The Bouquet

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 11 October 2017

“Malam Mbak, air panasnya sudah saya buatkan.” Yu Tum menyambutku dengan ramah ketika aku membuka pintu. “Makasih ya, Yu” ujarku tersenyum sambil meletakkan laptop di meja. “Mbak, ada kiriman buat Mbak, sudah saya taruh di kamar” ujar wanita paruh baya itu sambil membantuku membawa berkas-berkas. Aku segera ke kamar, dan kulihat satu bouquet mawar merah dan putih berukuran besar di atas meja kerjaku. Wah, dari siapa bouquet ini? batinku penasaran. Walau agak deg-degan, aku segera menghampiri bouquet tersebut, dan melihat langsung ke arah kartu kecil berwarna putih yang tertempel di bouquet itu. “ASTAGA!” ujarku kaget. Saat melihat nama yang tertera di kartu tersebut, jantungku rasanya seperti mau copot. Ini sama sekali tidak mungkin, mimpi apa aku ini? Bunga ini dari dia?

Aku mematikan laptop yang sudah menyala kurang lebih selama tiga setengah jam. Lelah sekali rasanya hari ini, pikirku. Tapi untung saja laporan yang harus dipresentasikan lusa sudah selesai aku kerjakan. Setidaknya malam ini dan esok aku bisa merebahkan tubuhku dengan nyaman di atas kasur. Seperti biasa, sebelum tidur aku melihat-lihat isi handphone, melirik isi sosial mediaku. Tak ada yang istimewa, batinku. Tapi, beberapa detik sebelum aku memutuskan untuk tidak melihat isi sosial mediaku, aku terhenti karena suatu post yang diupload oleh seseorang di Instagram. Dari namanya, ternyata dia adalah seseorang yang aku kenal semasa kuliah dulu. Kami berteman cukup akrab, setidaknya bagiku cukup akrab, entah bagaimana menurutnya. Saat aku melihat gambar yang dipost olehnya, tak kusangka, ada energi yang aku rasakan mengalir dalam tubuh. Sejenak, rasa lelah dan kantukku tiba-tiba menghilang. Tanpa aku sadari, saat melihat foto dalam Instagram itu, aku jadi senyum-senyum sendiri, dan kutatap foto itu selama beberapa detik. Tumben dia upload foto malam-malam, pikirku dalam hati.

Foto yang dia upload kebetulan fotonya bersama dengan rekan-rekan kerjanya, dilatarbelakangi ruang kerja mereka. Pria ini lagi, pikirku. Melihat foto tersebut membuat memoriku melayang jauh mencari kenangan-kenangan lima tahun yang lalu saat masih duduk di bangku kuliah. Entah mengapa, memori itu selalu saja berhasil membuatku senyum-senyum sendiri selama beberapa menit. Tunggu, tidak semua memori membuatku senang, ada beberapa yang membuatku kesal, tapi kemudian kembali tersenyum lagi. Ah, tak peduli seberapa keras usahaku untuk melupakan dia, tetap saja tak berhasil. Aku menyudahi aktivitasku melihat-lihat isi sosial media dan memutuskan untuk segera menutup mata.

“Mbak, berkasnya saya taruh di sini ya?” Karen, partner kerjaku yang paling ulet dan rajin, meletakkan beberapa berkas sesuai dengan permintaanku kemarin. “Thanks ya, by the way, sudah ada kabar dari pusat belum soal project yang kemarin kita propose?” ujarku sambil membolak-balik isi berkas yang diserahkan Karen. “Sepertinya belum, Mbak. Nanti akan saya tanyakan lagi ke pusat.” ujarnya sembari tersenyum. “Oke, makasih banyak, ya” ujarku membalas senyum Karen. Aku kembali sibuk menatap layar laptop dan melihat keseluruhan isi laporan yang sudah aku buat semalam.

Sembari melihat layar laptop, pikiranku melayang pada bouquet mawar yang tertata rapi di meja kamarku sejak seminggu yang lalu. Haruskah aku menguhubungi dia? Tapi, buat apa juga aku menghubunginya? Aku sudah tidak mau mengingat-ingat dia sama sekali. Tring. Sepertinya bunyi itu berasal dari handphoneku. Message WhatsApp dari siapa ya? Aku mulai kembali deg-degan. Jantungku rasanya mau copot, jangan-jangan pesan ini dari dia. Tapi mana mungkin dia mengirim pesan lebih dulu untukku? Ah, lelah aku memikirkan itu, lebih baik aku segera melihat isi pesannya. Dan, ternyata pesan itu dari Rio. Rekan kerjaku yang akhir-akhir ini sibuk memberi ucapan “Selamat Pagi, Anggi. Sudah di kantor? Semoga lancar hari ini.” dan tak lupa selalu ada emoticon senyuman di akhir pesannya. Aku menghela napas panjang, ternyata dari pria ini. Ge-er sekali aku mengharapkan dia, pria yang mengirimkan bouquet itu, mengirimkan pesan padaku. Dia bukanlah tipe pria seperti itu.

Aku pun membalas pesan dari Rio dengan kalimat seperlunya, dan sekaligus agak menunjukkan bahwa aku sedang tak ingin diganggu, bahkan dengan pesan singkat yang dikirimkannya untukku. Ternyata caraku sangat ampuh. Rio tak lagi membalas pesanku dengan ajakan makan siang bersama atau ajakan-ajakan lainnya yang kadang membuatku amat risih, dia hanya membalas “Baiklah, Anggi. Good luck for today. Fighting!” Bahkan ucapan fighting darinya juga terasa tak penting untukku dan masih membuatku risih, tapi tetap saja kubalas dengan tetap mempertahankan attitude dan sikap menghargai, “Thanks Rio, you too.”

Aku kembali melihat layar laptop yang masih menyala dan mulai mempersiapkan laporan-laporan selanjutnya. Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk membuka email, sudah lama juga aku tak membukanya. Hmm, banyak message yang baru aku terima juga, salah satunya pesan dari Pak Dino, atasanku yang saat ini sedang menghadiri pertemuan di New York. Isi pesannya menunjukkan bahwa beliau sedang sibuk di New York, dan tak dapat kembali ke Jakarta dalam beberapa hari ke depan, sehingga beberapa tugas beliau yang harus diselesaikan di Jakarta harus dilimpahkan padaku. Baiklah, banyak sekali yang harus kuurus kalau begitu, pikirku, sambil membalas pesan dari Pak Dino.

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30, waktunya untuk break. Aku merenggangkan kedua tanganku yang sejak pukul 08.00 tadi sibuk menekan huruf-huruf pada tombol keyboard di laptop. Seperti biasa, aku kembali melihat isi sosial mediaku, sambil mengirim pesan pada Karen untuk menemaniku makan siang di foodcourt kantor. Karen pada akhirnya menerima tawaranku, dan aku segera menuju ke ruangannya. Satu hal yang sampai sekarang masih aku lakukan ketika membuka Instagram atau sosial media lainnya adalah mencari-cari namanya. Ya, nama pria yang mengirimkan bouquet mawar itu.

Sejak bouquet itu aku terima seminggu yang lalu, bayangan tentang pria itu selalu saja menghiasi pikiranku. Kebiasaan mencari namanya di sosial media dan mengintip kesehariannya lewat foto atau updatean statusnya, sudah aku lakukan selama lima tahun terakhir. Aku sudah berusaha untuk menghilangkan kebiasaan itu, tapi tetap saja, sekeras apapun usahaku untuk tidak mengingatnya, justru semakin sulit untuk lepas dari bayang-bayang pria itu.

“Mbak, mau makan apa? Aku lagi pingin makan ayam goreng kampung” ujar Karen sesampainya di foodcourt. “Hmm, kamu duluan saja Karen, aku cari tempat duduk dulu sambil mikir mau makan apa” ujarku sembari tersenyum. Karen pun segera menuju stand makanan yang ingin dipesannya. Aku duduk dan kembali menatap layar handphone. Wah, ada pesan dari siapa ini? Tampak notifikasi WhatsApp tertera jelas pada layar. Setelah ku lihat, “ASTAGA!” ujarku terkejut. Jantungku lagi-lagi berdetak sangat cepat tak karuan. Aku mencoba tetap calm dan mengatur napasku secara perlahan. Tanganku mulai dingin dan aku gemetaran membuka pesan WhatsApp itu.

Hai Anggi, maaf sudah mengganggu, aku hanya ingin memastikan,
bouquet yang aku kirim sudah kamu terima belum?

Pria itu. Pria yang mengirimkan bouquet itu bertanya apakah bouquet-nya sudah aku terima. Aku harus jawab apa ya? Aku tak ingin membalas pesan itu sebenarnya, tapi kalau aku tak membalasnya aku seperti kehilangan rasa sopan santunku. Pria ini sudah mengirimkan bouquet itu untukku, masa aku tak mengucapkan apa-apa? Itu tak adil untuknya. Tapi, kalau aku membalas, harapan itu akan muncul kembali. Oh God, Anggi. Masa hanya urusan begini saja tak bisa kau atasi? Aku menghela napas panjang.

“Mbak, ayo makan” kata-kata Karen barusan menyadarkanku bahwa dua puluh menit sudah berlalu, dan aku belum memesan makanan apapun. “Aku lagi tidak selera makan, Ren.” ujarku lemas. “Loh, memangnya kenapa, Mbak? Mbak harus makan, nanti bisa sakit loh.” Aku hanya mengangguk mendengar kata-kata Karen. Kembali ku tatap layar handphone-ku, dan sekali lagi aku membaca pesan itu dengan tatapan tak percaya. Mengapa akhirnya dia mengirimkan pesan itu? Bukannya aku tak suka, tapi aku tak ingin memunculkan harapan itu lagi. Usiaku sudah menginjak angka dua puluh lima tahun, dan saatnya untuk move on. Tapi mengapa pria ini harus datang lagi? Oh, God.

“Anggi, aku minta tolong besok temani ke ruangan Pak Soleh ya. Kita harus cepat mengumpulkan proposal itu, kalau tidak dana yang kita butuhkan tidak bisa cair.” Pesan dari pria itu mendadak membuatku senyum-senyum sendiri. Wah, besok aku bisa pergi berdua dengannya? Kebetulan sekali besok aku hanya memiliki satu ujian akhir yakni mata kuliah manajemen keuangan. Aku kembali senyum-senyum sendiri membayangkan betapa menyenangkannya bertemu dengan pria ini besok.

Waktu berlalu cepat, dan tibalah hari ini. Hari dimana aku dan pria itu akan menemui dosen pembina dari organisasi kami. “Tunggu sebentar ya, Kak. Aku baru saja selesai ujian.” Kukirim pesan itu padanya, agar dia tahu bahwa aku segera menuju ke lokasi. Kantor Pak Soleh kebetulan hanya beberapa meter dari fakultas-ku. Selain sebagai dosen pembina organisasi kami, aktivitas sehari-hari Pak Soleh tidak lain adalah mengajar. Aku pun bergegas menuju tempat yang diinstruksikan oleh pria yang memintaku menemaninya menemui Pak Soleh. Agak deg-degan sebenarnya ketika bergegas menuju ke ruangan Pak Soleh, karena aku tahu ada pria yang sudah menunggu di sana. Perutku jadi agak sakit membayangkan ada dia di sana. Tanganku lagi-lagi mulai dingin, tapi aku tetap berusaha menenangkan diri.

Beberapa meter sebelum sampai di ruangan Pak Soleh, aku sudah melihat sosok pria itu sedang duduk di luar ruangan Pak Soleh. “Hai, Pak Soleh sedang makan siang, kita tunggu saja di sini ya” ujarnya sembari tersenyum. Aku pun mengiyakan sembari tersenyum pula, dan duduk di sebelahnya. Akhirnya, perasaan deg-degan itu bisa kukontrol dengan baik. Aku bisa duduk di sebelahnya dengan tenang dan tanpa rasa gugup berlebihan, walau tetap saja masih tersisa sedikit. “Bagaimana ujiannya, Kak? Lancar kan? ujarku sembari melihat ke arahnya. “Hmm lancar sih” ujarnya dengan nada ragu. Aku hanya mengangguk mengiyakan tanpa bertanya lebih jauh.

Tiga puluh menit berlangsung, dan obrolan kami sudah bermacam-macam, hingga akhirnya beberapa menit kemudian Pak Soleh datang dan mengajak kami untuk masuk ke ruangannya. Diskusi dengan Pak Soleh berlangsung kira-kira tiga puluh menit, setelah selesai berdiskusi kami pamit undur diri, dan bergerak ke luar ruangan. Aku pun berpamitan dengan pria itu setelah keluar dari ruangan Pak Soleh.
“Aku antar pulang ya? Lagipula aku sudah tidak ada ujian lagi hari ini sampai lusa” ujarnya tersenyum. Walau sempat menolak dengan alasan tempat tinggalku yang tak terlalu jauh dari kampus, pada akhirnya aku mengiyakan tawarannya.

Hari ini aku benar-benar merasa senang, masih saja senyum-senyum sendiri sampai sore hari. Aku tidak menyangka selain mengantarku tadi, dia juga ingin ngobrol banyak denganku di teras rumah. Alasannya, “Aku masih males pulang ke rumah, kita ngobrol saja yuk” Obrolan itu berlangsung sangat menyenangkan, setidaknya menurutku menyenangkan, aku tak tahu bagaimana pendapatnya. Tetapi, obrolan di siang itu ternyata bukan menjadi obrolan terakhir dengannya. Beberapa bulan setelah obrolan di teras itu, ada pertemuan-pertemuan lain dengannya yang sama sekali tak kusangka akan terjadi, seperti misalnya dia mengajakku untuk menghadiri salah satu pernikahan dari senior kami, atau dia tiba-tiba ingin mengirimkan makanan untukku walaupun pada akhirnya tidak jadi mengirimkannya, entah kenapa. Kemudian, pertemuan kami secara tak terduga di salah satu acara musik, dan sebagainya. Semua kegiatan yang berhubungan dengannya terasa amat menyenangkan, kecuali kalau aku sudah mendengar curahan hati dari beberapa temanku terkait pria ini. Ya, pria ini memang sedikit populer, dan tak hanya satu gadis yang menyukainya, tapi ada dua hingga tiga orang, dan yang lebih parah lagi, dua dari tiga orang temanku yang menyukai pria ini, mencurahkan segala isi hatinya tentang pria itu kepadaku. Walau aku kaget, aku tetap saja tak bertingkah berlebihan ketika mendengar cerita dari teman-temanku itu. Aku berusaha agar semuanya terlihat normal dan biasa saja.

Waktu berlalu begitu cepat, dan dia telah menyelesaikan studi S1-nya. Aku turut senang melihatnya berhasil memperoleh gelar sarjana, walau aku juga sedih mengingat bahwa kami mungkin akan semakin jarang bertemu. Dan benar saja, beberapa bulan setelah kelulusannya, aku mendengar kabar bahwa pria ini mendapat pekerjaan yang mengharuskan dia pergi ke luar kota. Awalnya aku sama sekali tak percaya dengan kabar itu, hingga akhirnya aku melihat dari gambar yang dia post di Instagram. Gambar itu memiliki latar belakang keindahan pantai dimana pantai tersebut sama sekali bukan dari kota ini. Ya, benar saja ternyata dia sudah pergi ke luar kota. Aku sempat terkejut, dan entah mengapa perasaan sedih dan kesal menggerogoti seluruh tubuhku. Kenapa dia sama sekali tak memberi kabar soal kepergiannya? Kenapa begitu mendadak? Kenapa dia bisa pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa? Aku terduduk dan merenung, oh, Anggi, memangnya siapa dirimu sebegitu pentingnya untuk dia? Memangnya kalian memiliki hubungan spesial selama ini? Hey, ingatlah, apakah selama ini kamu dipandang spesial olehnya? Pikiran-pikiran itu ternyata berhasil menetralkan perasaan kesal dan sedihku.

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur kesayanganku. Sesekali aku melirik ke arah bouquet mawar itu yang tertata rapi dalam sebuah vas cantik. Satu minggu lamanya bouquet itu terletak rapi di atas meja kerjaku dan aku masih belum mengatakan apa-apa pada pria itu, bahkan membalas pesan yang dia kirimkan tadi siang pun tidak.

Aku melirik layar handphone-ku, pukul 22.00. Apakah sopan bila aku mengirim pesan padanya sekarang? Kalau di sini sudah pukul 22.00, maka di kotanya sudah pukul 23.00. Aku takut mengganggunya, apalagi ini masih weekday. Aku mengurungkan niatku untuk membalas pesannya, tapi semakin aku mengurungkan niat, aku semakin ingin membalas pesannya malam itu juga dan menyelesaikan urusan bouquet itu. Baiklah, akan kubalas pesannya tadi siang, kalaupun dia sudah tidur, mungkin dia akan membaca pesan itu besok pagi, pikirku.

Segera kubuka whatsApp dan mulai mengetik “Hai Kak, maaf ya aku baru sempat membalas pesanmu tadi siang. Bouquetnya sudah aku terima. Maaf juga aku baru sempat memberi tahunya padamu. Terimakasih untuk bouquetnya. By the way, dalam rangka apa ya bouquet ini dikirimkan?” Aku mengirim pesan tersebut dan kembali menatap layar handphone. Lima belas menit kutatap layar handphone dan masih tak ada balasan darinya. Dua puluh lima menit berlalu, juga masih tak ada balasan darinya. Yah, mungkin dia memang sudah tidur. Baiklah, tak perlu kutunggu rasanya malam ini. Paling-paling besok siang baru akan dibalas pesanku itu, pikirku. Tring. Baru saja aku berpikir dia tak akan membalas pesanku, ternyata notifikasi whatsApp dengan jelas menunjukkan nama pria itu. Aku gugup membuka pesan balasan darinya,

Hai, syukurlah kalau sudah diterima bouquet-nya.
Aku hanya ingin mengirimkannya saja,
supaya tidak terus-terusan kepikiran.

Kepikiran? Apa maksudnya dengan ‘kepikiran’? Aku merasa dia sama sekali tak punya utang denganku, dan aku juga tak punya utang dengannya, jadi mengapa harus kepikiran?

Maksudnya kepikiran gimana ya, Kak?

Ujarku dalam pesan itu sambil terus bertanya-tanya apa maksud yang orang ini ingin sampaikan padaku. Beberapa menit kemudian, notifikasi whatsApp itu muncul lagi dan menunjukkan namanya dengan jelas. Kulihat isi pesan darinya,

Iya, sudah lima tahun ini aku selalu saja kepikiran kamu,
oh iya, kebetulan minggu depan aku akan ke Jakarta, ada urusan yang harus diselesaikan. Boleh kita bertemu?

What? Tanganku kembali dingin, jantungku berdetak cepat tak karuan, dan perutku terasa sakit saat membaca pesan itu. Pria ini lagi, pikirku. Rasanya malam ini aku tak akan bisa tidur nyenyak, batinku sembari tersenyum.

Cerpen Karangan: Angela Alaras Priwidiantari
Facebook: Angela Alaras

Cerpen The Bouquet merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pura-Pura Punya Istri

Oleh:
Matahari yang kini tak mau lagi menyinari bumi, akan berpindah ke sebelah barat menandakan bedug magrib akan segera datang. ‘Aku tertipu, aku terjebak, aku terperangkap muslihatmu…’ suara nada dering

Romantic Knowledge (Part 1)

Oleh:
Apa kalian pernah mendengar istilah yang mengatakan Don’t Judge a book by its Cover? Aku yakin kalian pernah mendengarnya, karena istilah itu sudah terlalu mainstream. Siapa pun pasti sudah

Lagi (Masih Tentangmu)

Oleh:
Lagi… Nyatanya aku masih di sini, masih merasakan sakit itu, walau waktu telah jauh meninggalkan tapi aku masih saja terpaku pada waktu yang telah lalu, aku pikir perputaran jam

Akhir Penantianku

Oleh:
“Aaaaa!! akhirnyaa!! Hari yang ku tunggu tiba juga!” Teriak Nasha dari balik selimutnya. hari itu, tanggal 2 Desember 2013 menjadi sejarah bagi hidup Nasha. Hari ulang tahunnya yang ke

Because of Love (Part 3)

Oleh:
Ternyata apa yang eby perkirakan ada betulnya. Pesta pertunangan itu sangat mewah. Banyak sekali para tamu undangan. Ebby juga melihat papa dan mamanya disitu. Waduuh kapan mereka datang ya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *