Surat Kecil Untuk Sang Maya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 3 August 2013

Dear sang-maya…
Ku dengar kau sudah memiliki gadis mungil lain, setelah aku.
Ku harap kau awali dengan suatu pernyataan kejujuran bahwa kau memang benar mencintai gadis mungilmu yang sekarang.
Dengan begitu semua akan terasa indah, percayalah.
Seperti aku yang dahulu memulai semuanya dengan sebuah pernyataan tulus dan jujur dari dalam lubuk hatiku bahwa aku memang mencintaimu, menyayangimu, dan selalu membutuhkanmu hingga detik ini pun!
Bagaimana dengan mu kala itu?
Entahlah… aku hanya meyakinkan diriku bahwa kaupun memiliki perasaan yang sama dengan ku.

Aku harap pesan singkat yang kau kirimkan kepada temanku, ‘bahwa kau bermaksud menjalani sebuah hubungan dengan gadis mungilmu ini hanya untuk mengisi kekosonganmu saja’, itu hanya sepatah dua patah harapan palsu yang biasa kau ucapkan. Benar begitu bukan?
Aku tahu bahwa kau tidak sedang benar-benar berkata juga, ‘bahwa belum ada yang mampu menggantikan posisiku di hatimu’.
Aku mengenalimu sudah cukup lama sang-maya.
Meski akupun tidak benar-benar melihatmu dengan wujud aslimu.
Tapi lagi-lagi hatiku ini selalu meyakinkanku. Mungkin karena perasaanku yang terlalu dalam terhadapmu.

Kau tahu sang-maya. Em… maaf aku lancang, mungkin kau sudah tidak ingin mengetahui lagi tentangku.
Tapi aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku yang tak kunjung reda oleh kegalauan karena hancurnya istana yang sudah hampir berdiri kokoh itu. Aku masih terus saja memikirkanmu.
Aku masih terus memikirkan semua kenangan indah kita dulu.
Aku masih terus membayangkan isi pesan yang kau kirimkan tiap hari, tiap menit, tiap detiknya kepadaku.
Aku masih menghawatirkanmu.
Aku masih merasa ketakutan jika penyakitmu datang.
Meski kutahu kita yang dulu itu hanya cerita palsumu untuk mengambil perhatianku, membuatku selalu merasa khawatir, membuatku selalu merasa bersalah untuk menutupi semua kepalsuan dirimu.
Namun terlepas dari semuanya aku sangat merindukan keberadaanmu.
Aku merindukan perhatian darimu.
Aku merindukan membaca pesan singkat yang kau kirimkan kepadaku.
Aku merindukan kau yang selalu menenangkanku.
Semua tentangmu aku merindukannya.

Aku tak pernah berharap bahwa kaupun akan merasakan hal yang sama denganku saat kita sudah tidak lagi bersama.
Mungkin kau sedang menertawakan ketololanku ini yang tidak bisa berhenti mencintaimu.
Atau mungkin kau merasa puas bahwa aku disini sudah terpuruk seperti yang kau inginkan.
Tak apa, karena memang ini yang kurasa, aku tidak sedang menggombal atau berkata bohong.

Hati kecilku sudah kulatih untuk bisa melepaskan kepergianmu, karena sudah terlalu lama kau tinggal di hatiku.
Dan kini… kini hatiku sudah mati!
Entah kapan aku akan menghidupkannya kembali. Karena aku takut tak ada yang bisa sepertimu, yang mengerti diri ini seperti kamu dahulu.

Kembali lagi terlepas dari semua ketakutan yang membelenggu ini, aku percaya suatu saat nanti semua ketakutan yang aku punya akan terhapus oleh cahaya yang akan mengantarkanku menuju gerbang kehidupan yang tidak lagi semu.
Aku akan menyusulmu sang-maya. Bukan hari ini, tapi suatu hari nanti.

Berbahagialah dengan gadis mungilmu, aku selalu mendoakanmu dari jauh…

dari seorang gadis mungil
yang mati hatinya

Cerpen Karangan: Ken Apriela
Blog: commonprefferentstock.tumblr.com

Cerpen Surat Kecil Untuk Sang Maya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesan Untuk Dirimu Yang Mungkin Ada

Oleh:
Aku sering memimpikan sebuah mimpi yang sama berulang kali. Namun, ada sebuah mimpi yang terus menggangguku. Aku pernah mengutarakan gejolak aneh yang kurasakan mulai dari mimpi itu sendiri hingga

Cintaku Bagai Kaktus

Oleh:
Baru kali ini aku mengguratkan tulisan kata cinta, dan galau di buku harianku. Tak pernah kumerasakan hal ini sebelumnya. Setiap guratan pulpen yang kugesekan pada setiap lembar di buku

Jarak Takkan Memisahkan Kita

Oleh:
“Kamu tahu hewan kecoak?” “Iya tahu.” “Apa menurut kamu tenteng binatang itu?” “Dia adalah hewan yang hebat. Dia mampu hidup meski kelaparan dan dia tak memiliki leher.” Rasanya aku

Mencintainya Dalam Diam

Oleh:
Nama yang setiap hari aku bisikkan dalam sujudku, nama yang setiap aku menyebutnya membuat hatiku mengerang kesakitan, membuat air mataku berlomba untuk menyatu dengan bumi. Entah keajaiban apa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *