Titip Rindu Dari Berlin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 7 August 2019

Malam ini langit berlin terlihat begitu cerah. Bintang-bintang nampak tersenyum seraya terus memancarkan sinar mereka yang terang secara serempak seperti pertunjukkan sirkus yang begitu menakjubkan. Bintang-bintang itu terus menghiasi langit, membuat banyak orang terkagum-kagum memandang langit malam kota yang terhampar penuh cahaya. Seperti biasa zahra selalu suka dengan pemandangan indah seperti ini.

“Mungkin jika haikal ada di sini akan lebih indah semuanya” batinnya bergumam sambil tersenyum.

Akhirnya lamunan itu muncul lagi, seperti biasanya membawa rasa sendu.
Sebuah rasa yang lama terkubur, menyesakkan dan menyakitkan. Itulah rindu. Rasa yang muncul begitu saja tanpa sebab, namun memberikan luka yang teramat menyayat.

“Kriiing… Kriing…” tanganku mencoba meraba handphoneku
“hallo…” angkatku dengan setengah sadar. “Ini siapa?” tanyaku lagi.
“Ini aku rahmi, zahra” sahut suara gadis yang sudah tak asing lagi bagiku,
“Aduh sorry mi, gimana kabarmu di sana?” Tanyaku ke pada sahabat yang sudah kuanggap saudaraku sendiri.
“Baik ra, kamu sendiri gimana”
“Aku mah seperti biasa” sahutku
“Seperti biasa gimana, masih seperti biasa selalu memikirkan haikal” seloroh rahmi, yang seperti menghujam ke dalam benak hati ini.

“maaf… Udah buat kamu sedih ya zahra”
“Yah”
“Aku tau pasti ini berat buat kamu sama haikal, saling mencintai, tetapi tidak bisa menyatu.” jelas rahmi yang hampir membuatku menangis.
“aku gak papa kok, kan ini keputusanku, agar kamu tak memberitahu tentang aku kepada haikal, aku cuman mau membuat haikal tak terbeban dengan kepergianku mi” jawabku miris…
“Tapi gak segitunya juga ra, kamu harus tau semenjak kamu pergi ke berlin dia selalu mencari kabarmu,” rahmi mencoba memberi penjelasan kepada zahra,

“Ohiyaya ra aku mau bilang kalau haikal udah diwisuda” lanjut rahmi
“Wah alhamdulillah kalau gitu” senyum zahra pun mengembang diiringi air mata keharuan.
“Iya ra, udah dulu ya zahra cantik” suara rahmi mengakiri komunikasi ku dengannya.

Kata-kata terakhir dari rahmi bahwa haikal telah diwisuda itu sukses membuat air mataku mengucur. Aku senang karena haikal tak larut dalam kesedihan semenjak aku ke berlin. Namun masih ada yang mengganjal di hatiku saat ini. Apa ada sosok penyemangat lain yang mampu mencuri posisiku dalam kehidupan haikal.

Iya…
walaupun kita terpisahkan oleh jarak tapi masih ada rindu tentangmu haikal di relung hati ini, “titip rinduku dari berlin” dalam hati ini kuberharap masih ada tempat untukku di hatimu haikal.

Cerpen Karangan: Rachmad Maulana
Blog: Rachmadsangpencerah.blogspot.co.id

Cerpen Titip Rindu Dari Berlin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Warmness In The Soul

Oleh:
Rintik hujan membasuh bumi. Menorehkan suasana dinginnya tubuh dan hati. Cuaca seolah-olah seperti torehan pena sutradara. Ya, suasana yang cukup dramatis, sedramatis kehidupan di bumi ini. Hujan pun semakin

Hujan Dan Air Mata (Part 2)

Oleh:
Sore itu aku jadi tahu, apa alasanmu mempertahankan kesendirianmu dan menolak banyak Royal Prince yang berusaha untuk memilikimu. Aku biarkan kau diam. Ya… ya, dan akhirnya lagu Jamrud itu

Kudoakan Yang Terbaik Untukmu

Oleh:
Aku memandang mentari senja di sebuah pelataran. Gedung kampus ini memang mengizinkan mahasiswanya untuk bersantai-santai di atap. Sehingga tempat ini menjadi salah satu tempat favorit bagi para muda-mudi yang

Summer Girl

Oleh:
“But you’ll always be my golden boy And I’m the summer girl that you enjoyed Some melodies are best left undone I feel the times pass away But in

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *