Sudut Kedai, Secangkir Ketenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 8 August 2021

Olivia melangkah memasuki sebuah kedai minuman yang terletak di sudut kota. Ia bersama tas jinjing, sweater dan celana pendeknya memilih tempat duduk di sudut ruangan. Aura kedai ini menemani Olivia yang sedang kacau. Ia melihat ke sisi jalan raya lewat kaca di sebelahnya. Ramai dan menyenangkan.

Gadis ini mengeluarkan novelnya. Nikmat sekali bisa membaca novel favorit di tempat favorit dengan suasana favorit. Olivia memesan coklat hangat pada Joy, si pelayanan kedai karena tiba-tiba hujan turun dan karena itulah minuman favoritnya.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Joy saat mengantar coklat hangat ke meja Olivia. Yang ditanya hanya mengangguk dengan senyum tipis. Joy segera meninggalkan Olivia karena ia harus memindahkan beberapa barang di dapur.

Olivia menghela napas. Gerombolan anak SMA seumurannya datang memasuki kedai dan duduk di seberang Olivia. Dia memalingkan muka dan menatap dinding kedai yang terbuat dari kaca. Butiran-butiran air menempel di baliknya. “Andai aku bisa jatuh saja. Seperti tetesan hujan ini,” ujar Olivia lirih. Matanya berkaca-kaca. Hanya tempat inilah yang memberikan ketenangan dan kebahagiaan untuknya. Menemaninya saat ia sedang lara. Hati Olivia serasa tertekan, ia melihat betapa akrabnya gerombolan anak SMA tadi. Namun dirinya? Tidak ada teman yang mau merangkulnya seperti sahabat, tidak ada yang mau mengerti Olivia.

Orangtua pun tak bisa menjadi orangtua bagi Olivia. Ayah ibunya selalu bertengkar, setiap hari. Tanpa memikirkan bagaimana perasaan Olivia. Gadis SMA ini hanya ingin ketenangan dan perhatian. Aku lah yang remaja, emosiku yang tidak stabil, aku lah yang butuh perhatian. Itulah kalimat yang ingin Olivia katakan saat marah dengan tindakan orangtuanya yang menekan dia. Tapi kalimat itu tak pernah terucapkan olehnya. Dia terlalu takut untuk marah. Dia tak tahu bagaimana dan di mana ia bisa meluapkan emosinya. Hanya buku diarynya, Chloe yang selalu mendengarkan dan tahu seluruh isi hati Olivia. Kadang Olivia bertanya dalam hati, apa aku salah menjadi orang introvert? Tapi siapa bisa memilih? Lagi pula aku nyaman dengan ini.

Mata Olivia menangkap suatu pemandangan. Sebuah mobil yang dinaiki satu keluarga yang begitu harmonis, mereka terlihat begitu bahagia. Tertawa terkena hujan sebelum air itu terhalang payung. Sepertinya menyenangkan, tapi dunia adalah dongeng kalau Olivia lah yang di sana.

Dia selalu berdoa pada Tuhan agar suatu hari ia bisa mendapat dongeng itu, agar suatu hari Olivia, ayah, dan ibunya bisa bersama tersenyum, makan malam, dan kehujanan bersama. Tapi Tuhan tak mengabulkan doanya. Harapan Olivia mulai memudar. Olivia sadar bahwa ia berbuat salah dengan berhenti percaya dan berharap pada kuasa Tuhan, tapi kali ini dia ingin mendengarkan hati egoisnya. Olivia lelah menjadi orang penurut dan perhatian. Semua upayanya sia-sia, dia tak dipandang oleh siapapun.

Saat orang introvert diam semalaman, mengurung diri atau semacamnya itu bukan hal yang aneh. Ini semacam kebutuhan bagi introvert. Dan kami benar-benar tidak ingin diganggu saat itu. Kami hanya ingin diam. Dan bukan berarti kami mudah merajuk.

Tawa gerombolan siswa-siswi SMA tadi memenuhi ruangan. Semua orang memandang mereka, kecuali Olivia. Mata bulatnya sekarang menatap seseorang di kedai kue di seberang jalan. Laki-laki itu juga memilih tempat duduk di dekat dinding kaca. Olivia menopang kepala dengan tangan kirinya dan mengamati lelaki di ujung sana. Dia sedang membaca buku. Orang itu juga memandang ke arah Olivia, tersenyum tipis.

Melihat matanya saja Olivia seperti ditiupin angin sepoi-sepoi dan hatinya jadi lebih tenang. Entah kuat magis apa yang membuatnya begitu.

“Kau tertarik padanya?” tanya perempuan di depan Olivia. Olivia sedikit bingung. Perempuan ini salah satu dari siswi yang tertawa tadi. Olivia hanya mengangkat bahu. “Apa kau ingin menggunakan meja ini? Aku akan segera pergi,” ujar Olivia. Perempuan di depannya menggeleng. “Tidak, aku hanya ingin mengajakmu bergabung dengan teman-teman. Dengan kami. Kau bisa mengobrol santai kalau mau. Tentunya setelah kau selesai dengan dirimu,” kata perempuan cantik ini. “Aku juga mengerti orang introvert, tahu.. Aku dan teman-teman..” dia menunjuk gerombolannya, “juga bergaul dengan orang introvert sepertimu. Dari tadi aku perhatikan kau diam saja. Sedang menghitung rintik hujan ya?” tanya perempuan itu sambil tertawa. Olivia ikut tertawa kecil.

“Aku akan bergabung dengan kau dan teman-temannya nanti,” jawab Olivia ramah. “A a a a a… Bukan. Seharusnya teman-teman kita. Mereka sekarang teman-temanmu juga,” ralat sosok di depan Olivia. “Oh ya, namaku Aluna. Aluna Kasih Juwita,” tambahnya.
“Aku Olivia,” kata Olivia. Aluna mengangguk. “Beri dirimu waktu, dan bergabunglah dengan kami.” Aluna yang memakai kemeja, rok pendek dan bandana beranjak meninggalkan Olivia. Mudah sekali menambah teman, ujar Olivia dalam hati. Matanya kembali tertuju pada si lelaki di kedai seberang. Mungkin bergabung dengan Aluna dan yang lain akan menyenangkan, tapi aura lelaki itu tak bisa dikalahkan. Olivia memandang terus, dan itu menenangkan.

Kini dia sedikit tenang. Tuhan berikan hujan, ketenangan, teman baru, dan tentu sudut kedai serta secangkir coklat hangat yang nikmat.

Cerpen Karangan: Vee Moona

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 8 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Sudut Kedai, Secangkir Ketenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Harapan Palsu (Part 1)

Oleh:
“Tersenyum mungkin hanya topeng belaka. menangis mungkin hanya luapan emosi saja. tapi perasaan ini membuatku tersenyum dan menangis. apa perasaan itu hanya topeng? atau apa perasaan itu hanya luapan

Harusnya Aku Tak Begitu

Oleh:
Malam dingin yang menyapa, namun hangat kebersamaan kita melenyapkan kedinginan itu. Aku memulai melangkah dengan penuh keraguan, namun kulakukan dengan pasti. Aku melangkah dengan penuh rasa bersalah, namun kurasakan

Cinta Memang Lucu

Oleh:
Aku diajak teman satu kos-an-ku keluar cari makan. Biasa anak kos. Seringnya memang makan di luar. Makan di luar di sini bukan berarti makan di luar ruangan. Tapi makan

Hibernasi

Oleh:
“Maafkan aku Ham, aku udah bener-bener gak bisa sama kamu, aku tuh udah terlanjur mencintai dia, bahkan lebih dari cinta aku ke kamu, maaf.” Kalimat yang terdengar sangat menyakitkan

Keajaiban Yang Membingungkan

Oleh:
Apa kau mencintaiku? Setelah semua kenangan manis itu, esok lusa, hari yang ditunggu tiba. Tapi? Apa aku mencintainya? atau apa dia benar mencintaiku? Aku sudah berusaha menghalau pikiran itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *