Rindu Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 6 June 2014

Sore ini tampaknya kota Jogja kurang bersahabat dengan banyak orang. Di luar tampak suasana kota yang mendung berselimutkan rintik-rintik hujan yang turun. Tapi tidak untukku, aku terlebih menyukai keadaan seperti ini.

Namaku Alisa, aku mahasiswi kedokteran di salah satu universitas negeri di Jogja. Aku yang duduk di sebelah jendela ditemani laptop apple kesayanganku di atas meja di sudut cafe Djendelo Coffe. Pandanganku sibuk melihat pengunjung yang silih berganti memasuki cafe ini hingga seorang pelayan datang membawakan pesananku. Coklat panas dengan sedikit gula, ya itulah yang menjadi menu favoritku di cafe ini.

Aku sedang online di laptopku sesekali melihat handphoneku yang sepi tanpa ada tanda sms ataupun telepon yang masuk. Aku menyadari bahwa hujan di luar sudah reda, tak sengaja aku yang berada di sebelah jendela menoleh keluar, aku melihat sesuatu yang membuatku tersenyum “sudah lama hal ini tak kulihat bersamanya” gumamku dalam hati. Lengkungannya yang begitu indah dengan warna-warni yang merangkulnya membuatku ingat pada seseorang, orang yang sejak lama aku rindukan.

Rendy itulah namanya, Rendy adalah seseorang mungkin dulunya teman terdekatku. Dulu aku kurang menyukai hujan bahkan aku merasa begitu takut ketika hujan lebat. Tapi Rendy orang yang tak jarang berada jauh dariku selalu bisa menunjukan pelangi setelah turunya hujan padaku. Semenjak Rendy hadir di hari-hariku pelangi adalah hal indah yang mempunyai arti tersendiri untukku dan Rendy. Tak sedikit pelangi yang ku saksikan bersamanya. Aku mengenal Rendy saat aku masih berseragam putih-biru. Saat itu aku pindah ke sekolah Rendy di Jakarta, disana aku tinggal bersama om dan tanteku, karena papaku harus melanjutkan kuliah strata tiganya di Jerman dan itu membuatnya harus tinggal disana untuk beberapa waktu.

Rendy cowok putih, dengan senyum manis di bibirnya saat itu duduk sendiri di tepi jendela, teman sebangkunya sudah pindah ke Makassar sebulan sebelum aku datang, karena di kelas ini hanya Rendy yang duduk sendiri, jadi guru menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
“hay”. Sapa Rendy dengan ramah.
“hay juga”. Jawabku membalasnya.
“Rendy”. Lanjutnya mengulurkan tangan.
“Alisa”. Jawabku dengan senyum.
Semenjak perkenalan itu, Rendy begitu baik padaku, dia ramah, tidak sombong, juga sangat perhatian. Setelah lama mengenal Rendy, aku dan Rendy begitu akrab. Banyak hal yang aku bagikan padanya begitu juga dia tak ada yang ditutupi dariku.

Hari-hariku bersama Rendy terasa sangat menyenangkan. Hampir setiap hari selalu ada kegiatan yang kita lakukan bersama makan bareng, jalan bareng, belajar bareng, nonton bareng dan anything else. Semua terasa sangat indah, Rendy bisa jadi sahabat, teman curhat, kakak yang bawel, adik yang nyebelin, bahkan lawan disaat kita beda pendapat. Hingga terkadang tak sedikit dari orang yang melihat kedekatan kami mengira kalau aku dan Rendy pacaran.

Tiga tahun menjadi sahabat Rendy, membuat aku tau semua tentang Rendy, ini tak membuatku ragu untuk menjadi pacarnya saat dia mengungkapkan persaannya padaku. Hanya saja aku sedikit mengkhawatirkan hubungan persahabatan kami. Aku bahkan tak rela jika harus kehilangan orang seperti Rendy hanya karena cinta.

Hari-hari indahku bersama Rendy menjadi lebih indah, setelah menjadi pacarku dia selalu ingin tahu aku lagi ngapain?, aku lagi dimana?, aku lagi sama siapa? Awalnya aku anggap biasa-biasa saja dan aku cukup menyukai hal itu, tapi lama-kelamaan aku mulai merasa bosan dengan perhatian Rendy yang begitu berlebihan.

Aku nggak tahu kenapa, kapan, dimana dan bagaimana hal ini bisa terjadi. Kini aku mendapati aku dan Rendy sudah tidak seperti dulu lagi. Semenjak hubungan kami berakhir, Rendy berubah drastis padaku. Kami seperti orang asing yang tak saling kenal. aku yang tak tahu apa yang harus aku lakukan dengan sikap Rendy yang sekarang hanya bisa diam dan bersikap biasa-biasa saja melihat Rendy yang begitu cuek padaku. Mungkin Rendy butuh waktu buat menyesuaikan keadaan seperti dulu lagi fikirku. Tapi aku salah selang waktu yang cukup lama sikap Rendy semakin tak mengenalku. Awalnya aku fikir, aku bisa dengan mudah melupakan Rendy, aku bahkan hanya acuh tak acuh melihat Rendy yang semakin menjauhiku. Namun hal ini tak bisa lama kupertahankan. Melihat senyum manis Rendy yang kini bukan miliku membuatku begitu merindukannya, tingakah lucunya membuatku merindukan semua tawa yang selalu dilukiskannya untukku, aku rindu saat menyaksikan indahnya pelangi bersamanya, dan yang paling aku rindukan saat rendi berusaha menghibur kesedihanku “kamu jangan sedih lagi ya, ingat ada pelangi setelah turunya hujan” kata-kata ini masih tergambar jelas di telingaku. Kalimat sakti inilah yang dapat merubahku dari seseorang yang membenci hujan menjadi seseorang yang tersenyum saat hujan demi menunggu pelangi setelahnya. Tapi, semenjak Rendy pergi sulit rasanya bagiku untuk menemukan pelangi itu. Pelangi indah yang dulunya sering kutemukan bersama Rendy kini seolah menjauh mengikuti jejak pemilik pelangi bagiku itu.

Tak hanya sikap Rendy yang berubah, hari-hari indahku juga seakan enggan mendekatiku. Sepertinya Rendy juga telah mencuri semua senyumanku tanpa menyisakan sedikitpun untukku.

Bosan, bosan dan bosan itulah hal yang kini menemaniku sebagai pengganti Rendy. Tapi hal ini sebisa mungkin aku sembunyikan dari orang-orang di sekitarku termasuk Rendy, padahal aku sangat ingin Rendy tahu kalau aku begitu merindukan kehadirannya.

Tiba saatnya pembagian surat kelulusan, aku yang berada di kelas XII IPA merasa sangat bahagia, karena aku mendapatkan nilai tertinggi di sekolahku, namun kesedihan juga tak urung ikut menemaniku. Setelah ini aku akan balik ke Jogja karena papa dan mamaku juga sudah tinggal kembali di Jogja. Yang aku fikirkan bagaimana bisa aku bertemu dengan Rendy lagi, aku bahkan tak tahu kemana Rendy akan melanjutkan kuliahnya setelah ini, tapi yang aku ingat Rendy dulu pernah cerita ke aku kalau dia akan melanjutkan kuliahnya di Inggris.

Tepuk tangan dari teman-temanku menghiasi suasana. Aku memperhatikan Rendy yang duduk di sebelah kananku setelah tiga orang lainnya tepat di sampingku. Rendy yang mendengarkan apa yang disampaikan kepala sekolah juga ikut bertepuk tangan untukku. Dia menoleh ke arahku dan mendapati aku yang sedang memperhatikannya hanya tersenyum manis padaku, senyuman manis untukku yang telah lama ku rindukan akhirnya ku dapati juga.

Ucapan selamat pun kian meramaikan telingaku, aku hanya membalasnya dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Setelah acara selesai, aku berada di parkiran untuk menunggu papaku yang masih berbincang-bincang dengan orangtua murid lainnya. “Kemana Rendy? Tak inginkah dia berbagi kebahagian bersamaku” fikirku dalam hati sambil mataku sibuk mencari sosok lelaki putih tinggi itu dan aku hanya menunduk ketika mataku tak mendapatkan orang yang aku cari.
“hay Alisa, selamat ya!”. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang begitu aku kenal sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku menoleh dan ternyata dugaanku tak salah, dia adalah Rendy orang yang selama setahun terakhir ini tak pernah bicara satu katapun padaku.
“Eh Rendy, iya makasi ya Rend”. Jawabku gugup karena sedikit terkejut dengan kehadirannya.
“Sama-sama Sa, aku duluan ya”. Ucap Rendy dengan senyum manisnya sembari melangkah meninggalkanku.

Aku hanya terdiam memperhatikan langkah kaki Rendy yang menjauh meninggalkanku. Semula aku pikir aku bisa bicara banyak padanya, tak sedikit pertanyaan yang ingin aku ajukan untuknya, juga banyak yang ingin aku ceritakan padanya. Namun aku salah, bahkan berbicara sekedar melepas penat hatiku tanpa Rendy selama ini saja aku tak bisa, dan aku menyadari Rendy yang sekarang bukan Rendy milikku dulu.

Seminggu setelah perpisahan sekolah, ini adalah minggu sore dan mungkin minggu terakhir aku berada di Jakarta, kota yang banyak mengukir kenangan untukku, karena besok pagi aku akan pulang ke Jogja untuk melanjutkan kuliahku dan tinggal disana. Jam menunjukan pukul 16.00 namun di luar sudah tampak seperti malam. Suasana hujanlah yang membuat suasana kota seperti ini. aku baru saja selesai membereskan semua barang yang akan aku bawa besok.

Lights will guide you home
And ignite your bones
And i will to try fix you
And high up above or down below
when youre too in love to let it go
but if you never try you’ll never know
just what you’re worth
Suara hanphone mengagetkan aku yang melamun memperhatikan rintik-rintik hujan yang jatuh dari lantai atas. Ringtone ini terdengar sangat ramah di telingaku, bagaimana tidak ini adalah lagu favorit aku dan Rendy dan lagu inilah yang selalu menjadi ringtone handphoneku selama tiga tahun terakhir ini. Dengan segera aku mengambil handphoneku yang berdering di atas meja belajarku. Aku terkejut saat melihat layar handphoneku dengan nomor tanpa nama memanggilku, tapi nomor ini sangat tidak asing bagiku, aku yakin ini adalah nomor Rendy, aku masih sangat hafal dengan nomor handphonenya.
“Halo kitting, kamu apa kabar?” hah jantung serasa berdetak 40 kali lebih cepat mendengar sapaan ramah itu, Leonardo Davinci pun mungkin takkan bisa melukiskan indahnya perasaanku saat itu. Rendy memang sering memanggilku dengan sapaan seperti itu karena rambutku yang ikal bergelombang dia memanggilku kitting dan aku selalu protes karena ikal bergelombang bukan berarti keriting, namun aku tak ingin protes saat ini, aku malah ingin mendengarkan dia memanggilku seperti itu lagi.
“halo Ren, baik kamu apa kabar?” aku berusaha tenang, aku tak ingin Rendy tahu betapa bahagia hatiku.
“Baik juga sa, kamu mengenalku?” tanyanya seakan mengintropeksiku.
“Enggak mungkin lah, aku bisa ngelupain suara kamu, lagian siapa lagi yang manggil aku kitting selain kamu, kamu tumben nelpon, ada apa?” aku mencoba menanyakan tujuannya menghubungiku sebelum rasa geer ku semakin bertambah.
“nggak ada apa-apa kok, aku cuma pengen minta maaf sama kamu karena sikap aku yang cuek sama kamu selama ini, sekaligus mau pamitan, besok aku berangkat ke Inggris buat ngejar cita-cita aku, semoga masih ada pelangi yang menunggu kita untuk menjumpainya kembali di lain waktu”. Hah jantungku yang tadinya berdetak empat puluh kali lebih cepat kini seakan terhenti tak mau lagi berdetak. Aku yang mendengar ucapan Rendy tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang mampu mewakili perasaanku.

Rendy yang tak mendengar sepatah kata dariku pun hanya diam, aku yakin dia bisa merasakan tangisanku.
“maafin aku udah buat kamu sedih sa, kamu jaga diri baik-baik ya, dan jangan sedih lagi, kamu ingat masih ada pelangi setelah turunnya hujan, aku sayang kamu sa” lanjut Rendy dan kemudian mematikan telponya tanpa memberikan kesempatan aku untuk bicara, pun jika aku diberi kesempatan bicara aku tak akan bisa bicara. Aku hanya bisa teridam, air mataku terus menetes membasahi pipiku seakan ingin mengalahkan lebatnya hujan di luar. Sejak saat itu nomor handphone Rendy tak pernah lagi aktif.

Senin pagi, aku duduk sendiri di Airport karena orangtuaku telah pergi ke Jogja dua hari lalu. Aku hanya termangun sendiri sambil sesekali melihat handphoneku, pikiranku masih bimbang, tak tau kemana arahnya. Aku masih saja mengingat Rendy dan aku sangat berharap bisa bertemu Rendy disini. Mataku yang berkaca nampaknya tak mampu lagi aku sembunyikan, lagi-lagi tetes air mata dengan begitu mudahnya keluar menyirami pipiku. Aku menundukan pandanganku dan menghela nafas panjang, tiba-tiba seorang mengulurkan sapu tangan untukku. aku menemukan aroma yang begitu sangat aku kenal dari sapu tangan ini. “Ini parfum favoritku yang pernah aku beri untuk Rendy dulu” gumamku dalam hati, aroma parfum ini begitu menenangkanku, aku merasa seolah ada Rendy di sampingku. Aku mengangkat pandanganku dan apakah aku bermimpi orang penyebab tangisku ada di depanku dengan senyumnya indahnya seakan tak berdosa dia hanya tertawa kecil sembari mengusapkan sapu tangan ke pipiku dan berkata “kamu cengeng” aku tak memperdulikan ejekannya aku memeluknya erat tak ingin dia pergi lagi dariku.

“maaf mbak, pesawat akan segara berangkat” seseorang penumpang membangunkanku dari tidur.

Tak kutemukan sosok Rendy saat aku membuka mata, aku bingung dengan apa yang terjadi apakah aku hanya bermimpi? aku menoleh ke arah tas kecilku dan aku menemukan sapu tangan kecil persis seperti yang diberikan Rendy tadi dengan inisial R yang ada di pojok kiri bawah sapu tangan itu, di sebelah sapu tangan itu terdapat kertas kecil berwarna-warni seperti pelangi dengan tulisan “kamu tak perlu sedih dan merasa kesepian lagi, pelangi telah aku tugaskan untuk menemani kamu dan mewarnai hari-hari kamu menjadi lebih indah” Aku tersenyum membaca surat kecil itu, hatiku terasa lebih lega sekarang, aku yakin apa yang terjadi tadi bukanlah mimpi, dan aku percaya pelangi masih bersamaku dan akan setia menemaniku.

“hay sa, maaf ya aku telat” ucap seorang cowok yang membuyarkan lamuananku, cowok putih tinggi yang sangat mirip dengan Rendy. Namanya Bara, dia adalah seniorku di kampus, dia mahasiswa kedokteran semester 7, dialah orang yang membuatku menunggu 30 menit di cafe ini sendiri, dan dia adalah pacarku.

Cerpen Karangan: Rina Paramita Utami
Facebook: https://m.facebook.com/thammyartha.gladyskhendizha.freenzynyaozyselamanya
My name is Rina Paramita utami, you can call me Rina, follow me @thammy_fz or invite my pin: 24C5D4DC

Cerpen Rindu Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Stil Love You After a Year

Oleh:
My call name is umi, yah sebagian besar teman-temanku memanggilku demikian, dan sekarang aku berada di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan semester 3, di salah satu universitas di Sulawesi.

PHP Pertama

Oleh:
“Ayo put, ayo buruan ada anak baru disini!” “Tunggu kenapa nad, anak baru doang sih bukan artis”. Perkenalkan namaku Puri Nur Hidayah, panggil saja aku Puput. Nah, yang aku

Mawar Melati

Oleh:
Matahari pagi mengintip dari peraduan di ujung timur. Sepercik cahaya menyingkap selimut malam. Kegelapan mulai berangsur memudar dikuti lenyapnya bulan. Hanya untuk memberikan kesempatan untuk sang surya. Kesempatan memenuhi

Selama Kita Masih Memandang Langit Yang Sama

Oleh:
“hei” suara Nada mengagetkanku dari lamunanku. “hayo lagi ngapain pagi-pagi udah ngelamun di jendela, nungguin si itu yah? haha” Pertanyaannya langsung membuatku memerah layaknya udang direbus.. yah, tapi memang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *