Star Wish

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 16 August 2015

Senja mulai berganti malam, langit jingga pun mulai gelap. Waktu yang paling kunanti. Perjalanan siang lelahku akan segera berakhir. Kupandangi langit jingga yang mulai kelabu. Aku menanti kehadiran bintang pertama di langit.

Almarhum Kakekku selalu mengajakku menanti kehadiran bintang pertama. Karena beliau memberitahuku sebuah rahasia besar tentang bintang pertama.

“Indah bukan menyaksikan senja? Kakek mau memberitahumu sebuah rahasia besar tentang sang bintang. Kau mau berjanji untuk menjaga rahasia ini?” Kenangku saat aku masih mampu melihatnya tersenyum padaku.
“Rahasia apa itu kek?” Tanyaku manja.
“Saat senja seperti inilah, waktu yang tepat untuk menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan. Kau lihat satu-satunya bintang yang ada di sana?” Kata Kakek sambil menunjuk ke arah bintang terang itu berada. Sedang aku hanya menganggukkan kepala.
“Bintang itu adalah bintang yang pertama kali muncul saat langit mulai gelap, bintang itulah bintang yang paling istimewa di antara bintang-bintang yang lain. Bintang itulah yang akan menemani bulan sepanjang malam. Tuhan pun memberinya keistimewaan yang tak dimiliki oleh bintang lain. Jika kau mempunyai sebuah permohonan, maka sampaikanlah permohonanmu sebelum bintang yang lain muncul, maka ia akan menyampaikan keinginanmu itu pada Tuhan.” ya, begitulah cerita dari Kakekku.

Dan semenjak saat itu, tiap sore hari aku selalu memandang langit senja hingga kutemukan sebuah bintang pertama. Karena ia mampu menyampaikan permohoan pada Tuhan, maka aku menamainya “Star Wish” yang maknanya bintang permohonan.

Setiap aku merasa rindu pada Kakekku, aku akan menyambut kedatangan star wishku memasuki cakrawala. Aku akan memintanya menyampaikan rasa rinduku pada Kakekku di surga. Namun, kali ini aku tak ingin menyampaikan rasa rinduku pada Kakek. Karena rasa rinduku saat ini bukanlah untuk Kakekku. Aku merindukan seseorang yang belum aku kenal sama sekali. Bahkan tahu namanya pun tidak. Aneh memang, tapi inilah kenyataannya. Lamunan membawaku pada waktu tiga minggu yang lalu. Waktu ketika menjelang hari resepsi pernikahan Kakakku.

“Livia, ayo, bantu-bantu! Jangan bengong di situ terus.” Teriakan Papaku membuyarkan seluruh lamunanku.
“Iya pa, apa yang harus Livi bantu?” Balasku.
“Ini, kamu antar makanan buat kru layar tancapnya.” Perintah Papaku.
“Iya pa,” Dengan malas, aku pun bangkit dari tempat dudukku. Kemudian membawa sebuah nampan yang telah disodorkan Papaku untuk diberikan pada kru layar tancap yang dimaksud.

Resepsi pernikahannya memang bukan hari ini melainkan besok. Tapi menurut adat jawa –terutama jawa timur, tempatku tinggal saat ini– pada malam resepsi pernikahan harus melaksanakan syukuran yang dinamakan “Walimatul Urusy”. Yang dilanjutkan dengan acara begadang semalaman. Nah, untuk menghibur tetangga-tetangga yang udah mau begadang, Papaku menyewa tontonan layar tancap –semacam bioskop tapi di luar ruangan– yang kini mulai jarang diminati lagi.

Dengan mimik cuek, aku membawa nampan itu keluar untuk disuguhkan pada kru yang dimaksud. Setelah sampai di mana kru tersebut duduk, betapa terpesonanya aku melihat sosok cowok keren yang duduk di antara kru-kru yang lain sejumlah empat orang itu. (Terpesona ku pada pandangan pertama. Dan tak kuasa ku menahan rinduku. Senyumanmu selalu menghiasi mimpiku)

Aku rasa dia juga salah satu kru di situ. Beberapa detik kemudian aku mengerjap dan meninggalkan semua kekagumanku terhadapnya. Kutaruh makanan itu di atas meja dengan wajah tertunduk. Aku nggak mau sampai cowok keren –yang sanggup mengadakan konser perkusi dalam setiap detak jantungku– itu melihat wajahku merona karena salah tingkah.

Setelah semua pekerjaanku selesai, aku pun kembali dan segera mengembalikan nampan itu ke dapur. Dan aku pun segera menuju beranda rumahku. Sengaja aku memilih tempat yang sekiranya aman untuk bisa curi-curi pandang pada cowok keren itu.

Sejak pertama kali aku melihatnya, ada getaran-getaran aneh yang menjalar dalam sekujur tubuhku. Seperti ada vibrator yang menempel pada setiap sisi tubuhku. Aku tak mampu menahan gejolak perasaan aneh ini. Hanya dalam beberapa menit saja aku mampu merasakan hal aneh seperti ini. Apakah ini yang disebut love in first find?

Tak ada satu detik pun yang terlewatkan olehku. Namun jika dia merasa ada yang mengamatinya dan dia melihat ke arahku, aku pun pura-pura melihat ke arah lain. Sepertinya dia juga risih aku amati terus. Aku rasa dia tahu bahwa aku mengamatinya. Namun aku tak peduli.

Aku terlanjur mengaguminya. Hanya dengan melihatnya pun udah ada rasa kepuasan dalam lubuk hatiku kalau boleh diumpamain sih, bagai onta di tengah padang pasir yang menemukan sebuah oase. Dia bagai air yang mampu menghilangkan dahagaku selama ini. Dia mampu mengisi ruang hatiku yang hampa. Dia mampu menorehkan berjuta warna dalam hatiku yang masih putih.

“Livi, Ngapain kamu? Ayo bantu Kakak bagiin makanan buat tamu undangannya. Jangan bisanya cuman bengong di situ aja!” Sial, Kakakku mengacaukan seluruh imajiku yang telah kususun sedemikian rupa bagai puzzle yang hampir selesai. Dan kini kepingan-kepingan itu kembali berantakan lagi dalam otakku.

“Iya kak, kak Lira nih bisanya ganggu orang aja.”
“Ganggu apaan? Orang dari tadi kamu bengong aja nggak ngapa-ngapain.”

Nggak mau berantem lagi dengan kak Lira aku pun bangkit dan segera menuruti perintah Kakakku.
Setelah acara syukurannya selesai dan para tamu undangan bubar. Aku pun mengambil posisi senyaman mungkin –tentu juga memastikan bahwa tempat itu memungkinkanku untuk curi-curi pandang pada cowok keren itu– untuk melihat layar tancap yang sepertinya akan dimulai.

Sebelum film diputar, terlihat sebuah iklan sebuah rokok yang juga menjadi pendukung acara tersebut. Sebelum acara dimulai, aku udah duduk enjoy bersama sepupuku. Kira-kira pukul sembilan film pun mulai diputar. Judul filmnya Preman Is Love yang dibintangi Tora Sudiro dan Vincent pasti tema filmnya kocak.

Namun selama film diputar, perhatianku tak tertuju pada layar seutuhnya. Cowok itu benar-benar mampu mengalihkan seluruh perhatianku juga seluruh duniaku –baik dunia nyata maupun dunia khayalku.
Caranya makan, caranya berbicara, caranya berjalan, caranya tersenyum begitu keren dan terlihat begitu gentle dan natural. Begitu sederhana namun keindahan yang ditampilkannya mampu memukau setiap mata yang memandangnya.

Malam semakin larut, sudah tiga buah film yang diputar tapi mataku nggak bisa diajak kompromi.

“Livia, kamu sekarang tidur gih. Udah larut malam nih.” Sentakan Mamaku membuyarkan seluruh konsentrasiku.

Dengan langkah enggan, aku pun menuruti apa kata Mamaku. jujur sebenernya aku nggak mau meninggalkan tempat yang kududuki sekarang. Aku tak mau melewatkan waktu bahkan sedetik pun untuk mengalihkan pandanganku terhadap wajah keren cowok itu.

“Hmm, aku nggak akan bisa nglihat wajah keren itu lagi. Selamat tinggal my prince,” ucapku dalam hati ketika melangkah menuju kamarku. Aku tak semudah itu bisa tidur nyenyak. Bayangan cowok keren itu terus memenuhi seluruh isi memori otakku.

Hari resepsi pernikahan itu pun tiba. Dengan wajah sedikit tak bersemangat, aku membantu untuk menerima tamu. Pada puncak acara malam ini Papaku memanggil grup kesenian tradisional jawa timuran –yang biasa disebut “Ludruk”– untuk menampilkan kebolehannya.

Aku tak tahu apa yang sekarang sedang aku rasakan. Tapi yang jelas, bayangan cowok itu benar-benar mampu mengalihkan seluruh dunia nyataku. Dan dalam dunia khayalku pun aku begitu banyak berharap banyak padanya. Bahwa dia pun merasakan apa yang kurasakan saat ini. Pandanganku menelusuri setiap sudut jalan raya yang kini dipenuhi oleh para penjual-penjual dadakan. Sampai pandanganku terhenti pada stan penjual produk rok*k yang mendukung acara layar tancap kemarin.

Tak disangka-sangka ternyata cowok keren itu ada di sana. Tiap ada kesempatan, aku pun mencuri pandang padanya. Walaupun kebanyakan hanya bisa memandangi punggungnya, tapi aku merasa begitu bahagia. Mungkin setelah hari ini, aku tak akan pernah melihatnya lagi.

Hanya butuh beberapa menit bahkan detik saja untuk mengaguminya dan memasukkannya dalam memori otakku. Namun melupakannya belum tentu bisa satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, satu windu, satu abad atau seumur hidupku nggak akan pernah bisa dengan mudah untuk melupakannya.

Selama tiga minggu ini, aku tak mampu melupakan bayanganya dari duniaku. Hal sekecil apapun akan mampu mengingatkanku padanya. Hingga saat ini aku menanti Star Wish-ku untuk memohon agar Star Wish bisa menyampaikan rasa rinduku yang telah membeludak dalam relung pedalaman hatiku.

Detik demi detik berlalu, matahari mulai bersembunyi di ufuk barat. Langit yang sebelumnya berwarna jingga, kini perlahan-lahan mulai gelap. Malam pun siap meluruh ke bumi tempatku berpijak saat ini.
Star Wish-ku samar-samar mulai terlihat. Aku yang sedari tadi duduk termenung di beranda rumahku untuk menanti kehadiran Star Wish-ku sambil memandangi sudut-sudut rumahku yang mungil.

Ketika aku mendongakkan kepalaku ke langit, Star Wish telah terlihat sepenuhnya. Dia tetap setia menemani sang rembulan. Saatnya membuat permohonan sebelum bintang-bintang lain bermunculan meramaikan suasana langit gelap saat malam tiba. Aku pun menarik napas pelan dan mengembuskannya pelan mulai memejamkan mata dan mengatupkan kedua tanganku di dadaku dan mulai mengucapkan semua permohonanku pada Tuhan.

“Star Wish-ku. Bintang pertama, bintang yang paling terang. Tolong sampaiin sama Tuhan. Aku pengen banget ketemu sama cowok keren yang aku temui tiga minggu yang lalu. Tolong sampaiin sama cowok itu juga bahwa aku begitu ingin bertemu dengannya bukan hanya ingin bertemu tapi merindukannya sepenuh hatiku.”

Setelah membuat sebuah permohonan, aku pun mengambil sehelai kertas dan sebuah pulpen. Jari-jari lentikku mulai menari-nari dengan lincah di atas kertas sobekkan itu. Dan jadilah sebuah puisi cengeng ungkapan seluruh perasaanku.

Untukmu “My Prince”
Adalah purnama di bulan Juli
Rintikan gerimis yang meluruh di permukaan bumi
yang hingga saat ini masih kupijak menyambut sang purnama
Hingga saat gerimis mereda,
Purnama pun semakin bersinar dengan cahaya eloknya
Aku ingin menjadi satu-satunya bintang yang selalu menemaninya
Namun, terlalu banyak bintang yang ada di sekitar hatinya
Hingga aku mulai terlupakan

Berjuta aksara yang mengalun indah,
tak akan sanggup wakilkan rasa rinduku untuknya
Rasa rindu ini terlalu menghujam kejam
dalam seluruh ruang hati dan setiap sisi sanubariku
Saat sempat aku melayang terbang dalam awang-awang
Hingga buatku jatuh tersimpuh tanpa sebab
Andai Sang pencipta memberiku sebuah kesempatan,
Sanggupkah sang bintang mengutarakan rasa rindunya yang begitu membelenggu sendu?
Masih bisakah bintang berkata untuk sang rembulan

“Sudah terlambatkah untukku mengungkapkan seluruh isi hatiku bahwa kusayangi kau hingga cukup sudah hanya cukup kau sajalah,”

Cerpen Karangan: Laila
Facebook: Laila Istighfaroh

Cerpen Star Wish merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


If You Know

Oleh:
Aku sangat paham mengapa dulu kamu dan ibu mu sangat menyayangi dia. Dia memang sangat menarik, dia pintar mengambil hati mu, keluargamu dan teman teman mu. Kalian memang serasi.

Pilihan Terberat

Oleh:
Aku masih termenung tak percaya, seseorang yang kugilai di masa laluku kini hadir dan ingin menjawab semua keinginanku yang pernah kupanjatkan dulu. Tapi di lain sisi aku telah menaruh

Secret Admirer In Rainy Season

Oleh:
November ceria. November musim hujan. Bulan ini adalah bulan paling disukai Anka. Biancha Ulinanta nama lengkapnya. Cewek serba lumayan. Lumayan pinter. Lumayan manis. Lumayan gaul dan juga lumayan kaya.

Halaman Terakhir

Oleh:
Kicauan-kicauan burung di balik jendela pun membangunkan tidurku. Ku lihat matahari mulai beranjak naik, ku tengok jam dinding yang menggantung tepat di atasku. Ah ternyata sudah jam 07.00. Aku

Karena Kami Adik Kakak

Oleh:
Namaku Misya Thalia, nama panggilanku isya. Hal yang paling aku sukai adalah hujan, walaupun umurku sudah 16 tahun, namun aku masih suka hujan-hujanan dan menari di bawah derasnya hujan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *