Tentang Sandy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 10 June 2013

3 Juli 2006
Namanya Sandy. Sandy Nur Huda. Aku mengenal sesosok dia ketika awal masuk SMP ini. Ya, ketika aku dan dia sama sama masih siswa baru, di sebuah sekolah yang bagi kami merupakan sekolah terbaik yang ada di daerah ini, SMP N 1 Pembangunan. Hampir 1 minggu ini kami menjalani MOS bersama, sebuah aktivitas Masa Orientasi Siswa, yang memperkenalkan kami pada suasana baru di sekolah ini.
Sandy. Kesan pertama saat aku melihatnya adalah kagum. Ya, aku sangat mengagumi sesosok Sandy. Dalam sudut pandangku, ia terlihat begitu dewasa di bandingkan dengan kami, teman-teman yang se usia dengannya. Pemikirannya tentang akhlak dan agama begitu sangat kuat melekat dalam benaknya. Di usia nya yang masih SMP dan relatif muda ini, sangat jelas tercermin akhlak mulia dalam kemampuannya.
Sungguh, aku begitu sangat mengagumi kepribadian nya. Ia yang ramah, sopan, bertanggung jawab, cerdas dan bijaksana membuat aku diam-diam selalu memperhatikan nya juga selalu mengamati setiap langkah perbuatan nya, tanpa ia sadari.
Namun… terkadang aku merasa malu saat berpapasan atau sekedar tak sengaja bertemu dengan nya. Entah mengapa aku selalu grogi ketika sudah berada di depan nya. Senyumnya yang selalu ia berikan itu, membuat aku merasakan sesuatu yang berbeda saat melihatnya. Sebuah perasaan yang mungkin belum pernah aku rasakan sama sekali pada orang lain, namun aku tak tahu apa itu.

27 Agustus 2006
Aku merasakan sesuatu hari ini. Entah mengapa perasaan yang selalu aku rasakan saat aku berjumpa dengannya kembali ku rasakan. Baru saja aku bertemu dengan Sandy, di koridor saat aku hendak ke perpustakaan. Tiba-tiba saja hatiku berdegup saat ia tersenyum padaku. Menyapa ku ramah dan menundukan pandangan ke arahku. Sungguh, ia terlihat begitu sempurna saat itu. Senyuman yang ia suguhkan di hadapan ku membuat hatiku tiba-tiba bergetar. Tuhan, apakah ini hanya sekedar perasaan kagum, sebagai sahabat atau yang lain nya? Entahlah aku tidak tahu itu ..

15 September 2007
Hari ini adalah moment terpenting bagi Sandy. Ya, penting dan sangat bersejarah. Pemilihan ketua OSIS yang melibatkan ia sebagai kandidat ketua telah di selenggarakan pagi tadi. Hasil yang didapatkan benar-benar sangatlah memuaskan, bagi semua termasuk bagiku juga. Sesosok Sandy Nur Huda akhirnya berhasil menjadi ketua OSIS di SMP ini. Ketua Umum Organisasi Siswa Intern Sekolah. Selain karena banyaknya dukungan dari berbagai pihak, bagiku, ia memang pantas mendapatkan itu. Jiwa kepemimpinan yang ia miliki sangat menunjang kemampuannya untuk hal tersebut. San, aku sangat yakin ia bisa memberikan yang terbaik bagi sekolah ini. Juga perubahan.

4 Desember 2007
Hari yang melelahkan. Mungkin itu adalah hari ini. Ya, rapat OSIS hari ini sedikit membuat aku kasihan pada San. Ada beberapa teman ku yang menentang pendapatnya mentah-mentah. Mereka merasa benar dengan pendapatnya sendiri dan bersikeras untuk tidak mau mengikuti langkahnya yang menurut aku dan teman-teman, jauh lebih baik di bandingkan dengan pendapat keras mereka. Mungkin jika aku di posisi ketua, aku akan mengeluarkan mereka saat itu juga, karena benar-benar sangat menganggu rapat yang sedang berlangsung. Namun, apa yang dilakukan San? Ia sama sekali tidak melakukan hal itu atau bahkan menegur mereka sekalipun. Sesosok Sandy yang tegar, benar-benar sangat bijaksana menanggapi situasi seperti itu. Ia bisa menerima hasil keputusan dari apa yang mereka tegaskan. Yang lebih membuatku terkesan adalah ketika dia bisa meyakinkan forum tentang rencana itu dengan berbagai pertimbangan yang ada. Baru kali ini aku melihat San yang tegar, bisa membuat keputusan bijaksana atas masalah-masalah yang di hadapi nya, mengingat usianya yang masih relatif muda. Aku sangat mengerti, betapa berat beban tanggung jawab yang ia hadapi sebagai ketua OSIS. Tanggung jawab yang harus ia emban dan begitu sangat mulia.

27 Desember 2007
Tadi pagi ketika upacara bendera, ada sebuah pengumuman penting untuk Sandy. Ya, sesosok dirinya berhasil menyabet kejuaraan Olimpiade Fisika tingkat nasional, yang ia berikan secara terbaik untuk sekolah kami tercinta.
Sungguh, aku turut senang melihat kemenangan yang di dapat olehnya.

8 Januari 2008
Berlalu sudah satu tahun untukku melewati masa-masa SMP ini. Itu artinya aku sekarang sudah kelas 2 SMP dan sudah 1 tahun ini aku mengagumi sesosok Sandy. Ya, mengagumi dia tanpa pernah ia tahu sedikitpun. Bahkan winda, sahabat dekat ku tidak pernah tahu akan hal itu. Aku memang sengaja tak menceritakan hal ini padanya, karena bagiku cukup aku dan ALLAH yang tahu. Ya, aku ingin berusaha istiqamah dengan perasaan ku padanya. Meski terkadang, ingin rasanya aku berbagi pada nya, juga teman-teman yang lain. Tapi aku enggan melakukan itu. aku tak ingin ada fitnah atau rumor yang beredar tentang aku dan dia, yang mungkin dapat merusak pandangan orang lain terhadapnya. Selama ini Sandy tergolong orang yang baik, malah bagiku dia lebih dari sekedar baik. Kepribadiannya sangat lah sempurna. Dalam pandanganku Akhlak, agama dan perilakunya memiliki nilai 100, dan karena alasan itulah yang membuat aku mengagumi dirinya. Namun terkadang itu semua membuat aku merasa lemah iman.

19 Mei 2008
Pengumuman Ujian Nasional baru saja keluar tadi pagi. Meski sedikit kecewa dengan hasil yang ku dapatkan tidak sesuai dengan harapan, namun aku bersyukur bisa Lulus seperti teman-teman lainnya, termasuk San. Ya, aku senang melihat San juga lulus ujian Nasional kali ini. Namun, aku sedikit merasa sedih dengan semua ini. Kelulusan kali ini harus menjadi awal perpisahan bagiku dan Sandy. Aku tidak tahu apakah setelah lulus dari sini bisa tetap bertemu dengan nya lagi atau tidak, namun aku berharap, ikatan persahabatan ku dengan nya tak akan hilang meski nanti harus berbeda sekolah.

5 Juni 2008
Hampir 3 tahun aku menyimpan kekaguman ini pada San, tanpa sedikitpun ia tahu akan hal itu. Aku tidak tahu sampai kapan akan tetap bertahan seperti ini. Namun aku berharap ia tidak akan pernah tahu tentang hal itu.

16 Juli 2008
Aku tak menyangka bisa 1 SMA dengan Sandy di SMA N 2 Pembangunan. Sungguh, keberuntungan ini sama sekali tidak terbayangkan olehku. Namun aku sangat bersyukur. Setidaknya aku bisa tetap melanjutkan persahaBatan kami hingga kini SMA.

Aku menutup buku itu pelan. Sebuah catatan 7 tahun yang lalu tentang kenangan SMP ku masih tersimpan rapat dalam rak buku di meja belajar ku. Aku tersenyum tipis saat selesai membaca beberapa halaman yang ada. Sekilas teringat olehku sesosok Sandy yang aku kagumi waktu SMP dulu. Entah mengapa, aku yang pemalu dan pendiam tiba-tiba bisa kagum pada sang ketua OSIS itu. Aku terdiam sejenak merenungi kenangan itu. bagaimana mungkin seorang diriku bisa seperti itu, batinku dalam hati.

“Kamu masih disini, Ian?” sapa Fiani mengagetkanku. Buru-buru ku sembunyikan buku itu di balik majalah yang baru saja ku baca.

“Ah kamu, Fi. Mengagetkan ku saja,” ucapku padanya. Ku lihat Fiani memperhatikan buku yang ku sembunyikan sekarang.

“Itu apa yang kamu sembunyikan?”

“Eng…e… enggak kok. Bukan apa-apa, Fi” sahutku gugup.

“Pasti buku itu kan? Udah deh ga usah pakai sembunyi segala. Aku udah tahu kali,”

“Hah? Kamu udah baca buku ku?..”

“Hehe sorry, Ian. Aku penasaran dan pengen tahu apa isinya. Lagian, kenapa selama ini kamu ga pernah cerita sama aku kalau kamu masih suka sama Sandy sejak SMP dulu. Seenggaknya kan aku bisa bantuin kamu,”

“Bantuin jadi penyebar gosip, gitu?”

“Ya ga gitu juga kali, Ian. Aku ga mungkin lah tega kayak gitu sama kamu. Em.. kalau boleh tahu, kenapa kamu ga jujur aja sih sama San tentang perasaan kamu waktu itu?”

“Kamu gila ya? Ga mungkin lah. Lagi pula mana berani aku melakukan itu. Tiap ketemu dia aja aku selalu ngumpet karena grogi, kamu tahu sendiri kan aku dulu gimana?”

“Ah… Jangan-jangan dia cinta pertama kamu ya? Hayoo…”

“Ihh apaan sih.. Enggak,” ujar ku mengelak. Fiani terus mengejarku dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Sandy.

“Iya juga ga pa pa kok. Lagi pula, ini kan yang pertama, siapa tahu bisa langsung jadi yang terakhir. Ehm, emang sekarang gimana perasaan kamu ke dia. Jangan bilang kamu masih nyimpan perasaan itu?”
Aku terdiam dengan pertanyaan Fiani. Aku sendiri bingung apakah perasaan itu masih ada atau tidak.

“Diam berarti iya. Kamu super ya. Tujuh tahun menyimpan perasaan pada San, sama sekali ga berubah. Salut banget aku sama kamu. Mungkin di dunia ini ga ada orang yang seperti kamu, ibaratnya 1 banding 10.000”

“Siapa bilang ga ada? Buktinya Sayiddina Ali dan Fatimah bisa melakukan itu, bahkan lebih dari 7 tahun”

“Itu kan zaman nabi, Ian. Kalau sekarang mana ada,” ejeknya terkekeh.
Aku terdiam sejenak. Tanpa ku sadari sebuah tatapan tajam tertuju ke arahku. Dan aku menyadari akan hal itu.

“Kamu kenapa menatapku seperti itu, Fi?” tanyaku gugup.

“Sebenarnya apa alasan kamu melakukan semua ini, Ian? Kenapa kamu tetap bersikukuh bertahan pada dia? Maaf sebelumya, tapi belum tentu dia ada perasaan khusus sama kamu,”

“Jujur, Fi, sebenarnya aku sudah tidak ingin membahas ini lagi. Tetapi kalau kamu bertanya tentang hal itu, akan aku jelaskan sekarang. Lagi pula tak selamanya ini akan menjadi rahasia.
Aku takut sama Allah, Fi. Itu yang menjadi alasan utamaku. Aku takut jika berpindah ke yang lain justru akan menimbulkan hal-hal yang mungkin bisa menjerumus ke larangan Nya. Aku bukannya sok suci atau apa, tapi itulah alasan ku kenapa aku tetap bertahan. Dia memang tak tahu ini, tapi suatu saat pasti ia akan tahu. Dan biarlah waktu yang mengaturnya. Jika seandainya memang dia tidak ada perasaan khusus padaku, biarlah. Karena aku memang tidak menuntut balasan apapun darinya. Aku tidak ingin perasaan ku ini menghancurkan keimanan yang selama ini ia bangun. Akhlaknya terlalu sempurna, dan aku tak ingin menghancurkan kesempurnaannya itu dengan perasaan ini. Aku yang dulu, biarlah menjadi aku yang dulu, karena inilah aku sebenarnya, aku yang sekarang. Masalah hati dan perasaanku sekarang, cukup aku dan Allah yang tahu, maaf. Sekarang, aku hanya ingin berusaha memperbaiki akhlak yang mungkin belum sempurna. Masalah jodoh, aku menyerahkan sepenuhnya pada Allah. Bila memang tiba saatnya, pasti akan bertemu. Jika bukan dia, pasti Allah sudah punya penggantinya, dan aku percaya itu. perempuan baik-baik hanya untuk laki-laki baik-baik. Itu pedomanku,”
Fiani terdiam. ia manggut-manggut seolah mengerti.

“Waktu 6 tahun bukan berarti dia masih seperti SMP dulu. Aku yakin ada kehidupan berbeda yang mungkin sedang ia jalani. Dan waktu 6 tahun bertahan, aku tidak akan pernah menyesali semua ini. Karena dari sini, aku semakin belajar tentang semuanya. Tentang kehidupan, juga tentang cinta yang hakiki yang hanya karena Allah semata. Dulu, aku mengagumi dia karena Allah, dan sekarang aku harus ikhlas melepas dia juga karena Allah. Berharap dia adalah yang pertama dan terakhir hingga waktu nanti aku dapat berjodoh dengan yang Allah pilihkan untukku. Aku yakin apa yang Allah berikan untukku adalah yang terbaik. Dan aku berharap dia juga akan mendapatkan itu.“ batinku dalam hati.

“Tahu ah Fi. Aku juga bingung. Ah udah lah, keluar sana. Aku mau istirahat dulu.” seruku mengusir Fiani keluar.

“Iya iya, ini aku keluar.” jawab Fiani pasrah.

Aku mengunci pintu kamarku rapat. Kembali ku renungi apa yang Fiani sampaikan padaku barusan. Aku kembali menatap catatan itu. Fiani benar. Entah mengapa sampai sekarang perasaan itu masih ada. 6 tahun lamanya aku mengagumi sesosok Sandy Nur Huda, hingga saat ini tanpa sedikit pun berubah.

“Apa mungkin, aku masih suka sama Sandy?” guman ku lirih tersenyum.
Sekilas ku amati foto wisuda SMA saat aku bersama Sandy. Saat aku tersenyum memakai jubah wisuda dan berdampingan dengannya di atas podium dengan membawa toga kelulusan sebagai peringkat terbaik se SMA N 2 Pembangunan.

Aku melangkah pelan menuju aula sekolah yang tak begitu jauh dengan kelasku. Kelulusan yang baru saja aku jalani membuat aku semakin bertekad bahwa aku akan mengungkap semua perasaanku pada San sebelum semuanya terlambat. Ku lihat sesosok yang sedang ku cari itu, tengah berdiri di depan aula. Seperti biasa ia tampak sibuk dengan buku bacaannya yang selalu ia baca. Belum sempat aku mendekat ke arahnya, Yulia, teman sekelasku, sudah mendahuluiku untuk menghampirinya. Tiba-tiba saja aku mengurungkan niatku untuk tetap maju padanya. Diam dan memandang dari kejauhan. Itu yang ku lakukan saat aku melihat Yulia bersama San.

“San, ini untuk mu,” ucap Yulia pelan.

“Apa ini?” jawab San. Tampaknya San menerima sebuah bungkusan kecil yang bersampul merah dari Yulia.

“Nanti kamu juga tahu sendiri. Eng, aku cuma mau bilang, kalau aku suka sama kamu,”

Degg.. aku tersentak. Kata-kata yang hendak ku ucapkan untuk San ternyata sudah keluar dari orang lain. Aku tak menyangka sesosok Yulia akan suka pada San sama sepertiku.
Ku lihat San hanya terdiam mendengar pengakuan Yulia tentang perasaannya. Lima detik. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Sama sekali tidak ada kata-kata yang terucap dari San.

“Maaf, aku ga pantas menerimanya. Tentang perasaan, maaf. Aku tidak bisa karena sudah ada yang lain,” ucapnya lirih. Aku terpatut mendengar jawaban San. Kata-katanya mengisyaratkan bahwa San memang menolak Yulia. San menyukai seseorang. Siapakah dia? Pertanyaan itu tiba-tiba memenuhi otakku. Aku tak mengira ternyata sudah ada seseorang yang San sukai.
Aku semakin melangkah mundur untuk menjauh dari mereka. Hatiku menangis. Mungkin aku akan terluka seperti Yulia jika tetap maju untuk menyatakan semuanya pada San. San yang selama ini aku kagumi ternyata sudah menyukai seseorang tanpa aku tahu hal itu. Penantianku selama 6 tahun terhadapnya, mungkin hanya menjadi kenangan belaka saja.

Aku berdiam diri di dalam kamar ku. Kembali kupandangai bingkai foto wisudaku yang terpasang di atas meja. San, sekilas aku mengingat kembali kejadian tadi siang, saat aku melihat dia dan Yulia di aula. Aku termenung mengingat kata-kata terakhir yang San ucapkan pada Yulia

“Tentang perasaan, maaf. Aku tidak bisa karena sudah ada yang lain”
Aku menghela nafas panjang da berfikir sejenak.

“Jika memang sudah ada orang lain, aku bisa apa? Mungkin, lebih baik aku mundur saja dengan perasaan ini. 6 tahun bertahan, aku tidak akan pernah menyesalinya. Dari sini, aku semakin belajar tentang semuanya. Dulu, aku mengagumi dia karena Allah, dan sekarang aku ikhlas melepas dia juga karena Allah. “

Cerpen Karangan: Dewi Apriani
Facebook: Dewi Apriani

Cerpen Tentang Sandy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Untuk Maura

Oleh:
Maura dengan hati yang berbunga menatap sendu lelaki yang baru saja menikahinya. Sesekali ia membelai cincin yang melingkar di jarinya. Laki-laki itu mendekat padanya. “Sayangku, sekarang kau jadi bagian

Imran

Oleh:
Surya menyambut desiran angin yang menyisir rimbunnya pepohonan desa, desa yang damai nan elok dengan segala keselarasannya, dalam desa yang penuh keseimbangan tersebut terdapat pemuda tampan, dia bernama Imran

Perjalanan Jonesku

Oleh:
Nama ku Khoirotunnisa temanku sering memanggilku Nisa aku duduk di bangku kelas 7 aku sekolah di Pesantren yang menurutku cukup besar di daerahku, nama pesantren nya adalah Al-Manar tepat

Di Dalam Hati Norma

Oleh:
Norma, gadis menjelang usia seperempat abad itu menggaruk telinganya yang ditutup kerudung, kemudian menggosok ujung hidungnya. Entah kenapa ruang makan yang biasanya adem sekarang terasa gerah. Padahal hari sedang

Pemilik Tatapan Teduh

Oleh:
Belaian mentari sopan menyentuh pagiku hari ini, di balik sejuknya embun pagi jiwa ini terasa enggan meninggalkan sayup pilu angin yang menghalau pori-pori nafasku. Sontak aku ingat pagi ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *