Untukmu yang Tercipta Untuknya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 9 May 2014

Aku terbangun. Aku melirik jam weker yang ada di meja belajarku. Menunjukkan pukul satu malam. Akhir-akhir ini, aku selalu terbangun tengah malam karena sebuah mimpi. Mimpi yang diperankan oleh dua orang, yaitu aku dan kamu. Aku meneguk segelas air putih yang selalu ku sediakan di meja belajarku. Aku menghela napas sejenak. Mencari sisa-sisa sadarku. Kenapa kamu selalu datang dalam mimpiku? Kenapa kamu selalu jadi bunga dalam tidurku?

Aku segera beranjak keluar kamar. Menuju tempat wudhu yang berada di luar rumah kecil yang aku tempati ini. Aku di sini tinggal sendiri. Hawa udara malam yang dingin langsung terasa saat aku berada di ambang pintu. Suasana kota Solo jika malam seperti ini lebih lengang dibandingkan kota kelahiranku, Bandung. Ya, aku lebih memilih jauh dari keluargaku di Bandung sana. Aku ingin mandiri. Semenjak masuk SMA, hampir 3 tahun yang lalu, aku memilih kota ini sebagai tempatku menuntut ilmu. Meski awalnya keinginanku ini ditentang keras oleh Ayah, tapi pada akhirnya di-setujui juga. Lagipula, di sini ada Bude Marni yang akan mengawasiku. Jarak rumah kontrakanku dengan rumah Bude juga tidak terlalu jauh. Sekitar lima belas menit-an.

Selepas wudhu, aku menikmati udara malam yang dingin ini terlebih dulu. Aku mencoba memejamkan mataku sejenak. Tapi justru bayangmu yang ada di sana. Apapun yang aku lakukan, kenapa selalu ada kamu? Kenapa selalu tentang kamu? Tentang kamu, yang bukan tercipta untukku.

“Dik Bisma, kok bengi-bengi malah ning njobo tho?” sapa seseorang dengan logat Jawa-nya yang khas. Sekitar tempat tinggalku di sini, memang lingkungan anak kuliahan yang merantau dari asalnya masing-masing.
“Ngga apa-apa Mas” balasku. “Kumaha damang Mas? Mas Suryo sendiri kenapa malah jalan-jalan?”. Dia adalah Mas Suryo, temanku yang juga me-ngontrak rumah di sekitar lingkungan sini. Salah satu mahasiswa semester 4 di Universitas Sebelas Maret jurusan Tehnik Sipil. Dia asli orang Klaten. Biasanya aku memanggil orang yang seumuran Mas Suryo seperti ini dengan sebutan ‘akang’, tapi berhubung saat ini aku berada di Solo, aku harus terbiasa dengan lingkungan di sini. Meski terkadang, aku masih sering keceplosan menggunakan bahasa kelahiranku sendiri, bahasa Sunda.
“Damang Dik. Biasalah gara-gara tugas kuliah, sering membuat Mas jalan-jalan kayak gini. Wong namanya juga lagi stres, mumet” ujarnya senyum. “Nanti kalau Dik Bisma jadi anak kuliahan, juga bakal kenal sama yang namanya deadline tugas yang mepet.”
“Abdi teh sering juga rarungsing akang. Anak SMA juga banyak tugas kok..” kataku keceplosan pakai bahasa Sunda. Terlihat gurat bingung di wajah Mas Suryo. “Maksudnya itu, saya juga sering pusing Mas. Anak SMA tugasnya banyak juga..”
“Oh. Maklum Dik saya bukan orang Sunda. Rencananya Dik Bisma ini nanti mau lanjut di sini apa di Bandung?”
Sebuah pertanyaan yang sulit untuk aku jawab. “Jika aku tetap di sini, aku juga akan jauh dengan kamu, orang yang aku temukan di kota ini.”
“Belum tau juga sih. Punten ya Mas, saya masuk dulu.”
Jika bangun tengah malam seperti ini, aku terbiasa sholat tahajud. Setelah itu, aku akan merasa lebih tenang. Aku kembali lagi menghempaskan tubuhku ke kasur yang tidak terlalu empuk ini. Bayanganmu justru ada di langit-langit kamar. Entahlah, dimanapun aku memandang, di situ ada bayangmu. Banyanganmu, yang saat ini telah jauh dariku.

Kota yang penuh dengan adat Jawa ini, kota yang mempertemukanku denganmu. Aku tak pernah mengira sebelumnya, pertemuan itu akan mengenalkanku pada sebuah persahabatan. Antara aku dan kamu. Tapi, pada akhirnya persahabatan itu juga yang mengenalkanku pada sebuah rasa yang sulit untuk aku cerna. Setiap melihatmu, melihat senyummu itu, ada sebuah getaran yang menjalar dalam tubuhku ini. Apa itu yang dinamakan cinta?
Pagi ini aku siap-siap berangkat sekolah. Meskipun Kegiatan Belajar Mengajar juga sudah selesai, tapi setidaknya aku bisa bertemu dengan teman-teman seperjuanganku.
“Wilujeng enjing Mas” sapaku pada Mas Budi yang tinggal persis di sebelahku.
“Pagi juga Dik, mau sekolah?”.
“Iya Mas. Mas Budi sendiri getol pisan atuh sudah rapi seperti ini?” tanyaku. Mungkin, mereka yang mengenalku, sudah terbiasa mendengar aku yang kadang keceplosan ngomong bahasa Sunda. Mereka sedikit-sedikit juga mengerti maksudku.
“Ada kuliah pagi Dik. Ya sudah, Mas pergi dulu ya” pamitnya.
“Mangga Mas.”

Kebetulan jarak sekolah dengan tempat tinggalku tidak terlalu jauh. Hanya dengan jalan kaki saja juga sudah terjangkau. Di depan gang, aku bertemu dengan dua orang laki-laki yang sepertinya mereka adalah anak kuliahan. Aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, karena memang aku tidak terlalu fasih berbahasa Jawa. Nilai mata pelajaran Bahasa Jawa ku saja paling rendah di kelas. Maklum memang. Tapi, aku tidak di-spesialkan oleh guru-guruku. Aku lah yang harusnya bisa beradaptasi dengan pilihanku sendiri.

“Sudahlah Bis, aku harap baik kamu ataupun aku mulai sekarang tidak usah terlalu dekat.”
Itu adalah kalimat ter-kejam yang selama ini aku dengar dari mulutmu. Meskipun terdengar lembut, tapi itu seolah-olah mengusirku dari kehidupanmu. Aku masih ingat betul kalimat yang sore itu kamu katakan padaku. Kalimat yang terangkai, setelah kamu dekat dengannya.
“Aku tidak mau gara-gara kamu, cinta pertamaku pergi. Sekarang, kamu harus mengerti jika aku sudah bersama Zi. Kurangi waktu disaat kita bersama, kita memang sahabat, tapi tidak selamanya kita bersama-sama.”

Zion Candradiatama. Nama itu jauh lebih keren dari namaku, Bisma Karisma. Orangnya juga lebih keren daripada aku. Ya, aku sadar, tanpa kamu menyuruhku menjauh, aku akan menjauh terlebih dahulu. Semenjak kamu mengenal dia, kamu jarang ada untuk aku. Kamu berubah, tidak seperti Afisya yang aku kenal dulu. Jadi, apa aku harus tetap di kota ini, tanpa seorang pun yang mengharapku di sini?

Saat ini, bahkan kamu berlalu begitu saja di depanku, tanpa basa-basi menyapaku. Aku tahu sekarang kamu milik dia, tapi apa persahabatan kita hilang begitu saja? Mungkin kamu sudah merasakan getaran yang selama ini aku rasa, oleh sebab itu kamu menyuruhku menjauh sebelum aku mulai jatuh cinta padamu. Aku pikir, itu terlambat. Sya, kamu sudah berhasil membuatku jatuh untuk yang pertama kalinya. Kamu mengejar cinta pertamamu, sedangkan aku? Aku harus menjauhi cinta pertamaku.

“Mau lanjut mana Bis?” tanya Reza, dia teman sekelasku. Tapi aku sering memanggilnya Eja.
Selalu, dan selalu bertanya tentang itu. Itu adalah pertanyaan yang sulit untuk aku jawab.
Aku hanya mengangkat bahuku.
“Kalau kamu balik ke Bandung, Fisya bagaimana?” tanyanya polos. Ya, dia tau kalau aku dan kamu memang dekat. Tapi Reza hanya tahu bahwa hubungan kita sebatas sahabat.
“Sudah ada Zion Ja yang akan menjaganya.”
Reza terlihat mengernyitkan dahinya, pertanda dia sedikit bingung. “Jadi, kabar itu benar?”
Aku hanya mengangguk lemah. Aku meneguk es teh yang dari tadi belum aku sentuh.
“Tapi mereka tidak cocok. Aku pikir justru kamu yang cocok sama Fisya.”
Aku tersenyum mendengar penuturannya. Terkadang, pendapat orang lain itu memang sama dengan apa yang kita harapkan. Tapi tidak sama dengan kenyataan.
“Oh ya Bis, bener ya kalau Fisya lagi sakit?”
Aku sedikit kaget mendengar itu. “Naon, neng Fisya teh gering?”
“Aku kira kamu sudah tahu Bis. Aku dengar dari Santi kalau Fisya lagi sakit, katanya demam.”

Aku berpisah dengan Reza di persimpangan dekat rumahku. Aku sedikit cemas dengar kamu sakit. Tapi aku tidak boleh mencemaskan seseorang yang justru menyuruhku menjauh. Itu bukan berarti aku dendam, aku hanya saja ingin menuruti apa yang kamu inginkan Sya. Ternyata, Bude sudah ada di rumahku.
“Belum pengumuman Bii?” tanya Bude Marni melihat aku datang. Bii adalah panggilanku dalam keluargaku. “Belum Bude. Minggu depan.”
“Yo wis, Bude doakan kamu sama teman-teman kamu lulus semua.”
Ternyata, Bude ke sini ingin menyampaikan pesan dari Ibu.
“Tadi Ibu kamu telpon, kamu mau lanjut di sini apa di Bandung?”
Pertanyaan itu lagi. Kenapa aku selalu dihadapkan dengan pertanyaan macam itu lagi? Lagi dan lagi, aku belum menemukan jawabnya. Aku masih bingung dan bimbang. “Menurut Bude, Bii harus gimana?”
“Lho, kok malah tanya Bude tho? Lha wong iki pilihanmu Bii.”
Aku hanya menghela napas panjang. “Bii bingung Bude.”
“Menurut Bude, Solo ataupun Bandung sing penting Bii betah” ujar Bude lembut. Bude sudah aku anggap seperti Ibu ku sendiri.
“Bii mah belegug pisan ya Bude. Belum bisa nentuin pilihan sendiri.”
Bude hanya tersenyum.

Solo atau Bandung?
“Kumaha ini mah” batinku bingung.
Arghhh! Aku benar-benar bingung. Jujur, aku belum siap pergi dari kota ini. “Andai kamu mencegahku pergi Sya, aku pasti akan tetap di sini.”
Aku tak pernah berpikir sebelumnya, aku diciptakan di dunia ini untuk siapa? Apa hanya untuk orangtuaku? Yang jelas, aku diciptakan di dunia ini bukan untuk kamu Sya. Begitupun sebaliknya. Kamu diciptakan juga bukan untuk aku. Meskipun aku memang diciptakan untukmu, tapi kamu tercipta untuknya.

Malam ini, lagi lagi aku bermimpi tentang kamu. Jika aku boleh memohon, aku ingin aku tidak terpejam setiap malamnya. Aku takut pada setiap malam. Aku takut dengan mimpiku sendiri. Aku takut bertemu denganmu lagi di sana. Aku takut Sya, kehilanganmu. Aku ingin kamu selalu hadir dan temani aku. Tapi mungkin, itu hanya sebatas inginku. Banyak kata yang ingin aku sampaikan pada kamu Sya, tapi kamu menutupnya dengan menjauhiku. Dan terpaksa, aku juga harus menjauhimu. Meski dalam setiap langkahku, di sana ada jejakmu. Waktu mungkin mampu merubah segalanya. Tapi aku ragu, waktu bisa merubah sikapmu seperti dulu lagi.
“Bis, aku tahu kamu menyukaiku kan? Maaf Bis, mungkin aku tidak sama denganmu. Jadi, aku dan kamu mungkin cuma sebatas sahabat. Aku harap, kamu bisa mulai perlahan untuk tidak selalu membayangiku. Kamu harus bisa melangkah tanpa ada aku di sana. Aku yakin, kamu mengerti maksudku.”
Perlahan, kata-kata itu kembali terngiang dalam pendengaranku. Itu adalah perbincangan terakhirku dengan kamu. Sebelum pada akhirnya, kamu benar-benar berubah. Apa cinta dapat merubah seseorang sepertimu?
HP ku berdering. Ayahku yang menelponnya.
“Assalamu’alaikum Ayah. Kumaha damang?”
Dan lagi, alasan Ayah menelponku adalah menanyakan tentang rencana ke depanku.
“Kamu tetap di Solo atau balik ke sini?” begitulah pertanyaan beliau. Aku sempat terdiam. Aku benar-benar bingung. Dua sisi hatiku bertolakbelakang, bekerja secara antagonis. Tiba-tiba, airmata ku turun tanpa aku suruh. Entahlah, aku menangisi siapa. Emosi batinku tertekan.
“Bisma…” sapa Ayah menyadarkanku. “Iya Yah…”
“Kamu pilih mana? Nanti biar segera diurus.”
Aku seperti mayat hidup. Tak tahu harus bicara apa untuk menjawab pertanyaan itu.

Hari ini, aku kembali ke sekolah. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Aku deg-degan menunggu Bude keluar dari kelas. Belum ada berita yang pasti apakah SMA ku lulus 100% atau tidak.
‘LULUS’
Aku bersyukur kata itu tertera dalam kertas pengumuman kelulusanku. Aku langsung memeluk Bude. Aku lihat, Bude menangis senang.
Pandanganku jatuh pada Zion dan kamu. Ingin rasanya, aku mengucapkan selamat pada kamu Sya, memeluk kamu seperti yang Zion lakukan saat ini, tapi aku tahu dan aku mengerti jika kamu tidak menginginkan aku hadir lagi di hidupmu. Aku cukup mengerti. Dan terimakasih Sya, untuk kebersamaannya selama ini.
“Kamu yakin mau lanjut ke Bandung?” tanya Bude memastikan keputusanku. Aku sudah yakin untuk kembali ke Bandung dan meninggalkan Solo, kota yang mempertemukanku dengan kamu. Dengan kamu, orang yang tercipta untuknya.
“Iya Bude. Aku juga sudah bilang sama Ayah.”
Aku mulai beres-beres. Rumah ini, rumah kecil yang membawa aku untuk mandiri.
“Hatur nuhun ya Ja, sudah mau bantu beres-beres.”
“Sami-sami akang” ucap Reza dengan logat bahasa Sunda yang sengaja dibuat-buat. Aku cuma nyengir kuda dengar dia ngomong kayak gitu. “Maneh teh lucu pisan Ja.”
“Oh ya Bis, kapan kamu balik lagi ke sini?”
Aku menempatkan ransel-ku di kursi tamu. “Belum tahu Ja.”
“Yah, sekarang ngga ada lagi deh yang ngajari aku bahasa Sunda” ujar Reza dengan tampang cemberut.
“Maneh teh jangan baeud gitu atuh. Kasep nya hilang lho..”
“Yee, siapa juga yang mau beli baut? Aku kan emang kasep dari sananya, jadi nggak bakal hilang..” Sedetik kemudian, kami berdua tertawa.
Aku beruntung mengenal Reza di sini. Dia-lah satu-satu nya teman yang terbuka menerimaku. Aku menyesal baru mengenal dia satu tahun terakhir ini. Kenapa dulu aku harus mengenal kamu terlebih dulu Sya? Jika harus seperti ini pada akhirnya.

Dulu aku pikir mandiri itu adalah disaat kita jauh dari orangtua. Tapi sekarang, aku merubahnya. Mandiri itu adalah disaat kita bisa memilih jalan hidup kita sendiri. Dan sekarang, aku akan memilih pergi. Aku sadar, di sini sudah tak ada lagi yang mengharapkanku. Pandanganku jatuh pada sebuah foto. Foto yang aku pajang di meja belajarku. Disana, kami berdua sama-sama tersenyum manis. Senyumanmu itulah yang mungkin akan aku rindukan. Semoga, kamu baik-baik di sini. Meskipun aku di Bandung, separuh hatiku ada di kota ini, Solo. Untukmu, yang tercipta untuknya.

THE END

Cerpen Karangan: Nurul Anggraini
Blog: www.nuruulanggraini.blogspot.com
Nama : Nurul Anggraini
FB : www.facebook.com/nurulra2
Twitter : @Nuruul_29

Cerpen Untukmu yang Tercipta Untuknya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Es Krim (Part 1)

Oleh:
“Apa yang kau harapkan darinya?” kata-kata dari Winda selalu mengiang di kepalaku. Aku Tivia Arini kuliah semester 8 di perguruan tinggi negeri yang ada di daerahku. Aku memiliki sahabat

Sepenggal Kata Yang Kutitipkan

Oleh:
Ketika pilihan menuntutku untuk memilih, ingin rasanya aku menjelajah waktu, meloncati masa yang tak terhingga kemudian berlari meninggalkan roda waktu yang ujungnya tak di sangka. Aku terpuruk, menangis seolah

Cintaku Pupus Demi Sahabatku

Oleh:
Namaku Anna Rosita aku bersekolah di SMAN 1 Mengwi. Aku tinggal bersama Ayah dan Nenekku. Ibuku sudah meninggal sejak aku berumur 5 tahun. Sekarang aku berumur 17 tahun. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *