Remember You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 June 2016

7 Mei 2013
Surat pemberitahuan tentang Perpisahan Angkatan tergeletak dengan pasrah di tanganku. Aku terpaku.

Aku mau lulus, ya? Cepat sekali. Sebentar lagi masa ini akan berakhir. Lalu bagaimana dengan Rio? Bagaimana dengan perasaanku yang sudah terlanjur melaju untuknya selama tiga tahun ini? Apalagi ini rasa tak terungkapkan.

“Kenapa dilihatin? Suratnya nggak bakalan peka sama pikiranmu, Ke,” celetuk seseorang. Aku menoleh. Cowok yang tingginya setara denganku dengan cengiran tengilnya yang khas telah menjulang di sampingku persis.

Aku merengut.

“Bercanda, Ke. Kenapa sih? Kayaknya setelah nerima surat kamu jadi beda,” protes Rio.

Iya, aku beda. Karena aku takut kehilangan kamu, Yo.

“Ngelamun lagi,” cetusnya sambil menepuk bahuku dengan keras. “Oh iya, Ke. Tepat sehari setelah perpisahan, aku langsung ke kota, ikut saudaraku.”

Hah?

“Jadi?” suaraku tercekat.

“Jadi, aku lanjut sekolah di kota, Ke,” ejanya dengan sabar. Serasa aku anak TK yang tak paham dengan materi pelajaran. “Jangan nyariin, ya,” tambahnya lalu tertawa renyah.

Mana mungkin? Tak semudah itu, Yo.

19 Mei 2013
Kemeriahan acara Perpisahan telah berakhir setengah jam yang lalu. Namun euforia siswa masih melekat di sini.

Di depan papan tulis, aku duduk sendirian. Memang, di luar masih banyak teman-temanku yang bersalaman sambil mengucapkan salam perpisahan dan aku melihat dengan jelas. Tapi seakan-akan aku sendiri di sini. Memikirkan semuanya. Kehidupanku dari pertama masuk sekolah ini sampai perjuanganku hampir selesai menempuh sekolah menengah pertama. Dan aku memikirkan Rio.

“Eh, anak cupu! Pinjem PR-mu cepetan!” Rio berseru tak sabar dari bangku belakang sambil menggerak-gerakkan bangkuku. Aku sewot setengah mati. Namun aku tak bisa melakukan apa-apa. Mengingat aku hanya gadis pendiam dan agak diperlakukan berbeda oleh anak-anak sekelas. Temanku pun tak lebih dari sepuluh.

Aku tak menggubris gangguan darinya. Tapi ada satu hal yang ku sadari, bahwa semakin lama aku menyukai Rio, si Sengak.

Hingga suatu ketika, aku menolongnya dari hukuman BK karena ulah teman-temannya sendiri. Dan sejak saat itu dia meminta maaf padaku.

“Makasih, Ke. Aku bener-bener ngerasa nggak enak sama kamu,” ucapnya sambil menunduk. Aku tersenyum.

“Ke? Ikut ke kantin, nggak?” teriak salah satu teman sekelasku.
Aku tersenyum dan menggeleng pelan.

“Nggak. Makasih.”

Aku tadi sudah melamun sampai mana? Ah, sudahlah. Aku menunduk, menatap kedua tanganku lekat. Sanggupkah tangan ini melambaikan tangan untuk si Sengak?

Seandainya aku bisa memilih, lebih baik aku tak menjadi temannya. Karena tahukah? Benih-benih cinta itu tumbuh seiring kebersamaan kami. Seharusnya aku tak menolongnya dulu.

Sengak, tahukah kamu? Kau menyakiti ingatanku!

“Keke!”

Seruan seseorang mengagetkanku. Refleks, aku memanggilnya tapi dengan lain nama.

“Sengak!”

Ups! Benar-benar kacau.

“Sengak?” ulangnya dengan kening mengernyit kentara.

Aku mengibaskan sebelah tanganku. “Nggak pa-pa. Ada apa?”

“Aku minta maaf banget,” lirihnya. Lalu dari balik punggungnya, ia menyodorkan lembaran kertas. Aku seperti mengenalinya.

Satu detik. Dua detik. Aku terkejut.

“Yo, kamu apain naskahku?” jeritku tak tertahan. Aku merebut naskah cerpenku yang sudah hangus sebagian.

“Tadi nggak sengaja jatuh di pembakaran sampah,” jelasnya. “Tapi kamu masih ada copyannya, kan? Nanti aku printin lagi sekalian aku kirim ke redaksinya langsung. Aku janji aku bakal tanggungjawab,” lanjutnya dengan intonasi yang meyakinkan.

Aku menggeleng lemah. Sedih. Mataku berkaca-kaca.

“Aku nggak punya laptop, Yo. Dan aku juga nggak punya flashdisk,” jawabku pelan. Seketika suaraku berubah. “Kenapa kamu hancurin ini, Yo? Kamu tahu, kan? Hari ini deadline! Terus aku harus gimana?”

“Ke, aku minta maaf…”

“Nggak perlu,” potongku ketus dan berdiri di hadapannya. Menatap matanya lurus. Seketika seluruh tubuhku bergetar, seperti memiliki firasat baru. Apa mungkin ini hari terakhirku menatap lekat matanya?

“Terimakasih untuk selama ini.” Hah, kenapa aku malah ngomong seperti ini? “Kamu salah satu orang yang sudah berhasil mengubahku, memberiku motivasi dan penyemangat. Aku bersyukur sudah bisa menjadi temanmu. Dari sebuah ketidakmungkinan menjadi sebuah kenyataan.”

Airmataku menetes.

“Terimakasih, Rio,” ucapku dengan mulut bergetar. Lalu sebisa mungkin untuk tersenyum.

Aku menepuk bahunya tiga kali dan memberi senyum getir. Setelah itu aku berlari ke luar kelas.

11 Februari 2014
Setelah hari dimana Rio menghancurkan naskahku dan membuatku diputus kontrak oleh redaksi dan juga memutuskan kontakku dengan Rio, aku tak pernah melihatnya lagi. Bukan karena aku masih marah padanya, tapi karena situasi dan kondisi-lah yang membuat hal ini terjadi.

Aku merindukannya. Sungguh.

Dua lembar kertas HVS kukeluarkan dari dalam tas sekolahku. Kertas itu bukan hanya sekedar kertas kosong biasa, tetapi tertulis banyak paragraf disana. Seperti sebuah surat panjang. Kertas ini dari Rio, pagi sebelum dia berangkat ke kota. Dan juga, ini satu-satunya kenang-kenangan dari dirinya yang aku punya.

Ada satu paragraf yang membuatku selalu terpaku.

“Ke, apa kabar? Hari ini aku berangkat. Seharusnya kamu ikut mengantarku ke bandara. Tetapi karena aku membuatmu marah, aku harus menelan harapanku sendiri. Aku minta maaf karena telah menghancurkan impianmu. Aku hanya bisa mengganti naskahmu dengan kertas ini. Maaf ya? Biar aku tenang jauh dari kamu. Tapi ada satu hal yang dari dulu pengen aku ucapkan di depanmu. Kalimat yang telah aku sadari dari kelas tujuh. Aku menyukaimu.”

23 April 2015
“Aku lanjut sekolah di kota, Ke.”

Kututup mataku. Kalimat itu masih terngiang jelas. Padahal sosokmu sudah tak ada lagi di hadapanku. Bagiku, perkataannmu secara tidak langsung mengatakan salam perpisahan.

“Ke? Are you okay?” tanya gadis berjilbab tebal di sebelahku.

Aku mengangguk, sekedar mengurangi rasa khawatirnya padaku.

Masih di sini. Di sekolah menengah pertamaku dulu. Permintaanku siang ini cukup aneh memang. Aku ingin kesini, mengingat semuanya walau ujung-ujungnya agak perih jika ada ingatan itu yang datang. Tapi pas ditanya kenapa, aku cuma jawab “Sekedar nostalgia.” Hihi.

Kulintasi semua kelas demi kelas yang ada di sini. Tak ketinggalan pula ruang laboratorium dan lapangannya. Sengatan sinar mentari dan suara desahan angin bagai mengetuk pintu kenangan. Dan… sosok itu hadir lagi di pikiranku.

Ah, kenapa dua tahun berlalu dengan cepat? Kenapa pula membuatku berbalik? Beritahu aku, Yo.

Aku belum bisa ngomong jujur sama kamu. Bicara semua hal yang tersimpan rapi untukmu. Dan memperbaiki rantai putus di antara kita. Tapi… Kamu telah pergi. Pergi tanpa pamit. Dan pergi jauh dari tempat ini.

Mungkinkah kita bertemu kembali?

Mengulang semua hal indah yang pernah terjadi?

Dan memperbaiki semua kesalahan yang telah terjadi di antara kita?

Harapankah ini namanya? Apakah ini hanya sebatas angan saja? Aku merindukan semua tentang dirimu, sungguh. Ketika kau berjalan di depanku, ketika kau melewati kelasku, ketika tatap mata kita berbicara, dan ketika kumampu menyimpulkan.

Bayangan masa lalu berhenti saat aku berdiri di tepi lapangan basket. Ah, seperti ini rasanya kehilangan.

Aku tahu, aku tak bisa memaksa semua hal indah harus terulang kembali dalam hidupku. Aku tahu tak seharusnya aku mengharapkan demikian. Aku hanya menyesali sebuah hal. Ucapan nyata darimu.

Ingin kembali ingat kisah kita saling pandang tak mampu ungkap kata. Dan hanya hati yang mampu bergetar. Menahan gejolak itu. Dan kurasa kita sama-sama tahu bahwa kita punya rasa yang sama.

Yo, aku tak bisa membiarkan kisah ini terus terputar di otakku yang tiada henti memikirkanmu. Aku harus bisa melupakanmu. Karena kupikir, kau hadir dan hanya singgah sementara di hidupku. Melengkapi sejarah dan perjalanan hidupku, dan tentu saja, dalam kisah cintaku.

Langkah kakiku mulai meninggalkan bangunan penuh kenangan ini. Dalam hati aku bergumam, selamat tinggal. Semoga jika kita ditakdirkan berpapasan lagi, kisah kita yang terjadi akan berbeda juga.

Cerpen Karangan: DheaMboxwrite
Facebook: Dhea Alivia
Masih tercatat sebagai siswi di SMA NEGERI 1 COMAL, Kelas XII IPS 1. Cerpen pertama di cerpenmu.com. Tinggal di Comal, Pemalang, Jawa Tengah.
Bisa memebaca ceritaku yang lain di akun wattpadku: @dheaaalv_
Facebook: Dhea Alivia
Instagram: @dheaaalv_
Twitter: @dheaaalv_

Cerpen Remember You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terimakasih Hujan

Oleh:
Sepulang sekolah, aku dan teman kelompokku, Tika, Ersa, Dian, Rifky dan Rezki berniat berlatih dance di rumah Rifky. Rumah Rifky kami pilih karena rumah Rifky lah yang paling dekat

Cerita Keihidupan Biasa Saya

Oleh:
Satu untuk semua, tindakan ‘heroic’ dimana satu orang mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang lain, atau itulah yang mereka sebutkan dan secara bodohnya mempercayai hal tersebut. Yang mereka sebut satu

Apakah Semua Masih Bisa Seperti Dulu

Oleh:
Kata orang masa putih abu-abu itu adalah masa-masa menyenangkan dimana kita sudah mulai bisa belajar kedewasaan. Cerita ini kuawali sewaktu aku duduk di bangku SMA. Disini aku mulai mengenal

BFF (Best Friend Forever)

Oleh:
Ini adalah sebuah kisah nyata antara GANG OPLOSAN (GO) dan GANG TIGER (GT) yang bersatu menjadi SCP. “Hey, liat tuh anak GT, Jajanannya itu-itu doang! Kagak bosen kali yah?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *