Tentang Apriani


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 10 June 2013

7 Juli 2006
Ini adalah hari kelima aku menjalani kegiatan MOS di SMP baruku, terhitung sejak hari senin yang lalu. Selama lima hari aku menjalani MOS ini, begitu banyak kejadian-kejadian baru yang aku alami, mulai dari perkenalan sekolah, guru, OSIS, hingga perkenalan berbagai kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah ini. Tak hanya itu, aku juga berkenalan dengan teman-teman baruku yang lain, termasuk dengan salah seorang temanku yang aku sendiri belum tahu namanya sampai sekarang. Ya, aku mengenalnya sejak hari pertama MOS ini berlangsung. Dia lah gadis yang meringankan hukumanku saat aku di hukum oleh kakak OSIS karena terlambat datang saat MOS.

Dalam sudut pandangku, ia adalah seorang gadis yang baik hati, terlihat polos dan sangat lugu dengan penampilannya tampak sangat sederhana dan apa adanya. Dia begitu tulus membantuku yang saat itu tengah tersudut dengan desakan kakak-kakak kelas. Aku sangat berterima kasih sekali padanya atas pembelaan yang sudah ia berikan padaku. Namun waktu itu, aku lupa untuk sekedar menanyakan siapa namanya. Aku hanya berharap, besok aku bisa tahu siapa dia dan membalas budi kebaikannya.

20 Agustus 2006
Gadis yang bernama Apriani Nur Widya itu ternyata dari Kelas 7B, sebelah timur kelasku. Aku tahu identitasnya baru saja saat meminjam buku di perpustakaan bersama dia. Saat gadis itu melihatku, ia tersenyum ramah padaku. Sikapnya begitu sopan saat berlalu di hadapanku. Entah mengapa tiba-tiba saja, aku merasakan sesuatu yang berbeda padanya. Aku tidak tahu apa yang ku rasakan ini, namun bila boleh jujur, diam-diam aku mengaguminya. Ya, aku sangat mengagumi sesosok Apriani.

7 September 2006
Aku mulai mengenal sesosok Ian sekarang. Aku mengagumi sesosok Ian, seperti apa yang sudah aku tulis dalam catatan sebelumnya. Selain ia polos, lugu dan baik hati, gadis itu sangat rajin menjalankan ibadahnya. Aku sering melihatnya di masjid pada waktu istirahat, juga pada waktu pulang sekolah. Tak pernah sekalipun aku melihat ia melewatkan sedikit waktunya tanpa ke masjid. Ia selalu rajin beribadah, juga suka mengHabiskan waktunya di perpustakaan, tenggelam bersama buku-buku pelajarannya. Yang aku tahu dari teman-temannya, dia adalah kutu buku, si jenius yang selalu juara umum se SD nya di setiap akhir semester maupun kenaikan kelas.
Kesederhanan, kepintaran, ketaatan, dan segala kebaikan yang ada padanya sangat aku kagumi. Bahkan secara diam-diam aku selalu mengamatinya dari kejauhan, tanpa sedikitpun ia sadari.

15 September 2007
Hari ini aku mendapatkan keberuntungan besar yang sama sekali tak ku duga sebelumnya. Ya, aku terPilih sebagai ketua OSIS di SMP ku, SMP N 1 Bantul periode 2007/2008. Yang lebih mengejutkan lagi, Ian juga terpilih menjadi anggota OSIS, sebagai Sekertaris Umum. Tentu saja aku sangat bersyukur sekali aku mendapatkan amanah ini. Meskipun berat, namun aku akan berusaha untuk menjalankannya dengan baik nantinya. Terlebih, ada teman-teman yang sudah bersedia untuk membantu ku.

16 September 2007
Ini adalah keberuntungan yang tak ku duga sebelumnya. Aku terpilih menjadi salah satu wakil sekolah untuk mengikuti pelatihan olimpiade Fisika di tingkat nasional. Bahkan aku lebih tak menyangka lagi saat tahu kalau Ian juga terpilih menjadi wakil sekolah bersama ku. Pelatihan yang berlangsung selama 3 bulan ini nantinya akan menentukan siapa yang pantas menjadi wakil sekolah untuk maju ke tingkat nasional. Ini artinya aku dan Ian akan bersaing untuk memperebutkan kursi Olimpiade sebagai wakil dari sekolah. Tentu saja tidak akan mudah bagiku untuk mendapatkan semua itu karena harus bersaing dengan Ian yang sudah jelas-jelas memiliki segudang prestasi di tingkat nasional. Namun, meskipun demikian aku akan berusaha untuk dapat meraihnya.

17 Oktober 2007
Sudah hampir 1 bulan ini aku dan Ian mengikuti pelatihan untuk olimpiade bulan depan. Selama pelatihan itu, aku banyak belajar dari Ian tentang materi-materi yang disampaikan oleh pembimbing kami. Ia banyak membantuku memahami materi yang ada. Kesulitan yang aku hadapi dalam pelatihan ini, terasa lebih ringan dengan bantuannya yang selalu ia berikan padaku. Terkadang aku merasa berkecil hati dengan kemampuanku sendiri. Bila dibandingkan dengan Ian, aku merasa kurang dalam pembelajaran ini. Terlalu banyak materi yang belum aku kuasai namun sudah selesai Ian pelajari. Akhirnya, diam-diam akupun telah bertekad untuk serius bersaing dengannya untuk memperebutkan kursi olimpiade itu.

3 November 2007
Pelatihan olimpiade sudah berakhir 2 minggu yang lalu. Aku tidak menyangka sama sekali jika di antara aku dan Ian yang terpilih sebagai perwakilan sekolah adalah aku. Tentu saja aku tidak pernah menduga hal itu akan terjadi. Selama ini aku terlalu banyak bertanya pada Ian, bahkan dia lah yang mengajari aku selama pelatihan ini. Aku merasa bersalah padanya. Seharusnya, Ian yang terpilih menjadi wakil sekolah, bukan aku, yang hanya siswa biasa dan tidak memiliki segudang prestasi seperti dia. Tentu saja aku merasa ciut dengan keputusan itu. Namun, Ian justru berbeda denganku. Ia menerimanya dengan hati yang lapang dan ikhlas. Ia justru memberikan motivasi padaku untuk tetap optimis dan terus maju.

15 Mei 2008
Waktu berputar sangatlah cepat. Bahkan aku tak mengira kini sudah kelas 3 SMP. Sebentar lagi waktu ku akan habis di sini. Itu artinya aku akan berpisah dengan teman-teman, juga Ian, gadis yang sangat aku kagumi. Sebenarnya, aku sudah mempersiapkan sesuatu untuknya sebelum kelulusan nanti, yaitu sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya pada gadis lain. Ya, aku akan menyatakan perasaanku padanya. Sebenarnya aku masih ragu dengan rencanaku ini. Juga, bila di lihat dari kondisi sekarang ini sepertinya masih belum meyakinkan. Ian masih terlalu sibuk dan fokus dengan persiapan UN nya. Selain itu aku belum tahu bagaimana perasaan Ian padaku. Belum tentu gadis itu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Bila aku tetap bertekad untuk melakukannya, kemungkinan besar, aku akan pulang dengan tangan hampa. Tentu saja itu akan membuat aku malu di hadapannya. Aku takut di tolak olehnya. Bahkan lebih takut lagi jika nanti ia malah menerima ku. (Kemungkinan 0,0001% untuk di terimanya). Mungkin semua serba membingungkan, karena aku sendiri juga tidak mengerti dengan perasaanku padanya yang sebenarnya. Aku hanya ingin dekat dengan nya, sebagai teman yang selalu ada untuknya.
Aku tidak ingin pacaran sebagaimana kebanyakan remaja pada umumnya, karena aku selalu ingat dengan aturan agama yang memberikan batasan pada pergaulan lawan jenis. Aku takut melanggar aturan agama sebagaimana mestinya. Seperti apa yang pernah ayah bilang padaku, bahwa aku tidak boleh pacaran sampai nikah nanti. Hingga setelah aku pikir-pikir, aku memutuskan untuk memendam perasaan ini hingga entah sampai kapan.

2 Agustus 2008
Masa-masa SMP telah berakhir beberapa bulan yang lalu. Kebahagiaan tersendiri bagiku saat kelulusan kemarin. Tak ada yang menyangka kalau aku dan Ian bisa menjadi siswa teladan se SMP kami. Aku masih ingat moment membahagiakan itu. Saat aku naik ke podium bersama Ian, juga saat aku berfoto bareng dengannya. Semua itu benar-benar moment terindah dalam hidupku. Kebahagiaan yang aku rasakan saat itu tidak hanya berlalu begitu saja, waktu aku tahu bahwa Ian sekolah di SMA yang sama denganku, SMA N Pembangunan.

6 Mei 2011
Apriani Nur Widya. Gadis itu masih ku kagumi hingga sekarang. Kebersamaan kami di satu OSIS dahulu, kembali terulang di SMA ini. Entah mengapa perasaan ku padanya begitu lebih kuat sekarang. Terkadang aku selalu berfikir, Apakah mungkin, aku terkena virus merah jambu tanpa aku sadari sebelumnya? Entahlah, semua serba membingungkan

2 Mei 2011
Sekarang, berakhir sudah masa putih abu-abu ku. Namun, aku tidak tahu kapan perasaan ku pada Ian akan berakhir. Ini sudah hampir 6 tahun aku menyimpan rapat perasaan ku padanya. Dari sejak SMP dulu, hingga kini aku lulus SMA. Aku tidak tahu apakah nanti bisa bersama Ian lagi di bangku kuliah. Masih mungkinkah aku dapat mempertahankan semua ini?

Aku masih terpaku dengan buku pelajaran ku di aula ini. Sudah hampir 2 jam yang lalu aku tenggelam membaca bukuku tiada henti. Pikiranku terlalu fokus dengan uraian kata-kata yang tertera di dalamnya. Namun keseriusanku tiba-tiba hilang saat ku tahu seseorang telah datang menghampiriku. Dia adalah Yulia Nur Devita, teman sekelas juga teman SMP ku dulu. Ku lihat ia tampak gugup saat aku menatapnya.

“Eng.. Sandy, ini untuk kamu,” ucapnya memberikan aku sebuah bungkusan. Aku terdiam sejenak saat menerimanya.

“Aku juga mau bilang, kalau aku suka sama kamu,”

Degg.. aku tersentak. Dengan polosnya Yulia mengatakan hal itu padaku. Aku bahkan tidak menyangka sama sekali Yulia bisa mengucapkan kata-kata itu. Pikiranku berantah. Kembali terbayang olehku sesosok Ian. Aku tidak bisa menerima Yulia, karena aku memang hanya menganggap dia sebatas teman saja. Keadaan mungkin akan berbeda jika Ian yang melakukan itu.

“Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Tentang perasaan, maaf aku sudah ada orang lain,” ucapku pelan. Ku lihat air mata Yulia menetes perlahan. Ya, gadis itu menangis. Ia tersenyum tipis padaku sebelum melangkah mundur meninggalkan aku di aula ini.

“Maaf, Yulia. Bukan maksudku untuk membuatmu seperti ini karena memang kenyataannya aku sudah ada orang lain. Aku harap kamu mengerti akan hal itu,” batinku dalam hati. Ya, orang lain itu tak lain adalah Ian. Apriani Nur Widya.

Cerpen Karangan: Dewi Apriani
Facebook: Dewi Apriani

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Islami Cerpen Galau

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply