Saat Aku Kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 11 February 2016

Bruumm… Bruumm..
Suara stom kedua kapal mengaum membelah sunyinya malam di kota ini. Pun seperti mengamuk mengalahkan bisingnya keramaian di pelabuhan. Orang-orang hilir mudik, entah apa yang mereka kerjakan. Beberapa orang mulai kelihatan panik setengah berlari bergerak menuju ke ujung pelabuhan. Menuju kapal yang merapat, seakan-akan kapal besar itu sudah akan berangkat. Lambat-lambat ku dengar lagu balada pelaut terdengar di antara hiruk pikuk pelabuhan dari salah satu penjual kaki lima di seputaran areal pelabuhan.

Oh.. lagu manado itu membawa jiwaku terbang ke masa lalu. Masa-masa saat pertama kali menjejakkan kakiku di Kota Nyiur Melambai. Ku lirik jam tanganku. Pukul 1 pagi. Ku ambil tiket kapal dari dalam saku jaketku. Huft. Teringat kata seniorku di kantor dulu. Tiket kapal dibuat agar kita tahu bahwa kapal datang terlambat. Tapi ini sangat terlalu. Di tiket tertulis keberangkatan pukul 18.00 alias jam 6 sore. Akhh. Badanku berubah kumal, bercampur aduk dengan debu asap kendaraan besar yang hilir mudik di jalan-jalan sekitar pelabuhan dan peluh buruh-buruh bagasi yang banyak bertebaran di pelabuhan ini.

Bruumm… Bruumm..
Suara menggelegar yang mengembalikkanku ke bumi. Suara stom ketiga, yang berarti juga kapal akan segera berangkat. Seperti tersadar aku segera berdiri dari tempat dudukku. Ketika hendak melangkah suara serak seorang ibu seperti manampar mukaku. “Mas, bayar dulu,” Astaga. Aku mencoba mengembalikkan ingatanku. Ku edarkan pandanganku ke sekelilingku. Ku lihat deretan meja dan bangku yang penuh dengan makanan dan yang dalam kemasan yang diatur sedemikian rupa sehingga terlihat rapi. Ku palingkan pandanganku ke si empunya suara tadi. Seorang wanita paruh baya, mungkin lebih dari itu memandangku cemas. Ku coba tersenyum. Senyumku tak berbalas. Ekspresinya tetap datar dengan rona kecemasan di sana.

“Bayar,” ulangnya.
“Maaf Bu. Berapa?”
“Nasi 1, aqua botol 1, kopi 1, gorengan 4. Tiga puluh lima ribu Mas.”
Ku rogoh saku celanaku untuk mengambil dompet. Ku ambil selembar lima puluh ribuan kemudian menyerahkannya pada si ibu.
“Kembaliannya ambil Bu.”
“Alhamdulilah.”

Ku lirik sekeliling tempat dudukku tadi. Tas gendong, dan bungkusan dengan tas keresek hitam teronggok di sekitarku. Astaga. Aku benar-benar terbang tadi. Ku lihat kembali jam tanganku. Mendekati jam 2 pagi. Benar-benar. Sangat terlalu kali ini keterlambatan kapal. Ku sambar barang-barangku dan segera beranjak, setengah berlari menuju kapal yang masih sandar seakan bisa menungguku. Orang lalu lalang di seputaran pelabuhan telah sepi. Semakin ku percepat langkah kakiku. Kali ini benar-benar ku pacu kakiku.

“Oh Tuhan,” batinku. Ternyata tangga kanan kiri telah dinaikkan. Yang tertinggal hanya tangga tengah. Itu pun orang-orang bertumpuk. Yang hendak naik kapal ataupun yang mau turun berhimpitan di sana. Dengan semangat 45 aku berlari ikut berhimpitan di sana. Tidak peduli kemungkinan kaki terinjak atau badan berbenturan. Tubuh kurus kecilku ku paksakan masuk di antara celah-celah tubuh orang dewasa yang saling beradu tubuh di sana. Wuhh.. bermacam-macam aroma memaksa masuk lubang hidungku. Balsem, asam keringat, parfum murahan bertabrakan merasuk pori-pori hingga tertangkap oleh saraf-saraf pembauku. Seketika perut terasa mual.

Azizzah.. Sekelebat bayang wanita cantik menyadarkanku. Semangatku dalam sekejap menyala terang. Ku dorong tubuh-tubuh yang menghimpitku. Arhggg.. Teriakku. Orang-orang seketika berpaling padaku. Ku kerahkan sisa-sisa tenagaku kemudian ku kumpulkan semuanya ke lututku. Setelah terkumpul ku ledakkan dan mulai berlari menuju ke atas. Orang-orang di depanku terpaksa mengalah dan hanya mampu menatap kenekatanku. “uedaan,” itu yang kerap ku dengar dari mulut mereka. Tapi ku tak peduli.

Setibaku di atas kepalaku terasa pening. Ku tahan tubuhku dengan bersandar ke dinding kapal. Ku ambil napas dalam-dalam, menetralisir napasku yan tersengal. Tangga telah ditarik dan kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan. Sepuluh menit aku terdiam di dinding kapal. Setelah napasku kembali dan kesadaranku pulih aku mulai mencari tempat untuk duduk. Tempat ini penuh sesak. Aku mulai berjalan mengitari dek di lantai itu.

Hujan rintik-rintik mulai turun. Belum ada tempat yang ku temukan. Hingga ku putuskan untuk masuk ke dalam ruang kapal untuk dapat mencari tempat di dek lain. Sebelum ku sampai di daerah yang beratap hujan turun dengan lebat. Orang-orang yang semula berdiam diri di dek berlarian mencari tempat berteduh. Tempat yang licin mengakibatkan beberapa orang terjatuh tergelincir. Aku beruntung telah mendapat tempat berteduh di antara orang-orang yang kebingungan mencari tempat berteduh. Sampai kemudian aku melihat seorang anak perempuan berusia sekitar 4 tahun menangis dengan tubuh basah kehujanan tidak jauh dari tubuhku berteduh. Sepertinya dia terpisah dengan orangtuanya. Sekejap aku berusaha tidak peduli, namun hati ini tidak bisa. Aku lalu melangkah mendekatinya. Dia agak menjauh dengan wajah ketakutan.

“Kamu kenapa dik?” tanyaku. “Mana Mama? Jangan takut. Kakak bantu cari ya?” Dia hanya diam dengan gigi beradu. Dia tampaknya sangat kedinginan. Di antara derasnya hujan ku gandeng tangannya. Dingin. Cukup sulit masuk dengan bertumpuknya orang-orang. Sesampainya di dalam ku rogoh sesuatu dari dalam tas ranselku. Handuk yang agak basah karena terkena hujan. Ku lap tubuh basah anak ini. Kemudian ku balut tubuhnya. “Sudah agak hangat?” Dia hanya mengangguk. Dengan tubuh berbalut handuk ku angkat tubuhnya dan ku gedong menuju informasi.

“Pak, ada anak hilang,” kataku.

Petugas segera tanggap dengan mempersilahkan kami masuk ke ruang kecil di dalam ruang informasi. Seorang wanita cukup menarik dengan seragam mendekati kami dan mulai membuka percakapan dengan kami, terutama ditujukkan kepada adik kecil itu dengan maksud untuk mengetahui identitasnya dan orangtuanya. Cukup lama kami duduk di dalam saat seorang laki-laki setengah baya dan seorang wanita muda datang ke informasi. Ternyata mereka ibu dan kakek adik kecil itu. Setelah sedikit berbasa-basi sebentar, mereka membawa adik kecil ke kamar mereka.

Tinggal ku sendiri lagi. Aku kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Kapal ini penuh sesak. Tidak ada sedikit pun ruang untuk duduk. Ku putuskan untuk ke dek. Hujan masih turun dengan deras. Sekilas di antara kegelapan dengan bantuan penerangan dari petir yang sesekali muncul ku tengok tempatku berteduh tadi. Ternyata sudah terisi. Nekat aku berjalan mencoba mencari tempat kosong di antara dek ini. Entah berapa lama aku mencari, di bawah guyuran hujan deras tidak dapat ku temukan tempat lowong. Aku menyerah dan medudukkan pantatku di lantai dek yang basah dan bersandar di batas kapal. Ku daratkan dengan keras hard landing. Ku dengar suara keresek sepeti suara plastik. Oh iya. Bingkisan untuk Azizzah. Ku ambil tas ranselku untuk melindungi bingkisan itu. Ku dekap erat. Lelah dan kantuk membawaku ke alam mimpi.

Panas menyadarkanku. Saat membuka mata cahaya matahari menyorot tajam, sehingga mataku sangat silau. Ku tutup mataku dengan tangan kiriku sedang tangan kananku masih memeluk barang-barangku. Sudah siang. Panas. Rambutku masih basah sisa hujan semalam. Juga bajuku. Juga celanaku. Juga barang-barangku. Bingkisanku. Ku periksa bingkisanku. Aku bersyukur, ku cium berkali-kali sambil bersyukur. Tak peduli orang memperhatikanku. 32 jam di kapal. Akhirnya aku telah sampai di kota tujuanku. Rindu dengan tanah. Rindu denganmu. Rindu padamu sayang.

Bruumm… Bruumm.. Stom kapal berunyi sesaat tanda sauh akan diturunkan. Aku bersiap-siap untuk turun.
“Azizzah aku datang,” batinku.

Segera. Pada kesempatan pertama aku turun melalui tangga kapal. Gairah hidupku menggelora. Ku hirup dalam-dalam udara pagi ini. Pagi ini, pelabuhan sudah sangat ramai. Sudah penuh sesak. Penjual sudah membuka dagangannya. Para petugas, sopir angkot dan tentu saja tukang ojek sudah memulai kegiatannya mencari nafkah untuk keluarga. Padahal hari masih dingin. Keluhku dalam hati. Mereka hebat. Ku langkahkan kakiku. Segala tawaran dari sopir angkot, taksi, tukang ojek, sampai tukang becak ku tolak. Tujuanku dekat. Aku bisa mencari penginapan di sekitar pelabuhan untuk beristirahat dan bertemu Azizzah pada sore hari.

Kapal bergoyang tatkala ombak menghempas. Langit malam ini cukup cerah. Ku alihkan pandanganku ke belahan langit lain karena bintang yang ku pandang tertutup awan. Bintang di sebelah kiriku. Entah bintang apa namanya. Tapi pentingkah juga, karena walau apa pun namanya tidak merubah apa pun darinya.

Sore ini langit agaknya kurang bersahabat. Maklum angin bulan Desember apalagi di daerah kepulauan seperti daerah ini. Bodolah. Tidak mengurangi niatku untuk menemui Azizzah. Aku akan datang. Rambut klimis, kumis jenggot tidak lupa ku cukur abis. Tidak ketinggalan deodoran dan minyak wangi murahan yang ku bawa. Komplit. Tak lupa pula ku bawa bingkisan dengan bunga mawar merah dari plastik. Dengan mantap ku langkahkan kaki ke luar kamar. Setelah menitipkan kunci kamar aku melangkah ke luar penginapan tempatku menginap untuk mencari angkot menuju tempat yang selama ini hanya dalam anganku. Kini menjadi nyata.

Dua puluh menit di perjalanan akhirnya tibalah aku di tempat itu. Belum banyak berubah. Masih sama seperti ketika aku sering berkunjung ke mari. Dua pohon mangga masih tetap sama. Pagar itu juga sama. Warna sama tinggi sama bahkan goresan-goresannya pun masih sama. Pekarangannya juga tetap sama. Bersih dan terawat. Bau yang sama. Bau segar dari pohon-pohon buah yang tumbuh di pekarangan kos-kosan ini. Tempat yang sangat nyaman memang. Tempat yang selalu muncul dalam mimpi-mimpiku. Tempat indah. Tempat aku memadu kasih. Dengan kekasih hatiku Azzizah. Sesaat lagi aku akan bertemu dengannya. Saat-saat yang aku tunggu-tunggu. Bertahun aku menahan diri. Menanti saat bertemu denganmu Azzizahku. Aku coba memencet bel. Pertama, aku pencet kemudian menunggu. Tidak ada yang membuka pintu.

“Azzizah,” teriakku. Tetap tidak ada yang membuka pintu.
Tiga kali aku pencet bel, dan setelah beberapa lama akhirnya ada juga yang ke luar.
“Eh, Udin,” Udin adalah namaku. “Lama sekali tidak datang. Ke mana saja?”
“Ada aja. Azzizah ada?”

Air laut membuih di belakang kapal pelni ini, dalam samar membentuk garis lurus panjang, sedang air di sekitarnya membuncah mengikuti arah laju kapal hingga menghiang di kejauhan. Seperti hilangnya harapan hidupku yang telah meredup.

“Udin?” jeritan terdengar. Lebih seperti teriakan histeris di telingaku. Wajah cantik itu mengekspresikan kekagetan yang kemudian seakan ditahan dan hilang. Tampak biasa. Mata itu –mata yang selalu aku kagumi- menunjukkan sesuatu yang tidak aku bayangkan sebelumnya. Aku menangkap sesuatu kekhawatiran. Sesuatu yang aneh. Aku berusaha mengabaikan hal itu. Inilah saat yang aku tunggu, dan tak akan aku sia-siakan.

“Azzizah.”
“Apa kabarmu?”
“Aku datang, aku penuhi janjiku,”
“Baik,” hanya itu. Kata pertama darimu.

Ku tatap wajahmu. Lekat dan lama. Anehnya tidak ada tanda-tanda kegembiraan di wajah itu. Tidak ada tanda-tanda rindu. Wajah dan tatapan biasa. Seakan hanya kunjungan teman sepermainan berumur 8 tahun yan kemarin sore yang bermain sampai mendekati malam sehingga dijemput ibu dan kini datang untuk mengajak main. Sangat biasa. Beberapa saat kebisuan menyergap kami. Azzizah terdiam.

“Bagaimana keadanmu Azzizah?” kataku berusaha mencairkan keadaan.
Sejujurnya kamu makin cantik Azzizah, batinku. Wanita pujaanku kini tampak makin dewasa. Lebih pandai merawat diri. Lebih bersih dan kelihatan lebih gadis.
“Yah. Beginilah Din. Aku baik. Semua berjalan baik. Seperti seharusnya.” Ada kata kecewa dari kata-katamu.
“Boleh aku masuk?”
“Silahkan. Mari Din. Masuk.”

Dia lalu beranjak dari tempatnya berdiri, bergerak berjalan menuju ke dalam. Aku mengikutinya. Mengikuti tiap langkahnya, memasuki lorong yang cukup besar sekitar satu meter yang di kanan kirinya terdapat ruangan berupa kamar. Setelah berjalan melewati lima kamar kanan dan kiri terdapat sebuah ruangan cukup besar. Terdapat perabotan rumah tangga di sana. Beberapa lemari baik, dan beberapa perangkat kursi tamu. Di sinilah anak-anak kos menerima tamu. Tempatku biasa menunggu Azzizah berganti pakaian saat berjanji ke luar bersama atau sekedar mengobrol jika aku berkunjung. Masih sama. Bahkan susunan kursi, lemari dan perabotan lain tetap sama. Tidak berubah sama sekali.

“Oh iya.” Ku ulurkan tangan memberikan oleh-oleh yang sengaja aku bawa dari jauh.

Udara mulai terasa menggigit. Jaket tipisku tidak mampu menahan dingin yang menusuk. Angin dingin yang berhembus kencang tak terhalang lagi memukul tubuh kurusku berulang-ulang kali. Tubuh ini mulai menggigil. Mulai terasa sesuatu yang berbeda dalam badanku. Mulai terasa tidak sehat. Aku hanya bisa pasrah sepasrah aku menerima nasib yang menimpaku kini. Hanya bisa bersandar pada besi yang menjadi pagar batas di buritan belakang kapal ini. Air mata tak terbendung lagi. Lebih dari saat aku kehilangan orangtuaku. Saat ayahku dibui karena terbukti korupsi atau saat ibu meninggal karena malu. Pun saat adik-adikku dimasukkan ke panti asuhan. Ini lebih sakit. Sakit sesakitnya. Azzizah, padamu aku menggantungkan hidup.

Lama kami terdiam di ruangan ini. Suasana hening. Bahkan aku serasa dapat mendengar suara denyut jantung Azzizah yang duduk agak menjauh dariku. Bertahun-tahun kami membangun hubungan, baru kali ini terjadi seperti ini. Apa Azzizah masih terkejut dengan kedatanganku? Iya Azzizah hanya terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. “Semua masih belum berubah. Masih seperti saat aku pergi Ijah,” kataku berusaha mencairkan suasana yang beku. Ijah biasa aku memanggil Azzizah. Seperti teman-teman dekatnya yang lain.
“Iya Din. Masih seperti dulu,” jawabnya getir. Entah apa makna nada suaranya.

“Bagaimana keadaanmu Ijah. Apa kegiatanmu selama ini?” sergapku. Tak ingin terlalu lama dalam suasana yang dingin. “Begini saja Din. Rutinitasku sama. Seperti dulu,” jawabnya singkat. Tidak seperti inginku. Aku ingin sekali segera menyingkirkan kekakuan ini. Mungkin Azzizah seperti ini karena kami berada di ruangan ini. Aku sudah lama pergi. Mungkin dengan mengajaknya jalan-jalan akan mengurangi kekakuan ini.
“Lama kita berpisah Jah. Maukah kamu pergi makan malam denganku?”
“Aku sangat lelah Din. Lagi pula aku sudah makan barusan.”

“Atau jika kamu sudah makan maukah kamu temani saya makan? Kita ngobrol-ngobrol santai,” desakku.
“Sudah lama kita tidak ngobrol.”
“Sangat lama,” tiba-tiba dia menyeletuk. Lalu dia menunduk. Seakan kata-kata yang barusan tidak secara sadar ke luar dari mulutnya. Aku pun kaget dengan kata-katanya yang menyambar. Marahkah dia. Namun hanya sesaat. Dia sepertinya sudah dapat menguasai dirinya. Lalu bersikap biasa. Sangat biasa.

“Kita ngobrol seperti dulu,” kataku mulai memelas.
“Maaf Din. Aku lagi tidak enak badan,” katanya menolak.
“Ya sudah kalau begitu,” aku akhirnya mengalah walau sangat kecewa.
“Kita mengobrol di sini saja,” kataku mencoba menghibur diri. Rasa rinduku tak tertahan padanya. Azzizah hanya terdiam. “Jah, aku rindu padamu. Dalam tiap lamunanku, hadir bayangmu,” Azzizah masih terdiam.

“Jah. Bagaimana keadaan keluargamu?” lanjutku.
“Baik,” Azzizah menjawab singkat.
“Aku merasa tidak enak badan Din. Aku pergi istirahat ya?”
“Loh,” hanya kata itu yang mampu aku ucapkan. Rasa kecewa merasuk hingga tulang sumsumku.
“Baiklah. Kita ketemu besok ya?” kataku berharap. Azzizah hanya terdiam, kemudian tanpa menatapku dia bangkit lalu pergi menuju kamarnya.
Aku hanya dapat memandang punggungnya hingga menghilang di antara tembok bangunan itu. Aku bangkit dengan berat hati. Kembali ke penginapan.

Gemericik air laut menampar pipiku dan membasahi sebagian bajuku. Hawa dingin semakin menyerang tubuhku. Aku coba menahan dingin dengan mengatupkan gerigiku. Ku tahan gigi atas dan bawahku. Bunyi gemeritik terdengar dari benturan itu. Hingga ku rasakan mataku berkunang-kunang. Ku coba bertahan namun sekuat-kuatnya aku bertahan, aku tak sanggup. Hingga ku putuskan untuk duduk di tembok kapal. Dengan menyeret kakiku berusaha secepatnya tiba di sana.

Rasa kecewa masih menyelimutiku. Malam yang tidak seperti aku bayangkan sebelumnya. Aku menginginkan sesuatu dari kejutan ini. Seperti teriakan kegirangan saat bertemu. Atau sebuah pelukan. Entahlah. Malam kian larut. Mataku susah untuk dipejamkan. Entah sudah pukul berapa. Yang pasti ini sangat larut. Tak ada suara kendaraan lagi. Pun dengan suara orang di pasar yang biasa lalu lalang. Hanya sesekali terdengar langkah lunglai para pemabuk yang entah menuju ke mana. Suara jangkrik sesekali berbunyi. Gonggongan anjing penjaga dan suara-suara burung malam berpadu berirama membangun orkestra malam. Ku hela napasku. Sudah lama aku melupakan suara alam seperti ini.

Pikiranku kembali hanyut. Kembali teringat kejadian barusan. Mengapa sikap Azzizah seperti itu. Dingin. Azzizah andai engkau tahu. Menahun aku menantikan saat bertemu denganmu. Andai engkau tahu yang ku lakukan sema demi dirimu. Menahun aku menahan hasrat ini, hingga terkadang terbawa hingga mimpi di tidurku. Azzizah andai engkau tahu apa yang ku korbankan untuk sekedar sampai di sini?

Mataku masih tidak ingin terpejam. Terdegar lolongan anjing sahut menyahut. Kemudian terdengar suara langkah berat namun gontai beriring kemudian suara teriakan dan makian panjang. Suara orang mabuk. Tak lama terdengar terdengar suatu benda berbenturan. Seperti suara benda keras mungkin batu yang mengenai tiang listrik di seberang jalan. Suara berdentang yang nyaring. Suara makian panjang kembali terdengar.

Langkah itu berderap. Mungkin pemabuk lebih dari satu orang. Tentu merekalah pelaku suara itu. Mereka sepertinya melempari anjing-anjing itu dengan batu. Kurang kerjaan. Pikiranku kembali terbang kepada Azzizah. Bayangan-bayangan masa lalu muncul silih berganti. Setiap momen-momen indahku bersamanya silih berganti menghiasi benakku. Azzizah. Aku harus menemuinya esok. Batinku. Menjelaskan semuanya.

“Aku telah menepati janjiku Azzizah untuk datang kembali ke mari,” kataku setengah berteriak.
“Janji katamu? Janji apa?” katanya dengan suara yang tak kalah keras.
“Janjiku Azzizah. Janji kita,” kataku mulai melunak.
“Kapan kamu berjanji? Apa janjimu padaku dan apa janjiku padamu. Kamu hanya pergi. Kamu tidak memberiku apa-apa. Kamu hanya pergi,” teriaknya. Aku terdiam. Iya dia benar. Saat itu hubungan kami sangat dekat. Aku mendapat masalah saat itu. Masalah yang aku pun tidak ingin mengingatnya. “Tapi Azzizah aku datang untukmu. Demi kita. Demi hubungan kita,” jeritku dengan suara yang hampir hilang. Suara yang hampir tak terdengar.
“Hubungan? Hubungan apa? Kita belum memulai apa-apa Udin. Kamu belum memulai apa-apa. Melanjutkan apa maksudmu?”

Aku hanya bisa terdiam. Dia benar. Aku terlalu pengecut untuk memulainya. Terlalu pengecut untuk berani memberimu janji. Terlalu pengecut untuk memberimu mimpi. Terlalu pengecut untuk mengajakmu membangun harapan bersama, cita-cita bersama. Bahkan aku tidak berani mengatakan kata kita padamu. Seandainya aku bisa menatap wajahku. Mungkin aku akan melihat wajah pucat di sana. Wajah tanpa darah. Wajah putus asa.

“Azzizah, bolehkah aku memulainya dari sekarang?” Azzizah hanya terdiam. Tidak ada jawaban atau kata-kata dari bibirnya. Dia hanya menunduk. Aku tatap wajahnya. Menunggu jawaban. Menunggu kata-kata darinya. Hanya kesunyian yang ku temukan di wajah itu. Kebisuan yang muncul di antara ramainya kafe ini. Azzizah kemudian beranjak dari tempat berdirinya.
“Aku harus kerja Din,” katanya tanpa melihat kepadaku. Aku hanya bisa memandang. Tanpa bisa mencegahnya. Terpekur menatap lantai kafe.

Sudah dua hari aku berusaha bertemu Azzizah. Dia seperti menghindariku. Entah mengapa. Apakah aku bersalah? Tapi apa kesalahanku? Aku tidak tahu. Bagaimana pula aku bisa tahu jika yang punya jawabannya tidak bersedia menemuiku? Galau. Aku mengingat pertemuan kami dua hari yang lalu. Aku mengingat-ingat. Adakah yang salah? Tidak. Sebab jangankan ada tindakan atau perkataanku yang terlalu, bahkan pertemuan itu sangatlah singkat.

Hatiku mengeluh, berbulan-bulan aku menahan rindu. Berbulan-bulan aku puasa hati. Bekerja keras mengumpulkan uang, mencari nafkah yang terbaik untuk bisa ku banggakan padamu Azzizah. Berbulan pula aku titipkan dirimu pada Tuhan agar dijaga. Apakah Tuhan tidak mendengarku? Beribu rasa aku pendam untukmu wahai Azzizahku. Aku menunggu saat ini. Saat pembalasan untuk segala deritaku. Pikiranku melayang ke masa lalu saat kami bisa bertemu dan bercengkerama. Saat-saat yang sangat aku rindu. Saat senyummu mengembang saat bertemu denganku. Saat-saat bahagiaku.

Bruumm… Bruumm..
Suara stom kembali terdengar. Tibalah aku di tempat tujuanku semula saat aku tinggalkan Azzizah berbulan lalu, disertai pengumuman dari awak kapal. Aku turuni tangga kapal dengan gamang. Masihkah ada hidup untukku saat Azzizah bukan lagi mimpiku. Tuhan hanya padamu hamba berserah.

The End

Cerpen Karangan: I Gede Abdi Negara
Facebook: Abdi Negara

Cerpen Saat Aku Kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutitip Cinta Pada Adzan Terakhirmu

Oleh:
Entah sampai kapan aku akan terus seperti ini, menikmati rindu yang menghancurkan perasaanku. Menjalani penantian yang mengoyak hatiku. Adakah kamu tahu, aku adalah pengingat yang hebat. Aku bahkan masih

Suratku Untukmu

Oleh:
Hai apa kabar? Lama kita tak bersua melalui FB ataupun sms. Selama ini hanyalah itu yang dapat menghubungkan kita berdua. Aku tak pernah mencoba untuk menelponmu karena suaraku pasti

Salah Apa

Oleh:
Ya Allah.. Apakah salah jika aku menyayangi salah satu ciptaan-Mu? Bahkan sampai mencintainya? Aku hanyalah seorang manusia biasa yang tak luput dari salah. Orang yang aku cintai tak pernah

Langit Jingga (Siluet Kerinduan)

Oleh:
Ditemani debur ombak dan lembut belaian angin barat ia duduk di sana. Bersandar pada sebuah pohon nyiur yang melambai ia memendangi lepas pantai. Melihat keindahan bola jingga yang membias

Cinta Sembilan Tahun Silam

Oleh:
“Lihat Dimas, dia.. Astaga! Tampan, maskulin, pandai bermain basket, dan selalu mempesona.” Ucap Nabilla dengan sungguh-sungguh. “Key, lihatlah! Kau ini, kenapa melamun terus?” lanjutnya sambil menggoncang-goncang tubuhku. “Kau sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *