Pulanglah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 10 December 2015

Pertemuanku dengannya berawal dari sebuah situs jejaring sosial. Sudah belasan tahun lamanya aku tidak pernah mendengar kabar tentang dia. ‘Dede’, itulah namanya. Wanita yang pernah merebut perhatianku ketika masih di bangku sekolah dulu, walaupun di antara kami tidak pernah terjalin komunikasi yang berarti namun aku pernah menyukainya.

“Emon, kamu kenal siapa Raka? Apakah dia teman sekolah kita dulu?” komentar Dede pada postingan Emon di jejaring sosial itu.
“Loh De.. masa kamu lupa sama Raka, itu loh anak nakal yang pernah dekat dengan Yaya.”
“Oh si preman sekolahan itu ya Mon? Kok beda banget ya, gak selenge’an lagi seperti dulu, jadi wajar aja kalau aku gak mengenalinya..”

Demikianlah komunikasi antara Emon dan Dede dalam postingan tersebut. Aku pun membacanya sambil senyum-senyum, lucu aja rasanya mengingat kembali masa-masa di sekolah dulu dan merasa geli dengan julukan si preman yang disebutkan oleh Dede, yang membuat aku jadi malu sendiri. Sejak saat itu aku dan Dede jadi sering berkomunikasi, baik melalui postingan, pesan, bahkan melaui telepon dan social messenger. Kami semakin akrab, dan suka bikin heboh postingan teman dengan banyolan-banyolan kami.

Semakin lama kami jadi semakin perhatian satu dan lainnya, sungguh tak dapat ku pungkiri benih-benih cinta itu muncul ke permukaan hatiku, ia mulai bertumbuh, dan dari hari ke hari ia terus dipupuk dan disirami sehingga ia tumbuh subur lalu menghasilkan buah, dan akhirnya buah itu matang. Aku tidak pandai untuk menyembunyikan harumnya aroma buah tersebut sehingga dia dapat mengendus aroma cintaku padanya.

“Ka.. aku tahu kamu jatuh cinta padaku.” terdengar dia berbicara sambil menghela napas. Aku hanya terdiam.
“Raka.. benar kan kamu jatuh cinta padaku? Aku bisa rasakan itu Raka…”
“Iya De.” jawabku singkat.
“Inilah yang aku takutkan Raka, aku takut kamu jatuh cinta padaku, karena aku tidak akan pernah bisa menolak cintamu Ka! Dan kamu tahu kan cinta ini salah, cinta ini tidak tepat, cinta ini.. ukhh!!!” Terdengar suaranya menjadi parau dan mulai menangis.

“Maafkan aku De.. maaf.. lupakan saja semuanya, dan jangan dibahas lagi oke!”
“Tidak Raka, semuanya sudah terlanjur, dan aku juga terlanjur sayang padamu, aku merasa nyaman, aku merasa dihargai, dan dicintai.. Rasa itu yang tidak pernah aku dapatkan selama ini, bahkan dari pria yang sangat ku cintai, Suamiku.”
“Arrrghh.. maafkan aku De, ini salah dan tidak semestinya ini terjadi dan ini tidak perlu dilanjutkan lagi!” nuraniku mulai menghakimiku.
“Raka, kamu tega.. kamu tega mencampakkan kebahagiaanku ini? Apakah aku tidak berhak mengecap kebahagiaan ini untuk sementara waktu?” Terdengar suaranya mendesak dan penuh harap.

Aku tidak sanggup melihat dia menderita dan tertekan seperti yang terdengar dari nada suaranya, aku tidak tega mengabaikannya. Lalu hati ini mulai merayuku untuk melanjutkan semua kisah terlarang ini walaupun nuraniku menentangnya. Aku tak sanggup. Beberapa bulan telah kami lalui dalam jalinan cinta terlarang, walaupun hanya melalui media-media komunikasi instan dan telepon namun kami cukup bahagia dan semakin menyayangi. Hingga tiba saatnya aku mendapatkan cuti tahunanku, dan pada kesempatan itulah aku menyempatkan diri untuk menemuinya sebelum pulang ke kampung halamanku.

“Hai De…” sapaku perlahan.
“Oh Raka, akhirnya…”

Secara spontan kami langsung berpelukan dan melepaskan semua kerinduan yang selama ini terpendam, jantungku berdebar, berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam benakku, namun ku coba untuk menipu hatiku dan mengatakan pada diriku sendiri. “bukankah ini saat yang kamu nantikan? Rengkuhlah dia! Inilah cintamu, dia mencintaimu dan kamu mencintainya! Kamu tidak bersalah! Kamu tidak akan berdosa!”

Akhirnya kami pun larut dalam buaiannya, dan saat itu kami seolah-olah menjadi manusia yang paling bahagia. Kebahagiaan yang kami rasakan tidaklah seperti yang kami bayangkan, konflik-konflik kecil mulai bermunculan. Kadang konflik itu muncul karena rasa cemburu yang membakar hatiku demikian juga sebaliknya dengan dia. Dan hal terparah adalah konflik dalam rumah tangganya, ia jadi sering berselisih dan ribut dengan suaminya.

“Mas, kapan sih kamu bisa ngertiin aku?!” Keluh Dede pada suaminya.
“Kurang mengerti apa aku padamu, aku seperti ini hanya ingin membahagiakan kamu, alasanku jelas hanya ingin membuat kamu bahagia dan terhormat!!” Suaminya pun tak mau kalah.
Perselisihan mereka semakin memanas dan berlangsung sengit, akhirnya mereka memutuskan berpisah ranjang untuk sementara waktu. Mengetahui hal itu, aku jadi bahagia dan semakin bersemangat, karena aku berpikir tidak lama lagi mereka akan bercerai, dengan demikian tentunya aku bisa menikahi Dede dan berbahagia bersamanya selamanya.

“Ka, gak terasa hampir dua bulan aku tidak seatap dengan suamiku, aku merasa kondisiku semakin memburuk, perekonomianku tidak stabil lagi. Aku bingung sayang.. Aku harus bagaimana?”
Sejenak aku tertegun mendengar keluhannya, aku mulai berpikir, ku coba melibatkan perasaan, hati, dan nuraniku.

‘Membatin’-
“Ya Tuhan betapa jahatnya aku, ampuni aku Tuhan, hambamu yang khilaf ini, maafkan aku De, maafkan aku yang sudah menjadi boom waktu dalam rumah tanggamu..”

Ya, aku sadar akulah orang yang paling bersalah, aku telah melanggar standar-standar moral yang ada, aku bagaikan boom waktu yang hampir saja meledak. Aku harus mengakhiri semua ini, aku harus memutus pemicunya. Suaminya adalah pria yang terbaik buat dia, suaminya adalah pelindung sejatinya, aku tahu dia masih sangat ketergantungan akan kehadiran pria tersebut. Bukan.. bukan aku orangnya, bukan aku pria impiannya.

Akhirnya aku berkata padanya, “De,.. aku paham apa yang kamu rasakan saat ini, aku mengerti dan dapat merasakan betapa menderitanya batinmu, aku tidak mungkin mempertahankan egoku karena aku memang tidak berhak..”
“Raka! Apa maksudmu berkata seperti itu?”

Dengan berat hati ku lanjutkan perkataanku, “kamu pasti mengerti dan tahu apa yang terbaik buat kita. Kembalilah padanya, jangan ragukan cintanya, dia sangat menyayangimu dengan caranya sendiri. Hargailah usaha dan cintanya yang ia persembahkan untuk menyenangkan serta membahagiakanmu. Bersyukurlah karena Tuhan sudah menyediakan pria yang pantas dan tepat untukmu..”
“Tidaaak!! Tidak Raka, aku takut kehilangan kamu, aku tidak mau berpisah denganmu, aku.. aku tak sanggup..” Lalu ia menangis sejadi-jadinya.
Aku tahu ini sangat berat buat dia, tapi aku sadar ini akan menjadi lebih berat lagi jika semua ini diteruskan. Akhirnya aku coba merubah topik pembicaraan, setidaknya untuk sementara dia bisa lebih tenang.

Tidak terasa satu bulan kembali terlewati, dan selama satu bulan terakhir ini semua yang ku jalani terasa begitu berat. Aku harus menekan perasaanku, aku harus menguatkan hatiku. Aku harus siap memutuskannya, aku harus siap menjalani hidupku tanpa ada suara, canda, tawa, manja, dan senyum manisnya. Ku ambil ponselku lalu ku telepon dia di siang itu.
“siang De, kamu sudah lunch?”
“sudah say, kamu?”
“belum hehehe…” jawabku datar.

“Oh ya Ka kebeteulan sekali, ada yang ingin aku omongin. Mmm, aku harus mulai dari mana ya.” ia terdengar begitu kebingungan.
“Bicara aja De, dimulai dari Sabang juga gak apa-apa.” celetukku untuk membuat suasana menjadi lebih hangat dan rileks.
“Kamu tahu kan aku ini pendengar yang terbaik di dunia ini hahaha.. ayoo bicara saja De, jangan sampai aku malah ketiduran, ngorok sampai ileran nungguin kamu bicara.”
“Ah kamu ini bisa aja.” sahutnya.

“Raka, apa yang kamu katakan itu benar, aku tidak sanggup hidup seperti ini, aku tidak terbiasa dengan keadaan yang seperti ini, kamu pasti tahu dari kecil aku selalu hidup dalam kenyamanan dan serba ada. Ka, kalau aku kembali ke rumah itu dan berkumpul kembali dengan suamiku, apakah kamu akan marah, kecewa, dan membenciku? Akankah kamu tetap mencintaiku?”
“hmmm.. akhirnya dia menyerah.” kataku di dalam hati.
“Tidak De, aku tidak marah, aku tidak kecewa, aku tidak akan membencimu, namun aku tidak dapat mencintaimu lagi seperti saat ini. Kembalilah padanya, perbaiki hubungan kalian, dan jangan pernah melakukan kesalahan lagi.”

“Pulanglah…”

Cerpen Karangan: Boma Damar
Blog: bomadamar.blogdetik.com

Cerpen Pulanglah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Embun di Atas Awan

Oleh:
Aku memaksakan senyum dan memasang wajah ceriaku. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa benci dengan kepura-puraan ini. Aku benci jika harus mengucapkan sayang di hadapannya. Aku benci

Harusnya Aku Menikah

Oleh:
Harusnya aku menikah tahun ini. Tahun Naga, 2012. Tahun yang akan membawa keberuntungan banyak buatku. Tahun yang akan menguatkan aku dalam berbagai situasi. Tahun yang akan menebarkan benih-benih kebahagiaan

Menanti Ketidakpastian

Oleh:
Hembusan angin pagi yang sejuk membuat aku mengingat suatu perasaan yang lama terkubur dalam, dimana perasaanku seakan membawaku terbang bersama semua kenangan indah yang kulalui bersamanya dulu. kenangan yang

Aku Cinta Kau dan Dia

Oleh:
“Nay, aku sayang kamu, kamu mau jadi pacarku?” Kata-kata itu selalu terngiang di telingaku. Bukan hanya satu orang yang mengucapkannya, tapi ada dua orang pemuda yang mengatakan kalimat indah

Hujan Penuh Kasih

Oleh:
Malam itu, aku sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Karena, Mama dan Papa baru pulang dari Jerman. Karena tidak memungkinkan untuk kedua orangtuaku pulang ke rumah menaiki taksi, maka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *