Takdir, Aku dan Aries (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 August 2014

Dear Aries…
Ini adalah sebuah kisah tentang masalahku dengan takdir dan tentu saja, kamu. Kisah ini baru aku ceritakan sekarang padamu. Entah mengapa, takdir tak pernah memihakku. Aku selalu merasa dipermainkan dengan takdir. Aku benar-benar lelah hingga akhirnya aku mulai berhenti untuk percaya. Bagiku, tidak ada yang namanya takdir. Aku menyerah percaya bahwa takdir akan mempertemukanku dengan orang yang tepat. Sampai akhirnya, aku bertemu denganmu.

Waktu itu pada pesta ulang tahun teman kita, 15 Mei. Sebuah pesta yang setengah hati aku datangi dan hampir aku lewatkan. Bagiku tak ada untungnya pula aku memaksakan untuk pergi. Toh kami juga akan bertemu setiap hari, dan ini juga bukan ulang tahun yang penting bagi dia. Tak sadar apa yang menuntunku, sampailah aku di depan rumahnya. Seperti ulang tahun pada umumnya, aku dan teman-temanku tertawa, bercerita tentang masalah-masalah entah apa.

Disitulah kedatanganmu. Orang asing yang tak ku kenal sama sekali. Sifatmu pun sangat arogan namun tulus. Aku ingat bagaimana saat kita berpapasan di pintu, namun kau dengan gentle-nya mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu. “Ladies first…” Katamu dan memundurkan badan, memberi ruang untuk aku lewat. Kau sudah mulai mencuri hatiku sejak pertama aku melihatmu. Mungkin kau sudah lupa saat pertama kita bertemu, tapi kau harus tau kalau aku mengingat setiap inci detail pertemuan kita.

Aku menatapmu dengan santai seakan-akan kau hanya orang biasa, walaupun sesungguhnya hatiku mulai melirikmu. Kebetulan memang, saat aku mengetahui kau satu sekolah dengan sahabatku sewaktu SMP. “Eh, kamu dari SMA Satya Bangsa, kan?” tanyaku padamu dengan nada sok akrab. Kamu hanya menganggukan kepalamu dengan senyum seadanya. Benar-benar cuek dan cool. Entah mengapa kau mencuri perhatianku. “Kalau gitu kenal sama Bianca, gak? Aku temenan baik dari SMP sama dia” Kataku kepadamu, meskipun kamu tidak menanyakanku. “Iya, tadi aku baru jalan bareng dia terus lanjut ke sini.” Jawabmu seadanya. Aku memang cerewet, dan kamu nampaknya tidak terganggu. Kau duduk tepat di depanku seakan kau salah satu dari teman baikku. Walaupun aku tahu kau tidak mengerti, namum kau ikut mendengar celotehanku bersama teman-temanku. Aku berusaha mencuri perhatianmu sejak saat itu. Tak sadar kah kamu?

Sempat terpikir bagiku untuk mengejarmu. Namun, saat itu aku lelah menaruh harapan. Terlalu banyak rintangan jika aku memutuskan menyukaimu. Aku lelah mencintai orang yang terlalu jauh untuk aku perjuangkan. Aku ingin cinta yang lebih praktis.

Aku tak ingin jatuh ke lubang yang sama. Aku ingin membuka lembaran baru tanpa ada luka lama. Dan aku tahu, jika aku berharap padamu, maka aku akan jatuh ke lubang yang sama. Mengulang kisah pedih yang membuat aku terpuruk bertahun-tahun lamanya.

Malam itu, perasaan berat menghinggapiku ketika akan pulang lebih awal. Unik memang, bagaimana kau malas untuk hadir ke sebuah pesta dan detik berikutnya kau berusaha untuk pulang paling terakhir. Semua itu karena kamu. Malam itu kau ingat tidak kalau aku harus menumpang pada salah satu temanku, padahal sesungguhnya kau bisa menawariku untuk pulang? Mungkin kau yang terlalu malu untuk menawariku dan aku juga terlalu gengsi untuk meminta. Meskipun aku bisa melihat jika aku meminta, kau akan menyanggupinya.

Disitulah pertama kali aku melihatmu, sekali lagi aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tak perlu banyak cerita, dan aku sudah jantu cinta denganmu. Tapi, aku mematikan cinta itu, karena aku tahu, mencintaimu hanya akan menyakitiku lagi.

Hari-hari selanjutnya aku jalani biasa saja. Sempat aku teringat tentang dirimu, tapi tak pernah aku hiraukan. Mungkin itu adalah pertemuan pertama dan terakhir untuk kita. Dan kamu hanya sekedar figuran dalam kisah hidupku. Aku tak melanjutkan harapanku. Kamu pergi melanjutkan hidupmu, dan aku melewati hariku seakan-akan kita tidak pernah bertemu.

Namun, takdir kembali menyakitiku lagi.

Aku kembali bertemu denganmu 1 bulan sesudah pertemuan kita yang pertama. Lagi-lagi, hari ulang tahun teman kita. Kau ingat kan? Kali ini dengan semangat ku datangi, tanpa harapan dan pertimbangan akan bertemu denganmu.

Aku tergesa-gesa saat itu, aku sudah cukup terlambat. “Natasha, kamu di mana? Kamu udah kayak yang ulang tahun aja, deh!” Sintya sahabatku sudah meneleponku berkali-kali. “Iya sayang, aku udah di depan kok, ini udah mau buka pintu. Sabar yah?” Kataku menenangkan Sintya. “Acaranya udah mulai, kamu sih pake acara ke salon segala. Udah cepetan, katanya udah nyampe!” Sintya mulai memarahiku. “Iya-iya, sabar dong. Gimana aku bisa turun kalau aku harus megang kado, megang tas terus megang hp, juga! Tanganku kan cuma dua!” Protesku pada Sintya yang terus-terusan menuntut.

Aku membuka pintu mobil dengan kasar. Aku cukup kerepotan, sepatu yang aku gunakan memiliki hak yang sangat tinggi membuat aku sulit untuk berjalan. Tanpa kusadari aku kembali berpapasan denganmu. Kau terhenti sebentar menatapku dengan tatapan iba. Mata kita bertemu saat itu. Kau memalingkan wajahmu dan aku seakan tidak perduli tersenyum seperti biasa kepada teman-temanku yang lain. Jantungku berdegup kencang, dalam hati aku merutuk mudah-mudahan aku tak terlihat bodoh di depanmu.

Saat itulah aku tahu, kalau aku sedang jatuh cinta. Aku jatuh cinta lagi setelah sekian lama mati rasa. Setelah sekian lama tak perduli lagi dengan kisah cintaku. Kau satu-satunya orang yang mencuri hatiku, setelah 2 tahun aku hidup tanpa ada cinta.

Pertemuan kedua untuk kita, dan ternyata aku masih menyukaimu. Aku tak bisa meredam semuanya, tetapi aku tak bisa memutuskan untuk mencintaimu. Sejak pertemuan kedua, namamu mulai di kepalaku. Aku mulai mempertimbangkan keberadaanmu di sisiku. Aku mulai memberanikan diri mencari kisah tentangmu di antara teman-temanku.

“Enjel, siapa sih cowok itu. Kok kayaknya sering banget datang ke acara kita?” Aku bertanya pada salah seorang teman kelasku. “Oh, itu Aries. Dulu dia SMP sekolah kita, tapi pas SMA pindah. Jadi, dia deket sama kita-kita..” Enjel menjelaskan padaku sambil berbisik. Tempatku bersekolah adalah sekolah swasta dengan Yayasan. Jadi dari TK sampai SMA. Kebetulan aku tak berasal dari SMP yang sama, jadi aku tak terlalu begitu mengetahui kisah lama mereka.

Kau ingat tidak? Pertemuan kedua kita hanya penuh dengan saling tatap. Kalau tidak kau yang membuang pandanganmu, maka aku berpura-pura santai saja saat mata kita bertemu.

Kau harus tahu, kalau aku terus menggumamkan namamu. Nama yang indah pikirku. Aries. Walaupun pada akhirnya, aku mematikan lagi rasa ini. Aku sadar, berapa kali pun kita bertemu, kita tak akan pernah memiliki kisah bersama. Sekali lagi, aku menjadi penjahat. Penjahat untuk hatiku sendiri.

Aku melanjutkan hidupku, belajar tersenyum, menjalani hari-hari seperti biasa. Kembali menganggap kita tak pernah bertemu. Dan benar, aku tidak pernah terpikir lagi bertemu denganmu.

Aku sudahi dulu kisah awal ini, aku masih akan melanjutkan kisah kita nanti. Kisah ini belum selesai. Kau masih ingin tau kan yang sesungguhnya?

to be continued…

Cerpen Karangan: Nadya Natalia
Facebook: Nadya Natalia Rompis

Nama Lengkap: Nadya Natalia Rompis
TTL: Manado, 3 Desember 1996
Agama: Kristen Protestan
contact me at twitter @nicernadya

Cerpen Takdir, Aku dan Aries (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Susahnya Melupakanmu

Oleh:
Setelah semua yang telah kami lewati bersama, dia meninggalkan aku demi bersama orang lain, entah apa yang dia pikirkan, kenapa dia meninggalkanku? Mana semua janji-janji yang pernah dia ucapkan

Jangan Terlalu Membenci

Oleh:
Saya Aisyah, aku adalah perempuan yang super duper cuek dan jutek di kelas IPA 1, kebanyakan sih yang bilang gitu. Dan aku paling enggak suka dijailin sama teman cowok

Dia (Cinta Yang Ku Benci)

Oleh:
Malam itu aku bertemu lagi. Melihat matanya lagi dengan tepat. Dia, yang sudah hampir 5 tahun ku hindari. Entah apa kehendak Tuhan, yang masih membiarkan harapan ini masih ada.

Laki Laki Masa Lalu

Oleh:
“Menurutmu, seperti apa cinta itu?” “Menurutku, cinta itu seperti awan itu. Putih, indah dan sangat tenang. Kalau menurutku cinta itu seperti awan, bagaimana menurutmu? apa kau berfikir cinta itu

Cerita Cinta Omegle

Oleh:
Salah satu jejaring sosial yang cukup terkenl yaitu omegle, salah satu jejaring sosial yang digunakan untuk cahating dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia termasuk indonesia. Di sini saya akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *