Remuk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 8 June 2013

“Sial, hujan lagi… hujan lagi…” itu kata pertama yang keluar dari mulutku ketika hujan datang. Perlahan ku buka korden kamarku, tak ada yang bisa di lihat dari sana, hanya air hujan yang menempel di kaca jendela. Dingin, sungguh dingin sore ini, membuatku mau tak mau menurunkan temperatur AC menjadi 22° Celcius. Kupalingkan pandanganku ke meja kerjaku, kupejamkan mataku beberapa detik, kutarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

Kuputuskan untuk menyelesaikan setumpuk makalah yang belum ku edit, menjadi seorang editor tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Dan pekerjaan ini mencuri waktu tidurku. Beep.. beep… sebuah sms masuk ke ponselku, sebuah ajakan makan malam dari pacarku, Bela, dia tak secantik gadis-gadis yang ada di televisi, tapi dia memiliki daya tarik yang membuatku terjerat dan memutuskan untuk memacarinya, setelah dua tahun kusembunyikan perasaanku padanya. Kuiyakan ajakannya, untunglah hujan sudah mulai reda.

Bela duduk di deretan paling belakang, di warung makan langganan kami, tak ada menu lain selain nasi goreng, mie, dan capjay disana, tapi kami sangat menyukai masakan koki yang tak pernah kami temui itu, aku selalu membayangkan sang koki itu berperut buncit, berkumis, dan memakai topi ala chef seperti yang ada di kartun-kartun, Bela pun demikian. Makan malam hari ini sangat menyenangkan, pertama karena aku memang lapar, kedua aku bisa bertemu dengan Bela, dan ketiga karena hujan sudah benar-benar reda.

“Halo Bel..” Seorang laki-laki menyapa Bela, membuat raut mukanya berubah, Bela tampak kaget, namun juga senang bertemu dengannya. Lelaki itu memiliki wajah yang cukup tampan, aku yakin perempuan yang melihatnya pasti tertarik, dia memiliki daya tarik, tampaknya dia terbuat dari magnet yang berbeda kutub dengan perempuan. Mereka bersalaman. Dan aku hanya melihat. Bela tak memperkenalkanku, tapi setiap kali pandanganku dan lelaki itu bertemu, kami saling melemparkan senyuman terbaik kami. “Siapa?” Tanyaku saat lelaki bernama Aham itu pergi meninggalkan kami. “Temen SMA” Jawab Bela singkat sambil tersenyum.

Minggu, saatnya untuk pergi melihat apa yang berubah dengan kota kelahiranku ini, bukan mencari udara segar, karena tak ada udara segar di kota metropolitan seperti ini, aku hanya ingin ke luar rumah, pergi kemanapun aku mau. Awalnya aku pergi ke warnet, bermain game online, lalu ke warung tempat nongkrong dengan teman-temanku semasa SMA, terakhir aku pergi ke toko buku.
“Rey..” seseorang yang kutahu hanya namanya itu menyapaku, Aham, dia mendekatiku sambil membawa buku yang tertulis namaku di sampul depannya sebagai editor. “Rey Zidan, ini kamu kan?” Tanyanya sambil mengangkat buku itu dan menunjuk namaku yang berwarna hitam berhuruf tebal itu, “Bela bilang kamu editor buku ini, jadi aku penasaran buat baca buku ini.” Katanya panjang lebar, aku hanya berdiri mematung sambil sesekali tersenyum mendengar perkataannya. “Itu buku yang kedua, itu yang pertama.” Kataku sambil menunjuk buku berjudul Karya-Karya si Maha Karya. Perlahan kami mulai akrab, dan malam ini kami makan malam bersama, tentu saja aku yang mengajaknya, aku pula yang membayar makan malam ini.

“Bela… gak berubah semenjak SMA, gayanya sama, rambutnya selalu saja di ikat ekor kuda, poni miring, dan sedikit tomboi.” Kata Aham saat kutanya bagaimana Bela saat SMA. “Kamu tau banyak tentangnya.” Kataku sambil memasukkan sesendok nasi bakar yang mulai dingin itu. “Aku dulu pacarnya.” Jawab Aham, kuhentikan kunyahan kedelapanku, ku tatap mata Aham, bagaimana bisa dia berkata sejujur itu padaku? Aku tersenyum dan melanjutkan kunyahanku. “Dulu, sekarang dia punya kamu.” Aku tahu kata-katanya itu hanya untuk menutupi kekecewaannya, karena nada kekecewaan dan penyesalan itu terdengar jelas ditelingaku.

Ucapan Aham masih ku ingat dengan cukup baik, tentu saja, karena aku telah membuat satu folder di memori otakku yang berisi semua tentang Aham. Beberapa hari ini Bela tak bisa kutemui, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi beberapa kali aku menemui Bela sedang berjalan berdua bersama Aham. Tentu aku cemburu, tapi aku belum melihat perubahan sikap Bela pada Aham, ada semacam gelembung udara di antara mereka saat mereka bersama, Bela juga selalu menerima telpon, dan membalas sms ku meskipun dia bersama Aham. Hingga suatu hari Bela datang kerumahku dan berkata, “Aham berubah, dia berubah.” Aku tak tahu apa perbubahannya, aku juga tak ingin mengetahuinya, aku hanya ingin berpikir bahwa Aham adalah sahabat Bela, semasa SMA. “Kamu suka dia?” Tanyaku pada Bela saat tak ada satu katapun keluar dari mulut kami selama beberapa menit. Bela mengangguk. Aku kaget dengan jawabannya, sejak kapan semua orang disekitarku berani berkata “iya” tanpa basa-basi? Aku sangat ingin pergi menemui Aham dan menghajarnya, atau mungkin memberinya sedikit pelajaran. Tapi aku hanya diam, aku tak akan bertanya apapun tentang hubungan mereka jika Bela tidak menyinggungnya lebih dulu.

Seminggu sudah hubunganku dengan Bela merenggang, aku tidak menelpon dan mengirimkan sms jika dia tidak melakukannya terlebih dahulu, aku betah jika harus melakukan hal ini, ini mudah untukku, karena aku lelaki yang penuh dengan keegoisan. Lagi pula masalah ini bukan aku yang memulai.

Bela datang kerumahku, dia ingin meluruskan masalah yang sedang kami lalui ini, tapi perkatannya seolah mengatakan, Biarkan aku pergi dan kembali pada Aham.
“Aku kurang apa?” Tanyaku dengan nada tinggi, membuat Bela tersentak, matanya mulai basah, cairan bening berasa asin itu membasahi pipinya. Aku tak bisa begitu saja melepaskannya, aku menyukainya, aku mencintai Bela.
“Coba kamu berjalan dengan sepatuku, jangan sepatumu, lihat aku dari sudut pandangku, lihat kami dari sudut pandang orang lain, jangan gunakan sudut pandangmu.” Sungguh aku tak bisa mencerna perkatannya itu, aku pusing, aku marah, aku merasa terkalahkan, tentu saja Aham lebih baik dariku, dia lebih mapan, dia lebih tampan, dan lagi dia lebih dulu mengenal Bela.
“Kamu itu ngomong apa?! Haa?!!” Teriakku pada perempuan yang tak berdaya dihadapanku itu. Bela semakin tersedu-sedu, aku yakin jika ada yang melihat keadaan kami saat ini, akulah yang jahat dan pantas dibumihanguskan. Tapi aku yang menjadi korban disini. “Terus kalau aku berjalan dengan sepatumu, dengan sepatu Aham, aku akan berpikir kamu pantas untuknya? Terus siapa yang akan memakai sepatuku? Siapa yang peduli denganku?”
“Bukan itu, aku hanya perlu waktu, kita harus punya waktu untuk instropeksi, aku sayang kamu Rey, aku cinta kamu, tapi aku harus selesaikan masalahku sama Aham, dia masalaluku, aku melihat masa depan saat denganmu, aku juga bingung Rey, kasih aku waktu.”
“Oke, kita jangan ketemu dulu, instropeksi dulu, selesaikan masalahmu dengan Aham.” Kataku, lalu aku pergi meninggalkannya menangis di ruang tamu.

Ini hari kedua setelah kejadian waktu itu. Bela belum juga menghubungiku. Kulalui hariku sama seperti biasanya, dan saat aku teringat dengannya aku hanya bisa melihat fotonya yang ada di ponselku. Beep.. beeep… kubuka sms masuk di ponselku, berharap itu dari Bela, dan benar saja, itu sms dari Bela. ‘Rey, sudah makan? Kamu sehat kan?’ Aku hanya membaca sms darinya, tanpa niat untuk membalasnya. Mulai saat itu semua sms dari Bela tak pernah ku jawab, telpon dari Bela pun kudiamkan saja. Hingga dia tak pernah lagi menghubungiku. Aku bingung dengan diriku sendiri, jelas-jelas aku masih mencintainya, aku tak ingin dia pergi, tapi aku juga masih marah dengan kejadian saat itu, aku marah padanya yang dengan mudah memasukan Aham dalam hubungan kami. Aku tak tahu bagaimana hubungan Aham dengan Bela. Mungkin nanti suatu saat aku akan menghubungi Bela, membalas smsnya, dan menjawab telponnya. Tapi entah kapan itu.

‘Bela, apa kabar? Bisa kita bertemu hari ini?’ kukirimkan sms pada Bela, dan aku tak mendapatkan balasan darinya. Aku sangat ingin menemuinya, aku merindukannya, dengan tekad bulat aku pergi ke kantor Bela. Ku parkir mobilku di depan kantornya, tepat saat jam pulang kantor. Aku masih di dalam mobil, ku tunggu Bela sambil mempersiapkan apa yang harus kukatakan padanya. Tak lama Bela keluar dari pintu kaca itu, dibelakangnya ada lelaki yang membuat hubunganku dengan Bela berantakan. “Bela..!” Dia menghentikan langkahnya, demikian pula dengan lelaki yang menggandengnya itu. Mereka tak melepaskan gandengannya, itu membuatku merasa seperti pengecut, aku ingin lari menghampiri Aham, meninjunya, melemparkan ke tempat asalnya.
“Rey…” Tatapan Bela penuh dengan penyesalan dan bingung. Dia pikir aku sudah tak mau menemuinya lagi, hubungan kita berakhir sejak pertengkaran itu.
“Kamu… Dia..?” Ku tunjuk Aham yang dari tadi berada di samping Bela, genggaman tangannya semakin kencang, seolah dia tak mau kehilangan Bela untuk kedua kalinya. Bela hanya menggangguk dalam penyesalan.
“Aku hanya menutup mataku, tapi kamu menutup hatimu.” Kataku pada Bela, lalu pergi meninggalkannya. Terdengar suara Bela yang mengatakan “Maaf, Rey..” Tapi aku terus saja mengemudikan mobilku menjauh darinya.

Cerpen Karangan: Bellinda Amelia

Cerpen Remuk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Meskipun Itu

Oleh:
Bagiku cinta adalah salah satu kekuatan yang menguatkan. Masa jatuh cinta, cinta diam-diam, cinta dijatuhkan bahkan cinta kembali bangkit setelah dicampakkan. Cinta memang ada, tetapi tidak mudah untuk mendapatkannya.

Mengapa Kamu Memilih Dia

Oleh:
Meski malam gelap gulita Angel tetap saja menangis Angel belum bisa melupakan pria yang benar-benar dia cintai. Malam berganti pagi ayam telah berkokok Angel tersentak bangun mendengar suara yang

Ku Mengagumi Senyummu Rey

Oleh:
Hari-hari tetap kulewati seperti biasa, kumengayuh santai sepedaku sambil kubernyanyi kecil. Kumasuki pintu gerbang besi itu dan ku menuju kelasku, tetap saja mata ini tak bisa terlepas dari sosok

Move On

Oleh:
Malam yang sunyi menemani lamunan seorang gadis yang bernama Husna. Sembari di temani lagu-lagu galau air matanya terus bercucuran seakan tak terbendung lagi. “Ya Allah, apakah aku harus ungkapkan

Cinta 24 Jam

Oleh:
Di malam itu, di sebuah ruangan kamar kost, di atas sebuah kasur terbaring seorang lelaki bernama Sam, dengan mata memandangi televisi yang sedang menyala di hadapannya. Sesekali terlihat melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *