The Rain of Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 18 April 2015

Rintik air mulai berjatuhan dari singgasana sucinya,
Setiap butirnya kasar menusuk sanubariku yang terlalu halus merana,
Rasa sejuk selalu mengundang naluriku untuk merasakan kerinduan yang dalam,
Kerinduanku akan dirinya,
Dan rinai yang kembali menyudutkanku pada sebuah ingatan,
Ingatan yang mampu membingkai senyumku dalam balutan dinginnya hujan.

Aku tersenyum, menatap langit yang masih menurunkan jutaan air ke bumi. Aroma hujan, suasana mendung, gemericik air, dan dingin. Aku suka itu. Aku sering menikmati hujan di bawah pohon besar di taman kampus. Meski banyak tempat-tempat yang lebih menarik, tapi aku paling suka duduk sendiri disini sembari menunggu hujan reda. Mungkin karena pohon besar ini memiliki tubuh yang gagah serta ranting dan daun yang rindang, sehingga aku merasa aman berlindung disini dari derasnya kejaran hujan. Tapi mungkin juga itu hanya salah satu faktor pendukung saja, karena alasan sebenarnya adalah seseorang yang membuatku menyukai hujan, kak Rafa.
Yah aku menyukai kak Rafa, bahkan sudah sangat lama perasaan ini kusimpan baik-baik di dasar hatiku. Dia adalah seniorku di kampus, tapi kami beda jurusan. Dia mahasiswa Hukum, semester 7. Sementara aku mahasiswi Pendidikan matematika, dan baru semester 3. Jelas bukan bahwa itu artinya kami sangat jarang bertemu apalagi ngobrol berdua. Ditambah lagi dia kuliah siang sementara aku kuliah pagi. Kapan ketemunya coba?
Tapi untungnya kami berhimpun di satu organisasi yang sama. Himpunan mahasiswa Islam (HmI). yah disana lah kami bisa bertemu. Itu lah keuntungan yang ku dapat, aku sangat senang ketika tau kalau kak Rafa juga tergabung di organisasi itu. Aku harap ini takdir baikku.

“Jelek”
Begitulah dia menyapaku. Entah basa-basi atau memang aku benar-benar jelek di matanya?
Tapi aku tak perduli, yang pasti dari sanalah aku mulai mengenalnya sampai jatuh hati padanya. Setiap kesempatan yang ada selalu aku pergunakan dengan baik, untuk memperhatikan kak Rafa. Tak ada satu moment pun yang terlewat dari pengawasanku. Saat dia bernyanyi, saat dia bermain gitar, saat dia tertawa riang, saat dia bad mood, saat dia berorasi, saat dia memberi sambutan, dan apapun yang dia lakukan bahkan saat dia baru bangun tidur. Semua itu selalu aku ingat, dan menjadi bahan pengembang senyumku ketika hujan mulai turun.

Hari ini aku menghadiri rapat harian di sekretariat Himpunan mahasiswa Islam, guna membahas kegiatan yang akan kami buat untuk perayaan milad HmI. Disini kami berencana untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang positif dan tidak sekedar hura-hura. Karena dengan terbentuknya usia 67 tahun, tentu bukan waktunya untuk sekedar hura-hura. Tapi lebih untuk kemanfaatan HmI bagi masyarakat dan Negara.

Ada beberapa jenis kegiatan yang sudah kami sepakati bersama seperti, kegiatan donor darah, mimbar bebas, penggalangan dana, dan beberapa perlombaan atau olimpiade yang ingin kami sajikan sebagai rasa peduli kami terhadap generasi bangsa.

17:20
Rapat selesai. Semua peserta rapat sudah bubar dari barisannya, termasuk Ern. Yang katanya sahabat sejati, tapi giliran pulang, gak inget-inget lagi.
Jadilah tinggal aku dan kak Rafa, yang terjebak hujan.
“Yah ujan, gak bisa pulang deh” ujarku sembari menadahkan tangan di bawah air hujan.
“Mau pulang?” tanya kak Rafa yang ada di sebelahku. Sebenarnya aku gak mau pulang, aku betah kok berdua dengan kak Rafa disini haha.
“Iya” jawabku ragu.
“Ya udah, ayuk saya anter” katanya yang berhasil membuat mata bulatku jadi tambah belo’. “mau gak?” katanya lagi. Aku cepat-cepat mengangguk. Jangan sampai kesempatan emas terabaikan begitu saja. Ya mau lah kak, mau banget. Kataku dalam hati.

Meski keadaan hujan dan memaksa kami untuk basah-basahan tapi itu tidak membuat kami berteduh. Kak Rafa tetap melajukan motor putihnya itu. Bahkan dia menantangku untuk hujan-hujannan.
“Oke, siapa takut” jawabku yakin. Dan kak Rafa mengambil jalan yang lebih lama sampainya ke rumahku. Aku gak peduli hujan, yang penting buatku bisa lebih lama bersama kak Rafa.

Dan hari itu berhasil jadi hari paling berkesan selama satu tahun aku mengenalnya. Bukan hanya mengenalnya tapi menyukainya. Iya, aku menyukainya dari awal kami bertemu. Aku tak tau apa alasan ku menyukai pria itu, yang aku tau tidak ada alasan untuk aku tidak menyukainya.

Cinta. Akhirnya aku merasakan hal itu lagi, setelah tiga tahun lamanya ku kunci hatiku rapat-rapat dari lima huruf tersebut. Dan hujan di hari ini, telah menggemburkan keberanianku untuk mengungkapkan apa yang kurasa selama ini. Aku sudah tidak tahan menjadi pahlawan yang selalu berkorban demi kebahagiaan orang lain, sementara aku tidak pernah mendapatkan itu. Aku ingin kak Rafa tau perasaanku. Ya.. harus!

Dan di pertemuan selanjutnya, aku putuskan untuk mengungkapkan perasaanku. Dengan tekad setengah mateng, aku berusaha menemuinya. Ku genggam erat tanganku yang sudah basah karena keringat, ku coba untuk tetap terlihat biasa meskipun kenyataannya ini sungguh luar biasa. Huhh…
Tapiii saat aku bertemu dengannya, jantungku rasanya melemah, tubuhku rasanya kehilangan tenaga, rasa sesak pun memenuhi paru-paruku, aku tak tau harus apa? Akhirnya aku hanya mematung menyaksikan kak Rafa bersenda gurau dengan wanita itu.
“Masha..” ucap kak Rafa yang mulai menyadari kehadiranku. Sementara aku tak memberinya respon. Aku masih berkecamuk dengan fikiran ku sendiri. Siapa wanita ini? Ah sudah pasti ini pacarnya. Kenapa harus ku pertanyakan lagi.
“emm iya, maaf kak ganggu, maaf” jawabku seadanya, dan langsung ku alihkan langkahku menjauhi dua orang itu. Ya Allah, ada apa dengan ku?
Rasa sesak semakin menguasai hatiku, aku tak rela ada wanita lain yang mencuri kak Rafa dariku. Aku cemburu. Aku ingin hanya aku yang ada di hatinya, hanya aku seorang.

“Sha.. itu kan kak Rafa, ngapain dia pagi-pagi gini ke kampus?” ujar Ern yang membuatku mengalihkan pandangan ke arah gerbang kampus. “aaaa mungkin dia mau jelasin masalah kemaren sama kamu Sha” ujar Ern lagi. Aku hanya diam sembari mengamati kak Rafa yang berjalan semakin dekat kearahku. apa iya tujuannya ke kampus hanya ingin menemuiku?
“Tumben kak jam segini di kampus?” Ern membuka pembicaraan saat kak Rafa sudah menghampiri kami di taman kampus.
“Ada urusan sedikit sama si jelek” jawabnya disertai tawa, berhasil membuatku melongo macam sapi ompong. “Bisa kita ngobrol sebentar?”
Lagi-lagi kak Rafa mempermainkan perasaanku. Aku tidak suka dia bersikap baik padaku, karena itu hanya akan menambah rasa GR-ku saja.
“Mau ngomong apa?” ucapku akhirnya, setelah Ern pergi meninggalkan kami berdua di taman hijau itu. Dia lalu duduk di sebelahku, memperhatikanku sejenak, dan memulai ceritanya.
“Kamu marah ya sama saya?” tanyanya sehalus mungkin. Aku bisa merasakan ketakutannya akan melukai perasaanku. Aku pun berusaha untuk tetap seperti biasa. Aku gak mau dia ngerasa bersalah atau apapun itu.
“Kok tau? Kakak mantan paranormal ya?” candaku.
“Yang saya rasa, kamu beda dari biasanya. Kamu marah kenapa?”
“Kakak urusin aja cewek kakak, gak usah peduliin saya” jawabku sekuat mungkin, padahal hatiku udah gak karuan rasanya.
“Kamu cemburu ya?”
“Sedikit” jawabku ringkas, dan buru-buru beranjak dari tempat itu. aku tidak kuat harus lama-lama bersamanya, padahal dulu hal ini lah yang paling aku harapkan. Bercanda berdua di bawah pohon itu dan menjadi perhatian setiap orang yang lewat. Aku ingin mengalami masa indah itu lagi. Hiksss…

Hari itu berlalu sangat lama, aku akui sekarang patah hati memang membuat semua organ tubuh jadi malas beraktifitas. Kerjaanku hanya tidur di sepanjang mata kuliah. Karena tidak tahan melihatku tidur, Ern akhirnya menyeretku datang ke sekretariat HmI untuk mengikuti rapat lanjutan. Ah padahal aku sudah menolak, tapi tetap saja aku kalah. Dan sudah pasti aku bertemu lagi dengan kak Rafa disana. Sekarang apa yang harus aku lakukan?

Dia menatapku lagi, dengan tatapan yang biasa dia berikan padaku. Tatapan yang selalu membuatku merasa bahagia, seolah cintaku berdayung sambut. Tapi apa gunanya kalau itu sekedar harapan palsu. Aku tak lagi membalas tatapan itu, padahal biasanya aku selalu menunggu moment itu tiba. Aku melengos dan kuputuskan untuk bermain dengan kucing, hewan yang selalu membuatku gemes. Aku tak menyangka, kak Rafa justru mengikutiku.

“Kita jujur-jujuran yuk” ucapnya tiba-tiba. Aku mengerti ia tak ingin aku bersikap dingin seperti ini padanya. dan sebenarnya ini juga sulit untukku. Mungkin lebih baik kujelaskan semuanya, biarlah, aku tak perduli apapun yang terjadi nanti.
“Saya suka dia dari awal basic training, saya gak perduli sama cowok-cowok lain yang ngejar-ngejar saya. Saya cuma suka dia aja”
“Saya juga…”
“Maksud kakak?”
“Saya udah nyari nomor handphone dia dan kasih perhatian ke dia waktu basic. Tapi banyak yang suka sama dia”
“Siapa?”
“Orang-orang terdeket saya. Saya gak enak sama mereka, saya cuma berniat ngejaga perasaan mereka dan hubungan pertemanan kami”
Aku terdiam mendengar kalimat itu. Meski logikaku tidak sepenuhnya menerima kehadiran alasan itu, tapi tidak bisa dipungkiri. Aku bahagia saat tau kalau cintaku selama satu tahun ini tidak bertepuk sebelah tangan. Okelah tidak terlalu masalah buatku, aku juga pernah mengalami situasi itu. Aku harus mengorbankan perasaanku demi sahabatku. Lalu.. siapa wanita kemarin?
“Terus yang sama kakak kemarin, siapa?”
“Itulah salah saya, saya terlalu cepet ngambil keputusan. Semenjak kamu pacaran sama Alif, saya berusaha mencari kebahagiaan lain dari orang yang sayang sama saya”
“Iya, itu juga salah saya. Saya fikir kakak gak tertarik sama saya, jadi saya terima cinta Alif”
“Jadi… sekarang gimana?”
“Walaupun saya suka, tapi saya gak mau nyakitin perasaan orang lain. Kakak jalanin aja apa yang udah kakak pilih, jangan sakitin dia. Saya cuma mau tau perasaan kakak yang sebenernya ke saya. Itu aja, saya udah bahagia kok”
“Saya sayang sama kamu. Saya yakin suatu saat kita pasti bisa bersatu. Harapan itu selalu ada, kamu harus percaya itu ya. Jangan jauh-jauh dari hidup saya”

Hari itu semuanya jelas, dan perasaanku pun jadi lebih lega sekarang. Ternyata mengungkapkan apa yang kita rasa itu bukanlah hal yang memalukan. Itu hanya bagian dari proses uji mental dan pendewasaan diri. Sejauh mana kita sanggup ikhlas menerima takdir yang tak selamanya sejalan dengan harapan. Kini hari-hariku berjalan dengan indah, semuanya kembali normal. Hubungan ku dengan kak Rafa menjadi lebih dekat. Banyak waktu yang kami lewati bersama di sekretariat HmI tentunya. Aku selalu hadir di setiap agenda, yah tujuan utamaku adalah melampiaskan rinduku pada laki-laki tampan itu. Meski tak banyak yang bisa kami lakukan. Hanya sekedar curi pandang, saling lempar senyum di setiap kesempatan, dan bicara seadanya. Kecuali kalau disaat kami hanya berduaan, tapi itu jarang sekali terjadi. Mereka selalu saja menghampiri kami, gak ngerti banget sih. Tapi aku suka, jadi semacam tantangan buatku

“Saya sayang kamu”
Ucapan itu tak pernah ku lupa dari momory-ku. Bahkan itu sudah menjadi alarm yang menyala setiap menit di otakku. Sejujurnya aku sedih mendengar kalimat itu, aku merasa sudah menjadi wanita yang jahat. Bagaimana bisa aku bahagia di atas penderitaan orang lain?

Aku sudah pernah mendiskusikan hal ini dengan kakak angkatku, dan aku lolos mendapat gelar STUPID. Menurutnya aku bodoh, sudah membuang waktu ku untuk hal yang tidak pasti. Menunggu laki-laki yang aku cintai berpisah dari kekasihnya. Entahlah aku bingung, aku juga tidak mau seperti ini. Aku tidak ingin dia menyakiti kekasihnya, di sisi lain aku juga takut kehilangan dia. Kakakku juga bilang, dia bukan laki-laki yang baik. Kalau dia laki-laki yang baik, tentu dia tidak akan menghiraukan wanita lain sementara dia sudah memiliki kekasih.
“Apa kamu gak takut kalau suatu saat dia begitu ke kamu?” katanya. Sementara aku hanya membisu. Aku terjebak cinta kak Rafa. Aku tak sanggup berfikir sejauh itu, mungkin fikiran itu sempat ada namun aku abaikan begitu saja. ahhh aku benar-benar bingung, kak Rafa sepertinya sudah berhasil menghipnotisku. Entah kenapa, aku percaya ini adalah takdir kami.

Malam ini adalah malam Milad HmI. Agenda malam ini adalah pemotongan kue yang dihadiri seluruh anggota dan alumni HmI serta beberapa tokoh masyarakat seperti Bupati, dan lain-lain yang juga ikut memeriahkan acara.

Acara pun berjalan dengan khidmat. Ditutup dengan penembakan kembang api. Semua orang berkerumun di halaman gedung, kecuali aku. aku hanya menyaksikan langit yang nampak mendung itu dari balik kaca gedung. Aku berharap hujan tiba, mengguyur hatiku yang gundah gulana ini.

“Kesepian ya?” tanya seseorang yang sudah ku hafal suaranya. Kak Rafa.
“Iya.. gak ada kakak sih”
“Beneran mau ditemenin?”
“Mau”

Dorrrr dorrrr
Aku dan kak Rafa kaget saat mendengar kembang api yang mulai dinyalakan. Langit pun jadi nampak berwarna-warni, meski tanpa hadirnya bintang. Kami sama-sama terfokus ke arah langit, setelah beberapa menit puas dengan pemandangan unik itu, kak Rafa mengalihkan pandangannya ke arahku, begitupun denganku. Selalu ada kedamaian dan kebahagiaan yang terpancar dari matanya, membuatku merasakan sensasi yang menambah rasa cintaku. Seulas senyum terukir di wajahnya, rasa cintaku kini semakin tak mampu ku tampung.
“I love you” ucapnya tiba-tiba. Aku tercengang, perasaan senang dan tidak percaya campur aduk dalam hatiku. Nyatakah ini?
“Kakak gak becanda kan?” tanyaku hati-hati. Siapa tau dia cuma iseng.
“Gak kok, beneran” jawabnya meyakinkan. Ya Allah mimpi apa aku semalam? Karena senang yang luar biasa, buru-buru ku jawab pernyataan itu.
“I love you too”
Dan beribu senyum kembali terukir di wajah kami. Ini sungguh malam yang luar biasa, sungguh di luar dugaanku. Aku tak tau kebahagiaan apa lagi yang mampu menyatarakan kebahagiaanku malam ini. Orang yang selama ini aku cintai dan ku harapkan kehadirannya, yang menghiasi mimpiku, yang membuatku rindu, ternyata dia membalas cintaku. Cinta pertamaku. Terimaksih ya Allah, setidaknya Engkau telah memberiku kesempatan untuk mencintai dan dicintai. Meski belum Engkau ridhoi aku bersamanya, tapi aku percaya takdir akan membawa kami bersatu.

“Yah ujan”

Semua orang berhamburan masuk ke dalam gedung. Ternyata hujan pun ingin menyaksikan kebahagiaanku malam ini. Aku dan kak Rafa sama-sama tersenyum, mungkin kami memikirkan hal yang sama. Ujan-ujanan.
“Saya suka ujan” ujarku.
“Kamu mah ngingetin kita ujan-ujanan aja”
“haha iya, kan cuma itu kenangan kita”
“Iya, untuk sementara cuma itu”
Untuk sementara? Berarti akan ada kenangan berikutnya. Haha. Aku tak perduli orang mau berfikir apa tentang diriku. Dianggap bodoh sekalipun, aku tak perduli. Aku hanya ingin merasakan bahagia karena cinta, yang tak pernah aku dapatkan selama ini. Karena aku tak pernah punya cinta. Hanya kak Rafa yang membuatku merasakan apa itu cinta. Aku tak ingin dia memilihku, aku hanya ingin dia bahagia dengan pilihannya.

Ku sadari ku salah melakukan ini, mencintai dirimu seegois ini,
kau tak sendiri lagi aku tak perduli, hatiku telah terlanjur jatuh padamu,
mungkin aku berdosa masuki hidupmu, biar jadi harapan di dalam hatiku,
Karena ku yakin ini jalan kita, takdir pertemukan kita untuk bisa bersama,
Karena ini soal perasaan, tak seorang pun mengerti hanya aku dan kamu dan tuhan yang tau…

THE END

Cerpen Karangan: Eka Susilawati
Facebook: Ecka Mareescka D’anjell

Cerpen The Rain of Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Other Side of A Fault

Oleh:
Wajah polos itu menatap padang rumput yang terbentang luas di hadapannya. Pikirannya melayang jauh dari tempat raga itu berpijak. Matanya terpejam secara perlahan seiring hembusan angin. Terdengar suara alam

Setelah Kepergianmu

Oleh:
Matahari masih bersinar dengan cerah hari ini…, awan putih pun masih menghiasi langit biru.., hari ini masih sama seperti hari kemarin. Tak ada yang berbeda tapi kenapa aku merasakan

Pemerhatimu

Oleh:
Berawal dari kesalahanku menempatkan pandang, Sekilas itu kau lewat dan mata sama sekali tak berpaling, Sejauh itu ku anggap kau kesalahan terindah, Tapi lama ku selidiki seluk kehidupanmu, Aku

Always Waiting You

Oleh:
Hari ini hujan lagi-lagi mengguyur kotaku. Orang-orang berlalu lalang menatap aneh padaku. Aku, di sini masih setia menunggunya di taman ini. Di sini kali pertama kami bertemu dan di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *