Separuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 4 August 2013

“Malam ini hari lahirmu..” Katamu mangingatkan bahwa usiaku telah tepat 21 tahun.
“Kita akan melakukan seperti biasanya.” Katamu lagi memancingku untuk bersuara.
Aku hanya tertunduk seolah memandang kue kecil di depanku. Walaupun sebenarnya bukan itu yang kupandang. Bukan kue itu, bukan apapun di depanku. Tetapi aku memandang jauh ke dalam hatiku. Apa yang sebenarnya bergejolak di dalamnya.
“Baiklah.. Aku punya satu kue, kau juga.” Katamu yang mungkin sudah tidak tahan dengan sikapku.
Aku mulai sedikit fokus dengan yang kau katakan, sekalipun resah dalam hatiku belumlah hilang.
“Kita punya kue yang berbeda.” Kau mengarahkanku untuk memandang kue di depan kita.
Aku melihat kesabaran dari gerak tubuhmu, akupun melihat ketulusan dari sorot matamu, tapi entah mengapa hatiku seakan beku.

Dengan menggunakan pisau yang kau genggam, kau potong kuemu menjadi dua bagian, begitu juga dengan kueku. Lalu, separuh kuemu kau berikan padaku dan separuh kueku kau ambil untukmu. Selalu seperti itu.
“Kenapa harus seperti ini?” Tanyamu seperti tahu aku tidak mengerti dengan yang kau lakukan.
“Supaya kita masing-masing tahu, kamu tahu apa yang kurasakan, akupun tahu apa yang kau rasakan…” Kau menjawab pertanyaanmu sendiri sambil menatapku tajam.
Aku mengerti maksud tatapanmu. Kau mencintaiku. Sangat mencintaiku. Sedetik kata-katamu itu mampu mengguncang hatiku. Tapi sedetik kemudian hatiku telah berbalik. Kulirik lelaki yang duduk di antara kita. Kita tidak berdua, tapi bertiga. Tidak hanya ada aku dan kamu, tapi juga dia.
“Kau tidak bisa tahu apa yang kurasakan hanya dengan memakan separuh kueku.” Akhirnya aku menanggapi ucapanmu.
“Tentu saja tidak jika tidak kau katakan. Bisakah memberitahuku apa yang kau rasakan saat ini?” Kau selalu berusaha mengerti perasaanku.
Aku menangis. Melihat perasaanku yang tak terkendali, kau tiba-tiba pergi. Itulah kamu, tak sanggup melihat jatuhnya air mataku.
“Kau mencintaiku?” Tanya dia setelah kau tak terlihat lagi.
Rasanya sesak. Bagaimana aku bisa bernafas dengan lapang, jika orang yang kucintai dan orang yang mencintaiku, keduanya memberikan pertanyaan yang menghimpit hatiku.
“Apa yang kau pikirkan?” Dia mendesakku untuk berbicara.
“Kau tidak mencintaiku?” Aku balik bertanya sekaligus secara tak langsung menjadi jawaban pertanyaannya.
“Takdirmu bukan aku, tapi dia..” Katanya mematahkan hatiku.
Setelah itu aku berlari mencarimu.

Rasanya lega ketika aku melihatmu bersujud di masjid tempat kau dan dia biasa berjamaah bersama. Bukan penolakannya yang membuatku berlari mencarimu, tapi sujudmu yang mungkin telah membuka hatiku dan membimbingku ke arahmu. Aku mulai mengerti mengapa kau masih di sisiku sekalipun aku sering menyakitimu, mengapa kau tetap mencintaiku meskipun kebimbangan melilit hatiku. Karena kau melihatku dalam sujud-sujudmu, karena kau mengimpikanku dalam istikharahmu.
Akupun mendapat ketetapan hatiku.

Aku menerima lamaranmu, aku mau menikah denganmu, aku akan menggenggam tanganmu dan mengikuti langkahmu kemanapun kau ingin membawaku… Aku memilihmu, bukan karena aku hilang arah hingga tak tau kemana harus pergi. Aku memilihmu, bukan karena dalamnya luka hingga mati rasa di hati. Tapi aku memilihmu, karena Insya Allah kaulah Imam terbaik bagiku.

Seperti yang kau inginkan, aku mengatakan itu di depan dia, orang yang pernah kucinta dan menjadi jembatan bersatunya cinta kita. Dialah saudaramu, orang yang sekalipun mencintaiku tak mungkin bersamaku karena dia telah menjadi milik orang lain..

Cerpen Karangan: Miga Imaniyati
Facebook: Miga Imaniyati

Cerpen Separuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Little Thing Become A Big Thing

Oleh:
Melupakan kakak memang merupakan hal tersulit dalam masa meninggalkan masa SMA ini. Namun selalu aku coba untuk merelakan kakak, walau kakak adalah orang pertama yang paling lama ada di

Saat Nathan Tak Ada

Oleh:
Namaku Melfa. Melfa Kirana. Aku punya teman bernama Nathan. Gabriel Nathaniel. Dia adalah musuhku. Dia menjadi musuhku sejak 1 SMP. Sekarang aku 2 SMA. Sangking kami sangat bermusuhan, aku

Tahukah Engkau?

Oleh:
Tahukah engkau bagaimana rasanya menunggu si pelengkap hati? tahukah engkau bagaimana rupa yang akan menjadi penghias mimpi? tahukah engkau bagaimana rasa hati yang digenggam enggan pergi? tahukah engkau bagaimana

Patah Hati Terbaik

Oleh:
“Kita udahan aja ya, kayanya lebih baik gitu. Aku udah gak bisa ngelanjutin. Kita sampe di sini aja. Kamu baik, cantik, pinter, jadi cewek kaya kamu itu gak pantes

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *