Sapu Tangan Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 29 November 2013

Musim hujan banjir, musim kemarau kering, musim kopi berhamburan rezeki. Seperti hati ku, saat sedang musim cinta, hanya di banjiri bayangan bayangan wajah si dia.

Sore ini cuaca agak sedikit redup, sedikit sedikit tetesan air hujan akan turun ke bumi tapi tidak sampai deras. Aku masih duduk tenang di pinggir lapangan menatap 2 tim sepak bola yang sedang bertanding. Tapi Aku lebih terfokus pada kak Rangga. Yah.. Dialah tipe cowok yang sebenarnya Aku dambakan dari awal masuk sma, tapi sayangnya dia tidak kenal sama Aku.

Tiba tiba dari belakang aku di panggil oleh seseorang. Dengan spontan aku pun menoleh.
“Hai neng!! Wajah mu basah!” sembari memberikan sapu tangan merah.
Aku terdiam sesaat. “Hm.. Ah.. Iya”
“Kenapa masih disitu? Lebih baik pulang! Hari sudah mulai gelap. Gak baik loh, apalagi hujan mulai turun.”
Aku tidak menyangka bahwa orang yang memberikan sapu tangan tadi adalah kak Rangga. Pandangan ku tadi benar benar kosong. Benar benar mati rasa, bukan seperti hujan air, tapi seperti hujan salju paling dingin.

Di kamar kecil yang sederhana Aku mencium cium sapu tangan merah itu, lihat lihat bacaan yang tertera di atasnya. Membayangkan tangan sawo matang kak Rangga mengelus pipi ku dalam keadaan basah kuyup. Ah.. Aku selalu saja menghayal.

Sekolah ku banyak tangga dan tribun. Sehingga di tribun menjadi tempat tongkrongan para kakak kelas yang lokalnya di atas. Di bawah Aku hanya mencari sinyal sinyal keberadaan kak Rangga, tak lengkap jika dari sekitar banyaknya orang, dia tidak ada.
Aku ingin sekali berjumpa dengan nya, tapi Aku tidak berani untuk menghampirinya. Aku ingin mengembalikan sapu tangan merah itu.

“Raisa! Aku Raisa…. oh tuhan apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus membuang sapu tangan ini? Untuk menghilangkan perasaan kacau ini? Aku takut dia masih membutuhkan nya? Tapi aku gak berani untuk ngasihin ke dia.” Ucap ku dalam hati dengan kekacauan yang mendalam.
Dan sampai akhirnya aku hanya menyimpan sapu tangan merah itu seperti aku menyimpan perasaan kepada Rangga.

Cerpen Karangan: Yuanita Indah Sari
Facebook: Yuanitaindah.sari[-at-]facebook.com
nama saya yuanita indah sari
saya lahir di garut tanggal 26 agustus 1996, so pasti orang sunda.
tapi aku sekarang tinggal di lampung.
aku ingin sekali jadi penulis prosa buat komposer.

Cerpen Sapu Tangan Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Cinta Menghampiri

Oleh:
Ketika cinta menghampiri, dunia terasa lebih indah. Dan hati, merasa terisi. Namun, jika cinta hanya membawa luka, sebaiknya jangan pernah datang dan jangan pernah ingin tersentuh cinta. Cinta yang

Setia Berakhir Pengkhianatan

Oleh:
Sakitnya masih membekas, Menyerang hatiku bertubi-tubi, menjadikanku pesakitan yang terus terobsesi dengan bermacam gerak-gerikmu, yang menyuruhku untuk menjadikanmu objek yang terekam jelas di memoriku. Kamu tahu, sejak kapan rasa

Penggemar Rahasia

Oleh:
Ini pertama kalinya aku sangat-sangat menyukai seseorang. Ia tidak begitu tampan namun ia sangat manis. Dia bukan teman kelasku, dan aku bersyukur karena aku dan dia tidak sekelas. Aku

Heart Break Girl (Part 2)

Oleh:
“Gue putus sama Aldric,” Satu kata pembuka obrolan mereka. Gadis itu masih terisak di pelukan Leonal. Lelaki itu memang selalu jago menjadi tempatnya bernaung dari segala masalah hidupnya. Entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sapu Tangan Merah”

  1. Giovanni Angeica Gunawan says:

    Keren cerpennya. Tapi mau nanya nih, yg kena kanker itu saat lg jalan sama davi kok pake kursi roda ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *