Sepucuk Rindu Untuk Lelaki Pemilik Senyum Manis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 15 July 2019

Rintikan air langit semakin deras sore hari ini. Senja tak menampakan kilauan oranyenya. Cuaca kota ini terasa semakin dingin. Aku masih saja berkutat dalam kesibukanku mengerjakan editing film pendekku bersama Sahila.
Sudah hampir dua jam kami di depan layar komputer, membuat mata kami jadi perih dan kering.

“Ra, aku buat coklat panas dulu ya. Kamu mau?” kata Sahila menawarkanku.
“Aku kopi cappucino aja deh.”
“OK sip boss.”

Handphoneku berdering ada pesan Whatsapp masuk.
“Dek, pulang jam berapa? Mba mau pergi, kunci rumah mba titipin di Tante Dona ya. Kamu hati-hati lho di rumah” –Mba May
Kubalas pesan dari mba May itu. “Sekitar habis maghrib mba, Iya nanti tak ambil. Mba juga hati-hati ya.”
“Yupp we’re DONE!!” kataku dengan nada semangat.

Sahila langsung lari dari tangga dekat kamarnya menghampiriku. “Yakin? Serius Ra?”
Aku mengangguk dan tersenyum lebar.
“Eeh… mana kopiku?”
“Hehe iya Ra, sebentar dong airnya belum mateng noh.”

Dengan tugas yang sudah terselesaikan lebih cepat seperti ini, aku bisa mendengarkan musik-musik favoritku. Atau sekedar membaca novel milik Sahila.
Kuputar beberapa lagu kesukaanku dengan suara speaker yang volumenya tak terlalu kencang. Aku bernyanyi lirik demi lirik mengikuti alunan musik itu.
Aku tak pernah canggung melakukan hal apapun di kamar Sahila ini.
Karena Sahila sendiri yang selalu bilang padaku setiap aku masuk ke rumahnya “Anggap aja rumah sendiri.”

“Udah di backup belum filenya yang tadi?” Tanya Sahila sambil membawakan dua cangkir berisi minuman panas.
“Udah La, nih. Buru-buru dibackup ke laptop kamu juga ya!” Aku memberikan flashdisk yang berisi film pendek hasil editing kami pada Sahila.

Rumah Sahila memang begitu nyaman, fasilitas kamarnya tak kalah dengan kamar hotel bintang lima. Orangtua Sahila sengaja membeli rumah di sini untuk tempat tinggal Sahila.
Tapi Sahila hanya tinggal bersama Bi Mira Asisten rumah tanagganya.
Sedangkan orangtuanya berada di kota yang berebeda. Karena keinginan Sahila adalah kuliah di salah satu Universitas di kota Yogyakarta ini.
Sahila selalu memohon padaku agar mau tinggal bersamanya di rumah yang super nyaman ini. Tapi aku seringkali menolak, alasannya karena Mba May.

“Ra, kenapa sih kamu gak mau tinggal bareng aku aja? Lagipula rumah ini terlalu besar kalau Cuma aku dan bi Mira aja yang nempatin.”
“Kalo aku tinggal sama kamu, terus gimana sama Mba May? Terus, rumah aku siapa yang mau ngurusin?”
“Kalo gitu kamu ajak aja Mba May, dan rumah kamu bisa kamu sewakan ke orang lain. Dengan begitu kan rumah kamu masih tetap terawat Ra.”
“Husss kamu kalo ngomong asal jeplak aja sih. Rumah itu kan peninggalan kedua orangtua aku.”
Sahila memasang wajah masam padaku. Aku tak terlalu ambil hati dengan sikapnya itu yang seperti anak-anak.

Sudah pukul 17.35 sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang dan bersahut-sahutan.
“Habis sholat maghrib aku pamit pulang ya La.”
“Yaaah Ra, apa gak bisa nginep malam ini aja. Atau seenggaknya abis sholat isya’ pulangnya.”
Aku menggeleng pada Sahila.

Di balkon kamar Sahila ini, suasana maghrib begitu indah. Adzan Maghrib terdengar sangat jelas di atas sini. “Aah andai rumahku seperti ini.” Pikirku.
“Astaghfirullah… apa-apaan ini, kenapa aku jadi kufur begini?” Dengan cepat aku tersadar dari lamunanku yang tidak-tidak.

Setelah sholat aku langsung berpamitan pulang pada Sahila dan Bi Mira. Raut wajah Sahila seperti tidak ingin aku kembali ke rumahku.
“Mba Zara ndak mau makan dulu? Bibi sudah masak lho Mba.”
“Makasih Bi Mira, aku mau langsung pulang aja. Assalammu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Ra, Hati-hati kamu.” Sahila berteriak padaku dari belakang.
Aku menoleh “Iya pasti La.”

Belum sampai 5 menit aku menunggu bus di halte seberang rumah Sahila, aku pun mendapati bus yang kutunggu berhenti di depanku. Langsung aku melangkahkan kaki untuk menaiki bus itu. Tak terlalu banyak penumpang, hanya ada 3 laki-laki yang mungkin mahasiswa dan 5 orang perempuan yang kemungkinan juga mahasiswi karena mereka semua mengenakan jas Almamater Universitas mereka. Kecuali seorang lelaki yang berada di pojok belakang. Dia hanya mengenakan sweater saja.

Aku duduk di bangku nomor tiga sejajar dengan Pak Supir. Jalanan tak tampak seperti biasanya yang ramai dan macet. “Alhamdulillah, kalau jalanan lancar kayak begini aku bisa cepat sampai rumah.” Ucapku dalam hati.

Handphoneku bergetar lagi, kulihat ada tiga pesan Whatsapp dari Sahila.
“Ra, Al-Qur’an kamu ketinggalan nih.” –Sahila
“Makanya kalo pulang jangan buru-buru.” –Sahila
“Kayak rumahnya mau diangkut aja sama orang.” –Sahila
Aku hanya mendengus ketika membaca pesan darinya dan sedikit tertawa kecil saat membaca pesan yang ketiga.
“Ya udah, simpen aja dulu sama kamu. Besok tolong sekalian bawa ke kampus.” Balasku singkat.

Mataku sedari tadi tertuju pada seorang mahasiswa di bangku belakang yang sedang membaca buku. Tiba-tiba mata laki-laki itu menoleh ke arahku dan aku pun langsung memalingkan pandanganku darinya. Sepertinya laki-laki itu sadar kalau dari tadi aku memperhatikannya.

“Ciiitttt…” suara rem Bus berdenyit membuyarkan lamunanku.
“Astaghfirullah….”
“Eh.. cepet banget si.” Aku pun turun dan membayar ongkos jalan pada kondektur busnya.
Dan ternyata mahasiswa yang kuperhatikan sejak tadi itu juga turun di sini.

“Mba maaf.” Sontak aku menoleh ke arah suara serak itu. Mahasiswa itu menghampiri aku.
“Eh iya mas, ada yang bisa saya bantu?” Dengan nada pura-pura santai aku bertanya pada mahasiswa itu.
“Saya mau tanya mba, Jl. Soebroto No. 37 itu di mana ya?”
Aku terdiam berpikir sejenak. “Looh.. bukannya itu rumah mas Ahmad?” tukasku dalam hati.
“Mba? Maaf, apa mba nya tau?” tanyanya lagi.
“Oh iya mas, itu rumah nya Mas Ahmad bukan?”
“Betul mba. Mba nya tau ya?”
“Iya mas, kalo mas nya mau bareng sama saya aja. Soalnya rumah mas Ahmad dekat dengan rumah saya.”
“Oh boleh mba.”
“Kalo gitu mari!”
Laki-laki itu hanya membalasku dengan senyuman di bibirnya.

Dia terus mengikutiku dari belakang, dan tak lama kami sampai di depan rumah mas Ahmad.
Aku berhenti dan menunjukaannya pada lelaki itu.
“Ini mas, rumahnya mas Ahmad. Saya permisi dulu ya. Assalammu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Lagi-lagi senyuman manis itu tersimpul di bibir lelaki itu.
“Eh Mba, Terimakasih.” Kata lelaki itu setengah berteriak.
Aku menoleh dan tersenyum dengan maksud mewakilkan ucapan Terimakasih Kembali.

“Ah… kenapa jadi mikirin dia terus Zara?”
“Inget Zara!! Jangan sampe dia yang baru kamu temuin ngegusur tempat Allah di hati kamu!” aku menggerutu sendiri sampai tak sadar kalau Mba May sudah ada di ambang pintu kamarku yang dari tadi diam-diam memperhatikanku.

“Ekhmm… siapa dek yang baru kamu temui?”
“Mba May… ngagetin aku aja sih. Bukannya salam dulu.” Aku sedikit salah tingkah.
“Lagipula kalo mba salam juga gak kamu jawab dek.”
“Hehehe… jadi mba udah ucapin salam ya?”
“Siapa sih orang yang bikin adek mba ini sampe gak jawab salam dari mba?”
“Bukan siapa-siapa kok mba.”
Mba May terus mendesakku supaya aku mau cerita padanya. Dan akhirnya aku pasrah pada bujukan mba May.

Tema malam ini adalah laki-laki pemilik senyum manis yang baru kutemui di bus tadi. Mba May begitu seksama mendengarkan ceritaku soal dia.
“Kamu jatuh hati dek sama lelaki itu?” Pertanyaan mba May membuat ku terkejut.
“Hah… jatuh hati? Aku aja gak tau nama dia mba, kenal juga enggak. Kita ketemu juga karena tadi dia nanyain alamat rumah nya Mas Ahmad ke aku.”
Aku menyangkal pertanyaan Mba May.
“Oh ya udah kalo gitu. Mba mau ke kamar mba dulu ya dek. Kita akhiri dulu cerita tentang Lelaki pemilik senyum manis yang kamu bilang itu. Udah malem nih. Kamu juga tidur gih. Besok kan jadwal kamu yang bangunin kakak sholat tahajud.”
“Hehehe… iya Mba aku hampir lupa lho.”
Mba May mematikan lampu dan menutup pintu kamarku.

Masih pagi sekali, aku melaju dengan motor matic ku menuju ke kampus tempat aku bertemu dengan banyak orang yang sekarang menjadi teman-temanku.
Dengan bibir sedikit komat-kamit aku mengucapkan kalimat istighfar dan membaca surat-surat pendek Al-Qur’an.
Sudah seminggu aku terus memikirkan laki-laki itu. Kurasa aku merindukan senyuman manis yang tersimpul di bibirnya itu. Dan rasanya ingin sekali mendengarkan suaranya serak itu.
“Ya Allah.. andai engkau izinkan, pertemukanlah aku dengan dia lagi.” Entah, mengapa tiba-tiba di tahajud ini aku berdo’a seperti itu pada Nya. Tak terasa aku menitikan air mata.

Mba May mendekatiku “Adek mba kenapa si? Kok akhir-akhir ini sering banget keliatan sedihnya.”
“Mba, aku beneran punya perasaan ke dia.”
“Laki-laki senyum manis itu? Mba tau kok dek.”
“Kenapa Allah menganugerahkan rasa cinta untuk orang yang gak kita kenal?”
“Dek, Allah gak hanya numbuhin rasa cinta dan sayang pada orang-orang yang kita kenal saja. Allah mengetahui bagaimana yang terbaik bagi kita, sebagai hamba-hamba Nya. Kamu tau kan kalau Allah punya banyak rahasia yang hanya diketahui oleh Nya?”
“Terus sekarang aku harus gimana mba? Aku bener-bener rindu dengan dia. Bagaimana caranya aku bisa mengobati rasa rindu ini?”
“Inget dek, lagunya Afgan. Kalau Jodoh Pasti Bertemu.”
Aku tersenyum dan memeluk mba May dengan erat. Bersyukur sekali rasanya memiliki seorang kakak seperti mba May.

Seperti inikah rasanya merindukan seseorang yang bahkan aku pun tak kenal dengannya? Namun kurasa hati ini sudah dicuri tanpa sengaja olehnya. Aku khawatir jika khusyukku dalam beribadah hilang hanya karena memikirkan dia yang tak kuketahui namanya. Dia yang hanya kutemui saat perjalanan pulang dari rumah temanku. Dan dia yang menanyakan alamat Jl. Soebroto No. 37 seminggu yang lalu. Wahai aku, mengapa dengan hatimu?
Tangan kananku terus mengendalikan pena yang menari-nari menorehkan tulisan di atas lembaran buku harianku.

Hari demi hari aku dapat melupakan rasa rinduku pada dia, makhluk yang membuatku jatuh hati tanpa tahu namanya. Aku tak terlalu ambil pusing untuk terus memikirkannya.
Kesibukan yang aku lakukan berhasil membuatku merdeka dari rasa jerat rindu terhadap dia.

Siang ini aku sibuk sekali mencari buku referensi di perpustakaan kota. Dua buku lagi belum kutemukan. Kesal rasanya sudah satu jam lebih tanganku berpetualang mencari buku-buku itu. “Pantang pulang sebelum aku nemuin buku-buku itu.” Gumamku.

“Zara… masih lama nyarinya? Kalo gak ketemu mending kita beli aja deh ke toko buku.” Suara itu yang sudah berulang kali ku dengar mengatakan kalimat yang sama.
“Sebentar lagi Bil.”
“Tau nih Bilqis, emang kalo beli kamu mau bayarin?” Celetuk Sahila.
“Hehehe… enggak sih. Ya abisnya aku udah laper tau.”

Tiba-tiba Sahila memberikan buku-buku yang aku cari sejak tadi.
“Waahh… kamu dapet darimana La? Akhirnya dapet juga. Makasih ini lho.”
“Bilang terimakasih nya ke cowok itu aja Ra.” Kata Sahila sambil menunjukan jarinya kearah lelaki yang dimaksud.
Degg!!! Aku kaget bukan main, kami bertemu tatap. Lelaki itu pun melangkah menghampiri aku dan teman-temanku.
Dia adalah lelaki yang sering kusebut dalam do’aku. Kini berada tepat di depanku.

“Assalammu’alaikum.”
Suara serak dan senyuman manis yang kurindukan itu kembali kutemui setelah lama menghilang.

Cerpen Karangan: Kharisma Perry
Blog / Facebook: Kharisma Putri
Kharisma Putri (atau biasa disebut Kharisma Perry).
Lahir di Pekalongan, 3 Oktober 1999.
Suka sekali dalam menulis puisi dan juga cerpen.

Cerpen Sepucuk Rindu Untuk Lelaki Pemilik Senyum Manis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat untuk Masa Laluku

Oleh:
Apa kabar, masa laluku yang sekarang entah berada dimana? Apakah kau masih mengingatku? Jika kau lupa, aku adalah; seseorang yang selalu ada di sisimu, seseorang yang dulu sangat mencintaimu;

Cinta Bisu

Oleh:
Bagaimana caranya mencintai? Sedangkan ia terus berusaha lari tanpa menghirukan kejaran dariku. Bagaimana cara memanggilnya? Sedangkan ia terus berpaling tanpa menatap bagian belakang kehidupannya. Ya. Aku yakin dia sama

Cinta Yang Ingkar

Oleh:
Seperti jalan yang tak berujung.. Seperti ruang yang tak ada celah.. Aku menyusuri setiap jalan yang jejaknya kutinggalkan. Mencari dimensi yang pernah kau katakan. Fiksi yang kau ceritakan seperti

Berselimut Mimpi

Oleh:
Malam ini udara di kampungku begitu dingin, suara rintik hujan membisik kesunyian. Angin sepoi-sepoi berhembus lewat celah-celah ventilasi kamarku, menyentuh tubuh ini, membuat semakin malas saja untuk sekedar keluar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *