Tepuk Sebelah Tangan Atau Tepuk Tangan?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 15 April 2017

“Cinta adalah sebuah keajaiban, takdir bukan pilihan. Meski perpisahan ada, jika takdir berkata cinta itu ada, musnahlah semua. Tapi dengan takdir, apalah daya manusia ini.”

“Hei, hei… hei Nindi, ngelamunin apan sih?” Sambil mendadakan tangan ke arah Nindi. Masih sama Nindi masih melamun.
“Nindi..!!” Siska berteriak keras sekali, sehingga seisi kantin menoleh padanya. Ia hanya menunduk malu karena kelakuannya. Tapi untunglah teriakannya membuahkan hasil, akhirnya Nindi tersadar.
“Oh… ada apa?” Nindi memasang tampang polos seperti tanpa dosa.
“Yeilah…, gue ampe tereak-tereak nyadarin elo, eh malah lo pasang tampang tanpa dosa lo. Emang susah ya kalau urusan sama cewek cantik.” Siska ngomel-ngomel.
“Ya iya sori deh. Eh, ngomong-ngomong lo tadi ngomong apa?.” Nindi masang muka yang ya, cantik. (eh, emang dari sononya aja udah cantik. Hehe.)
“Ih lo, elo itu lagi ngelamunin apa sih?” Siska yang keburu ketekuk mengulang kata-katanya. Hening sejenak. Lalu Nindi menghadap Siska serius.
“Sis, menurut lo ya, mungkin nggak Rendi bakal ngejar-ngejar gue?” Nindi bener-bener serius. Siska cengo, melongo akan kata Nindi barusan.
“What…?”
“Iya, mungkin nggak?”
“Nindi, kalau dilihat-lihat… nggak mungkin.” Benar-benar datar.
“Kok bisa gitu sih? Emangnya kenapa?”
“Secara ya Nin, elo udah ngebuntutin dia bertahun-tahun. Dia juga tau kan kalo elo suka sama dia. Tapi nyatanya elo dapat apa? Cinta lo bertepuk sebelah tangan kan? Plis deh Nin, mau sampe kapan lo dipermaluin sama dia? Kamu itu cantik Nin, kamu bisa dapat lebih dari Rendi itu. Move on lah kau itu.” Siska ceramah sana sini seperti pendakwah.
‘Hhhheeeehhh…’ Nindi menghembuskan nafas lemah sekali
“Iya sih, lo bener banget.” Wajahnya tertunduk lesu.
“Tapi yah Nin, mungkin aja lo bakal sama sama dengan Rendi. Kalo takdir berpihak pada keinginan lo itu. Kan bisa jadi kan. Kaya di pilem-pilem korea tuh apaan judulnya gue lupa.” Siska menghibur Nindi yang mulai kusut itu. Tapi Nindi agak pasrah lalu meminum minuman yang dipesannya tadi.
Siska yang ngeh banget arti kelesuan Nindi diam saja. Ngerti kalau Nindi benar-benar nggak mood lagi bicara.

Beberapa menit kemudian Siska sudah heboh lagi.
“Nindi Nindi, itu itu yang sering lo sebut pangeran lo.” Siska nunjuk-nunjuk arah pintu masuk kantin. Dengan penuh semangat Nindi menuruti arah telunjuk Siska. Satu detik, dua detik, tiga detik ia masih tersenyum lebar. Detik ke empat Nindi jutek kembali. Ia lesu kembali.
“eh? Kenapa lo, tumben ada tuh pangeran kodok lo malah lesu kek gini?” Siska yang jadi penasaran karena tumben-tumbennya Nindi nggak heboh ketika ada Rendi.
“Gue males ah, nginget kenyataan kalo cinta gue bertepuk sebelah tangan.” Nindi masih terlihat lempeng nggak daya. Siska pun diem sambil ngangguk-ngangguk. Bagus deh kalau gitu, setidaknya dia sadar.

Riko, orang yang tak mereka bicarakan dari tadi tiba-tiba nyamperin mereka. “tuk tuk” Riko mengetuk meja 2 cewek itu.
“oh, Rico” Nindi hanya mendongakkan kepalanya.
“kenapa lo, lesu banget. Muka lo kayak orang sakit perut aja” Riko terkekeh. Yang ditanya hanya diam saja. Riko melirik ke arah Siska dengan arti kenapa-nih-anak?. Siska hanya mengendikkan bahu. Suasana jadi nggak enak. Akhirnya Riko berusaha mencairkan suasana.
“Baidewey, akhir pekan ini kalian ke mana? Sabtu lebih tepatnya.”
“Kenapa? Lo mau ngajak kita jalan-jalan? ke mana? jam berapa? ikutan deh? uh, seneng banget.” Siska udah nggak sabaran. Padahal Riko mau nanya doang, tapi Siska yang tak tahu malu itu sudah tau rencananya Riko. Ah dasar tuh anak.
“Ye, elo tuh Sis, kalo urusannya kaya beginian lo semangat banget. Nindi lagi sedih nih.” Sambil nunjuk Nindi. Nindi menapel tangan Riko. “Ih, apaan sih”.
“Pokoknya kita akan ke sebuah tempat yang indah banget. Mulai senin depan kita kan liburan tuh. Nah kita manfaatin hari senin sampai kamis untuk liburan. Gimana lo?” Riko ngejelasin sampai penuh ekspresi.” Nah gue udah ngajak anak-anak cloudy (nama geng mereka yang notabene imut-imut semua.) lain. Sekarang cuman tinggal lo berdua. Mau ikutan?” Riko nelen ludah karena udah ngomong panjang banget.

Ngomog-ngomong nih Cloudy adalah nama geng mereka yang jumlah anggotanya 5 orang. Ferdinan, Natasya, si Riko sendiri, Nindi sama Siska. Nah, anak-anak yang bersahabat ini efse sekolah. Maksudnya mereka adalah siswa paling cerdas, terampil, cantik dan ganteng. Anak lain menyebut mereka sebagai gengsem. Alias geng sempurna. Mereka bukannya ingin menimbulkan integrasi sosial, namun karena mereka berlima sebagai wakil sekolah dalam lomba-lomba, dan selalu saja mereka satu tim, maka mereka mulai bersahabat.

“Dan lo berdua akan ikut?” Riko menetapkan sekali lagi.
“Iya bawel, gue ikut.” Nindi bener-bener kesal dua kali.
“Kalau gitu, gue tunggu di depan gerbang sekolah. Pukul 7 pagi ye.”
“lah, naik apaan cuy?” Siska yang senang jadi bingung. Masa iya jalan kaki?
“Udah lo tenang aja, temen kita kan punya mobil kan?” Riko melirik ke arah Nindi penuh harap.
“Gue?, iya deh iya. Gue bawa mobil. Tapi makanannya gratis kan?” Nindi masih masang muka bete.
“Tenang aja, selain kendaraan, lo semua bakalan tenang.” Riko nyengir.
“Udah sana lo pergi. Gue lagi bete nih.” Nindi bener-bener muak sama ocehannya Riko. Mukanya bener-bener menyeramkan. Seperti mau makan manusia.
“ye gue pergi!” Riko jadi agak cemberut. “Jangan lupa pukul 7, ok!” Riko berteriak sambil berjalan menjauhi meja singa yang kelaparan itu.

Cerpen Karangan: Daehyun
Facebook: Dhiva Era

Cerpen Tepuk Sebelah Tangan Atau Tepuk Tangan? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Senja Bertemu Fajar (Part 1)

Oleh:
“Senja Kanetisha.. kamu besok jadi speaker apel pagi ya? Besok petugasnya kelas kita 11 ipa 3” suara bass Ilo, ketua kelas 11 ipa 3 mengagetkanku yang sedang menyalin PR

Setelah Tujuh Purnama

Oleh:
Di antara tiupan terompet yang saling sahut, di antara aroma jagung bakar yang menggoda, di antara sekumpulan manusia yang tengah suka cita menyambut pergantian tahun, terduduk dengan layu di

Cinta Bersegi

Oleh:
Dari kejauhan terdengar bunyi bel sekolah yang menandakan jam pelajaran akan segera dimulai, para siswa berlari agar tidak terlambat melewati gerbang, begitu juga aku dan rendi, kami berlari sekencang

Kukira Ucapanmu Telah Usai

Oleh:
Lukisan yang membingkai ruangan 10×10 ini menyaksikan kita. Lukisan yang menjadi saksi kebersamaan kita selama tiga tahun itu tak pernah lelah menatap kita dalam keheningan, keheningan yang mungkin sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *