The Secret Admirer

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 31 March 2019

Pada suatu acara pembukaan, tak sengaja aku melihat seorang laki-laki. Dia berdiri di tengah lapangan, memimpin suatu upacara pembukaan. Karismanya begitu kuat hingga mataku terus tertuju ke arahnya. Bahkan aku sampai tidak menyadari apa saja yang terjadi di sekitarku.

Sejak hari itu, aku dan dirinya mulai sering bertemu. Setiap kali berpapasan dan aku selalu meliriknya sekilas. Hingga suatu ketika, ia tampil di depan banyak orang. Lagi-lagi, mataku tak bisa mengalihkan pandangannya dari orang itu.
Apa yang terjadi? Aku tidak tahu. Rasa penasaran telah terbit di pikiranku. Namanya menggetarkan hatiku ketika ada orang yang menyebutnya. Getaran hati yang perlahan mengakar dalam jiwa. Apa yang terjadi? Aku tak tahu. Aku belum mengerti apa yang sedang aku alami sekarang. Aku hanya tahu bahwa beberapa perhatianku kini terarah padanya.

Aku terus berpikir, menerka-nerka sebenarnya apa yang salah dari diriku? Hei tidak ada yang salah. Kau hanya menyukainya, seru nuraniku. Tapi aku masih belum percaya dan mengabaikan perasaan itu.

Hingga suatu ketika, saat aku tanpa sengaja melihatnya bercengkrama dengan riang bersama seorang gadis. Aku merasa aneh. Hatiku sesak, aku merasa seperti ada sesuatu yang membakar disana saat melihat mereka. Sungguh menjengkelkan. Perasaan itu begitu kuat hingga tak mungkin lagi diabaikan.

Aku menyadari bahwa aku menyukainya…
Lagi-lagi, aku menyukai seseorang dalam diam. Aku menjadi seorang pengagum rahasia lagi. Aku akan merasakan rasa sakitnya lagi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam, membisu, menahan perasaan yang sangat membuncah itu. Perasaan yang tak bisa aku abaikan. Karena itu terus bertumbuh hari demi hari.

Walau tidak menyiksa tapi aku akan menderita. Ketika mendengar kenyataan pahit tentang dirinya. Hatiku berteriak berprotes, tapi aku tak dapat melakukan apa-apa. Hanya diam dan begitu seterusnya.

Jarak yang ada antara diriku dengannya terbentang terlalu jauh. Sangat jauh hingga menyentuhnya saja pun mustahil bagiku.

Aku hanya dapat mengamatinya dari kejauhan itu. Aku hanya dapat mengaguminya dari kejauhan itu. Aku hanya dapat melihat senyumnya dari kejauhan itu. Senyum itu akan membuatku bahagia walau dengan kenyataan menyakitkan yang menyertainya, senyum itu bukan untukku.
Luka pun akan terus tergores di hati ini silih berganti. Luka yang timbul karena kenyataan pahit tentang dirinya yang kudengar. Kenyataan yang membuatku cemburu, merasa marah, merasa perasaanku tidak dihargai. Tapi, hei siapa diriku? Aku hanya seorang pengagum rahasia.

Tidak bisakah aku menunnjukkan perasaan ini? Tidak, aku terlalu penakut. Aku terlalu takut pada apa yang akan dia katakan padaku. Aku terlalu takut pada kemungkinan terburuk. Aku terlalu takut jika dia berjarak semakin jauh lagi. Aku terlalu takut karena aku hanya seorang pengagum rahasia. Pengagum rahasia yang tak berarti.

Tapi bolehkah aku berharap? Tentu saja, setiap manusia boleh berharap. Berharaplah. Jangan sampai diri ini kehilangan harapan itu. Jangan sampai aku melepaskannya, sekalipun itu hanya harapan semu. Harapan semu seorang pengagum rahasia.

Ketika seorang temanku berkata bahwa ia menyukai orang yang sama sepertiku. Aku bingung apa yang harus aku perbuat? Marah? Memusuhi temanku itu? Atau menjauhi dirinya? Sekali lagi, aku hanya bisa diam dan menyimpan semuanya sendiri.

Ketika dia bicara di depan semua orang, aku memandanginya dengan jantung berdetak melebihi ritme. Aku merasa gelisah, bingung, senang, tidak tahu harus melakukan apa, dengan pipi yang bersemu merah. Semua itu aku rasakan secara bersamaan setiap kali melihatnya. Selalu begitu. Tapi, aku menyukainya, aku menikmatinya. Aku merasa nyaman dengan setiap rasa yang timbul karena orang itu.
Saat dimana perasaanku bergejolak seperti inilah aku sangat ingin menunjukkannya pada orang itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Diam. Karena aku hanyalah seorang pengagum rahasia.

Aku merasa iri pada semua orang yang dapat mendekati dan bercengkrama bersamanya dengan mudah. Aku ingin seperti mereka. Jika tidak bisa menjadi seseorang yang spesial baginya setidaknya biarkan aku menjadi temannya.

Kau tahu, aku mengetahui dirinya. Sangat. Kepribadiannya, caranya bicara, caranya bersosialisasi dengan semua orang, caranya berpakaian, caranya berjalan, hobi, dan sebagainya bahkan sampai hal yang paling sederhana. Aku ingin dianggap ada olehnya, tapi akulah yang terlalu takut untuk menunjukkan diri
Setiap aku mulai mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkannya. Hatiku selalu bertanya-tanya. Apakah ia mengenalku? Jika tidak, bagaimana bisa aku mengungkapkan rasa ini? Apa yang akan ia katakan dan lakukan padaku jika mengetahui kebenarannya? Menjauh? Oh tidak, jangan! Jarak yang tercipta ini sudah terlalu jauh. Bagaimana jika ia merasa terganggu? Bagaimana jika ia sudah memiliki kekasih, dan kekasihnya akan marah jika aku mendekatinya. Bagaimana? Bagaimana? Hei terlalu banyak pertanyaan yang timbul.

Dan akhirnya aku kembali menyerah. Keberanianku seketika ciut hanya karena aku diserang oleh pertaanyaan-pertanyaan itu. Apa yang bisa aku lakukan? Diam, aku tidak dapat melakukan apa-apa. Aku terlalu takut untuk keluar dari zona nyamanmu. Mungkin aku sudah bahagia walau hanya dapat mengamatinya dari kejauhan ini. Tapi tidak! Hati kecilku sebernarnya memberontak, ia ingin lebih dekat dari ini. Aku ingin lebih dekat dengannya.

Hide my feeling…
Loving in the silent.

Cerpen Karangan: Andyrains

Cerpen The Secret Admirer merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Regina

Oleh:
Mata cokelat, kulit cerah, pipi merona, dengan rambut hitam lurus dipangkas sebahu. Kalimat yang meluncur dari mulutmu kala itu, takkan mungkin bisa kulupakan. Katamu aku cantik, kemudian kau tersenyum

Samudra di Tanah Batak

Oleh:
Seorang gadis berbadan tinggi sedikit berisi yang sedang berdiri di perempatan simpang, di depan universitas simalungun dengan seragam putih abu-abu nya dengan rambut di gerai. Sebut saja dia Adina

Wednesday Boy

Oleh:
Prittt!!! Prittt!!!! Suara peluit yang khas milik guru olahraga membuatku langsung menutup telinga, aku menggerutu kesal melihat pak Hari menyuruh kami untuk ganti baju lebih cepat. Oh ya, namaku

Please Stoped

Oleh:
Gua ngga ngerti apa yang harus gua lakuin. Gua ngerasa ga adil sama apa yang gua rasain sama lo. Gua tau kita udah masing masing sekarang, tapi apa lo

Cinta Dalam Melodi

Oleh:
Di sini tempat ku berdiri.. Agar aku dapat melihat senyum manis dari bibirmu, dan di sini tempat ku bersembunyi, agar kau tak pernah menyadari tentang hadirku di sini. Karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *