Senyum (Bahkan Pelangi Pun Menangis Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 28 August 2013

Orang mungkin beranggapan gua aneh. Mana ada cowok takut hujan? Ya, gua takut hujan, Gua takut hujan, semenjak orang yang gua sayang meninggal tertabrak mobil. Dia sangat suka hujan. Tapi ironisnya, saat hujan lah ajal menjemputnya. Sejak saat itu, gua ga mau hujan-hujanan. Gua takut hantu yang disebut “memori” itu datang.

Kejadian itu pas gua SMA. Sekarang gua kuliah di salah satu universitas di jakarta. Sekarang semester 3. Dari gua SMA, gua suka pelajaran Geografi. Karena di Geografi mempelajari iklim dan cuaca. Dan gua tertarik untuk memperdalam itu. Gua pengen menghentikan mimpi buruk yang disebut “hujan” itu.

Satu hari, saat selesai kuliah, hujan turun. Tadinya gua mau nerobos saja, tapi ga jadi. Gua lebih memilih stay di kampus buat berteduh. Berteduh dari hujan air dan memori. Tapi, bukan cuma gua yang berteduh. Ada satu orang lagi, yang begitu mirip dengan masa lalu itu. Hanya saja dia berjilbab dan memakai rok panjang. Ya Allah, kenapa dia begitu mirip? Apa maksudnya? Gadis itu menoleh ke gua dan tersenyum. Bahkan senyumnya pun mirip. Apa maksud semua ini? Kenapa di saat gua mulai melupa, tapi ada yang mengingatkan? Atau, gua memang tidak diperbolehkan melupa?

Gadis itu mendekat dan menyapa gua. “Hai! Kamu yang juara cerpen dan puisi itu ya? Yang ada di mading kampus?” tanya dia sambil nunjuk mading yang dia baca dari tadi. “Oh. Eh… I… Iya.” jawab gua. “Kenalin. Nama aku Indah.” dia memperkenalkan diri. Astaga, kenapa namanya harus sama? Dan gua pun menyebutkan nama gua. “Eh aku juga lagi coba-coba nulis nih. Mungkin kamu bisa ajarin aku. Mau nggak?” tanya dia. Gua bingung. Tapi, entah kenapa hati ini setuju. Dan gua pun bilang “Oke, tapi enggak di sini. Gua bisa bawa lu ke tempat yang sepi. Damai. Disana lah tempat gua biasa nulis.” kata gua. Dia dan dia mengangguk setuju.

Pinggiran danau. Gua dan dia duduk-duduk di atas rumput, asyik ngobrol soal dunia tulis-menulis. “Membuat suatu karya bukan hanya membutuhkan imajinasi, perasaan juga berperan. Apa yang kamu imajinasikan, rasakan itu. Dan biarkan tangan dan alat tulis kamu mencari kata-katanya sendiri. Sebuah seni, apapun itu, dibuat dengan hati.” kataku. Dia diam mendengarkan gua dengan penuh perhatian. Gua perhatiin dia balik. Semua begitu mirip. Dan gua punya pertanyaan untuk dia. “Apa yang lu suka di dunia ini?” dia berpikir sejenak. “Ehm, aku suka hujan.” Deg! “Kenapa suka hujan?” tanya gua, berusaha tenang. “Karena, sesudah hujan, pasti ada pelangi. Aku suka pelangi. Pelangi itu indah. Seakan Allah ingin menjelaskan bahwa ada kebahagiaan sesudah kesulitan. Ada senyum sesudah tangis.” jawab dia. Kenapa? Semua sama? Bahkan kata-katanya? Apa maksudnya?

Sesampai di rumah, gua masih memikirkan kejadian hari ini. Apa maksudnya? Dan pertanyaan itu terbawa sampai gua tidur.

Indah. Indah yang dulu menghampiri gua. Memakai pakaian serba putih dan tersenyum. Dia menyentuh gua, tepat di dada sebelah kiri, di atas jantung. Dan di sebelahnya, berdiri Indah yang lain. Indah yang gua temui tadi padi. Dia menyentuh gua di tempat yang sama. Dan Indah juga memakai pakaian serba putih. Dan mereka berdua berdiri sebelahan, tersenyum sangat cantik ke gua.

Dan gua terbangun dengan sejuta bingung. Bukan karena apa maksud semua ini. Gua sudah ngerti apa maksud semua ini. Gua hanya engga siap. Ga siap menerima memori itu lagi.

Hari-hari selanjutnya dihabiskan dengan Indah. Kita semakin dekat. Gua semakin tahu, Indah sempurna. Bukan hanya baik, dia orang taat beragama. Berhijab, rajin sholat, baik budi pekertinya. Dan dia juga pintar.
Allahuakbar.

Gua, mulai ngerasain perasaan yang sama. Bukan karena dia mirip seperti yang dulu, melainkan karena dia yang sekarang. Dia yang sekarang adalah penyempurnaan dari dia yang dulu. Sekarang, gua mengerti maksud yang ingin disampaikan Allah. Memang selalu ada pelangi setelah hujan.

Bulan puasa terlewati. Lebaran pun tiba. Gua sekeluarga silatulrahmi ke rumah dia. Keluarga kami sudah kenal dekat. Saat mereka asyik ngobrol, gua ajak Indah keluar ke halaman rumah. Dan di situ, gua nyatain perasaan gua ke dia, yang sudah lama gua pendam. Dia kaget. Dia bingung. Di satu sisi dia juga suka, di sisi lain dia taat beragama. Dan dia pun jawab “Maaf banget, bukan aku nggak mau. Agama melarang kita pacaran. Mending… mending kita temenan aja. Kalau kita berjodoh, Allah akan menyatukan kita. Tak peduli seberapa jauh jarak kita” katamu, tersenyum. Senyum yang menyembunyikan sakit karena mengkhianati diri sendiri. Dan gua mengerti keputusannya. Gua pun memberikan senyum ke dia. Senyum yang akan membahagiakan dia. Sekarang dan nanti.

Tak lama setelah itu, hujan pun turun, namun hanya sebentar
Dan setelah itu muncul pelangi
Tersenyum melihat kita berdua
Bahagia melihat dua anak manusia di bumi ini bersatu

Cerpen Karangan: Bagas Hayujatmiko
Blog: bagashay.blogspot.com
Facebook: Bagas Hayujatmiko

Cerpen Senyum (Bahkan Pelangi Pun Menangis Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Zaujati

Oleh:
Ceritanya dimulai dari sini. Ana dengan suara indahnya dan Ahmad dengan suaranya yang sangat merdu. Mereka dipertemukan di bawah gubuk ilmu pondok hufadz Daarul Qur’an. Pertemuan pertama mereka mungkin

Assalamualaikum Cantik

Oleh:
Kilauan sinar matahari yang masuk ke kamarku memaksaku untuk membuka mata ini, padahal mataku masih enggan untuk dibuka. Seperti biasa ketika bangun tidur, aku selalu membuka jendela kamarku untuk

Antara Cinta dan Kebohongan

Oleh:
Cinta adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Cinta pulalah yang melengkapi hidup manusia. Dengan cinta kita bisa merasakan rasa sakit dan juga rasa senang. Aku adalah Eni Saraswati,

LDR Untuk Bahagia

Oleh:
Tujuh tahun lalu disaat aku dan maulana berkenalan lewat handphone secara tidak sengaja, saat itu aku duduk di kelas 3 smp dan dia di kelas 2 madrasah aliyah di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *