Waktu, Aku Dan 8 Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Galau, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 March 2016

Siapa bilang waktu itu mutlak? tidak!! waktu itu relatif, tergantung apa yang kau bicarakan. Kau bicara rindu maka sehari itu akan sangat lama, kau bicara pertemuan, maka sehari bisa hanya sedetik. Dan jatuh cinta, untuk soal yang satu ini, waktu bagiku tak berarti apa pun.

2008.
Aku memulai kehidupan baruku sebagai murid sekolahan. Baju putih abu-abu yang katanya melambangkan kehidupan remaja nan indah. Ya, aku tak pernah bilang kehidupanku tak indah, tapi hanya sedikit kurang beruntung. Namaku Sasa, lebih mudah dipanggil begitu kata ayah. Usiaku saat itu masih 15 tahun saat ayah mengantarku ke sekolah baru. Seragam putih abu-abu yang kebesaran karya penjahit amatiran, sepatu hitam kinclong karena aku sikat bersih untuk menyambut hari pertamaku sekolah. Dan seperti kebanyakan sekolah pada umumnya, serangkaian kegiatan penyambutan siswa baru dilakukan 2 minggu tanpa jeda.

Baiklah kita skip cerita soal penyambutan siswa baru. Kisah ini bermula saat aku, Sasa, bocah usia 15 tahun yang seharusnya belajar baik-baik di sekolah merasakan jatuh cinta. Aku berkenalan dengannya pertama kali saat pelajaran sedang berlangsung, ‘dia’ sangat dekat dengan teman-temanku sebab duduk di bangku belakang berjarak satu meja denganku. Bocah lelaki itu, dengan muka polos bak malaikat, kulitnya bersih, badan berisi, dan cukup tinggi untuk anak seusianya, duduk tak banyak bicara sejak awal aku tahu tentang “dia.” Mulanya rasa itu tidak ada, sampai saat dimana kami memutuskan untuk lebih dekat demi menjodohkan teman kami masing-masing. Ya, guyonan ala anak SMA. Kami sering berkomunikasi lewat sms (bbm masih langka), sekedar membahas tentang teman kami. Hingga pada akhirnya ‘dia’ menyatakan suka padaku.

“Sa, kenapa bukan kita saja yang dijodohkan?”
Aku hanya membaca tanpa membalas. Tindakan yang ku sesali hingga sekarang.

2009.
Pada akhirnya aku memutuskan menerima “dia.” Namun, semua telah terlambat. “Kita akan bersahabat selamanya” begitulah katanya saat ku tanyakan soal perasaan ‘dia’ padaku setahun lalu. Dan baiklah, kami memutuskan bersahabat. Tak terasa aku sudah kelas 2, dan tahun keduaku mencintainya. Kami masih sekelas dengan status persahabatan yang ‘dia’ sematkan, maka seperti itulah yang kami jalani. Setiap hal yang terjadi di kehidupanku, ‘dia’ orang pertama yang tahu.

“Jangan!! dia orang jahat, nggak usah kamu terima.” kalimat yang dilontarkan saat aku bilang ada kakak kelas yang menyatakan suka padaku. “Jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Aku akan membantumu.” katanya saat aku kehilangan tugas fisika yang harus dikumpulkan hari itu.
“Ayo beli es krim, Sa!”
“Jalan yuk, Sa!” jawabannya setiap kali aku bilang padanya moodku buruk sekali.
Dan saat salah satu teman sekelas kami menyukaiku ‘dia’ bilang pada teman kami yang lain bahwa, “aku akan mengalah.”

2010.
Tahun ketiga ku mencintainya. Ya, aku mencintainya meskipun orang hanya tahu kami bersahabat. Bagaimana aku tidak mencintainya jika semua hal yang dilakukannya padaku adalah indah? Saat itu ku kira aku hanya berimajinasi soal cemburu yang menggebu ketika ku lihat ‘dia’ bersama gadis lain. Atau rindu yang mencandu saat ‘dia’ tak memberi kabar ketika libur datang. Aaaah, ku rasa aku hanya over protective pada sahabatku satu-satunya. Ku buang jauh-jauh soal pikiran aku masih mencintainya.

2011.
Jenuh. Satu kata yang dapat aku sampaikan soal penantian. Ini sudah masuk tahun keempat dan perasaanku sudah nampak jelas, jelas sekali hingga beberapa orang menyadarinya. Kecuali ‘dia’. Dan baginya rasa cintaku adalah kekecewaan terbesar dalam hidupnya. “Aku hanya menganggap Sasa teman, kenapa dia tidak mengerti?” katanya pada temanku saat namaku disinggung dalam pembicaraan mereka. Bagaimana denganku? tentu saja aku hancur, saat cintamu ditolak, apa kau akan baik-baik saja? rasanya seperti kau sedang didorong ke jurang dan tak bisa merangkak naik. Aku menangis sekencang yang aku bisa. Sendirian. Ku tutupi tubuhku dengan selimut tebal. Ku pukul dada kiriku yang terasa sesak dengan harapan bahwa sakitnya akan mereda. Bahkan menangis semalaman pun tak mengurangi sedikit pun luka yang aku rasakan.

2012.
Aku dan ‘dia’ tak lagi punya cerita. Tidak ada komunikasi, pertemuan, atau apa pun yang membuat kami dapat berbicara walau tak berjumpa. Namun aku masih mencintainya. Perbedaannya adalah aku hidup di duniaku dengan ‘dia’ yang hanya membayang dan ‘dia’ hidup di dunianya tanpa aku tahu dunia yang seperti apa. Ini tahun keempatku mencintainya, dan setahunku tanpa “dia.”

2013.
Kau berharap aku menuliskan apa? keajaiban? Perasaan cinta bisa bertahan lama walaupun tanpa bicara, bukan? ini tahun kelimaku mencintainya dan tahun keduaku tanpanya. Masih ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya?

2014.
Seseorang hadir dalam hidupku bak malaikat penolong. Imo, sahabatku sejak ‘kepergian’nya ternyata menjelma menjadi sahabatnya juga. Imo, datang padaku dengan membawa ‘dia’ kembali. Sedikit demi sedikit dan pelan-pelan aku perbaiki hubungan kami yang sempat seperti berkabut. ‘Dia’ membantuku dengan bersikap seolah kami tak pernah kehilangan satu sama lain. Kali ini kami bersama kembali, bertiga, dengan status persahabatan (lagi). Dan ini masih tahunku mencintainya, tahun keenamku mencintainya.

2015.
Hampir setiap minggu kami sisakan waktu untuk jalan bertiga. Kami sebut diri kami sahabat, dan kami tak pernah sungkan bercerita apa pun soal kehidupan kami. Kecuali soal cinta. Ya! pada persahabatan kami, cerita cinta seolah tabu untuk dibicarakan. Imo, cowok dengan karakter keras kepala cenderung bercerita semaunya soal cinta. Seolah ia tak tertarik pada kehidupan percintaan. ‘Dia’ memiliki kehidupan keluarga yang rumit sehingga menarik diri dari cinta. Dan aku, ini tahun ketujuhku mencintai ‘dia’ dan tak akan ku ulangi menyakiti diriku dengan mengatakan, “Aku (masih) mencintaimu.”

Dan ini tahun 2016.
Aku dan ‘dia’ bagai sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu (mengutip lagu dari TULUS). Kami lebih sering jalan berdua sekarang, sebab Imo telah memilih meninggalkan kota kami untuk membangun masa depan yang lebih baik. ‘Dia’ dan aku mulai saling bergantung satu sama lain, lebih tepatnya aku bergantung padanya. Kami bahkan tidak ragu bergandeng tangan saat jalan berdua, atau membeli baju couple. Memberikan barang-barang yang sama. karena bagi ‘dia’ itu bentuk persahabatan sejati. Meskipun bagiku bermakna bahagia sebab aku masih cinta.

Tahun selanjutnya.. aku belum punya kisah untuk ku bagikan. Kau, jangan jadi aku! jatuh cinta dan diam bukan kombinasi sempurna dalam kehidupan. Jatuh cinta, persahabatan dan diam, jauh lebih buruk dari yang bisa kau bayangkan. Kau harus menikam hatimu saat hatimu mulai berpikir ‘dia’ mencintaimu. Kau harus menusuk kepalamu saat ‘dia’ lari-lari di pikiranmu. Kau harus selalu menjaga ke’sadar’an bahwa semakin cinta padanya, kau akan semakin jatuh ke dalam jurang. Bersiaplah untuk sakit dan bersusah payahlah untuk merangkak naik kembali.
Ku mohon jangam jadi aku! biar aku saja.

Cerpen Karangan: Akha
Facebook: Putri Aisah Khoirunnisa

Cerpen Waktu, Aku Dan 8 Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesempatan

Oleh:
Kususuri koridor sekolah dengan gamang, rasa bersalah kian membesar dan menghantui pikiranku. tak kubayangkan bahwa Ravid akan semarah ini padaku, walaupun aku sadar dia pantas marah atas semua ini.

The Stranger (Part 2)

Oleh:
“Hai.” begitulah sms pertamaku kepadanya. “Hai juga, ini siapa?” balasnya. “Ini Alen, anak kelas 7-D temennya si Dodo.” balasku. “oh, dapet nomor dari siapa?” tanyanya. “dari si Pipit.”jawabku singkat.

Dinda

Oleh:
Malam Minggu yang sangat dingin setia menemaniku yang sedang termangu menunggu bus Budiman di halte Yasmin. Aku hendak pulang ke kampung halaman karena mendapat kabar bahwa Umi sakit. Saat

200 Percent Sweet Seventeen

Oleh:
Deburan angin menerpa wajah mungilnya. Kacamatanya berembun. Entah percikan air apa yang menyelimuti kacamatanya itu. Kakinya yang telanjang memainkan pasir yang tak berdosa itu. Pansusnya digantungkan di tali slingbag

Hari Buruk Gue

Oleh:
Cerita ini dimulai saat gue masih duduk di kelas 7 SMP, gue dikenal sebagai cowok yang paling bisa naklukin cewek. Oh gue lupa sebelumnya nama gue Rici walaupun tampang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Waktu, Aku Dan 8 Tahun”

  1. rulyma says:

    Perjuangan yg blm berakhir,, semangat kak sasa!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *