Pura-Pura Punya Istri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 31 July 2015

Matahari yang kini tak mau lagi menyinari bumi, akan berpindah ke sebelah barat menandakan bedug magrib akan segera datang. ‘Aku tertipu, aku terjebak, aku terperangkap muslihatmu…’ suara nada dering pertanda ada sms masuk. Jari jemari aku merangkul hp dan memijit tombol buka kunci, tertera sms dari nomor tak dikenal, perlahan rangkaian kalimat muncul.
“Hai, de Mita kenal Andin dari siapa? Gimana kabarnya? Lagi mau buka puasa ya?” rentetan kata demi kata kini telah aku baca. ‘Nomor siapa ya? Andin? Perasaan aku gak punya teman namanya Andin?’ Beribu pertanyaan dan penasaranku tentang pengirim sms tersebut. Aku pun mengetik satu persatu huruf yang dirangkainya dalam beberapa kalimat berupa pesan singkat.
“Hai juga, maaf ini Andin mana ya?” Kembali nomor tak dikenal pun membalasnya.
“Mit, ada waktu gak? Aku mau ngobrol banyak sama kamu, bisa gak kita ketemu?” Aku semakin penasaran siapa pengirim sms yang sok kenal dan sok dekat itu.

Rasa penasaran aku akhirnya terjawab sudah ketika nomor tak dikenal itu menghubungiku. Tiba-tiba panggilan masuk dari nomor tak dikenal tadi nampak di layar hp aku, spontan aku memijit tombol hijau dengan gambar gagang telepon. “Ya Halo siapa ya?” suara lembut Mita mengawali pembicaraan.
“Mit, sekarang dimana? Masih di Dago?” suara pria di seberang sana menjawab sapaannya. Mita akhirnya mengenali suara itu, suara yang bikin dia tak bisa tidur dan selalu terbayang wajahnya, dia adalah sosok pria yang pernah menabur benih cinta di hatinya. Suara itu kini aku dengar lagi. Saking senangnya aku lompat-lompat di atas kasur menjerit “yes yes akhirnya..”
“Akhirnya apa Mit?” terdengar suara di seberang sana.
“A.. a..apa? Tadi kamu ngomong apa?”
“Eh ditanya malah balik nanya?” ledek cowok itu. “Sekarang aku di Lembang” Terjadilah pembicaraan dua pasang sejoli yang sudah lama tak bersua dan tak ada komunikasi.

1 minggu kemudian mereka sepakat untuk ketemuan. Hari ini tepatnya pukul 4 sore Rifki akan datang ke rumah Mita. ‘Aduh aku pakai baju yang mana ya, aku bingung. Pokoknya aku harus kelihatan cantik, mudah-mudahan aja dia suka dan nembak aku’ harap Mita.
“Mah, baju ini cocok gak?” Mita membawa kaos putih pendek dan bolero warna ungu.
“Emm bagus bagus, cocok kok, kamu mau ketemu siapa sih, kok anak mamah jadi ganjen begini sih, gak biasanya deh?” Ledek mamah mencubit hidung Mita.
“Ih ada deh mah, pokoknya aku mau ketemu pangeran aku yang sudah lama aku nanti, dia ganteng, kalem, cool, pokoknya mamah pasti suka deh.”
“yaudah, mamah ikut seneng kalo kamu juga seneng, tapi ingat jangan terlalu girang gitu, ntar malah sakit hati.” Celetuk mamah sambil pergi meninggalkan Mita.
“Ikh mamah kok gitu jahat sama anak sendiri, malah nakut-nakutin aku, dia baik mah gak mungkin nyakiti aku.”
“Tapi siapa yang tahu kan, cowok zaman sekarang jarang yang bener, apalagi kamu belum kenal betul dengan dia.” Suara mamah terdengar kecil.

Aku keluar dari kamar dengan mengenakan kostum yang sudah dipilih mamah, jeans warna hitam, kaos pendek putih yang dibalut dengan bolero ungu, rambut ikal dengan poni samping.
“waduh waduh anak mamah cantik banget mau kemana sih?” Tanya mamah dengan tawa kecil yang sedang duduk di ruang TV.” Mita menghampirinya. “Mah, kok jam segini Rifki belum datang juga ya?”
“Emang kamu janjian jam berapa? Dia tahu rumah kamu di sini?” Tanya mamah membelai rambutku.
“Jam 4 mah, tahu, dia akan hubungi aku kalau udah nyampe gang mawar, ntar aku jemput dia disana,”
“baru juga jam 4 kurang, coba sms dia!” saran mamah.

Selang 1 menit mamah ngasih saran. Suara hp Mita berdering, “Mah, Rifki sms,” Mita senang dan langsung membuka sms tersubut. ‘Mit, sorry banget, aku gak bisa datang sore ini, aku harus nganter sepupu ke bandara, dia mu pergi ke Kalimantan. Maaf banget aku udah ingkar janji, tapi beneran aku gak bohong, dadakan banget sepupu aku pergi’ untaian kata dari Rifki yang membuat Mita kecewa. Perlahan air mata Mita menetes satu-persatu.
“Kamu kenapa sayang? Rifki gak jadi datang ya?” Mamah mengusap air mataku yang berjatuhan, sambil membaca sms dari Rifki.
“Udah jangan sedih gitu, mungkin belum saatnya kamu bertemu dengan dia, alasan dia juga masuk akal kok, mungkin saja gak ada orang lain yang bisa mengantarkan sepupunya, terpaksa Rifki yang mengantarnya.”
“hiks, hik” Tangisan Mita makin kencang.

Rifki ngajak ketemu lagi, tapi aku gak bisa karena aku sakit. Sosok Rifki sangat berarti kalau ada di sampingku ketika aku terbaring letih dengan penyakit yang menimpaku sekarang. Aku terkena gejala DBD, tapi aku hanya dirawat di rumah. Seharusnya aku dirawat di RS, tapi aku keukeuh gak mau, mendingan di rumah saja, paling dokter dan perawat yang datang ke rumahku.
Aku jenuh dengan suasana kaya gini, pengen cepat sembuh. Aku kirim sms ke Rifki ngasih tahu kalau aku sakit, karena sejak kita batal ketemu kita gak pernah sms atau telepon lagi. ‘Haiii Rifki, gmn kabarnya? Oia aku kena gejala DBD, tapi cuma dirawat di rumah kok.’ Rifki pun membalas sms aku. Tapi apa yang terjadi dia membalas sms dengan sangat sangat begitu singkat hanya dua huruf yang dia kirim untukku, tak sedikit pun basa basi atau ngasih semangat untukku agar aku cepet sembuh. ‘oh’ dua huruf ‘o dan h’ yang Rifki kirim untukku. Aku tak mengeti apa yang terjadi. Rifki jadi kaya gitu, padahal salah apa aku padanya, belum sempat juga ketemu masalah datang menghampiri dan tak tahu apa sebabnya. Ketika aku balas smsnya lagi ‘Ki, kenapa kamu jadi gini, kok kamu jahat sama ku, aku cuma ngasih tahu aja.’
‘mulai saat ini kamu jangan ganggu aku lagi aku sudah punya istri.’ Balas Rifki lagi. Aku kaget membacanya, apa benar dia sudah punya istri, rasanya lengkap sudah penderitaanku, aku lagi sakit orang yang aku harap memberi dukungan agar aku cepet sembuh malah menyakitiku. Aku ingat kata mamah pas pertama kali aku akan bertemu Rifki. Mamah bilang jangan terlalu percaya cowok, ntar malah sakit hati. Ternyata mamah benar, cowok memang gak bisa dipercaya.

Esok hari. Aku sudah 6 hari terbaring di kasur, tapi panasku tak kunjung turun, tetap dengan 39 derajat. Aku sudah bosan makan bubur aja, minum jus jambu biji dan jus kurma. Sudah 4 kantong infus mengaliri tubuhku. Rasanya sudah enek mulutku menampung makanan itu terus, aku pengen cepet sembuh. Mamahku yang selalu setia mendampingiku, karena cuma kami berdua yang tinggal di rumah. Papahku yang kerjanya ke luar kota aja, hanya 3 bulan sekali beliau pulang, kakakku satu-satunya Kak Aldi kuliah di UGM (Universitas Gajah Mada) yang kini sudah Semester 6 ngambil jurusan Teknik Kimia, beda 3 tahun denganku. Sekarang aku kelas 3 SMA. Jadi sangat sepi sekali di rumah ini, makanya aku deket banget dengan mamahku, udah kaya teman dekat.

Hpku berdering, pertanda sms masuk, aku baca dengan wajah lemas ‘hai, mba temannya aa Rifki ya? Saya istrinya aa. Mbak Temannya yang mana waktu sekolah atau kerja? Jangan-jangan mbak ya yang suka pergi sama aa, dia suka smsan sama mbak kan? Akhir-akhir ini aa sering pergi dan cewek itu, aku gak percaya Rifki udah punya istri, ini lagi masa dia udah punya anak pula. Apa benar ya? Segudang pertanyaan Mita yang benar-benar gak tahu apa yang terjadi, ataukah ini mimpi. Mita mencubit tangannya. “Awww” ternyata ini bukan mimpi. Aku balas sms tadi ‘aduh maaf mbak, saya gak tahu kalau Rfiki pergi kemana, saya belum pernah ketemu Rifki lagi, saya teman lamanya, maaf kalau saya udah ganggu rumah tangga kalian, salam buat malaikat kecilnya.” Huuuh cape aku denger semua ini, kapan aku sembuh kalau pikiran aku banyak beban gini.

“Mita, bangun nak, minum obat dulu” mamah membangunkanku megang jidatku. “Alhamdulillah mit, panas kamu turun.” Mita pun bangun.
“Ada apa mah?”
“Makan obat dulu sayang, tapi kamu harus makan dulu ya”
Aku pun makan satu mangkuk bubur tanpa rasa, dengan lauk sayur bayam, telor rebus dan pepes ayam disuapi mamah. Dua tablet aku minum dan kini telah bereaksi di tubuhku. Akhirnya setelah 6 hari selang infus mengaliri tubuhku, kini dilepas, jus jambu dan jus kurma yang harus aku minum tiap hari untuk menaikan trombosit tak perlu lagi aku minum, sekarang aku harus bayak istirahat aja. Aku sembuh, tapi pikiranku masih ada beban, masih kepikiran Rifki.

Ku nyalakan TV di kamarku, aku kangen dengan tontonan OVJ (opera Van Java), yang sangat menghibur banget ketika aku sakit, kini setelah aku sembuh aku tetap nonton acara TV tersebut. Dengan adegan Sule yang sangat ekspresif dan pemain lainnya aku suka banget. Bikin pikiran plong. Tak lama kemudian sms masuk dari Rifki ‘heh kamu kenapa smsan sama istri saya, jangan ganggu kita lagi.’ Sms itu kembali menghantuiku lagi, aku sudah enyah dengan sms yang dikirim Rifki ataupun itu istrinya ataupun itu pura-pura istrinya. Yang jelas aku muak dengan semua ini, aku makin bingung, aku gak percaya Rifki kaya gitu, pasti ini bohong, Rifki gak mungkin sudah berkeluarga.
“huff aku cape” Mita merebahkan badannya di atas kasur.

Rifki adalah cowok yang pertama kali aku cinta, dia cinta pertama aku. 3 tahun yang lalu aku dikenalin oleh sepupuku dengannya, Rifki adalah kecengan sepupuku sejak SMA, tapi setelah aku dipertemukan dengan dia, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, aku tahu dia kecengan sepupuku Oni, aku pun gak akan tega menyakitinya. Rasa cinta yang selama ini aku pendam tak diketahui Oni. Aku malu kalau aku bilang Oni bahwa aku juga suka Rifki, aku gak mau jadi pagar makan tanaman, walaupun Rifki hanya kecengan saja belum jadi pacar Oni, tapi tetep aku gak enak. Bukannya aku GR, ketika pertama kali bertemu kayanya Rifki suka aku juga. Soalnya Rifki datang ke kontrakan aku dulu yang di Dago untuk menemuiku bukan menemui Oni. Tapi aku pura-pura tak menaruh rasa, agar Oni tak curiga. Setelah Oni cerita bahwa dia sudah tidak menaruh harapan lagi pada Rifki, karena kini dia sudah mempunyai sang pujaaan hati. Dari situ aku jujur ke Oni, bahwa aku suka sama Rifki sejak pertama kali bertemu, dia membuat aku gak bisa tidur, dia cinta pertama aku. Ketika itu Oni syok mendengarnya, Oni bilang kenapa gak dari dulu aku ungkapin itu, Oni dari dulu juga udah gak suka sama Rifki. Aku certain semuanya bahwa aku takut membuat Oni sakit hati, aku takut kalau aku disangka pagar makan tanaman (istilah untuk orang yang merebut pacar temannya/saudaranya). Setelah Oni ikhlas kalau dia gak apa-apa dengan perasaanku kepada Rifki, dia malah support aku untuk deketin dia kembali. Nah setelah aku tunggu-tunggu inilah saatnya aku mau ungkapin semua rasa yang sudah aku pendam selama 3 tahun, tapi ternyata Rifki sudah punya istri. Aku harus bagaimana lagi aku tak bisa berpikir lagi, tak tahu mana yang benar, apakah benar dia sudah berkeluarga, tapi hati kecilku mengatakan dia masih single. ‘yeh aku punya ide, aku telepon aja ke rumahnya, aku tanya aja saudaranya’ celetuk Mita kegirangan. Tapi Mita mengurungkan niatnya, takut disangka cewek keganjenan yang ngejar-ngejar cowok.

“Haloo, bisa bicara dengan Rifki?”
“Ya, siapa ini?” suara laki-laki menjawabnya.
“Saya temannya, tapi saya cuma mau nanya aja mas. Rifki udah berkeluarga ya? Udah punya anak ya?” Mita bertanya gelagapan.
“kata siapa? Ngga ah, Rifki masih bujangan.”
“alhamdulillah..lega rasanya mas.”
“hei lega kenapa neng?”
“ngg..nggga mas, makasih ya mas.”
“Loh gak jadi mau bicara dengan Rifki?”
“ga usah deh mas, nanti aja yang penting sekarang udah ada jawaban dulu.”

Mita menutup telepon. Tadinya Mita mengurungkan niatnya untuk nelepon ke rumah Rifki, tapi setelah satu minggu, aku kepikiran aja, serasa ada beban dan unek-unek yang mengganjal di hatiku. ‘Akhirnya lega juga rasanya hati ini setelah mendengar Rifki masih bujangan.’ Mita mengelus dadanya sendiri dengan tarikan nafas panjang. Barusan aku nelepon ke rumah Rifki sekedar memastikan aja kalo Rifki belum punya istri apalagi anak. Huuuh. Tadi yang ngangkat telepon kakaknya Rifki yang laki-laki, dulu dia sempat cerita punya 3 saudara yang 2 laki-laki, yang 1 perempuan, Rifki anak bungsu. Pokoknya pencarian Rifki akan aku terusin minggu depan aja.

Siang ini matahari begitu terik, panasnya seakan membakar kulit, keringat bercucuran seakan habis sauna. Aku turun dari angkot, bergegas pulang menuju rumah, sebelumnya aku mampir dulu di warung langgananku Pak Sobirin yang menjajakan bakso dan aneka minuman pelepas lelah dan dahaga. Kali ini aku hanya membeli es kelapa muda saja, biasanya dengan semangkok bakso, tapi perutku sudah kenyang karena di sekolah tadi makan nasi kuning.
“eurrgghh…” sendawaku agak keras setelah tegukan terakhir. “Nih pak uangnya, makasih ya pak.”
“Kok buru-buru neng, biasanya kan diem dulu ngobrol-ngobrol sama bapak?”
Tanya Pa Sobirin sambil ngasih kembalian.
“Gak ah pak aku ada urusan penting nih, dah bapak.”

Mita meninggalkan warung itu.
Tiba di rumah aku menyimpan tas di pinggir lemari TV, belum sempat aku ganti baju, mataku langsung tertuju ke arah tempat telepon, gagang telepon aku angkat, tanganku dengan lincahnya memijit nomor yang akan menghubungkanku dengan Rfiki.
“Halo..” Rifki mengangkatnya langsung.
“Halo, Ki, ni Mita, kamu kenapa sih kok kaya gitu, awalnya kita kan baik-baik ingin ketemu, tapi kamu malah kaya gini, apa salahku, tanpa sebab tiba-tiba kamu ngaku punya istri dan punya anak, kapan kamu nikahnya? Ini semua bohong kan, aku udah tahu semuanya dari kakak kamu. Kamu belum nikah. Tapi aku aneh aja dengan sikap kamu, kalau kamu gak suka aku, bukan gini caranya, kamu kaya anak kecil tahu.” Mita mengeluarkan semua unek-uneknya dengan nada agak tinggi.
“euh, ia aku juga ngerti, maafin aku ya, gak tahu kenapa waktu itu aku lagi labil aja, ntar deh aku ceritain.” “kamu ada masalah ki? Cerita atuh?” logat sunda Mita keluar. “gak apa apa kok, jadi kapan nih kamu ada waktu untuk ketemu denganku?” Pinta Rifki.
“Ah aku gak mau kaya dulu lagi takut sakit hati.” Mita mengelak. “ya udah besok kita ketemu, aku jemput kamu ke rumah, tunggu di gang mawar ya!” Belum sempat Mita menjawab, Rifki memutuskan pembicaraan.

Teras rumah yang bersih, bunga-bunga pun bermekaran seakan tahu isi hatiku yang lagi gembira menyambut kedatang pangeran. Aku duduk di kursi teras, sambil senyam-senyum sendiri kaya orang yang dimabuk asmara. Rifki menghubungiku ternyata dia sudah sampai di gang mawar. Aku bergegas kesana.
“hai, kamu cantik sekali, sudah lama kita gak berjumpa, jadi kurusan ya sekarang.” Baru juga datang Rifki menggombal memujiku. Hatiku senang gak kepalang, badanku seakan melayang ke langit, dan tak mau terjatuh, mendengar pujian dari Rifki. “Akh kamu bisa saja, mau kemana kita?”
Mita menjawab dengan senyuman kecil sambil menunduk malu.
“Ayoo naik, aku akan ajak kamu ke suatu tempat.” Motor Vespa merah pun membawaku melaju kencang. Aku tak percaya dengan semua yang terjadi hari ini, serasa mimpi ketemu pangeran. “Mit, pegangan, aku mau ngebut.” Rifki menoleh ke belakang. Kedua tanganku pun merangkul pinggang Rifki, dan menyatukan jari-jemariku. Begitu hangatnya memeluk Rifki, hal ini tak pernah terjadi dan terbayangkan sebelumnya. Aku gak mau lepas dari pelukannya, ingin tetap berada disini. Tak terasa kita sudah sampai di tempat yang begitu indah, belum pernah aku menemukan suasana seindah ini, pemandangan yang hijau nan asri yang dikelilingi kebun teh, dengan hiasan jalan yang berliku-liku dan gunung menjulang tinggi, dengan gumpalan awan yang cerah, suasana yang pas banget. Walaupun aku berdomisili di Lembang, tapi aku orang rumahan yang gak pernah main jauh, makanya aku gak begitu tau tempat yang bagus. Rifki mengajakku ke tempat yang bikin hati tentram dan damai, apalagi ditemani sang pangeran yang tampan, Rifki sekarang makin ganteng, setelah 3 tahun kita gak ketemu. Dengan sedikit poni samping dan badan yang agak berisi, setelan sweater abu dan celana jeans hitam, dulu dia kurus. Kita pun duduk di bawah pohon, kami pun memulai pembicaraan.

“Ki, kamu makin ganteng.” Mita memuji menatap wajahnya.
“yeh siapa dulu donk, Rifki.” Rifki narsis menepuk dadanya, seakan bangga.
“kamu kenapa sih dulu bilang udah punya istri dan anak? Sebenarnya dari dulu aku menyimpan sesuatu padamu.
“Dulu aku lagi labil dengan cewekku yang begitu posesif, makanya aku bilang aja aku punya istri dan anak, karena cewekku dulu sangat pencemburu.” Harapan Mita sirna mendengar Rifki punya cewek. “Tapi aku udah putus kok sama cewekku, sekarang aku mau kamu.”
“hah apa kamu bilang, kamu mau aku?” Mita kaget dan sedikit senang. “kalo aku jadi pacarmu, kamu gak keberatan kan?”

Dua pasang mata saling bertemu, seakan tak bisa dialihkan.
“Beneran Ki, sebenarnya aku udah dari dulu suka sama kamu, kamu adalah cinta pertamaku, kamu laki-laki yang pertama kali bikin aku gak bisa tidur, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi dulu aku malu mengungkapkannya, kamu begitu dingin, padahal aku bisa lihat dari sorotan matamu kamu juga dari dulu udah suka kan sama aku, hayo ngaku? Sebenarnya kamu kecengan sepupuku Oni, aku malu kalau harus merebut kamu dari dia.” Mita menceritakannya panjang lebar, tanpa memberikan sedikit waktu untuk Rifki bicara. Seperti mendongengkan anak kecil yang hendak tidur.
“ouuh jadi dari dulu kamu udah suka sama aku, Oni ngecengin aku Mit? Tapi aku sukanya sama kamu, ya deh aku ngaku emang udah dari dulu aku suka kamu, tapi aku juga malu, takutnya kamu udah punya pacar.” Rambut Mita dielus manja.
“kalo kamu gak nanya ya gak kan tau lah.” Mita jawab ketus.
“Ya udah yang penting sekarang udah jelas, sekarang kita jadi pasangan kekasih deh.” Rifki menarik badan Mita menempelkan ke badannya.
“hehehe, kamu tuh ya” jawab Mita manja membalas rangkulan Rifki. Akhirnya aku dan Rifki resmi jadian, aku seneng banget ternyata dia pura-pura punya istri, aku berharap dia cinta pertama dan terakhirku.

Cerpen Karangan: Heliyati
Facebook: heli648[-at-]yahoo.com

Cerpen Pura-Pura Punya Istri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penantian Yang Semu

Oleh:
Apakah sebuah penantian akan membuahkan hasil. Apakah akan ada cinta yang akan terbalaskan, meskipun tak pernah terucap dan tak pernah diketahui oleh yang dicintai. Inilah aku yang begitu mencintainya,

Cinta Yang Terdalam

Oleh:
“Banyak yang mengatakan makna cinta sendiri itu sebenarnya apa? ENTAHLAH aku sendiri pun tidak tau pasti tapi disini aku bercerita tentang cinta yang terdalam, ada banyak jenis cinta di

Johan (Jodoh di Tangan Tuhan)

Oleh:
Hari ini kerjaan lagi numpuk. Nggak ada waktu buat istirahat. Suasana di kantor tampak sepi. Hanya ada aku dan Febri rekan kerjaku yang solid. “Rajin bener lu? Istirahat dulu

Berawal dari OSIS

Oleh:
Kriiing, alarm berwarna biru muda berbentuk doraemon langsung membangunkanku. Namaku sasa aku merupakan anak tunggal di keluargaku, dan keluargaku termasuk keluarga yang berada. Hari ini hari pertama aku bersekolah

First Love

Oleh:
Langit yang cerah menjadi kelabu. Mentari tak lagi menyinari dunia ini. Mendung kembali menyelimuti. Seakan petir menyambar tubuhku hingga ku terhempas. Menatap sendu dari kejauhan dirimu yang pergi meninggalkanku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *