Takdir, Aku dan Aries (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 13 August 2014

Dear Aries…
Kamu masih penasaran kan dengan kelanjutan ceritaku? Kau tahu betapa aku merindukanmu? Seandainya aku bisa menceritakan kisah ini langsung padamu. Kamu mungkin tak punya waktu membaca semua tulisan ini. Kamu selalu menganggap aku terlalu cengeng. Kamu mungkin lelah dengan sikapku yang manja. Tapi, sempatkanlah mendengarkan lanjutan kisahku.

Setelah pertemuan kita yang kedua, aku menjalani hidupku. Tak ku dengar lagi kabar dari dirimu. Banyak hal yang terjadi selama satu bulan. Aku jatuh cinta lagi. Namun tidak seperti aku cinta padamu. Aku mencintai salah seorang sahabatku. Tidak cinta pada pandangan pertama seperti kamu. Namun, kamu mungkin hanya salah satu orang yang singgah sementara. Dan aku melanjutkan hidup.

Liburan kenaikan kelas menjadi liburan yang indah untukku. Hidup terasa lebih ringan. Aku jatuh cinta pada sahabatku. Apa yang jauh lebih menyenangkan selain jatuh cinta pada orang yang sudah mengerti dirimu? Sebentar lagi kita akan kelas 12, aku sudah memikirkan bagaimana serunya nanti. Serasa hidup dalam dunia mimpi. Aku memang telah melupakan pertemuan kita. Kau hanya salah satu orang asing.

Hari pertama sekolah memang seperti harapanku. Aku benar-benar bahagia. Senior year. Aku adalah salah satu panitia MOS, dan kau tahu kan aku salah satu yang terjahat saat membentak adik-adik. Dua hari pertama aku lalui dengan enteng. Seakan pelangi berada tepat di atas kepalaku. Tak ada yang ganjil.

Aku berkumpul dengan teman-teman se-geng ku. Seperti biasa tertawa heboh, ber-gossip ria tak memperdulikan lingkungan. “Guys, Aries bakalan pindah sekolah tau nggak?” Kata Enjel saat kita tak punya lagi bahan untuk dibahas. Kau tahu, saat itu aku tercekat. Aku senang bercampur bingung. Sudut hatiku yang telah aku matikan padamu seakan hidup lagi, menggerogoti dan mengambil alih cintaku pada orang lain.

“Aries itu yang mana sih?” Tanyaku berpura-pura. Padahal aku ingat betul sosokmu. “Itu yang di ulang tahunnya Cika sama Prisil. Masa kamu lupa, sih?” Enjel menyebutkan 2 orang teman yang berulang tahun saat kita bertemu.

Aku begitu kaget. Rasanya tak mungkin ini terjadi. Takdir kembali mempertemukan kita. Aku berpikir kau hanya akan menjadi salah satu orang menarik yang ku temui di jalan.

Keesokan harinya kau muncul di sekolahku. Kau bergabung menjadi salah satu bagian dari dunia mimpiku. Hari itu masih bagian dari MOS dan aku masih sibuk memarahi para siswa baru. Kau ingat, saat kau duduk di samping lapangan memandangku yang dengan ganasnya memarahi mereka? Saat itu aku juga mencuri pandang ke arahmu dan kau sedang menatapku menahan senyum.

Aku tak tahu bagaimana akhirnya kita berkenalan dan dekat. Kita berdua sekelas dan aku banyak mencari cara untuk menghabiskan waktu dengamu. Aku senang bagaimana kau memperhatikanku. Kau menjadi seseorang yang selalu manjagaku. Walaupun ternyata sikap cool dan cuekmu hanya ada di awal.

Aku masih ingat bagaimana kau selalu menjagaku dan membelaku saat kita sedang saling meledek satu sama lain. Suatu ketika, saat kita terlambat. Aku satu-satunya gadis yang berdiri di antara kerumunan kalian yang berusaha untuk bersembunyi dan kau selalu menjagaku. “Ko, geser dikit dong! Gue ikutan sembunyi, yah?” Kataku pada Chris yang biasa aku panggil Koko karena muka orientalnya. “Ini udah sempit, Nat. Kamu mau desak-desakan?” Koko memunculkan kepala dari kaca mobil Honda Jazz miliknya yang di pakai sembunyi. Memang saat itu Koko sedang duduk dengan Piere di bangku belakang dan mereka berdua berbadan besar.

Aku memalingkan wajahku ke arahmu yang sudah duduk di depan di kursi penumpang. Seperti biasa, tanpa perlu aku mengeluarkan suara kau sudah pindah ke kursi mengemudi membiarkan aku duduk di tempatmu. Itu yang aku suka darimu. Aku tak perlu mengeluarkan suara untuk kau memahami maksudku.

“Kamu, nggak risih nih di dalam mobil kita bertiga cowok dan kamu sendiri cewek?” Koko membuka pembicaraan. “Nggak, biasa aja.” Kataku singkat. “Dasar, emang udah biasa gonta-ganti cowok sih!” Koko melanturkan ledekan dan diikuti tawa renyah kalian. “Arieees…” Aku menatapmu, dan kamu berhenti tertawa. “Iya-iya aku nggak ketawa lagi. Chris kalau ngomong jangan gitu, dong!” Kamu membalikan tubuhmu menatap Chris di kursi penumpang belakang.

Kau menjelma menjadi sahabat terbaikku. Apapun yang ku lakukan di sekolah, selalu didampingimu. Aku hanya perlu menyebutkan namamu. Dan kau akan mengikuti mauku. Kau memang berbeda jauh dari kesan pertama aku bertemu denganmu. Kau tidak cool sama sekali. Kau cerewet, pemalas dan tipe bad boy. Kau tidak pernah ada di rumah, pelajaranmu terbengkalai. Tetapi tak sedikitpun ketertarikanku berkurang darimu. Aku tersenyum bingung. Bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang tidak punya tujuan hidup yang hanya bersandar pada kekayaan orang tuanya.

Kau ingat saat bulan Agustus, pada perayaan 17-an kau dan teman sekelas mengikuti jalan sehat 45 km. Aku tidak tertidur mengkhawatirkanmu. Jam 12 tengah malam aku menutup mata, jam 3 pagi aku terbangun karena merindukanmu. Aku seperti kecanduan akan dirimu.

“Aries, jangan ngerok*k yah kalau di depanku,” aku duduk di sampingmu sementara kau menatap ke arah bunga-bunga hijau di taman dekat kelas. Aku tahu kamu tipe perok*k, dan aku bangga kamu nggak pernah melakukannya di depanku. Aku nggak suka dengan lelaki perok*k, tapi kamu pengecualian. “Emangnya kamu pernah liat aku pegang rok*k?” katamu menimpali. Saat itu aku hanya tersenyum tanpa melihatmu. “Aries, pingin ice cream,” kataku dengan manja setelah kita terdiam beberapa detik. “Kapan kurusnya kalau kamu makan terus?” Kamu menatapku heran. “Arieees…” Aku kembali merengek-rengek padamu. “Ya udah, ayuk!” Kau menggandeng tanganku ke kantin, mengiyakan semua mauku.

Berbulan-bulan setiap saat yang kita lalui, selalu seperti itu. Tak pernah ada langkah lebih. Kau selalu memiliki kekasih lain di luar sekolah. Aku selalu menunggu kapan akhirnya kau akan melihatku yang mencintaimu. Entah mengapa kau tidak pernah sadar. Sampai akhirnya tiba di bulan spesialku, Desember. Kau tahu kalau aku selalu membicarakan tentang ini setiap waktu, hari ulang tahunku yang ke-17. Kau berjanji padaku untuk hadir saat itu, berbagai persiapan yang ku lakukan semata-mata karena kamu.

Tetapi, kau mengecewakanku. Entah apa yang ada di pikiranmu saat itu, kau memilih mabuk-mabukan bersama teman-temanmu dan tidak menghiraukanku. Kau justru melakukan apa yang selalu aku benci. Aku selalu bisa memaafkanmu, tetapi kau tak pernah bisa berubah. Selepas itu, kau terus mengecewakanku, kau tak pernah lagi mengikuti apa mauku. Aku tak bisa lagi mengerti dirimu. Kadang kau menyayangiku, namun detik berikutnya kau menyakitiku bertubi-tubi. Aku merindukan Aries yang dahulu, Aries yang selalu ada untukku dan menyayangiku.

Masih teringat jelas di ingatanku saat bulan Oktober ketika aku sakit, kau mengantarku untuk pulang lebih awal dari sekolah. Saat itu, kau menemaniku seharian yang sendirian di rumah. Aku rela menghabiskan waktu bersamamu tidak melakukan apapun dibandingkan pergi ke mall yang menjadi hobiku. Kamu adalah orang pertama selain ayahku yang bisa memberi pelukkan kepadaku dengan tenang, memberikan rasa aman yang selalu aku cari.

Hari demi hari berlalu, dan kau justru semakin menyakitiku. Tak ada lagi Aries yang lembut. Ingatkah kau pernah membentakku? “Aries, kamu di mana? Kamu kan janji mau nganterin aku ke ulang tahunnya Bianca,” kataku di telepon dengan nada kecewa. Ini beribu-ribu kalinya kamu ingkar janji denganku. “Iya, tapi aku lagi sibuk, Natasha. Kamu pergi sendiri dulu. Nanti pulangnya bareng aku,” kamu tidak berusaha berjuang untukku.
“Kamu nggak pernah berjuang untuk nepatin janji ke aku!”
“Kamu terlalu manja, tau nggak! Pergi sendiri aja kenapa sih!?” Kamu membentakku begitu keras. Kau tak tahu aku menitikan air mata sangat deras waktu itu. Mungkin kau memang tidak pernah benar-benar menyayangiku. Mungkin aku memang tidak pernah penting darimu. Aku tak mengerti. Aku menyalahkan diriku sendiri. Mungkin kamu lelah menghadapi aku yang terlalu manja di hadapanmu, kau mungkin bosan. Dan kau berubah.

Aku mulai terbiasa dengan sikapmu yang terus mempermainkanku. Aku mulai terbiasa kau selalu memilih gadis lain. Aku juga selalu menerimamu saat kau merindukanku. Kau seperti orang dengan dua kepribadian. Satu hari di mana kau memarahiku habis-habisan dan esoknya kau mencariku seperti aku gadis paling kau sayangi di dunia ini. Aku terbiasa menjadi pelampiasanmu.

Akhir sekolah semakin dekat. Saat ini kau duduk di sampingku, kau masih belum tau perasaanku padamu. Tetapi apalah dayaku, aku seorang gadis, gadis hanya bisa menunggu. Kamu mungkin yang terlalu bodoh untuk tidak memperhatikan. Entah kau anggap aku ini apa. Dalam hati, aku akan sangat berat meninggalkan seseorang yang menjadi alasanku bangun setiap hari. Tetapi aku juga harus meninggalkanmu mengejar cita-citaku.

Persiapan UN menyita waktuku. Sekejap, aku melupakan keberadaanmu. Aku akan menjadi dokter, cita-citaku sebelum aku bertemu denganmu. Aku memutuskan untuk memberi tahu kalau aku menyayangimu saat Prom nanti. Sehari sebelum keberangkatanku ke Jerman. Kau tahu pasti kalau aku akan kuliah di Jerman. Aku sering membahasnya denganmu. Aku akhirnya akan berangkat mengejar apa yang aku inginkan. Kini cita-citaku terbentang di depan mata dan artinya aku harus meninggalkanmu. Seandainya kau memintaku untuk tinggal, aku akan tinggal. Tetapi tak pernah terdengar kau memintaku untuk tinggal.

Malam itu, kau terlihat sangat bahagia. Acara terakhir kita di SMA akhirnya tiba. Tak pernah ku sangka selama 3 tahun SMA aku akan bertemu dengan orang sepertimu. Cukup 1 tahun terakhir memang, tetapi kau tidak terlambat untuk banyak memberikan kenangan yang indah untukku Aries. Aku memperhatikan orang-orang di sekelilingku, tak lama lagi aku akan meninggalkan mereka. Selamat tinggal dunia mimpi. Aku menikmati acara demi acara seperti tanpa beban. Meskipun aku berutang satu janji pada diriku dan kamu.

“Aries, nggak nyangka yah kamu malah bakalan lulus di sini?” Aku menghampirimu yang tengah duduk menyendiri di balkon. Mungkin aku tak salah memutuskan untuk menepati janjiku saat Prom. Dari balkon kita dapat melihat gemerlap bintang di langit, suasana favoritku. Sepi, hanya ada aku dan kamu sementara yang lainnya di dalam ruangan bergoyang menikmati musik yang hanya samar-samar terdengar dari sini.

“Itu udah ditakdirkan Nat. Aku juga nggak pernah nyangka bisa ketemu kamu. Ingat nggak tahun lalu waktu kita ketemu di acara ulang tahun? Aku nggak bakalan nyangka bisa temenan sedekat ini sama kamu.” Kau menatapku dengan lembut.
“Thanks.”
“Untuk apa?”
“Terima kasih untuk mengingat gimana kita ketemu untuk pertama kali. Terima kasih untuk mengingat apa yang nggak pernah aku lupakan.” Kali ini aku tak dapat menahan tangisku.

Kau memelukku erat. Pelukan yang sudah lama tak kau berikan beberapa bulan ini. Kini kau kembali ke Aries yang dahulu. Aries yang selalu membuat aku jatuh cinta. Dalam pelukanmu aku sesenggukan, air mataku deras tak tertahankan. Aku sadar ini mungkin kali terakhir aku akan merasakan pelukan hangatnya.
“Aries, setelah kuliah nanti, belajar baik-baik, kejar cita-citamu. Berhentilah ngerok*k, mabuk-mabukan. Setelah kuliah nanti jaga diri kamu baik-baik. Aku kan nggak bakalan ada di samping kamu terus buat ngingetin kamu,” aku merasakan pelukannya mengerat. Sedetik aku hanya terdiam dalam pelukannya.

“Kapan kamu berangkat?” katamu tak menanggapi kalimatku. “Sebentar, pesawat paling pagi.” Waktu itu sekitar jam 1 malam dan artinya tinggal tiga setengah jam menuju keberangkatanku. Aku harus bergegas pergi pikirku. Aku sudah pamit dengan teman-temanku di sini tinggal kamulah satu-satunya.

“Aries, berubah yah? Kita bukan anak kecil lagi,” aku melepaskan diri dari pelukanmu karena kali ini aku ingin menatap matamu dalam-dalam.
“Maafin aku kalau sering ngecewain kamu akhir-akhir ini. Aku bingung dan capek,”
“Aku ngerti. Sebagai permintaan maafmu, saat kita ketemu nanti kamu udah jadi Aries yang lebih baik. Jangan buat aku kecewa lagi. Demi aku, berusahalah berubah. Kamu sesungguhnya pintar, kok!” Aku menggenggam tangannya erat. Kembali ke memori saat aku mengetahui kamu pindah sekolah karena nggak naik kelas. Aku bersusah payah menyembunyikan kebenaran di depan teman-teman, semata-mata karena aku menyayangimu.

“Aku sayang sama kamu, tapi aku nggak pernah bisa jadi laki-laki yang baik di hadapan kamu,” Aku tercekat mendengar perkataanmu. Rasanya ingin aku membatalkan semua rencanaku dan bertahan denganmu. Tetapi semuanya percuma, keberangkatanku tinggal beberapa jam lagi. Seandainya kamu mengatakan ini lebih awal.
“Iya, aku tahu. Makanya buktiin ke aku saat kita ketemu nanti,” kali ini aku meletakkan tanganku di kedua pipimu. Aku ingin kamu menatapku lebih lekat lagi. Aku menatapmu begitu dalam, mata ini yang 1 tahun lalu membuatku penasaran. Mata ini yang membuat aku lebih bahagia lagi. “Aku mencintaimu, Aries.” Akhirnya kalimat tersebut keluar dari mulutku. Kalimat yang sudah ku tahan selama 1 tahun terakhir.

Kamu hanya diam menatapku, aku tak bisa membaca ekspresimu waktu itu. Mataku kabur dengan air mata yang tertahan. Aku melepaskan kedua tanganku dari pipimu. Aku berjinjit sedikit mencium keningmu. Kau masih membeku. Aku mengedipkan mataku dan kedua air mata akhirnya kembali membasahi pipiku.

Aku membalikan badan meninggalkanmu. Selamat tinggal Aries, Sampai jumpa saat takdir mempertemukan kita nanti. Mungkin aku dan kamu belum berjodoh waktu itu, mungkin nanti atau tidak sama sekali. Yang ku tahu, aku sudah mencintaimu sejak aku bertemu denganmu…

To be continued…

Cerpen Karangan: Nadya Natalia
Facebook: Nadya Natalia Rompis

Cerpen Takdir, Aku dan Aries (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love Street (Part 2)

Oleh:
Di kelas Lalu aku duduk dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Tak beberapa lama kemudian bel istirahat berbunyi, Aku mengeluarkan novel dari dalam tas dan membacanya. “Hei… lo kenapa?” tanya

A Road To The Endless Love

Oleh:
Malam itu terasa sangat dingin menusuk hati, membalut jiwa-jiwa yang sedang perih hatinya. Meskipun musim dingin telah berakhir di Vancouver, namun malam ini terasa sangat dingin dari hari-hari biasanya.

Cinta Yang Mengubah Nasib

Oleh:
At caffee Manggo Six seperti biasa aku menghabiskan malam minggu bersama sahabat-sahabatku. Kami adalah wanita-wanita lajang namun bukanlah gadis-gadis belia, yaa… bisa dikatakan ‘perawan-perawan tua’ Tetapi jangan salah, kami

Saat Terakhir di Stasiun

Oleh:
Ismail Irawan, cowok berusia tujuh belas tahun yang suka nongkrong di stasiun itu, lagi-lagi melihat seorang gadis cantik berbaju putih di seberang rel kereta. Sambil menunggu kereta yang mengantarnya

3 Sahabat dan Adik Masa Lalu

Oleh:
“Hufffttt” kata ketiga gadis remaja ini sambil membaringkan tubuh mereka ke sofa (karena mereka tinggal di rumah yang sama). Mereka adalah anggita, pipit dan riska, 3 sahabat yang tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Takdir, Aku dan Aries (Part 2)”

  1. Fitri says:

    Kapan chapter 3 nya??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *