.” Celetuk seorang teman ku yang suka banget ngeledekin puisiku, Ardi. Sebenarnya dialah alasannya mengapa aku selalu menulis puisi jatuh cinta, karena aku jatuh cinta kepadanya dengan diam-diam. Aku hanya melotot melihat dia sambil mengatakan “kampret lu” tanpa suara. Dan, bukan sulap bukan sihir. Suasana kelas seketika berubah jadi suasana pasar ikan sampai sebuah penggaris dipukulkan ke papan tulis.
“Sudah, sudah. Kalian semua tenang. Karin, kamu boleh ke tempatmu sekarang.” Aku pun kembali ke tempat duduk ku sambil melotot ke arah Ardi, si biang kerok keributan ini yang kebetulan duduk di sampingku.
“Kok cemberut sih, Karin ku marah nih yee? Maaf deh, gue kan pengen bercanda.” Bahkan dia juga berusaha untuk menghiburku, mau tak mau aku tersenyum juga melihatnya. Tersenyum karena tadi dia menyebut “Karin ku”, jadi geer juga. “Nah, gitu dong, kan cantik juga sedikit.” Kampret juga ini anak, nyebelin banget.

“Karin, ke kantin yuk!” ajak Shara, teman sebangkuku, ketika jam istirahat telah tiba.
“Ayuuk!” jawabku. Aku dan Shara berjalan ke luar kelas.
“Eh, tunggu. Gue ikuuut!!” teriak Ardi ketika kami telah di depan pintu. Dia menghampiri kami.
“Ya elah Ardi, modus banget sih pengen deketan ama Shara.” Celetuk Robi yang sedang asyik memainkan hapenya. Dan hanya terdengar “hehehe” dari mulutnya Ardi. Sebenarnya ini situasi yang paling aku gak suka. Teman-teman ku sepakat untuk menjodohkan Ardi dan Shara. Sebenarnya yang suka sama Ardi kan aku. Aku juga sih yang salah, yang gak pernah mau mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepada Ardi. Dan dengan berat hati aku pergi ke kantin bersama Ardi dan Shara.

Dan suasana hatiku di kantin makin parah. Ardi kelihatan lebih asyik bercandaan dengan Shara. Namun, dengan alasan persahabatan, aku mencoba untuk tersenyum ketika Shara melaporkan kelakuan anehnya Ardi kepadaku. Dan sesekali menimpali pembicaraan mereka. Aku merasa jadi obat nyamuk disana.

Kau jauh mengapa terasa begitu jauh.
Padahal kau ada di depanku, tersenyum kepadaku.
Tapi tetap terasa jauh

Ini lagi, lagu yang diputerin di kantin. Bikin jleb aja kesannya. Diam-diam aku menangis dalam hati.
Tuhan, salahkah aku jatuh cinta kepadanya.

Seringkali aku berpikir, apakah aku berada di dalam keadaan yang salah? Setiap kali aku melihat Ardi dan Shara sedang bicara, mereka seperti sama-sama suka. Sebagian hatiku ingin merelakan Ardi untuk Shara jika itu memang terjadi. Namun, sebagiannya lagi tak mau merelakannya, aku ingin Ardi menjadi milikku seorang. Aku ingin Ardi menjadi jodohku kelak. Dia terlalu spesial untukku.

Yah, aku memang dekat dengan Ardi, karena kami satu pemikiran dan satu selera. Itulah yang membuat aku suka, kemudian nyaman dengannya dan akhirnya jatuh cinta kepadanya. Dan, aku memang tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan.

Dari gosip yang beredar sih Ardi dan Shara itu memang sama-sama suka, cuma tidak ada yang tahu yang pastinya. Hss… jadi bikin galau aja.
Dari pada galau sendirian di kamar, aku memilih untuk memainkan gitarku sambil bernyanyi.

“This night is sparkling don’t you let it go
I’m wonderstruck blushing all the way home
I’ll spend forever wondering if you knew
This night is flawless don’t you let it go
I’m wonderstruck dancing around all alone
I’ll spend forever wondering if you knew
I was enchanted to meet you”

Ya elaaah, kok jadi makin galau yah? Kok pipi ku jadi basah? Apakah aku menangis? Kenapa aku jadi nyanyiin lagunya Taylor Swift yang Enchanted sih?

“Kariiiinnnn… bawa gitar lo keluar dong!!!” teriak seseorang dari pagar rumahku. Astaga! Itu Ardi, sejak kapan dia disini? Ngapain lagi ke rumahku. Aku segera berlari keluar dengan membawa gitarku.

“Ngapain lo sore-sore ke rumah gue?” tanyaku sambil membukakan pintu pagar rumahku. Dia hanya nyengir, sambil membawa masuk sepeda motornya.
“Gue kangen ama lo.” Jawabnya enteng dan tersenyum. Ahh.. senyum itu yang selalu menyihir aku.
“Gombal.” Dia malah tertawa, aku mengajaknya masuk ke ruang tamu, dan dia mengikutinya. Ardi memang sering ke rumahku entah itu mau minjam buku PR atau hanya sekedar main. Setelah duduk di ruang tamu, dia tampak memperhatikan aku, aku merasa ada yang aneh, tapi aku tidak tau apa.
“Lo habis nangis?” tanyanya. Astaga, aku lupa mencuci mukaku. Tanganku langsung menyeka bekas air mataku. “Ada masalah?” tanyanya prihatin, dia duduk mendekat.
“Masalah hati, gue lagi cemburu ama seseorang.” Aku cemburu sama kamu dan Shara, Di. Cuma aku ingin menyembunyikannya saja.
“Terkadang jatuh cinta diam-diam itu terasa menyakitkan. Karena, gak ada seorang pun yang tahu, kecuali dia yang sedang jatuh cinta dan Tuhan yang selalu mendengarkan curahan hatinya.” Aduh Ardi, tumben kamu bijak. Tapi, aku suka kamu yang begini. “By the way, lo jatuh cinta ama siapa sih? Biar gue yang bantu lo dekat ama dia, gue gak mau ngeliat lo galau gitu.”
“Lo pasti gak nyangka siapa orangnya Di, dan gue gak mau mengatakannya kepada siapapun kecuali kepada Tuhan.” Jawabku. Dia mengangguk, mengerti.
“Sebenarnya, gue juga merasakan itu. Jatuh cinta diam-diam.” Ah, aku jadi tau, pasti Shara orangnya.
“Lo jatuh cinta ama Shara kan? Semua orang juga sudah tau.” Dan itu yang bikin aku nangis terus, Di. Dia menggeleng, lalu sama siapa dia jatuh cinta.
“Kalo lo mau tau siapa orangnya, tanyakan aja kepada Tuhan. Hanya aku dan Tuhan yang tau.” Aduh, Ardi. Bikin penasaran aja sih. Haha, ini kesempatan aku untuk balas dendam kepadanya atas kejadian tadi siang.
“Ciyeee, Ardi. Bikin penasaran aja, siapa sih cewek yang berhasil bikin lo jatuh cinta diam-diam itu? Pengen deh gue comblangin.” Haha rasakan kau kena kata-kata copasku.
“Dasar tukang copas. Itu kata-kata gue yang tadi siang tau.” Dia melemparkan bantal kursi ke arahku. Ardi kampret. Aku lemparkan lagi, tepat kena jidatnya. Dan akhirnya, terjadilah perang bantal kursi tamu antara aku dan Ardi. “Udah ah, gue capek. Pinjem gitar lo dong, gue mau nyanyi.” Aku menyerahkan gitarku kepadanya.

“Girl you heart, girl your face is so different from the others
I say, you’re the only one that I’ll adore
Cause everytime you’re by my side
My blood rushes through my veins
And my geeky face, blushed so silly, oh yeah, ohh yeah

And I want to make you mine

Oh baby, I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
And we’ll be together till we die
Our love will last forever and forever you’ll be mine
You’ll be mine”

“Seharusnya lo nyanyiin lagu ini buat seseorang yang bikin lo jatuh cinta diam-diam itu deh, dari pada lo ngejomblo, kan gue jadi kasihan melihat lo merana sendirian.” Komentarku sekaligus meledek. Dia hanya menatapku dengan tampang masam. Sebenarnya sih aku pengen dia emang nyanyiin buat aku. Tapi kok, dia jadi diam setelah aku komentari begitu? “Di, gue salah omong ya? Sorry ya Di, gue bercanda doang.” Aku jadi serba salah melihatnya. Dia menatapku, lama. Aku jadi bingung, salah apa sih aku.

Lama kami berdiam diri, dan aku tak pernah lepas dari pandangannya, pikirku. Terdengar desahan nafasnya, lalu dia memelukku. Memelukku, gak salah? Tapi, jujur. Aku suka suasana begini, tanganku juga ikut melingkar di punggungnya. Hangat, seakan aku ingin mengatakan ‘aku mencintaimu Ardi, kau lah alasan dalam puisi dan tangisanku ini.’ Tapi, lidah ku terkunci karena pelukan ini. Jantungku berdebar tak karuan, hidungku bernafas tak beraturan. Aku menikmati sensasi ini. Kusandarkan kepalaku di dadanya.
“Gue sayang ama lo, Rin. Lo yang bikin gue jatuh cinta diam-diam.” Ucap Ardi, lirih. Aku menatapnya tak percaya. Please sekali lagi katakan itu, Di. Aku gak mau ini cuma mimpi. “Maaf, Rin. Gue tau, lo sebenarnya jatuh cinta ama cowok lain. Lo sering bikin puisi itu untuk cowok lain. Tapi, gue gak bisa memendamnya terlalu lama.” Lanjutnya. Ku lepaskan pelukannya dan tertawa, ngakak. Dia terlihat bingung.
“Di, gue pengen lo tau aja. Sebenarnya puisi yang sering gue bikin itu buat elo. Cuma elo nya aja yang sering ngeledekin puisi gue, tapi puisi itu ternyata buat lo. Absurd juga ya, puisi yang lo ledekin itu buat lo sendiri, hahaha.” Aku makin ngakak tertawanya. Lalu, Ardi menyerang aku dengan pelukannya. Dan… ada sesuatu yang hangat menyentuh bibirku. Wajah kami berdekatan. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
“I love you, my Karin.” Aduh, kok jadi norak gini yah kata-katanya. Tapi aku suka. Kami berpelukan.
“I love you too.” Bisikku.

Tuhan, jadikanlah lelaki yang berada di pelukanku ini sebagai jodohku.
I always thought I would be strong
If I made it through the pain
Well, I’m in and out of love
And it all hurts just the same

Love can really change your life
There’s something magic in my world tonight

I feel so free, it’s like a fantasy
Having you next to me, suddenly it’s magic
One look, one touch. Once just don’t say enough
When you fall in love, suddenly, suddenly it’s magic

Cerpen Karangan: Nunuy Majdiah
Blog: Nu2ymajdiah.blogspot.com
Facebook: Facebook.com/nunuy.masivers
penulis amatiran yang ingin belajar menulis. kritik dan saran yaa 🙂

Cerpen Puisi Yang Sering Kamu Ledekin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Permusuhan Berujung Cinta

Oleh:
Hai, gue Pricillia Sagita, panggil aja Cilla. Gue sekolah di SMA Harapan Bangsa Jakarta kelas 10. Gue punya orang-orang yang paling gue sayang. Yang pertama nyokap dan bokap gue,

Bosan Bukan Alasan

Oleh:
Saat ini aku memilih sendiri mungkin lebih menyenangkan dari pada berdua tapi selalu ngebatin karena kelakuannya yang menyerupai anak-anak. “Bosan” yah, rey si cowok populer sesekolahan dengan bodohnya dia

Hujan dan Kamu

Oleh:
Aku mulai menghitung dari hari ini, menghitung hari untuk sebuah perpisahan, perpisahan karena tak ada lagi pertemuan untuk waktu yang cukup lama. Memang, hari itu masih jauh, tapi aku

Surat Untuk Harry

Oleh:
Aku menulis surat ini untukmu Harry, aku tahu kamu tak membuka dan membacanya tapi aku percaya kau melihat dari sana aku sedang menulis surat ini dengan tawa dan senyumku

Kado Terindah

Oleh:
Sepiring roti isi selai dan segelas susu hangat menemani sarapan pagi Ninda. Seperti biasanya, Ia harus sarapan sendiri lagi karena Ayah dan ibunya ada tugas ke luar kota. Ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Puisi Yang Sering Kamu Ledekin”

  1. siska says:

    is gokil bget sob… 🙂

  2. gue suka bnget cerpennya like

  3. Janan says:

    Cerpennya nice. Tapi ada ending yang seperti itu jadi ada (-)

  4. AngelNovia says:

    I like cerpen ini,cerpenny bgus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *