Trap (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 November 2013

Menyebalkan, dasar menyebalkan! Entah kenapa, dia tidak pernah sadar dengan apa yang sedang kurasakan padanya. Kenapa dia begitu sentimen padaku, sih?
Karin terus menerus mengutuk cowok yang sedang berada di hadapannya. Cowok menyebalkan macam ini memang pantas untuk diberi satu bogem. Nggak ada bedanya samasekali dengan cowok-cowok pada umumnya, tapi…
Karin merasa dialah yang paling istimewa.
Kalau begitu, kenapa aku harus suka sama cowok bodoh ini? Lagi-lagi Karin mengomel di dalam hati. Lalu dia menepuk-nepuk dahinya yang serasa mau meledak. Dia memang sudah menyadari perasaannya, atau lebih tepatnya mulai menyukainya sejak tiga tahun yang lalu. tiga tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menunggu seseorang yang nggak jelas seperti itu, dan terkadang logika Karin sering mencoba untuk menggembok hati Karin yang sepenuhnya terbuka pada cowok itu. Cowok itu…

“Hei, anak jelek! Jangan diem disana terus kayak gitu, ngehalangin papan tulis aja!” Serunya. Karin pun menyingkir setelah memeletkan lidah padanya.

Karin diam-diam melirik Alvin yang sedang serius menyalin rumus-rumus fisika di papan tulis. Semakin hari, semakin sulit baginya untuk menyembunyikan perasaan itu. Padahal dia samasekali tidak mengetahui apa daya tarik yang dimiliki oleh cowok itu, tapi… tapi… hatinya selalu bergetar dengan hebat setiap ia bertatapan dengan Alvin. Dan ia juga mengakui, semakin hari Alvin memang semakin keren… di matanya. Mungkin di mata orang lain tidak. Seorang cowok bisa tiba-tiba berubah menjadi lebih keren jika dilihat dari sudut pandang cewek yang sedang menyukainya ‘kan?
Tapi Karin sebenarnya sangat menentang perasaan ini, itulah alasan mengapa ia tidak pernah bergerak untuk mendapatkan Alvin. Selama ini Alvin adalah orang yang paling membuatnya muak, bosan, jatuh cinta, sekaligus jengkel. Perasaan itu membuat Karin menjadi kerepotan.

Karin dan Alvin telah berteman sejak mereka lahir, lalu masuk ke TK yang sama, SD yang sama, dan SMP yang sama. Rumah mereka… berseberangan. Karin beranggapan, bahwa mungkin, sebenarnya dia memang bukan tipe cewek yang akan disukai oleh Alvin. Dapat ditebak dari sikap Alvin selama ini. Dia selalu menyukai cewek yang berada diluar komplek perumahannya, dan rata-rata cewek-cewek yang disukainya berada di sekolah. Mungkin karena pandangan Alvin yang telah sepenuhnya tahu tentang apa-apa-yang-ada-pada-Karin membuatnya lebih memilih mencari cewek yang belum ia kenal sepenuhnya. Dan mungkin juga karena Alvin mengetahui tabiat-tabiat Karin yang agak… menjijikkan. Contohnya, mengoles upil di bawah meja makan (Ueeekk!!).
“Apa kamu?” lagi-lagi Alvin menggoda. Seperti biasa, Alvin dan Karin berantem lagi. Seisi kelas sudah memaklumi kebiasaan mereka.
“Apaan sih?! Nggak jelasnya kamu,” Sahut Karin jengkel. Padahal dalam hati dia ingin melompat sekuat-kuatnya.
“Jelasnya kok aku disini? Hahaha dasar rabun,” Alvin menunjuk-nunjuk mata Karin, membuat Karin emosi sekaligus salting. Karin lebih memilih untuk tidak berdebat lagi. Dia memalingkan wajah, tapi Alvin terus-terusan menggoda Karin dengan senyuman iblisnya.
“Apaan Alvin? Bilang aja kalau ngefans,” Karin tertawa kecil.
“Idihh, najis.” Alvin bergegas pergi. Dibilang najis begitu, Karin malah merasa dadanya mendadak sesak. Dia bilang najis padaku, dia bilang najis…
Berarti aku memang tidak memiliki kesempatan apapun untuk mendapatkannya.

Setelah jam sekolah berakhir, Karin merasa tidak memilki semangat samasekali. Kata-kata ‘najis’ itu telah membuatnya terpuruk seperti ini. Secara tidak langsung, Alvin telah menyatakan bahwa Karin jelas diluar wilayahnya. Bahwa Karin memang tidak akan pernah dapat bersatu dengan Alvin.

Karin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menerawang seluruh peristiwa yang pernah ia alami bersama Alvin. Berenang bersama-sama, bermain di taman kompleknya yang sampai saat ini masih ia lakukan, menunggu kedatangannya setiap jam empat sore sedangkan ia pasti sedang duduk di bangku ayunan dengan was-was, menunggu orang itu datang. Dia tidak memperhatikan apa-apa yang sedang teman-temannya kerjakan, bergosipkah ataupun hanya bicara ngalor-ngidul tanpa ujung, tapi dia hanya memperhatikan pagar pembatas itu sambil memasang telinga. Mungkin suara Alvin yang telah berubah akibat pubertas itu terdengar dan artinya orang itu memang sedang menuju kesana.

Aaaahh… gumam Karin lemas. Kejadian hari ini sungguh melelahkan pikirannya. Sejak tadi, ia tidak dapat berpikir apapun selain keinginannya untuk segera bersama dengan Alvin. Dia terus membalik-balikkan telapak tangannya dengan resah, berusaha untuk menghilangkan kegugupannya. Alvin memang tidak pernah bisa ditebak. Terkadang baik, terkadang jahil, terkadang menyebalkan. Dan jujur, itu pula yang membuat Karin jadi semakin penasaran dengan Alvin. Teman kecil yang menyebalkan. Sekaligus laki-laki yang membuatnya jatuh cinta selama tiga tahun terakhir ini. Alvin memang cowok yang luar biasa… dan hanya Karin yang dapat melihat Alvin sebagai sosok sempurna seperti pangeran-pangeran dalam dongeng ataupun dalam drama Korea.

Trokk! Seseorang melempar kaca jendela kamarnya dengan sebuah batu kecil. Beruntung ukurannya kecil, sehingga tidak menyebabkan kaca itu retak atau bahkan pecah.
Karin menengok ke arah jendela, lalu memandang ke bawah. Pipi Karin mendadak merah melihat sosok Alvin yang sudah mengenakan celana dan kaus atasan bola. Seperti biasa. Karin tersenyum mengamati sosok Alvin yang terlihat sangat keren dari balik jendela kamarnya. Karin bergegas keluar dari kamar, menuruni tangga sambil bersungut-sungut—sekaligus salah tingkah— dan membuka pintu pagar rumah itu. Tanpa basa-basi, Karin langsung bertanya, “Kenapa?”
“Tadi PR Matematikanya halaman berapa ya?”
Karin tercengang. Melempar kaca jendelanya dengan batu dan membuatnya keluar dari rumah dengan terburu-buru seperti ini hanya karena ingin menanyakan tentang PR? Karin sedikit kecewa dengan maksud kedatangan Alvin yang ternyata hanya untuk menanyakan PR, bukan karena ingin bertemu dengannya. Karin menggeplak dahi sekeras mungkin, hingga dahinya memerah.
“Woi! PRnya halaman berapa? Cepet aku mau main bola,” Desak Alvin tidak sabar.
“Halaman 71 bagian A sama halaman 73 bagian D. yang halaman 73 bagian D harus pakai cara jalannya. Nggak boleh langsung jawaban.”
“Oh, ya udah makasih.”

Alvin langsung bergegas pergi meninggalkan Karin yang masih merasa kecewa. Dia kemari bukan untuk bertemu denganku. Seharusnya aku tahu… tapi kenapa perasaan ini nggak mau hilang? Karin memegangi dadanya yang terasa sesak. Sakit itu begitu memenuhinya. Sejenak, dia ingin sekali menangis. Menangis untuk sebentar saja…
Karin terduduk di atas kursi meja belajarnya. Matanya terus melihat-lihat isi folder yang ada di laptopnya. Foto Alvin ketika masih kelas 8, beserta tulisan-tulisan yang ia buat… ia menutup folder itu dan mencari lagu-lagu sedih. Beberapa saat kemudian, lagu berjudul A Bitter Day milik G.Na, Junhyung B2ST dan Hyuna 4Minute itu mengalun. Nada-nadanya membuat Karin terus membayangkan, betapa nyamannya jika disaat-saat seperti ini Alvin memeluknya dengan hangat sembari menenangkannya…
‘… Nothing goes right…’ Karin membaca subtitle yang ada pada video tersebut.
Sampai pada ending lagu, Karin mencoba untuk menahan airmata meskipun tidak seluruh isi lagu itu sama dengan apa yang sedang ia alami sekarang. Nanti sore dia ingin ke taman… dia ingin kesana bersama yang lainnya…

Karin masih duduk di bangku ayunan itu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Karin begitu resah, dia ingin segera melihat wajah Alvin agar hatinya menjadi lega. Dia pun menunggu. Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba. Ia mendengar suara itu—suara berat yang tidak asing lagi baginya — sedang berjalan bersama cowok-cowok yang lain dan dia terlihat sangat bersemangat. Senyum yang terukir di wajahnya membuat Karin mendadak menyembunyikan wajah dibalik roknya yang lebar.
“Kenapa Karin?” Tanya salah seorang temannya.
“Nggak apa-apa kok…” Karin menutupi setengah wajahnya, berusaha menyembunyikan pipinya yang sepertinya sedang memerah.
“Suka ya sama Alvin? Ciee…” yang lain pada menyorak-nyorak nggak jelas.
“Siapa juga? Nggak ih! Kalian kok gitu?!” Karin mendadak salah tingkah. Sikapnya ini malah membuat teman-teman semakin meledeknya. Mereka yakin, sejak jaman dahulu kala, Karin memang memiliki perhatian khusus kepada Alvin.
Karin akhirnya memilih untuk diam sambil mencuri pandang pada Alvin. Alvin duduk di ujung sana, jauh dengan Karin yang sedang duduk di bangku ayunan. Tapi sesekali, ia mengamati Alvin yang ternyata juga sedang memperhatikannya. Karin merasa sedikit senang, dan menganalisis maksud tatapan Alvin padanya tadi. Tapi sampai saat itu, ia samasekali tidak mengetahui jawabannya. Dia samasekali tidak ingin mengetahui jawabannya…
Karena ia yakin, sampai bagaimanapun, laki-laki itu tidak akan pernah memilihnya, dan tidak akan pernah ingin bersama-sama dengannya. Ia yakin, jika Alvin mengetahui perasaan Karin yang sebenarnya, ia akan mengulangi perkataan menyakitkan itu sekali lagi; ‘Najis!’ dan Karin akan terluka. Lebih baik ia tetap begini…

Logika terus menyadarkannya dari khayalan-khayalan yang selama ini ia buat. ‘bukankan lebih baik menjadi teman saja? Teman itu, akan selalu bersama, tanpa ada rasa canggung. Berteman saja itu, tidak akan membuatmu salah tingkah. Dan tidak ada kata putus. Kalau pacaran? Karena kalian tahu kalian saling terikat, kalian akan selalu membuat jarak jika saling berdekatan — tentu saja karena kalian malu. Hal yang menyenangkan yang pernah kamu dapatkan ketika masih menjadi temannya pun tidak akan pernah terjadi lagi. Kalian akan terus merasa canggung. Ketika kalian putus, perasaan canggung itu akan terus tersisa dan membuatmu tidak akan pernah bisa menganggapnya seperti biasa, tidak bisa melihatnya sebagai ‘teman’ lagi. Kamu akan terus terbayang-bayang, dan tanpa dikomando oleh siapapun, kalian akan terus menjauh. Itu memang sekenario milik tuhan, tapi hampir setiap kasus yang kau temui selalu seperti itu, ‘kan? Dan kamu tahu betul bahwa hal itu akan membuat lukamu semakin berdarah-darah. Lebih baik, kamu hapus rasa itu sampai disini. Anggaplah dia seperti sewajarnya, seperti teman kecil yang menyebalkan dan selalu mencari masalah. Ingat, jika kalian berdua telah melangkah lebih jauh, kalian tidak akan dapat kembali lagi.’
Karin tidak pernah menghiraukan logika yang selalu menekan perasaannya itu. Dan ia telah salah. Karena ia sudah melangkah terlalu jauh…
Karena itu dia tidak akan dapat kembali lagi…
Saat itulah, pandangannya dengan Alvin bertemu untuk kesekian kalinya. Karin menatapnya tanpa berkedip, sementara Alvin telah mengalihkan perhatiannya.
Sejauh inikah…
Sejauh inikah jarak yang memisahkan mereka? Begitu jauh?
Apakah mereka dapat mengubah takdir?
Sampai saat ini, Karin samasekali belum mengetahui jawabannya. Sampai saat ini, ia masih terperangkap dalam daya tarik milik Alvin yang misterius itu.
Meskipun ia berharap agar tidak pernah memiliki perasaan itu lagi, tapi entah mengapa, sebenarnya ia tidak ingin melepaskan diri dari perangkap itu.
Akhirnya dia menyadari, bahwa ini adalah perasaan ‘cinta’, dan bukan hanya sekadar suka…
Karena itulah, ia rela menunggu selama tiga tahun dan membiarkan Alvin bersama dengan perempuan-perempuan pilihannya. Karena itulah, ia rela membiarkan dirinya terus berada di luar wilayah Alvin, menunggunya dengan luka berdarah-darah namun tetap tegar, meskipun ia yakin ia tidak memiliki harapan.
Karena itulah, ia merelakan Alvin berbahagia dengan orang lain, karena selama Alvin bahagia, ia yakin ia akan bahagia juga. Karena ia yakin, cinta tidak harus memiliki…
Karena itulah, ia selalu tegar dan berdiri tegak bagaikan pohon cemara di tengah-tengah badai salju. Dan ia tahu hal apa yang membuatnya rela melakukan itu meskipun ia tahu, ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Ia tidak akan mendapatkan cinta yang dia harapkan.
Karena dia yakin, karena dia yakin dia bisa, karena dia memiliki keyakinan bahwa Alvin masih dapat membuka hatinya. Meskipun ia harus menunggu selama beribu-ribu tahun, ia tidak akan pernah menyesal karena pernah mencintai Alvin. Dia tidak akan merasa menyesal, walaupun ternyata ia memang harus sendirian.
Karin memandang sosok Alvin yang juga sedang mencuri pandang padanya. Apakah ini adalah awal permulaan dari perasaan itu, atau hanyalah sebuah tanda bahwa Alvin menyadari perasaan Karin padanya?
Karin hanya dapat mengangkat bahu…

To be Continued

Cerpen Karangan: Audrey Kusumadianty Assifa
Facebook: www.facebook.com/audreykusumaa

Cerpen Trap (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takkan Pernah

Oleh:
Aku masih di sini hari ini, kemarin dan esok bahkan untuk selamanya jika itu mungkin tapi aku berharap itu takkan pernah terjadi karena yang membuatku aman, nyaman dan tentram

Cinta Bersemi Di Pramuka

Oleh:
“Nanda tunggu, pulang sekolah sekarang ngumpul pramuka kata Kak Nida, Ngumpulnya di kelas 8,” ucap seorang perempuan sambil memegang pundakku. “Oh iya Pril, Kan katanya jam 2 ngumpulnya, jam

Welcome To My Heart

Oleh:
Di depan kelas, aku terasa gugup. Karena dari jauh seseorang menatapku dengan tatapan manisnya. Namun aku bangga juga, karena dia nerupakan seseorang yang spesial. Aku mengenalnya. Walau hanya tau

Gadis Pikun

Oleh:
Kendaraan yang paling disukai sindi adalah angkot, bagi sindi angkot adalah kendaraan yang paling setia mengantar dia ke manapun ia mau. Hari ini sindi berangkat sekolah naik angkot dengan

Oh, Kesempatan Ke 4 (Part 1)

Oleh:
Siang itu Rasanya panas sekali, karena takut kulit putihku terbakar matahari, jadi sepulang sekolah aku langsung minta jemput papa. Oh iya, Namaku Rizia, remaja perempuan yang masih duduk di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *