Senja di Pagi Hari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 December 2016

Siang itu, seperti biasa aku berkeliling pasar untuk melihat-lihat ikan di salah satu pasar hewan di kota Malang. Kebetulan sudah tidak ada jadwal kuliah lagi. Satu-satunya kelas hari itu sudah selesai pukul 10.30 tadi. Dan sekarang jam sudah menunjukkan 12.30, selepas dhuhur. Kurasa cukup sudah berkeliling pasar.

Terik matahari mulai menyengat, dan semilir angin membuatku sedikit mengantuk dan mulai bosan, meskipun aku sudah menyaksikan ikan-ikan berenang kesana kemari, yang biasanya cukup untuk menngusir bosanku yang kadang menumpuk begitu cepat akibat suasana di kota ini. Namun sepertinya kali ini sedikit berbeda. Rasa bosan itu tak mau pergi, memenuhi seluruh penjuru ruang batin, tak menyisakan sedikit pun ruang longgar untuk bernafas dengan lega. Mungkin rasa bosanku sudah menjadi kerak di dasar relung batin, yang aku sendiri tak tau sedalam apa tempat itu sebenarnya. Hal tersebut membuatku sedikit takut karena mungkin saja aku benar-benar tak bisa menghilangkan rasa bosan yang ada dalam batin ini. Seperti apa nantinya hidupku ini bila rasa bosan itu benar-benar menumpuk dan tak bisa dibersihkan. Kuharap ikan-ikan esok hari bisa berenang lebih lincah lagi. Mungkin mereka bisa meloncat keluar dari air, dan menciptakan cipratan kecil di permukaan air yang kuyakin hal itu pasti bisa menyegarkan mata. Atau mereka melakukan hal lain diluar kebiasaan berenang mereka. Tapi entahlah, aku hanya bisa berandai-andai di tengah suasana hati yang tak menentu ini. Aku berharap esok pagi, seiring terbitnya fajar, ada sesuatu yang bisa membantuku menghilangkan rasa bosan itu. Tapi biasanya aku malah melihat satu hal yang tak wajar, terlihat senja di pagi hari. Dan rasanya pagi seperti itu akan terus berlanjut di pagi-pagi esoknya.

Perkenalkan, Aku adalah seorang mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di salah satu universitas negeri di kota Malang. Saat ini aku memasuki semester 5. Kata orang begitu cepatnya waktu berjalan sehingga tak terasa aku sudah memasuki tahun ketiga di perkuliahan ini. Orangtuaku pun juga berkata demikian. “Tak terasa kan sudah kuliah selama 2 tahun”, kata ibuku. Mendengar kata-kata seperti itu aku cuma bisa tersenyum kecut. Kadang aku merasa bingung, benarkah secepat itu, seperti kata orang-orang termasuk kedua orangtuaku? Aku juga merasa bingung, dimana sebenarnya letak “cepat” itu, yang sering diucapkan orang-orang kepadaku? Apakah mungkin aku tak menyadarinya, bahwa sebenarnya letak “cepat” itu selama ini tepat berada di belakangku, menempel di tengkuk ku sehingga aku sendiri tak bisa melihatnya? Atau mungkin semua orang tahu bahwa diriku sebenarnya sedang berada di sebuah dimensi yang berbeda, yang memiliki laju waktu yang sangat lambat dibandingkan dengan laju waktu normal, dan mereka berkata begitu agar diriku bisa sedikit melupakan kenyataan itu, dan bisa bersikap layaknya masih berada di dimensi waktu yang normal? Ahh entahlah, aku tak menemukan jawaban pastinya. Semua kebingungan itu sering muncul begitu saja tanpa kuperintah, bahkan sangat mahir dalam hal itu, memunculkan seribu kalimat tanya yang tak terjawab.

Aku adalah seorang mahasiswa yang mengambil jurusan dimana sebetulnya bukan murni keinginanku. Orangtuaku yang menyarankannya, bukan memaksa, tak ada paksaan sama sekali. Dan aku menyutujui saran itu karena kupikir prospeknya menanjikan, dan juga karena suatu hal yang sangat mengesalkan, gengsi. Meskipun jauh di dalam batinku samar-samar terdengar bisikan, “Sanggupkah kau menempuhnya? Kau bahkan tak mampu mengusir rasa malasmu untuk menghitung jumlah atom yang ada dalam sebuah tetes air, dan sekarang kau ingin mengambil sekolah yang mengharuskanmu menghitung jumlah atom di lautan?” Aku hanya diam, tak menjawab suara hati yang terdengar samar-samar itu. Mungkin karena samar-samar, jadi suaranya tak begitu jelas. Atau mungkin aku memang tak bisa menjawabnya saat itu. Tak ada jawaban. Dan akhirnya aku tetap melangkah untuk mengikuti saran orangtuaku. Yang kuingat saat itu ada suara lain juga, bukan dari batin, tapi bersumber dari pikiranku. Suara itu terdengar jelas, jauh lebih jelas dari suara batinku. “Kau ragu? Semua akan dimulai dari 0 lagi, semua akan dimulai dari awal. Jadi, kenapa ragu?” Itu menurutnya, dan aku juga tak menjawabnya. Aku juga tak meng-iya-kan suara itu. Namun suara itu terdengar logis, dan terlihat rasional. Sehingga tanpa kusadari, dari suara itu pula yang membuatku tetap melanjutkan saran orangtuaku ini. Aku mendaftar di jurusan yang disarankan orangtuaku.

Aku adalah seorang mahasiswa yang akhirnya mengikuti saran orangtuaku. Kujalani setiap detiknya, setiap menitnya, setiap harinya. Dan, menurutku, semuanya terasa normal. Semuanya berjalan dengan isi hati yang penuh dengan harapan yang biasa dimiliki mahasiswa baru kala itu. Harapan yang dibumbui ambisi yang menggebu-gebu, serta angan-angan tinggi yang seolah itu terasa dekat di mata seorang mahasiswa baru. Hingga seiring waktu berjalan, ada sesuatu yang kurasa mulai berbeda. Entah apa itu, aku masih belum tau. Tapi rasanya begitu berbeda, dan aneh. Setiap paginya terasa aneh, dan itu berlangsung setiap hari. Aku mencoba mencari obat penawarnya. Aku mencari-cari suatu hal yang dulunya begitu familiar, namun entah kenapa sekarang terasa sangat asing dan bahkan mungkin hilang. Ya, angan-anganku, ambisiku, di mana kalian? Aku kesulitan mencarinya. Aku tak dapat menemukannya meskipun sudah mengaduk-aduk isi batinku, mengorek isi pikiranku, dan menjelajah isi alam warasku. Tapi tak ada, sedikitpun tak ada.

Dan sekarang aku mulai kebingungan membedakan hari. Sepulang dari pasar hewan itu, aku mulai bingung membaca waktu. Jam dipergelangan tanganku maupun jam dinding di kamarku terlihat berhenti. Bahkan kadang berjalan terbalik, dan sering juga memutar tak menentu. Esoknya, Aku tak bisa membedakan mana pagi hari dan mana malam hari. Semuanya terlihat aneh bagiku, semuanya begitu membingungkan. Aku bertanya pada orang-orang di sekitarku, apa mungkin mereka juga merasakan hal yang sama. Namun ternyata semuanya normal. Mereka tahu sekarang hari apa, mereka juga bisa membacakan jam yang ada di pergelangan tangan mereka, dan mereka juga yakin mengatakan bahwa sekarang masih pagi. Apa mungkin hanya aku saja yang merasakannya? Benar-benar aku saja? Apa mungkin aku berada di dimensi yang berbeda dengan mereka, dengan tata waktu yang berbeda juga?

Entahlah, kepalaku mulai pusing. Namun, suara yang sepertinya dulu pernah kudengar, tiba-tiba muncul. Terdengar seperti teriakan, sehingga aku bisa jelas mendengarnya. “Kau telah menciptakan ruang waktumu sendiri, dimana pagi dan malam tak bisa kau bedakan. Dimana senja begitu jelas di pagi hari, dan teriknya sinar matahari akan terasa di malam hari. Kau seharusnya mendengarkanku waktu itu. Namun sayangnya waktu tak bisa berjalan mundur.” Ternyata itu adalah suara batinku, suara yang dulu hanya terdengar samar-samar, tapi sekarang begitu lantangnya berteriak di relung batinku. Suara itu benar, bagiku senja begitu jelas di pagi hari, dan malam terasa teriknya sinar matahari. “Kau sudah berada di sini. Kau sudah terjebak disini. Kau tak bisa kembali, namun kau bisa menyusuri lorong dimensi ini, dan keluar dari sini.”

Aku hanya terdiam, tak menjawabnya. Kali ini bukan karena suaranya samar-samar, namun karena memang kurasa tak perlu kujawab suara itu. Dan sepertinya memang suara itu tak butuh jawaban, mungkin hanya ingin berteriak padaku. Aku paham itu.

Ya, suara itu benar, aku berada di dimensi waktu yang berbeda, dimana waktu terasa lebih lama berjalan. Namun waktu tetaplah hal yang tak bisa berjalan mundur. Aku tak bisa kembali, tapi aku bisa keluar dari lorong ini, dengan menjalani semua keabnormalan yang ada, meskipun sendirian, meskipun semua hal normal yang terlihat di sekitarku hanya akan menambah iri di dada, aku tetap harus keluar dari sini.

Memang, senja yang kutemui disetiap paginya itu sebenarnya juga indah. Keindahan yang muncul di tengah ke abnormalan ini. Namun aku lebih merindukan kembali pulang ke dimensi dimana senja hanya akan muncul di penghujung sore, di ufuk barat bumi ini, yang kemudian berganti dengan dinginnya malam.

Cerpen Karangan: Benefitto
Facebook: Benefitto Firstendi Hartoyo
saya adalah seorang mahasiswa semester 5 di universitas brawijaya. Sedang belajar menulis untuk mennghilangkan penat kuliah 😀

Cerpen Senja di Pagi Hari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kata Yang Tak Sempat Terucap

Oleh:
Pagi itu di jalan yang masih sepi, seorang pemuda yang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan yang masih lengang. Meski masih pagi namun pikirannya sudah pergi berkelana

Cinta tak Kesampaian

Oleh:
Sore itu menjadi awal dari sebuah cerita tentang cinta di antara aku dan dia, seiring dengan berjalannya waktu tak terasa sudah melewati satu tahun lamanya, mungkin memang di awal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *