Tentang Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 26 July 2013

Kamu yang selalu buat hatiku nggak tenang dan pikiranku jadi nggak menentu. Kamu dengan berjuta hal yang selalu buat aku kangen.

Kamu dan aku, ya kita. Terlalu banyak yang berbeda di antara kita. Kamu dengan keegoisanmu, sedang aku yang sering kamu bilang manja dan kekanak–kanakan. Terlalu banyak kata yang gambarin betapa berbedanya kita.

Aku dan kamu berbeda. Bahkan untuk hal selera musik aja, kita nggak pernah cocok. Aku, yang kamu bilang punya selera musik payah, seluruh lagu kesukaanku itu pasaran, selalu ada di playlist semua orang. Itu katamu. Sedang kamu, nggak ada satupun lagu kesukaanmu yang cocok di telingaku, mungkin ada beberapa yang mau nggak mau jadi lagu favoritku juga. Tapi tetap aja, aku nggak ngerti dengan selera musikmu.

Aku sering menangis karena kamu, tapi kamu malah bilang aku cengeng. Kamu selalu buat aku kesal dan kemudian pura–pura nggak tahu dengan kelakuanmu. Kamu selalu bilang benci melihat aku menangis, padahal yang aku pengen kamu memelukku dan bilang semuanya bakal baik–baik aja. Itu sudah cukup. Tapi nyatanya kamu selalu pergi tiap kali buat aku menangis.

Aku masih ingat, pernah kamu nggak mau ketemu aku. Alasanmu sederhana aja, kamu lagi pengen ada waktu buatmu sendiri, tanpa ada aku. Rasanya sakit, seperti kamu nggak butuh aku lagi. Tapi aku berusaha ngerti. Karena kamu selalu bilang, kamu nggak butuh pacar yang baik, yang kamu butuhin pacar yang ngertiin kamu. Ya, aku bakal belajar buat ngertiin kamu.

Pernah juga selama seminggu kamu nggak mau balas smsku, nggak mau angkat teleponku. Kamu hilang, nggak ada kabar sedikitpun. Aku cuma bisa nangis karena terlalu khawatir. Tiba–tiba kamu datang dengan alasanmu yang selalu sederhana, lagi banyak kerjaan, gitu aja.

Kamu memang egois. Banget. Tapi kamu selalu menyangkalnya. Kamu bilang harus seperti itulah laki–laki. Ya, aku yakin kamulah laki–laki yang bisa ngelindungin aku.

Banyak hal yang berubah denganku. Itu karena kamu. Dulu aku aku orang yang emosian, nggak sabar, dan nggak suka disalahin. Tapi, kamu lihat sejak bersama kamu aku mulai berubah. Aku belajar menahan emosiku, aku belajar sabar ngadapin kamu. Walau kadang–kadang aku masih selalu saja nggak mau disalahin atas kesalahanku.

Kadang sering aku ngerasa ragu sama kamu, entah kenapa. Aku ragu apakah perasaanmu sama sepertiku. Sikapmu yang selalu buat aku bingung. Kadang kamu nunjukin betapa nggak butuhnya kamu sama aku, kamu selalu sibuk dengan duniamu. Padahal aku cuma minta sedikit dari waktumu. Atau mungkin aku yang masih kurang mengerti kamu.

Ada juga saat rasanya aku pengen pergi saja dari kamu, ninggalin semuanya tentang kamu. Apalagi saat sedih dan sakit hati itu sudah nggak bisa aku tahan, dan di saat itu kamu nggak perduli denganku. Tapi ada satu hal yang buat aku bertahan. Ya, kamulah yang buat aku bertahan. Rasa sayangku ngalahin keegoisanku buat ninggalin kamu.

Apalagi kata–katamu yang selalu bisa menguatkanku. Kamu selalu bilang, jangan pernah berhenti buat sayang sama seseorang, meskipun kelihatannya orang itu nggak sayang. Pasti ada balasannya, mungkin nggak secara langsung tapi bersabarlah.
Kamu nggak suka kalau aku berbohong. Aku masih ingat, kamu marah saat ada satu hal yang aku sembunyikan dari kamu. Ya, aku berbohong. Karena kurasa kebohonganku ada alasannya. Tapi, kamu nggak terima. Aku masih ingat raut mukamu yang menahan amarah, kamu diam walaupun sudah berkali–kali aku minta maaf. Dan saat itulah aku menyesal, aku takut kamu ninggalin aku.

Kamu bukan orang yang romantis, bukan orang yang penuh dengan kejutan. Ya begitulah kamu. Kamu bukan orang yang dengan mudahnya ngucapin kata–kata romantis, juga bukan orang yang biasa ngelakuin hal–hal manis. Nggak pernah ada kejutan di hari ulang tahunku, bahkan tanggal jadian kita aja kamu lupa. Buatku, asal aku masih berarti buat kamu aja, itu sudah cukup.

Oiya, ada satu hal romantis yang pernah kamu lakuin. Mungkin menurutmu biasa aja, tapi buatku itu lebih dari cukup. Hari itu kamu nggak ada kabar lagi, seperti biasa nggak mau angkat telepon dan balas smsku. Malamnya aku sudah nyerah buat ngehubungin kamu, mungkin besok pikirku. Tepat tengah malam kamu datang, masih dengan pakaian kerja yang melekat di tubuhmu. Rasanya ingin kupeluk tubuhmu lebih lama.

Pernah satu kali, pagi–pagi sekali kamu ngehubungin aku, masih subuh kurasa. Kamu mimpiin aku, itu awal ceritamu. Kamu mimpi aku ninggalin kamu dan pergi dengan lelaki lain yang juga temanmu. Hampir aja aku tertawa kalau nggak dengar kelanjutan ceritamu. Kamu akhirnya memilih menikah dengan teman kecilmu yang dulu adalah cinta pertamamu. Cerita mimpimu rasanya terlalu menyakitkan buatku. Entahlah, aku cuma takut bakal jadi kenyataan.

Kamu sering tanya alasanku kenapa bisa sayang sama kamu dan aku sering bingung dengan jawabannya. Buatku sayang dan cinta sama seseorang itu nggak ada alasannya. Kalau ada alasan, berarti cinta itu nggak tulus. Aku sayang sama kamu, karena aku memang sayang sama kamu. Itu aja.

Banyak hal yang aku suka dari kamu. Aku suka dengan senyummu, aku suka dengan tatapan matamu, dengan pelukanmu, dengan genggaman tanganmu, dengan elusan tanganmu di rambutku, bahkan dengan kulit coklatmu yang membuat kita terlihat berbeda. Tahukah kamu, betapa inginnya aku memiliki kamu. Betapa inginnya aku menghabiskan seluruh hidupku bersama kamu.

Pagi ini masih sedikit berembun. Suasananya nggak sejalan dengan hatiku. Ini sudah bulan ketiga aku berjuang buat ngelupain kamu, tapi cuma sakit yang terus kurasa. Aku nggak bisa terus–terusan kaya’ gini. Tiap hari bayangmu selalu hinggap di kepalaku, membuat aku ingin amnesia rasanya.

Aku dan kamu, ya kita. Kita dan ribuan kenangan yang nggak bisa begitu aja kuhapus. Mungkin kamu yang sudah lupa denganku, kamu dan dunia barumu yang tentu aja nggak ada ruang buatku lagi.

Pagi itu, kamu tiba–tiba datang. Wajahmu kusut, aku kira kamu kecapean karena kerjaanmu. Kamu menggenggam tanganku. Tanganmu dingin, nggak sehangat biasanya. Aku masih sempat mengelus rambutmu sebelum akhirnya kamu ngucapin kata–kata itu.

Kamu bilang akan menikah dengan perempuan yang menjadi pilihan keluargamu. Aku berontak, terus bagaimana dengan kita? Bagaimana denganku?

Lupain aku, itu kata–kata terakhirmu sebelum akhirnya kamu beranjak pergi. Anehnya aku nggak menangis. Asal kamu tahu aja, sakitnya sudah nggak bisa digambarin dengan tangis lagi. Terlalu sakit rasanya.

I won’t talk
I won’t breathe
I won’t move till you finally see
That you belong with me

Aku memainkan sendok di cangkir yang berisi susu coklat hangat. Minuman kesukaan kita. Mungkin cuma buat hal ini kita bisa cocok. Kamu nggak pernah protes kalau minuman ini yang aku sajikan tiap kita ketemu.

Seperti inilah aku sekarang. Hanya buat sekedar melupakan kamu, aku tinggal di kota ini. Biarpun tanah yang kita injak sudah berbeda, tapi langit yang menaungi kita tetap sama, disana pulalah tiap hari sosokmu terus yang aku lihat.

Aku mencintaimu lebih dari apapun, lebih dari yang kamu tahu, bahkan sampai sakitnya aku nggak perduli lagi. Aku nggak pengen apa-apa, aku juga nggak berani bilang aku pengen memiliki kamu. Aku nggak berhak lagi. Aku cinta kamu, itu aja.

You might think I don’t look
But deep inside
In the corner of my mine
I’m attached to you
I’m weak
It’s true
Cause I’m afraid to know the answer
Do you want me too?
Cause my heart keeps falling faster
(Ryan Cabrera – True)

END

Cerpen Karangan: Eva Kurniasari
Blog: vadeliciouslife.blogspot.com

Cerpen Tentang Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Di Balik Hujan

Oleh:
Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu

Laut, Senja, Dan Kamu

Oleh:
Gadis itu duduk menghadap lautan. Baginya, senja selalu sama. Laut selalu sama. Menghadirkan cerita yang dulu pernah ia alami dalam hidupnya. Ingatan itu terus muncul tiap kali ia menjejakkan

Hanya Kenangan Masa Lalu

Oleh:
Angin malam berhembus kencang di luar jendela sepertinya mau hujan deras, aku termenung dengan buku harian yang ada di depanku. Memikirkan apa yang sedang dia lakukan di kala hujan

Tears

Oleh:
Bening embun di daun itu meneteskan butir-butir kesejukan di hatiku. Gemerisik daun bambu yang tertiup angin adalah getar rinduku kepadamu. Lama sudah ku tak menatap wajahmu Ikhsan, rinduku mengingat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *