Surat Tanpa Nama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 18 September 2017

Surat itu ia simpan, ia sembunyikan jauh dari dunia. Surat yang ia tulis tanpa ia niatkan untuk mengirimnya. Dalam surat itu tidak ia sertakan tanggal, tidak ia sertakan nama pengirim maupun penerima, bahkan dalam isi suratnya tidak ada sebuah nama pun yang ia sebutkan. Walaupun tak berniat mengirimkannya, surat itu ia lipat rapi dan ia masukkan ke dalam amplop biru polos, sekali lagi tanpa nama, tanpa identitas. Surat itu terselip begitu saja di sebuah buku coklat lusuh. Sebuah buku yang menemaninya sejak lima tahun silam, sebuah buku yang awalnya kosong, tapi sekarang lembar demi lembarnya telah terisi banyak cerita dari sang pemiliknya.

Fajri membenarkan posisi kopiahnya, panggilan mesra-Nya telah bersahut-sahutan memenuhi langit yang masih dingin. Ia keluar dari sepetak kamar kos yang telah ditempatinya selama hampir 4 tahun, melangkah di tengah sepinya gang. Sedetik ia menoleh ke atas, menatap langit subuh yang selalu baru setiap harinya. Dalam sedetik itu, ada kagum dalam benaknya, menyaksikan bagaimana gelap yang ditelan benderang. Memadamkan satu persatu cahaya bintang, menjadikan bumi yang sepi jadi bingar. Beribadah ia pada Tuhan-nya, merendahkan hatinya, berharap agar ada banyak kesempatan dibukakan untuknya, agar skripsinya selesai secepatnya, agar rindu pada ayahnya terobati segera, agar dicukupkan sehat dan rizkinya, dan agar ibunya mendapat tempat yang paling baik bersama Tuhan.

Fajri melangkah kembali ke kosnya, sedetik ia menoleh ke atas, menatap langit yang mulai membiru, namun masih pekat. Dalam sedetik itu, teringat ia pada cerita ayahnya. Cerita tentang kejadian kala fajar, yang ternyata tidak selalu membawa tawa. Cerita tentang ayahnya yang baru saja mendapat buah hati yang dinantinya, sekaligus kehilangan istri yang dicintainya. “Ah bagaimana bisa itu terjadi?”, ia bertanya entah pada siapa. Tugasnya untuk mencari hikmah atas segala kejadian yang dialaminya.

Kamar kosnya berantakan, buku-buku tebal menumpuk untuk literatur skripsinya, laptopnya menyala semalaman. Fajri rebah di kasurnya, mencari celah di antara buku dan kertas yang berantakan. Ia memejam. Opss, bayangan siapa itu lewat dalam pejamnya? Selintas ada wajah perempuan muda tersenyum hadir dalam lamunnya.

Ia segera bangkit, merapikan kamarnya yang kecil. Menumpuk buku dan kertas-kertasnya di satu sisi ruangannya, beberapa ia masukan tas ranselnya karena akan ia kembalikan ke perpustakaan kampusnya. “Sedikit lagi!!”, gumamnya. Ya, memang skripsinya akan rampung dalam waktu dekat, tak sabar ia untuk segera melamar kerja dengan ijazah desain grafisnya, menabung dan melanjutkan hidup dengan lebih baik. Kabarnya di sekitar kampus, ada banyak perusahaan yang baru berdiri dan membutuhkan tenaga kerja di bidang desain grafis. Hal itu menambah semangatnya untuk segera menyelesaikan masa studinya.

Jam sembilan ia ada janji dengan perempuan itu, di gedung yang akan menyelenggarakan acara besar. Pesan singkat darinya yang ia terima sebulan yang lalu berhasil membuat Fajri melamunkannya setiap matanya terpejam dalam sadar. Lima belas menit menjelang jam sembilan, Fajri keluar dari kamar kosnya. Sepertinya akan telat, karena hari ini ia tidak bisa naik angkot, isi dompetnya akan digunakan untuk memfotocopy beberapa file sebagai bahan skripsinya. Ia akan naik sepedannya, pemberian dari seorang saudara jauh yang tinggal dekat dari kampusnya. Tidak bagus, tapi cukup membantu. “Aiss… kenapa kempes? Kemarin baru dipompa kan?”, ingatnya. Ini hari Sabtu, bengkel dekat kosnya pasti tutup. Terpaksa Fajri berjalan kaki menuju tempat janjiannya.

Jam sembilan matahari sudah terasa sangat terik, ditambah debu dan asap motor yang terbang di mana-mana. Fajri hanya berjalan, melewati tepi aspal yang panas. Ditambah dahaga yang semakin kuat, perjalanan itu terasa begitu lama. Belum lagi jika ada bus yang asap knalpotnya begitu pekat dibuang menuju wajahnya, pusing kepala Fajri menghirup baunya. Sesekali ia lihat jam tangannya, “Ini akan telat, pasti telat”, sesekali ia berlari kecil, berusaha memperpendek waktu perjalanan. Mau bagaimana lagi, dengan jalan kaki akan menghabiskan waktu tiga puluh menit, Fajri akan membuatnya menunggu lama. Keringat mengalir dari pelipisnya, bukan satu atau dua, tapi banyak. Wajahnya basah oleh keringat, punggungnya yang menggendong ransel juga telah basah. Mandinya yang ia buat lebih lama pagi tadi, tidak meninggalkan wangi sabun sedikitpun. Fajri terus berjalan, menghirup polusi yang tetap penuh di akhir pekan.

Sesosok perempuan telah menunggu cemas di depan pintu masuk gedung. Fajri bisa melihatnya dari jauh, wajahnya masih sama, putih dengan mata bulat dan hidung mungilnya. Jilbab merah maroonnya tidak mengurangi pesona wajahnya. Fajri semakin dekat dengannya, jantungnya berdegup kencang, tangannya bergetar. Entah apa yang dirasakannya. Fajri semakin dekat, tapi wajah perempuan itu malah menjadi buram. Fajri memejam-mejam mencoba menyapanya “Faa..”, suaranya tertahan. Hilang. Tubuhnya rebah. Pingsan di depan perempuan yang menunggunya.

Mata Fajri terasa berat untuk dibuka, tapi ia terus mencobanya. Sesosok laki-laki paruh baya duduk di samping ranjangnya.
“Jri, Fajri!!”, panggil orang tua itu sambil menggoyang pundaknya.
“Pak Man? Ini di mana Pak?”, jawabnya lirih
“Di klinik, kamu pingsan. Kata dokter kecapekan”
Fajri mengingat perjalanan tiga puluh menitnya, ditambah rasa dahaga dan juga laparnya.
“Kamu belum sarapan waktu mau berangkat? Kan jauh Jri?”
“Belum Pak”
“Kapan terakhir makan?”
“Du..dua hari lalu Pak”, Fajri tidak bisa berbohong pada guru SMAnya sekaligus paman dari Fatimah Fahima, perempuan yang menunggunya di depan pintu gedung.
“Ya Allah Fajri!!”, Pak Man tersentak mendengarnya.

Seorang perempuan masuk dengan langkah tergesa, “Gimana Fajri Pak Lek?”
“Bocah ini kelaparan, tolong kamu belikan nasi di depan Fat !”
Sedetik tampak raut wajah bingung dari Fatimah, tapi segera ia balik badan, menuruti perintah pak lek-nya.
“Pak Man sekarang di sini?”
“Sudah dua bulan lalu Jri, ada temen yang yayasannya butuh guru agama, sekalian nemenin Fatimah juga. Kamu itu kok bisa nggak makan dua hari? Pake jalan kaki jauh-jauh lagi.”, Pak Man geram sekaligus penasaran.
“Lagi skripsi Pak, butuh biaya lebih. Maaf Pak jadi ngerepotin”, Fajri menjawab singkat, sambil menahan rasa laparnya.

Tak lama kemudian Fatimah datang membawa sebungkus nasi campur, baunya sampai di hidung Fajri. Rasa lapar Fajri makin tidak terkendali. Pak Man menaruhnya di atas piring, menyerahkannya pada Fajri. Fajri meyendok dengan tangan bergetar, entah karena lapar atau karena ada Fatimah yang mengamati di samping ranjangnya. Oh ibu, bagaimana ini? Sepasang mata itu mengamati Fajri, entah apa yang ada di dalam pikiran Fatimah sekarang. Mungkin kasihan pada Fajri, mungkin bingung kenapa ada orang yang sudah tidak makan dua hari dan memilih jalan kaki tiga puluh menit. Fajri makan cepat sekali, sampai tersedak, Pak Man sigap mengambil air untuknya.

“Jadi gimana Fat? Sudah ada yang bisa menggantikan Fajri?”, Pak Man bertanya
“Temen-temen masih menghubungi beberapa kenalannya, tapi sampai sekarang belum ada yang bilang “iya” ”, wajah Fatimah bertambah bingung
Fajri sudah berjanji pada Fatimah untuk menjadi moderator di acara yang akan mengundang petinggi dari kementrian perdagangan. Itu adalah acara besar yang diadakan fakultaas ekonomi, dimana Fatimah adalah salah satu panitia yang bertanggung jawab atas kehadiran moderatornya, dan sekarang moderator yang diandalkannya sedang kelaparan di atas kasur. Acara sudah besok dan belum ditemukan moderator pengganti.

“Aku masih bisa kok Fat”, Fajri menyahut ditengah makanya yang lahap.
“Acaranya besok Mas Fajri”, Fatimah menjelaskan
“Bisa kok bisa, habis ini juga pulih. Insyaallah.”
Fatimah ragu-ragu memandang Fajri, sebentar mengamati gerakan makannya.
“Benar juga, Mas Fajri hanya kelaparan, jadi setelah makan akan sangat mungkin untuk kembali pulih.”, Fatimah membatin.
“Bisa Fat, bisa. Habis ini gladi bersih juga bisa. Aku sudah janji, lagi pula susah cari pengganti, ini sudah H-1, kan?”, Fajri benar-benar merasa tidak enak pada Fatimah.
Fatimah terlihat berpikir, melihat ekspresi Fajri dan melihat makannya yang lahap, akhirnya Fatimah percaya bahwa moderator andalannya akan segera pulih. Segera ia telepon temannya, menjelaskan bahwa moderatornya hanya kelelahan, dan akan pulih dalam beberapa jam.

Selepas isya’ Fajri baru sampai kosnya, diantar oleh salah satu teman Fatimah. Sebelum pulang Fatimah juga telah membelikannya sebungkus nasi dan ayam goreng. “Untuk makan malam”, katanya. Ia terlihat sangat berusaha menjaga moderatornya agar tidak kelaparan lagi. Ah.. betapa malunya Fajri, ia tak bisa menolak pemberian Fatimah, itu juga demi kelancaran acara yang dipandunya besok siang. “Oh ibu, bagaimana anakmu di depan Fatimah tadi siang? Pingsan karena kelaparan, makan begitu lahapnya sampai tersedak. Oh ibu, bagaimana penilaian Fatimah terhadap anakmu ini? Hina. Hina sekali.”
“Ibu, pada siapa anakmu bisa belajar mengelola perasaan semacam ini? Bodoh, bodoh sekali. Anakmu akan jadi moderator di acara yang besar bu, honornya juga lumayan. Ya, walau tawaran jadi moderator tidak sering, tapi uangnya bisa jadi tabungan. Anakmu skripsinya hampir selesai bu, walaupun uang kiriman dari ayah sering telat, kerja sampingan jadi salesman panci dan peralatan dapur lainnya bisa meringankan biaya skripsi. Tapi bu, perasaan ini bagaimana menyelesaikannya? Kenapa juga ada perempuan cantik, lemah lembut dan baik macam Fatimah?” Adik kelas yang dikenalnya sejak SMA, dari dulu sudah jadi primadona. Jadi idola laki-laki apa pun jenisnya, salah satunya Fajri. Malu, malu sebenarnya Fajri mengakuinya, walaupun pada dirinya sendiri

Acara berlangsung dua jam, Fajri memandunya dengan sangat baik. Beberapa pertanyaan dari penonton yang kurang jelas, ia perjelas dengan bahasanya sendiri yang sangat mudah dicerna. Ia juga sebisa mungkin meggali informasi dari narasumber, sehingga sang penanya terliahat puas dengan jawaban yang disampaikan. Kadang pula ia mengulangi pertanyaan penonton dengan menambah dan mengaitkannya dengan isu yang sedang hangat, sehingga pertanyaan yang sebenarnya biasa saja, terlihat seperti sebuah pertanyaan yang cerdas. Acara yang bertema Ekonomi Kreatif ini berlangsung menarik dan tidak membosankan walau bahasannya cukup berat, karena sesekali Fajri mencairkan suasana dengan guyonannya. Jauh-jauh hari sudah ia mencari informasi tentang bahasan hari ini. Selain honornya yang lumayan, bisa membawakan acara ini dengan baik mungkin bisa membuat Fatimah kagum. Ah… tapi tetap, honornya itu yang paling penting untuk melanjutkan hidupnya di sini.

Tepuk tangan berderu di akhir acara, Fatimah tidak kalah keras tepuk tangannya dengan penonton lain. Raut puas dan lega benar-benar ada di wajahnya. Fajri turun dari panggung dengan senyum puas.
“Terima kasih Mas Fajri atas kerja samanya”, Fatimah sudah menunggunya di bawah tangga. Berucap terimakasih, dengan senyum yang nyata mengembang di hadapan Fajri.
“Oh.. ss..sama-sama Fatimah. Saya juga senang bisa jadi bagian dari acara ini”, Fajri kaku, melihat senyum perempuan tepat di depannya. Ya Tuhan satu lagi kuasa-Mu aku saksikan, pipinya menjadi sedikit merah, mungkin karena terlalu senang, mata bulatnya menyipit saat ia tersenyum, indah sekali. Ini lebih dari indahnya gelap yang diganti terang, ini adalah matahari yang bergerak mendekat, menghangat, hingga sampai pada uluhati Fajri, bergetar ia rasa di sana.
“Mari Mas Fajri”, Fatimah mengajaknya ke belakang panggung, memperkenalkannya pada semua panitia yang juga sedang merayakan kesuksesan acara.
“Terimakasih Mas atas kerja samanya”, teman-teman Fatimah mulai antri memberi ucapan terimakasih.
Fatimah terus tersenyum puas, sesekali menatap Fajri yang tengah digerumbuli teman-temannya.
“Pilihanmu tepat sekali Fat, untung Fatimah punya kenalan moderator keren banget”, salah seorang teman Fatimah nyeletuk. Fatimah masih tersenyum.

Malamnya, Fajri melamun menatap langit-langit kamarnya. Entah bagaimana, di sana terlukis wajah Fatimah yang tengah tersenyum. Bagaimana bisa langit-langit yang biasanya kosong, sekarang penuh dengan gambaran senyum Fatimah. Siapa yang bisa melukiskannya senyata itu? Sihir apa yang bisa membuatnya ada di atas sana? “Oh ibu, sekarang apa? Oh ibu, akankah kau dengar galau hati anakmu? Ibu, tak bisakah kau beri tahu anakmu apa yang harus ia lakukan?”

Pukul sembilan malam, ada pesan masuk untuk Fajri.
Assalamualaikum Mas Fajri
Apa besok pagi Mas Fajri ada waktu kosong? Pak Lek ingin bertemu, ingin membicarakan sesuatau.

Mata Fajri melebar, Pak Man ingin bertemu? Apa yang harus dibicarakan? Ada hawa dingin masuk ke tubuhnya. Apakah Fatimah benar-benar tertarik padanya? Apakah ada arti lain dibalik senyum Fatimah kemarin? “Oh ibu, apa lagi ini? Kenapa Pak Man ingin bertemu dengannya? Secepat itukah? Ibu. Anakmu sudah berharap yang macam-macam.”

Pagi pukul tujuh, Fajri menuju tempat dimana ia akan bertemu Pak Man. Terlihat Fatimah menemani Pak Lek-nya, menunggu kedatangan Fajri.
“Assalamulaikum”, sapa Fajri menahan gugup.
“Waalaikumsalam. Fajri. Waah, katanya berkat kamu acaranya Fatimah jadi sukses ya??”
“Ah… tidak juga Pak, panitia yang lain juga bekerja keras.”
“Jujur, sejak kamu SMA, kamu sudah membuat saya kagum lho”, Pak Man memuji Fajri, membuatnya sedikit penasaran. Sejak SMA?
“Kamu itu selalu, kalo punya kemauan ya harus dapet. Saya saja kaget pas kamu bilang pengen kuliah. Temen-temen di kampungmu kan banyak yang mau jadi kuli atau kalo nggak ya jadi petani, ngurusin sawah bapaknya”
“Hehe. Bapak nggak punya sawah Pak”, Fajri menanggapi pujian Pak Man
“Tapi saya bangga sama kamu Jri, kamu bisa mandiri. Saya itu paling kagum dengan anak muda yang mandiri. Ya, walaupun nggak seratus persen tapi kamu bisalah berpenghasilan”
“Yaa, Cuma pengen bantu bapak aja Pak.”, Fajri tersipu-sipu dipuji di depan Fatimah. Apa yang akan disampaikan Pak Man sebenarnya? Benarkah dugaanya semalam? Tentang Fatimah yang tertarik padanya? Ia lihat Fatimah sekilas, hanya menunduk. “Ibu, apa yang harus aku katakan setelah ini?” Seketika seperti ada ribuan kupu-kupu berputar-putar dalam perutnya, naik ke dada, turun lagi ke perut.

“Kamu mengingatkan saya pas jaman muda dulu Jri. Sering kelaparan juga, tapi nggak sampe pingsan juga sih”, Pak Man terbahak, diikuti tawa kecil Fatimah.
“Sudah Pak Lek basa-basinya. Mas Fajri ini lagi ngerjain skripsinya.”, desak Fatimah
“Oh iya-iya. Maaf-maaf. Jadi gini Jri. Saya mau menawarkan, di yayasan teman saya itu ada ruangan kosong, yaa layak lah buat dijadikan kamar. Kalo kamu mau, kamu tinggal saja di sana. Gratis. Yaa, tapi paling nggak kamu bantu-bantu bersih-bersihlah. Kalo ada acara apa-apa kamu juga bisa jadi MC atau moderator juga kan? Kalo kamu mau, di sana juga masih kekurangan pengajar. Mungkin bisa jadi sampingan pas kamu udah dapat pekerjaan nanti.”

Fajri terlihat berpikir mendengarkan tawaran Pak Man. Angan-angan yang ia bangun tinggi sejak semalam, lebur bersama kata-kata Pak Man. “Ibu, kali ini aku benar-benar malu. Bagaimana bisa anakmu senaif ini? Berharap jauh dari apa yang seharusnya diharapkan. Khayalanku terlalu jauh meninggalkan daratan, Bu. Terbang, entah angin apa yang membawanya terbang. Entah apa yang membawanya sampai ke sana. Jauh, jauh sekali Bu. Angan-anganku ini mungkin sudah tidak terlihat lagi dari daratan karena tingginya. Tolong bantu turunkan Bu, atau hapus saja sekalian. Aku hanya terlalu bangga dengan pencapaianku kemarin, sampai rasa GR yang harusnya tidak ada jadi tumbuh cepat sekali. Pergi, pergi sana rasa GR. Pergi yang jauh”
Fajri tersenyum tanggung.

Lalu surat itu akan tetap ada di antara lembaran-lembaran lusuh buku diary coklat milik Fajri. Sembunyi dibalik cerita-cerita heroik miliknya. Sembunyi dibalik kerinduan pada ibunya. Akan selalu sembunyi dari dunia, hingga waktu yang tiada satupun orang tahu. Entah ada atau tidak kesempatan untuk menyampaikan surat sanjungan itu. Mungkin iya, mungkin tidak. Sekali lagi, tidak ada yang tahu pasti.

Fajri mengenal Tuhannya, hingga ia tahu, tugasnya saat ini hanyalah memperbaiki diri, memenuhi buku coklatnya dengan pencapaian yang lebih dari sebelumnya. Setelahnya ia hanya berserah pada Tuhan-nya. Allah, Yang Maha Tahu isi hati hamba-Nya.

Cerpen Karangan: Alif Fia
Blog: alifiahusnuna.blogspot.co.id

Cerpen Surat Tanpa Nama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Terbesarku Adalah Mencintaimu

Oleh:
Hari ini kutumpahkan senyumanku kepada tuhan dan mentari. Rasa bersyukur atas pagi yang cerah membuatku melamun, mengenang dan bersedih. Kenangan 2 tahun yang lalu masih kental di fikiranku. Tentang

Pelangi Dari Bola Basket

Oleh:
Duk.. duk.. duk.. Suara dentuman bola basket yang sedang kudribble terdengar begitu halus, seirama dengan tangan putih mulusku yang mendribblenya. Ya banyak yang bilang saat aku sedang memainkan bola

Cinta Yang Tak Pernah Terungkap

Oleh:
Kala itu aku masih duduk di bangku SMA, saat itu aku masih labil dengan hal baru yang dinamakan cinta, aku tidak mengerti apa itu cinta, bagaimana rasanya, dan seindah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *