Status Adik Kakak (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 March 2014

Hari ini, matahari sudah berhasil masuk ke dalam sela-sela jendela kamarku. Liburan sekolah masih tersisa seminggu lagi. Dan itu tandanya masih banyak waktu untukku bersenang-senang dengan Kak Bintang. Hem apalagi hari ini aku akan berjalan-jalan dengannya.

Aku pun sibuk mencari-cari baju untuk nanti malam jalan dengannya. hem rasanya seperti ingin jalan dengan seorang pacar saja. Padahal aku ingin jalan dengan seseorang yang selama ini aku anggap sebagai kakak ku itu. haduh ada apa denganku!

“ahaa, ini dia baju yang cocok” ucapku senang saat menemukan baju yang ku kira pas untuk nanti malam. karena hari ini masih sangat pagi, lebih baik aku menunggu nanti malam dengan membantu Bundaku. Aku pun keluar kamar dengan wajah yang benar-benar cerah ceria.
“pagi Bunda, Ayah, Kak Shadam” ucapku dengan penuh semangat saat menghampiri mereka di ruang makan. Kali ini mereka menatapku dengan aneh. “Kenapa? Apa ada yang salah denganku?” ucapku pada mereka semua yang menatapku aneh. “tumben sekali kamu menyapa kita seperti itu?” ucap Kak Shadam. Hem Kak Shadam memang seperti itu. selalu saja membuatku jengkel. “ya sudaah lain kali aku tidak akan menyapa seperti itu” ucapku kesal. “eh pagi-pagi kalian sudah bertengkar” ucap ayahku yang saat ini libur bekerja. “itu Kak Shadam duluan yah” ucapku menggerutu. “Shadam, jangan menggoda adikmu seperti itu” ucap Bundaku membela ku. Kak Shadam pun akhirnya diam. Tetapi aku lihat, dia masih saja mentertawaiku. Ah sudahlah aku tak mau memperdulikannya lagi. Lebih baik sekarang aku sarapan.

Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini aku makan dengan lahapnya. Mungkin Bunda dan ayahku serta kak Shadam sedikit bingung dengan porsi makanku yang benar-benar lahap. Hem setelah selesai sarapan, aku langsung membantu Bunda untuk membereskan piring kotor. Aku perhatikan di sekelilingku, ternyata hanya ada Bunda dan aku di dapur. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu pada Bunda. “Bun..” ucapku sambil terus mencuci piring. “kenapa Dar?” jawab bunda. “hemm.. Dara mau Tanya, salah gak ya kalau kita suka sama seseorang yang lebih tua dari kita?” tanyaku dengan perasaan ragu dan takut. Tiba-tiba saja Bundaku langsung mendekat. “suka sama seseorang yang lebih tua ya?” ujar bunda mengulangi pertanyaanku. “iya Bun..” jawabku singkat. “jatuh cinta itu untuk siapapun. Cinta tidak memandang umur kamu lebih tua darinya atau sebaliknya. karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang dirasakan oleh hati bukan mata atau hal apapun. jadi, jika hati kamu mengatakan kamu suka dia pasti itu benar bahwa kamu menyukainya” ucap Bunda saat menjawab pertanyaanku. “hemm gitu ya Bun” ucapku sambil memeluk bundaku. “memangnya kamu lagi munyukai siapa?” Tanya Bundaku tiba-tiba. “ah tidak kok Bun. Dara Cuma Tanya aja sama Bunda” jawabku sedikit malu. Hem setelah sudah puas bertanya, aku pun langsung keluar dari dapur dan berjalan menuju ruang Tv.

Sejenak aku melihat ponsel ku. Dan ternyata ada satu pesan dari Kak Bintang. Begini bunyi pesannya ‘nanti malam jangan lupa ya dek’. Aku sampai tak percaya kalau Kak Bintang mengingatkanku akan hal itu. karena biasanya aku yang selalu mengingatkannya. karena kalau aku tidak akan lupa dengan janji itu. karena memang itu yang sudah ku tunggu-tunggu. Tanpa berlama-lama lagi, aku pun langsung membalas pesanya ‘iya kak, aku gak akan lupa’.

Rasanya jarum jam berdetak sangat lambat. Bahkan lebih lambat dari sebelumnya. Hem apa ini hanya perasaanku saja? Entahlah. Sambil menunggu waktu, aku memutuskan untuk membuka laptopku. Tak sengaja, aku melihat formulir online untuk sebuah perlombaan menyanyi. karena aku suka menyanyi, akhirnya aku mencoba untuk mendaftar. karena penyaringan awalnya melalui youtube, aku harus mencari seseorang yang bisa mengiriku dalam pembuatan video yang akan ku ungguah di youtube. Tapi siapa ya? Kak Shadam? Memang sih dia bisa main gitar, tetapi aku pasti di ejeknya nanti. Akhirnya aku berfikiran seseorang yang bisa membantuku. Hemm…

Malam harinya…
Akhirnya waktu yang aku tunggu sejak tadi datang juga. sekarang waktu menunjukkan pukul 7 malam. Aku pun langsung bersiap-siap untuk pergi dengan Kak Bintang. Baju yang sudah ku siapkan dari pagi, langsung aku pakai. Aku melihat diriku di cermin. “cantik” ucapku memuji diriku sendiri. Dengan dress selutut warna biru dan rambutku yang ku gerai dengan sedikit jepit rambut dengan warna yang sama. Siap sudah untuk menghabiskan malam minggu bersama Kak Bintang.
“mau kemana Dar?” Tanya Ayahku. Saat ini Ayah, Bunda dan Kak Shadam sedang berkumpul di ruang tv. Mereka secara bersamaan melirik ke arahku saat aku keluar dari kamar. “hemm Dara mau pergi sebentar yah” ucapku. “pergi kemana?” kini Bundaku yang bertanya. “jalan-jalan aja Bun” ucapku lagi. “hem pasti sama Bintang” ucap tiba-tiba Kak Shadam. Aku pun langsung menyipitkan mataku ke arahnya. “Bintang anaknya Tante Kimiko?” Tanya Bundaku lagi yang kini tertuju pada Kak Shadam. “iya Bun, Bintang anaknya Tante Kim” jawab Kak Shadam. Aku pun langsung menundukan padanganku. Kini aku ragu akan diizinkan keluar rumah oleh ayah dan bunda. Tetapi tiba-tiba… “selamat malam” ucap seseorang dari depan pintu. Aku seperti mengenal suaranya. Aku pun langsung berlari kecil menuju pintu depan untuk membukakan pintu. “Kak Bintang?” ucapku saat melihat Kak Bintang yang kini berada di depan rumahku. Selama 7 bulan aku berkenalan dan dekat dengannya, baru kali ini Kak Bintang ke rumahku. Dan ini cukup mengejutkanku. “kakak mau apa kesini?” tanyaku heran. “kita jadi pergi kan?” ucap Kak Bintang. “iya jadi kak, tapi kan kita sepakat untuk bertemu di depan komplek” ucapku dengan suara pelan. “kakak tidak mau ajak pergi kamu tanpa minta izin sama orangtua kamu” jawabnya dengan sangat tegas. Jujur, saat itu aku langsung terdiam. Aku tak menyangka kalau Kak Bintang mau meminta izin dengan orangtua ku untuk mengajak ku pergi. Padahal, ini kan keinginanku.

Mungkin mendengar pembicaraanku dengan seseorang di pintu depan, Ayah Bunda dan kak Shadam pun secara bersama-sama menghampiriku dan Kak Bintang. “Tante, Om, Dam” ucap Kak Bintang menyapa kedua orangtuaku dan Kak Shadam. “eh Bintang yang datang. Tante kira siapa” ucap Bundaku dengan ramah. “mau ajak Dara pergi ya Tang?” lanjut Kak Shadam. Benar-benar malu dan tak tau harus berbuat apa. Rasanya seperti sedang diintrogasi oleh polisi. “Hem Om, Tante, Bintang mau ajak Dara keluar sebentar. Boleh gak?” ucap Kak Bintang saat meminta izin. “iya boleh, tapi jangan terlalu malam ya pulangnya” jawab ayahku mengizinkan. Ada perasaan lega saat ayah dan bundaku mengizinkanku keluar dengan Kak Bintang. “hem iya Om, kita gak akan pulang malam-malam kok” ucap Kak Bintang. Aku dan Kak Bintang pun langsung keluar dari rumahku.

Saat ini aku pergi menggunakan Motor besar milik Kak Bintang. Hem sepertinya aku salah kostum. Sudah pakai dress tetapi malah naik motor. Tapi gak apa-apa lah yang penting pergi dengan Kak Bintang. Dalam perjalanan, tak ada percakapan di antara kita. Sampai pada akhirnya Kak Bintang mencairkan suasana dengan bertanya padaku. “mau pakai jaket gak Dar?” ucap Kak Bintang. Memang malam ini suasanya mendung dan sangat dingin. Tetapi aku menolaknya, karena memang aku tidak merasa kedinginan.

Tak terasa akhirnya kita sudah sampai. Kak Bintang mengajakku ke sebuah danau yang suasananya dan pemandanganya sangat indah. Banyak penjual makanan dan banyak juga orang-orang yang menghabiskan malam minggu disini. “tempat apa ini kak?” Tanya ku saat kita beranjak menuju penjual jagung bakar di tepi danau. “ini tempat favorit kakak saat baru pertama kali menginjakan kaki di Jakarta” jawab Kak Bintang. Iya aku tau, Kak Bintang dulunya tinggal di Jepang. Dan baru sekitar 7 bulan tinggal di Indonesia tepatnya di Jakarta. “hem gitu ya kak. Terus kakak tau tempat ini dari siapa?” tanyaku lagi. “dari seseorang. Eh iya kamu mau jagung bakar?” ucap Kak Bintang. “emm iya kak” jawabku sambil menganggukan kepala. Kak Bintang pun memesan jagung bakar untukku dan dia.

“Bintangnya banyak ya kak” ucapku mencairkan suasana. “banyak? Bukannya hanya satu ya?” jawabnya. “kok satu?” tanyaku heran. “iya satu. Nih yang ada di samping kamu Bintangnya” ucap Kak Bintang sambil tertawa. “iih kakak bisa ajaa” ucapku lagi yang diiringi tawa. Suasana pun lebih mencair saat Kak Bintang mengeluarkan sisi Humornya.

Saat kita lagi makan jagung bakar yang tadi Kak Bintang pesan, tiba-tiba ada seorang tukang foto keliling menghampiri kita berdua. “mau foto Mbak, mas?” ucap foto keliling itu. aku dan kak Bintang pun saling menatap. “hem boleh mas” ucapku ketika itu. mungkin Kak Binta kaget saat aku mengatakan itu. tapi ya sudahlah. Ini juga untuk kenang-kenangan. Dan kita pun akhirnya foto berdua. Ketika ku melihat hasilnya, hemm lumayan bagus kok. Aku pun langsung menaruhnya di dalam dompetku.

Tak terasa, rintik hujan kini mulai turun dan membasahi bumi. Aku dan Kak Bintang langsung beranjak dari tepi danau dan mencari tempat untuk berteduh. Hujan semakin lebat dan deras. Dan akhirnya kita mendapatkan tempat berteduh di salah jembatan. “hem basah semua deh” ucapku. Ku lihat Kak Bintang membuka sweaternya dan memakaikannya padaku. Mungkin dia melihatku yang sudah mulai kedinginan. “kamu baik-baik saja kan?” ucap Kak Bintang khawatir. “aku kedinginan kak” ucapku menggigil kedinginan. Tiba-tiba Kak Bintang langsung memelukku untuk menghangatkan tubuhku. Entah kenapa aku merasa sangat nyaman di dekatnya. “mungkin benar apa yang di bilang Kak Bintang. Bintang di langit memang banyak, tetapi sesungguhnya Bintang yang yang saat ini benar-benar dekat denganku hanya satu. Ya, dia adalah seseorang yang memelukku saat ini. aku merasa sangat bahagia bisa dekat dengan Kak Bintang. Aku benar-benar beruntung bisa bertemu dengannya.

“hujannya sudah Reda, kita pulang sekarang aja yuk” ucap Kak Bintang. Rasanya aku tak ingin mengakhirinya. Aku ingin lebih lama disini. Tentunya disini bersamanya. Tetapi rasanya tak mungkin. Hari juga sudah larut malam. Dan aku pun menyetujuinya.

Tak terasa, aku kini sudah sampai di depan rumah. “kamu baik-baik saja ka?” ucap Kak Bintang saat aku mulai turun dari motornya. “aku baik-baik saja kak” jawabku sedikit menggigil. “wajahmu terlihat pucat dan sepertinya kamu kedinginan akibat hujan tadi” ucapnya lagi khawatir. “tidak kak, besok pagi pasti aku sudah kembali sehat” jawabku dengan sebuah senyuman kecil. “baiklah kalau begitu. Oyasumi, ii yume wo mite ne (selamat tidur, mimpi indah ya)” ucapnya dengan sedikit bahasa jepang yang memang bahasa Negara kelahirannya. Meskipun aku tak mengerti apa yang dikatakan oleh Kak Bintang, tetapi aku memberi senyuman padanya.

Di dalam kamar, aku langsung membersihkan tubuhku yang kotor karena air hujan. Tetapi sebelum itu, aku sempat tersenyum melihat jaket Kak Bintang yang menempel pada tubuhku. Aku benar-benar bahagia hari ini. Every moment spent with you, is a moment I treasure. Ya, mungkin benar begitu.

Keesokan harinya… *krinnggg… kringgg. jam alarmku sudah berbunyi. Tetapi rasanya, kepalaku sangat sulit untuk diangkat. Terasa sangat pusing sekali. “Bundaa..” ucapku dengan suara agak kencang memanggil Bundaku. Tak lama bunda pun datang ke kamarku. Dia terlihat sangat khawatir. “wajah kamu pucat sekali Dar” ucap bunda dengan memegang leherku. “panas sekali” ucapnya makin khawatir. “kepalaku terasa sulit untuk di angkat Bun” ucapku lemas. Bunda pun keluar dari kamarku dan kembali membawa kompresan air hangat untukku. Terasa lebih enak rasanya setelah dikompres.
“Dara, ada Bintang” teriak Kak Shadam menghampiriku di kamar. “suruh masuk aja Dam. Daranya lagi sakit” ucap Bundaku yang saat itu berada di sampingku.

Tak lama kemudian, Kak Bintang pun masuk ke dalam kamarku. Dan Bunda meninggalkan kami berdua dengan pintu kamarku yang terbuka lebar. “kamu sakit?” ucap Kak Bintang yang terlihat sama khawatirnya dengan bunda. “hanya terasa pusing Kak” ucapku. Dia pun perlahan memegang dahi ku. “panas sekali” ucapnya dengan kekhawatiran yang makin terlihat dari matanya. “tidak apa-apa kak, hanya demam biasa. Hemm itu apa?” ucapku sambil menunjuk sesuatu yang di bawa oleh Kak Bintang. “oh iya, ini Kakak buatkan kamu Sup Miso. Ini kakak buat sendiri loh” ucap Kak Bintang dengan menaruh makanan yang dibawanya itu di meja. Sup Miso adalah sejenis Sup yang terkenal di Jepang, berupa sup dengan bahan dasar dashi ditambah isi sup berupa sedikit makanan laut atau sayur-sayuran, dan diberi miso sebagai perasa. “makasih ya kak” ucapku. “mau Kakak suapin?” ucapnya lagi. Aku sedikit canggung dengan pertanyaannya. “iya boleh” jawabku sedikit malu.

Kak Bintang pun mulai menyuapi ku dengan makanan yang ia bawa itu. hem benar-benar enak. Aku baru pertama kali merasakan Sup Miso khas Jepang ini. “ini kakak yang buat?” tanyaku lagi. “iya. Kakak tau pasti kamu akan sakit. Melihat kondisimu semalam membuat kakak tidak bisa tidur memikirkan keadaanmu” ucapnya sambil terus memasukan Sup Miso itu ke dalam mulut kecilku. “kak Bintang memikirkanku?” gumamku dalam hati. “hei kok melamun sih” ucap Kak Bintang membuyarkan lamunanku. “hah?” ucapku saat tersadar dari lamunan. “oh iya kak, jaketnya nanti aku kembalikan setelah selesai dicuci ya” lanjutku. “tidak dikembalikan juga tak apa kok Dar” jawabnya.

“nah sudah habis. Sekarang kamu minum obatnya ya?” ucap Kak Bintang yang begitu sangat perhatian padaku. “ehemmm” tiba-tiba Kak Shadam masuk ke dalam kamarku. “huhh mengganggu saja” ucapku dalam hati. “eh Dam” sapa Kak Bintang. “ciee yang diperhatiin sama Bintang” ledek Kak Shadam. “apa sih Kak Shadam” jawabku yang sudah mulai jengkel. Aku sedikit melirik ke Kak Bintang, dia hanya tersenyum saja mendengar ledekan Kak Shadam yang memang jail.

Setelah asik berbincang-bincang dengan Kak Bintang dan Kak Shdam, hem akhirnya Kak Bintang memutuskan untuk pulang. Padahal aku ingin Kak Bintang lebih lama disini. Tapi ya sudahlah. “Dek” ucap Kak Shadam yang masih di kamarku. “apa?” jawabku. “kamu suka kan sama Bintang?” Tanya Kak Shadam. Aku hanya terdiam. karena aku sendiri bingung dengan perasaanku. Aku merasa sangat bahagia dekat dengannya, bahkan merasa nyaman. “jujur aja sama Kakak” lanjutnya. Aku pun mulai menarik nafas dan mengungkapkan semuanya pada Kak Shadam. “aku gak tau ya kak ini perasaan suka atau apa. Tapi yang jelas aku merasa sangat bahagia dan nyaman dekat dengannya. hari-hariku selalu berwarna jika sedang bersamanya. Dia selalu memberikan perhatian yang aku rasa berbeda. Tapi itu mungkin hanya perasaanku saja” ucapku mengungkapkan semua perasaanku. Kak Shadam pun tersenyum dan mengacak-acak pelan rambutku. “adik ku yang cantik, itu namanya kamu menyayanginya. Kakak sudah duga selama ini kalau kamu menyukai bahkan menyayanginya” ucap Kak Shadam dengan suara yang lembut. Baru kali ini aku merasa Kak Shadam adalah kakak yang perhatian padaku. karena sebelumnya dia selalu saja mengejekku. “tapi apa Kak Bintang mempunyai perasaan yang sama?” tanyaku pada Kak Shadam. “We will never know the real answer, before you try” jawab Kak Shadam dengan tersenyum. Setelah mengatakan hal itu, Kak Shadam langsung keluar dari kamarku dan membiarkanku sendiri.

“hem sepertinya benar apa yang Kak Shadam ucap” gumamku dalam hati. Tapi bagaimana aku mengatakannya. Aku ini seorang wanita. Tidak mungkin aku mengatakannya lebih dulu.

Cerpen Karangan: Risdatul Zulfiah
Facebook: zrisdatul[-at-]yahoo.com
namaku Risdatul Zulfiah. aku kelas 3 di SMK Daarul Uluum Jakarta. nama Facebook ku: zrisdatul[-at-]yahoo.com
dan nama Twitterku : @risda_zulfiah

Cerpen Status Adik Kakak (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunglon Hitam Putih 4: Galau Level 7

Oleh:
“Tok… Tok… Tok… Nnngngg… Cekiitt… Jebloggg…” Suara pintu itu terdengar. Seseorang berparas cantik menginjak lantai kala itu, mata birunya jelas tersorot cahaya matahari. Selanjutnya dia masuk kekamar Rizky dan

Maaf Karena Aku Terlalu Berharap

Oleh:
Hembusan angin dari jendela membangun kan ciara dari tidur nya. Ara melihat jam di meja belajar, “astagfirullah!!! Sudah jam 6 fix aku kesiangan!!!” Ujar ciara atau biasa dipanggil ara.

Yang Lalu Tetap Berlalu

Oleh:
Siang yang bersahabat, matahari adem ayem di cakrwala. Ku langkahkan kaki ke luar kelas. “Ana” itulan panggilanku, Lifi mendekatiku. Aku dan Lifi mampir sebentar di toko depan sekolah. Sewaktu

Waiting For You (Part 2)

Oleh:
“Arghh!” Erick mengacak-acak rambutnya frustasi. “Mengapa dia benar-benar tega kepadaku? Pertemuan yang tak disangka-sangka kukira akan berjalan dengan mulus, tapi mengapa sebaliknya?”, ucapnya kesal dan akhirnya mengeluarkan teriakan kekesalannya

Sorry, But l Love You

Oleh:
“Kadang, tanpa kita sadari jarak bukanlah salah satu alasan pencarian yang pasti, mungkin dia hanya selangkah di dekatmu.” “Raaaaaa? Hei Ranita Deanita?” suara seseorang yang jelas sudah sangat bersahabat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *