Tak Kunjung Habis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 30 September 2017

Denting jam seperti hembusan nafas. Layaknya jantung satu satu namun pasti berdetak. Layaknya rintik hujan dengan titik-titik airnya. Seperti halnya sebuah bayang yang kini terus menghantui. Setiap derap langkah kaki, namun menuju kenangan memori.

Rasanya kecewa. Seperti seonggok daging yang hanya hanyut dengan nama. Yang kutahu sekarang tak ada cinta. Tak ada sorot mata yang mirip dengannya. Telah habis secuil senyum indah dengan air muka sebegitu lembutnya.

Diam. Hening. Bahkan tanpa suara. Seketika kujatuhkan tubuhku agar ada satu suara, agar ada yang menghadirkan kata. Tapi tak bisa. Kucoba berpikir lebih dari yang ada. Kosong. Apa yang kini mengalir setiap detiknya serasa hampa. Aku tahu semua ini salahku. Aku yang bersalah. Aku adalah seseorang yang jahat. Dari sekian cerita aku mencuranginya. Aku tak pernah sedikitpun mengalah. Ego itu seperti bara api yang menyala membakar habis semua. Aku hanya berpikir tentang diriku bahkan tentangnya sulit aku ungkapkan. Begitu sulit menceritakan walau hanya sepatah katapun. Aku yang egois. Aku yang seperti ratu di atas ratu telah mengubah semuanya. Telah menghancurkan cerita indah yang engkau buat untukku. Cerita indah yang sama sekali tak kusadari itu.

Aku terus berpikir. Aku masih coba terus memikirkan sebenarnya apa yang terjadi. Kala itu, waktu itu. Kosong. Tak ada sedikitpun yang kutemui dalam fikirku. Aku masih mencoba mengelana di setiap ruang waktu yang berlalu. Di setiap perputaran jam yang berdenting. Bahkan di setiap tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta itu. Aku lelah. Aku sangat lelah. Aku mencoba bangkit kembali untuk terus mencari alasan itu. Jatuh, lalu bangkit lagi. Mataku terpejam seketika. Lorong-lorong waktu mencoba memutar cerita dibalik bayangan. Bayang yang selalu datang dan terus menjumpai diriku. Seseorang yang tak bisa lepas dari diriku setelah sekian lama kuhabiskan umurku. Waktu terus berlalu, tapi bayang itu tak kunjung habis. Dingin. Aku sangat dingin disetiap aku mencoba mencari alasan itu. “Kenapa aku dengannya bisa pisah?” “Apa yang terjadi sebenarnya?” “Padahal kami masih saling sayang, kenapa akhirnya bisa pisah?” Bahkan seribu pertanyaan lainnya yang sampai sekarang aku belum temukan jawabannya. Aku belum temukan sedikit celah alasan untuk itu.

Perlahan kuhembus nafas. Aku seperti seseorang yang gila. Terus terbayang bayangan itu. Walau sekarang aku telah bersama orang lain. Aku tak tahu dengan diriku ini. Aku tak mengerti apa yang kupikirkan selama ini. Aku telah bersama orang lain, tapi aku terus memikirkan dia. Dia cinta pertamaku. Cinta lebih dari yang kurasa saat ini. Cinta yang tak kunjung habis.

Cerpen Karangan: Laela Wahyu Romadhoni
Facebook: facebook.com/ku.clalucyanx

Cerpen Tak Kunjung Habis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesosok Yang Ku Kagumi

Oleh:
Di ujung jalanku.. Ketika dedaunan mulai menguning, menandakan fase terakhir, dimana ia akan segera tanggal dari rantingnya. Posisi yang tak lain adalah posisiku saat ini. — Mata ini bisa

Dua Muka Cinta

Oleh:
Senyampang masih ada larik-larik bernyawa cinta, walau temaram sekali pun, bertahan merupakan pilihannya. Juwita memang relatif, tak butuh elok wajah, tak harus berpostur ideal, dan tak selalu mesti berjejal

Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Waktu itu tepatnya saat masa orientasi SMA aku mengenalmu. Namun aku tak tau kapan rasa ini ada sebab aku tak pernah menyadarinya. Sejak saat perkenalan itu pula ternyata aku

Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

Antara Kau dan Kejora

Oleh:
Pohon yang berjulang tinggi, menguak rindang pada dedaunan. Sepoi-sepoi angin pun mendesau, melambaikan dedaunan dan rerumput seolah-olah menyambut suasana malam yang hening. Malam ini, aku begitu setianya duduk mesra

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *